Jangan sampai mengulang pemilu 2004

September 15, 2008

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

=========================================================================


Banyak menghadapi kendala di Pemilu 2004, tak membuat KPU bersurut langkah untuk menggunakan layanan TI dalam membantu menjalankan tugasnya di 2009 nanti. Bahkan untuk pengadaan logistik saja KPU mulai menerapkan e procurement. Tapi seberapa lembaga penyelenggara pemilu ini siap? Atau jangan-jangan malah mengulangi kesalahan senior terdahulu.

Dalam rangka membangun demokrasi yang kuat di Indonesia, sistem pemilu selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan ini selalu saja membawa optimisme baru bagi terbangunnya sistem demokrasi yang kuat. Demikian pula perubahan yang dilakukan dalam penggunaan sistem informasi yang membantu kinerja KPU. Dalam pemilu, keakuratan data memegang peranan penting dalam kesuksesan. Pada 2004 lalu, KPU dianggap gagal memanfaatkan perangkat IT untuk melayani masyarakat. Banyak kejadian yang membuat penggunaan perangkat IT justru dianggap sebuah pemborosan belaka. Bagaimana website KPU yang secara tiba-tiba berubah penampilan begitujuga dengan seluruh partai peserta pemilu yang terdapat di website itu berubah nama dan logo. Hal ini jelas menjadi pertanyaan bagi masyarakat khususnya para pengurus parpol, kenapa hal ini sampai terjadi? Seharusnya KPU sudah bisa mengantisipasi hal seperti ini jauh-jauh hari sebelum kejadian. Tak pelak, apa yang terjadi di 2004 lalu membuat sebuah tanda tanya besar di benak masyarakat, apakah IT benar-benar bermanfaat bagi pelaksanaan pemilu.

Sri Nuryanti SIP, MA anggota KPU yang menangani Divisi Humas, Data Informasi dan Hubungan Antar Lembaga menyatakan “KPU berusaha mengembangkan IT yang berkaitan dengan pemilu untuk lebih mensukseskan tugas dan kinerja kita. dan kita berusaha semaksimal mungkin memberikan akses informasi yang lebih cepat kepada masyarakat.” Meskipun tidak ada UU atau tidak ada hukum yang spesifik mengatur SI, tetapi KPU tetap mengembangkannya karena memang memiliki kebutuhan. Hal ini diakui oleh Nuryanti “Betul tidak ada aturan, tapi kita memang butuh informasi yang akurat, aman, dan jangkauannya tidak terbatasi hanya karena jarak geografis atau bebas ruang dan waktu,” ujarnya. Dalam pengembangan ini KPU tidak sendirian tapi melibatkan tenaga outsourcing, “Kami memiliki tim internal IT yang mendevelop sistem ini, baik dari internal KPU maupun outsourcing dari ITB, dan BPPT juga ada” tambah Nuryanti.

Selain membangun sistemnya, Nuryanti tidak menampik kemungkinan pengadaan kembali perangkat komputernya. “Komputer itu juga ada usianya ada expired date nya yang harus dipertimbangkan, serta usia komputer yang semakin tua juga harus dipikirkan. kalau komputer itu digunakan tahun 2005 dengan asumsi tahun pembelian 2005 berarti sekarang sudah 4 tahun saya tidak berpikir apakah komputer dengan usia 4 tahun masih reliable untuk menggawangi proyek yang besar ini. Dan kenyataannya komputer yang ada di kecamatan juga sudah dihibahkan kepada pemerintah daerah jadi kita tidak memiliki lagi kecuali komputer yang di KPU pusat, jadi mungkin ada pengadaan” papar Nuriyanti menjelaskan. Sementara pakar IT dari Masyarakat Telematika, Wigiantoro mempertanyakan hal tersebut. “Hardware yang dibeli pada 2004 itu kemana? Kalau memang dihibahkan apakah sepengetahuan lembaga yang mengaudit, karena ini milik negara bukan milik pribadi. Saya melihat apakah software yang lama tidak bisa dipakai, kemudian apakah hardwarenya sudah begitu ketinggalan atau sudah tidak bisa dipakai. Atau apakah pemilu ini terjadi peningkatan jumlah pemilih yang begitu signifikan sehingga memerlukan perangkat baru, kalaupun iya paling hanya penambahan atau penggantian harddisk saja. Sebelum menggunakan sistem yang baru, seharusnya KPU menjelaskan apa masalah pada sistem dan perangkat yang lama. Apakah sudah diadakan pengujian atau evaluasi terhadap sistem lama dengan mengundang pakar IT yang independent seperti dari ITB atau ITS. Sehingga jangan sampai setiap ada KPU yang baru selalu ada pengadaan perangkat yang baru,” ujarnya.

Sayangnya Nuryanti tidak dapat merinci berapa dana yang alokasikan untuk mewujudkan sistem informasi dan pengadaan perangkat kerasnya. Namun berdasarkan Surat Menteri Keuangan RI Nomor S-3926/AG/2007 tanggal 13 Desember 2007 pada bagian anggaran 69 kegiatan pengadaan logistik utama Pemilu 2009 dianggarkan sebesar Rp 3.855.641.608.899,- (58%), dan untuk kegiatan pendukung penyelenggaraan Pemilu sebesar Rp 324.591.768.901,- (5%).

Sitarlih dan Silon

Sistem informasi yang dibangun oleh KPU ini terbilang lengkap, karena mencakup banyak informasi yang bisa diakses langsung oleh masyarakat. “Kita sengaja merancangnya sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan kami dalam upaya menjaga keterbukaan pada masyarakat” jelas Nuryanti. Sarjana politik lulusa FISIP UGM ini menyebutkan beberapa layanan sistem informasi yang dibangun oleh KPU. Yang pertama adalah Sitarlih, atau Sistem Informasi Pendaftaran Pemilih. Sistem ini nantinya akan memuat data-data yang berkaitan dengan daftar pemilih berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh panita pemilihan di masing-masing daerah yang kemudian dikonsolidasikan oleh KPU pusat. Kemudian Siparpol, kependekan dari Sistem Informasi Partai Politik, sistem satu ini akan berisi informasi yang berkaitan dengan partai politik, baik itu visi, misi, kepengurusan dan segala macam yang berkaitan dengan partai peserta pemilu. Nuryanti memberi catatan untuk Siparpol ini, “Kita sudah mengembangkan sistemnya tapi memang belum terisi. sambil jalan ini membutuhkan bantuan dari teman-teman parpol untuk memberikan data sehingga data tersebut bisa kita muat,” ucapnya. Sistem selanjutnya disebut Silon, Sistem Informasi Calon, yang berisi informasi seputar calon, seperti CV, pendidikan, organisasi danhal-hal yang berkaitan dengan calon. Lewat sistem ini diharapkan masyarakat yang mengakses nantinya bisa mendapat informasi atau gambaran yang cukup tentang calon wakilnya di legislatif nanti. Selain tentang calon masyarakat juga mendapat informasi tentang surat suara melaui Sisura, Sistem Informasi Surat Suara. “Sebenarnya ini sistem yang akan kita isi seputar informasi tentang surat suara. KPU memang belum mengambil keputusan final soal bentuk surat suara, tapi Sisura ini nantinya akan bisa dipakai sebagai wahana untuk mengecek apakah benar namanya itu sesuai dengan yang ada di surat suara,” jelas Nuryanti. Untuk penghitungan KPU menyiapkan Situng atau Sistem Informasi Penghitungan, yang menampilkan perkembangan seputar penghitungan suara.

Yang terakhir adalah yang berkaitan dengan sistem pengadaan barang dan distribusinya. Dinamakan Silogdis, atau Sistem Informasi Logistik dan Distribusi. Sistem-sistem tersebut saat ini sedang dibangun oleh KPU, yang sudah dipergunakan hanya sitarlih “Karena memang kami harus mengeluarkan pengumuman daftar pemilih tanggal 8 Agustus. Tanggal 5 april lalu kita menerima DP4 (Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pilkada) dari pemerintah. Kemudian tugas KPU kabupaten kota kemudian adalah mengkonversikan DP4 kedalam sistem yang kita bangun melalui sitarlih untuk mendapatkan tanda tangan DPR. selain mengkonversikan nanti KPU berkaitan dengan memuktahirkan data” papar ibu yang juga peneliti LIPI ini.

Memperkecil peluang penyelewengan

Khusus tentang logistik, Nuryanti menerangkan Silogdis akan memuat informasi yang berkaitan dengan tender dan prospektif klien yang akan jadi partner. “Dengan transparasi itu kita berharap akan ada company yang benar-benar reliable dan capable untuk melakukan itu bukan company yang sembarangan.” KPU juga akan melakukan verifikasi apakah benar perusahaan tersebut sesuai dengan masukan dari masyarakat atau sekadar spam “Intinya kita mau mendapatkan list dari prospektif partner yang benar-benar berbobot, benar-benar bagus dan capable, responsible dan akuntable,” tambah Nuriyanti. KPU sekarang memang terkesan tidak mau main-main dalam pengadaan barang. Selain karena trauma dan takut terjebak pada persoalan yang sama di 2004 lalu UU sekarang juga tidak memberi legitimasi kepada KPU dalam pengadaan barang. KPU berdasarkan UU Nomor 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu, KPU harus lebih banyak menangani pekerjaan yang sifatnya “policy” (kebijakan), petunjuk teknis (Juknis) dan petunjuk pelaksana (Juklak). Sedangkan urusan teknis seperti logistik diserahkan kepada Sekjen. “Kita tidak ingin terjebak hal yang sama dan kita akan mematuhi peraturan yang ada, kita tidak akan terlibat dalam eksekusi procurement.” ucap nuryanti.

Walaupun dengan menggunakan sistem e procurement bukan berarti KPU terbebas penuh dari persoalan korupsi. Menurut Adnan Topan Husodo Kepala Divisi Korupsi Politik ICW kemungkinan korupsi akan terus ada. “Ini memang usaha yang bagus, tapi kemungkinan untuk adanya tindak korupsi masih besar. Karena persoalan korupsi itu adalah persoalan watak, jadi dengan media apapun korupsi bisa tetap dijalankan,” ujarnya saat ditemui di sela konferensi pers tentang dana sumbangan partai di media room kantor KPU pusat.

Perlu dukungan masyarakat

Hampir senasib dengan para pendahulunya di KPU 2004 lalu, sistem yang dibangun oleh KPU baru ini juga sudah mengalami gangguan dari para hacker. “Memang beberapa saat lalu web kita sempat di hack tapi itu mungkin iseng atau tidak sengaja, atau mungkin karena ingin menjajal,” ucap Nuryanti. Menanggapi adanya pihak yang ingin mengganggu sistem informasi di KPU, Nuryanti mengaku tidak habis pikir. “Sebenarnya kita berharap karena ini amanah UU, KPU berusaha mengembangkan IT yang berkaitan dengan pemilu adalah untuk lebih mensukseskan tugas dan kinerja kita. Dan kita berusaha semaksimal mungkin memberikan akses informasi yang lebih cepat kepada masyarakat jadi tidak ada alasan untuk diganggu,” ujarnya. Namun untuk mengantisipasinya KPU mengembangkan sistem informasi tersebut berdasarkan framework, “Kita menggunakan jaringan yang sudah kita percaya, tetapi intinya kita juga mencoba menerapkan jaringan pengaman teknis untuk securitas dari data yang kita punyai. Untuk keamanan administrasi kita berusaha menerapkan ISO 27001, yang berkaitan dengan sekuriti informasi,” jelas Nuryanti lagi. Selain itu KPU juga menggunakan pedoman yang dikeluarkan oleh Depkominfo yang berkaitan dengan informasi. Namun begitu Nuryanti mengakui tidak bisa menjamin 100% aman. “Karena saya pikir yang namanya buatan manusia tetap ada celahnya. Saya nggak berani bilang sistem yang kita bangun 100% secure karena yang namanya orang iseng pasti ada saja,” imbuhnya.

Nuryanti dengan tegas menyatakan mememinta dukungan kepada semua pihak untuk tidak merecoki, karena ini dibuat untuk kepentingan bangsa “Kita bekerja bukan untuk show off atau sok-sokan, tapi ini kita berharap kalau masyarakat tahu informasi dengan online kita juga akan dipandang dunia lebih bagus lagi, artinya kita sudah dianggap sebagai masyarakat yang sudah siap berdemokrasi dengan bisa mengikuti derasnya teknologi. Saya berharap kesadaran informasi dan menggunakan teknologi yang sophisticated ini diimbangi dengan kesadaran untuk menggunakannya untuk kemaslahatan umat.”

Ketika ditanyakan tentang sistem penghitungan cepat atau yang populer disebut sebagai quick count, Nuryanti menyanggah jika dikatakan penghitungan dengan metode ini adalah yang terbaik. Karena sebagai peneliti di LIPI Nuryanti mengetahui secara persis bahwa quick count itu biasanya beradasarkan sampling. yang harus diberitahu quick count itu berdasarkan sampling. “Waktu di LIPI saya juga pernah mengadakan quick count, secara akademis memang terbukti. Tapi pemilu itu harus real count, bahwa kita berkeinginan quick itu iya,” tuturnya. KPU sendiri berharap bisa membuat quick real count, atau penghitungan riil yang cepat. Karena ketika penghitungan suara tidak bisa menggunakan sistem sampel tapi faktual counting. “Tapi kita berharap bisa dilakukan dengan cepat, artinya butuh infrastruktur yang dari bawah sampai atas benar-benar mendukung, ya untuk mewujudkan itu memang entah kapan tapi kita berusaha semaksimal mungkin dengan SDM dan sumber dana dan dukungan yang ada untuk menciptakan kinerja yang lebih bagus,” ucap mantan Direktur Eksekutif RIDEP Institute ini.

Selama ini laporan hasil perolehan suara masih menggunakan telepon, kecepatan informasinya sendiri tergantung pada seberapa cepat PPK merekap. “Ada kecamatan yang gemuk dan kurus, kalau kurus biasanya yang terdiri hanya 1 atau 2 kelurahan pasti lebih cepat, tapi kalau di Jawa kecamatannya gemuk-gemuk, ada yang mencapai belasan bahkan puluhan jadi densitas populasi, densitas pemilih dan kecamatan jelas akan mempengaruhi” tambah Nuryanti. Dengan kondisi seperti itu tentu menyulitkan KPU untuk melakukan penghitungan secara cepat. Karena setelah direkap oleh PPS surat suara masih harus direkap lagi di tingkat kecamatan. Buat Nuryanti sebenarnya bisa saja pelaporan dengan sms atau internet. Tapi di beberapa daerah infrastruktur untuk itu masih sangat sulit selain itu kepercayaan oleh masyarakat juga harus dipikirkan. “Kalau menerima dalam bentuk sms saja kadang masih timbul keraguan benar atau tidak, masyarakat kita tetap membutuhkan bukti otentik untuk bisa lebih percaya.”

Wawancara

Sri Nuryanti SIP, MA

KPU jangan lagi diganggu

Tak mau mengalami kejadian yang sama seperti KPU periode 2004, anggota KPU periode ini cenderung lebih hati-hati dalam menjalankan tugas. Mulai dari penyediaan sistem informasi sampai pada pola pengadaan logistik. Rusaknya website KPU sempat membuat masyarakat menjadi pesimis apakah IT benarbenar bermanfaat bagi pemilu Indonesia. Tapi KPU periode ini seolah tak mau menyerah malah menghimbau “Saya meminta kepada semua pihak untuk tidak merecoki, karena ini dibuat untuk kepentingan bangsa” ujar Sri Nuryanti SIP, MA anggota KPU yang menangani Divisi Humas, Data Informasi saat diwawancarai oleh Irwansyah dan Johana dari Warta Ekonomi di Kantor KPU Pusat, Jl Imam Bonjol No. 29. petikannya :

Sebenarnya seberapa besar peran SI terhadap performa KPU ?

Di UU memang tidak ada istilah hukum yang spesifik mengatur tentang Sistem Informasi, tetapi kita mempunyai tujuan untuk memberikan informasi dalam jangkauan yang lebih luas. Karena kita memang butuh informasi yang akurat dan aman, dan reliable, dan jangkauannya tidak terbatasi hanya karena jarak geografis, atau bebas ruang dan waktu. Karena kita berniat memunculkan itu maka kita mengembangkan suatu teknologi yang sifatnya mendukung tujuan tersebut. Ini memang pekerjaan yang membutuhkan pemikiran bersama dan sinergi antar berbagai pihak. Karena kita tidak ada “cantelan” hukum yang spesifik, hanya saja kita berharap kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang cepat dan akurat, tanpa batas ruang dan waktu bisa terpenuhi. Jadi bisa dibilang keberadaan Sistem Informasi sangat membantu KPU dalam melaksanakan tugasnya dan menyediakan informasi bagi masyarakat.

Sistem Informasi apa saja yang sudah dibangun oleh KPU ?

Ada enam sistem informasi yang dibangun oleh KPU yaitu Sitarlih atau sistem informasi pendaftaran pemilih. Siparpol, sistem informasi partai politik, ini akan berisi yang berkaitan dengan partai politik. Silon, sistem informasi calon, yang berisi informasi seputar calon, seperti CV, pendidikan, organisasi dan hal-hal yang berkaitan dengan calon. Sisura, sistem informasi surat suara. Kemudian Situng, sistem informasi penghitungan, yang menampilkan tayangan-tayangan seputar penghitungan suara, kalau dulu per TPS, kalau sekarang PPK. Dan yang terakhir Silogdis, sistem informasi logistik dan distribusi, disitu kita membangun sistem informasi yang berkaitan dengan e-procurement atau dikatakan semi e-procurement kita sedang mengarah kesana, sebenarnya ini sistem-sistem yang sudah dirintis sejak tahun 2004, namun kita akan kembangkan lagi. jadi kita akan membangun silogdis itu untuk melihat informasi tentang logistik supaya lebih transparan, akuntabel dan traceable atau bisa di trace back, bisa dimonitor dimana posisi logistik itu sekarang. Semua sistem ini sekarang sedang kita bangun, yang sekarang sudah kita pergunakan sitarlih karena memang kami harus mengeluarkan pengumuman daftar pemilih tanggal 8 Agustus.

Siapa yang mendevelop ini KPU langsung atau bantuan pihak luar?


Kami mempunyai tim internal IT dan outsourcing dari ITB, pengembangan-pengembangan lain dari BPPT juga ada. Jadi tim ini yang mendevelop masalah teknis, sementara sekjen memfasilitasi pengadmisnistrasian dari pendevelopan IT di KPU.

Pada masa kepengurusan sebelumnya website KPU sempat di hack, bagaimana antisipasinya saat ini?

Kita memang tidak bisa menjamin 100% aman karena saya pikir yang namanya buatan manusia tetap ada celahnya. Saya tidak berani bilang sistem yang kita bangun 100% secure karena yang namanya orang iseng pasti ada saja. namun saya meminta kepada semua pihak untuk tidak merecoki. Karena ini dibuat untuk kepentingan bangsa kita, bukan untuk show off atau sok-sokan, melainkan memang kita memerlukan informasi yang bisa kita dapat dari sistem informasi ini. Sistem keamanannya sendiri saya tidak terlalu menguasai karena saya tidak mengerti teknis, tapi memang kita mengembangkan jaringan tersebut berdasarkan framework, jaringan yang sudah kita percaya, tetapi intinya kita juga mencoba menerapkan jaringan pengaman teknis untuk securitas dari data yang kita punyai. nah dari keamanan administrasi kita berusaha menerapkan ISO 27001, itu ISO yang berkaitan dengan sekuriti informasi, information security. kita juga berusaha menggunakan pedoman yang dikeluarkan oleh Depkominfo yang berkaitan dengan informasi. kita menggunakan jaringan-jaringan itu dengan harapan kita bisa menggawangi secara administratif prosedural bahwa itu merupakan suatu keharusan ya sudah kita ikuti saja. artinya memang sudah ada tindakan antisipatif, nah saya cuma berkeinginan untuk memunculkan pesan, tolong komunitas-komunitas yang ahli IT bantu kami jangan recoki kami.

Ada pembelian perangkat baru atau menggunakan sisa tahun 2004?

Logika umum saja, bahwa komputer itu juga ada usianya ada expired date nya yang harus dipertimbangkan, serta usia komputer yang semakin tua juga harus dipikirkan. Kalau komputer itu digunakan dengan asumsi tahun pembelian 2005 berarti sekarang sudah 4 tahun saya tidak berpikir apakah komputer dengan usia 4 tahun masih layak untuk menggawangi proyek yang besar ini. dan kenyataannya komputer yang ada di kecamatan sudah dihibahkan kepada pemerintah daerah jadi kita tidak punya lagi kecuali komputer yang di KPU, jadi mungkin ada pengadaan.

Jika ada pengadaan teknisnya bagaimana, apa menggunakan e procurement?

Ya, di Silogdis akan memuat informasi yang berkaitan dengan tender dan prospektif klien, prospektif perusahaan yang akan jadi partner. Dengan transparasi itu kita berharap akan ada perusahaan yang benar-benar reliable dan capable untuk melakukan itu, bukan company yang sembarangan. Oleh karena itu kita melakukan verifikasi apakah benar perusahaan tersebut sesuai dengan masukan dari masyarakat atau sekadar spam jadi intinya kita mau mendapatkan list dari prospektif partner yang benar-benar berbobot, benar-benar bagus dan capable, responsible dan akuntable. Ini pekerjaan yang besar yang hanya bisa dijalani oleh perusahaan yang benar-benar mampu sehingga tercipta akuntabilitas kepada masyarakat dan ada pertanggung jawaban. KPU sekarang memang terkesan tidak mau main-main dalam pengadaan barang. Selain karena trauma dan takut terjebak pada persoalan yang sama di 2004 lalu UU sekarang juga tidak memberi legitimasi kepada KPU dalam pengadaan barang.KPU berdasarkan UU Nomor 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu, KPU harus lebih banyak menangani pekerjaan yang sifatnya “policy” (kebijakan), petunjuk teknis (Juknis) dan petunjuk pelaksana (Juklak). Sedangkan urusan teknis seperti logistik diserahkan kepada Sekjen. Kita tidak ingin terjebak hal yang sama dan kita akan mematuhi peraturan yang ada, kita tidak akan terlibat dalam eksekusi procurement.

SI Semarang dan Onderwijs

Oktober 28, 2008

Tan Malaka (1921)
Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan. Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit
Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.
Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !
Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.
Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.
Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.
Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.
Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.
Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.
Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.
Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :
“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”
”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,
Yayasan Massa, 1987

PENDAHULUAN
Tergopoh-gopoh kita mengeluarkan buku ini, yang maksudnya hendak menggambar dan menuliskan percobaan Onderwijs, yang rasanya cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat, yang melarat.
Hampir semua lid SI Semarang kenal sama SI school. Mereka yang hampir pada tiap-tiap vergadering mendengarkan propaganda yang berhubungan dengan sekolah tiu, tentulah akan lebih suka lagi, kalau mempunyai suatu buku, yang lebih jelas menerangkan keadaan serta hal ikhwalnya sekolah itu. Dengan buku itu kita bisa pula mengumumkan haluan SI school dimana-mana , juga pada tempat-tempat yang sudah setuju dengan Semarang.
Buku ini tentu belum sempurna, sebab sekolah SI masih baru sekali. Lagi pula kita sengaja bercerita pendek, buat menerangkan yang perlu saja, sehingga orang yang tidak paham dalam hal ilmu didikan, juga bisa mengambil arti yang berguna bagi dirinya sendiri.
Kita berharap, bahwa dengan cerita yang pendek itu, beserta gambar-gambaran, sampai maksud kita yakni hendak melukiskan didikan Rakyat yang kita katakan tadi. Sungguhpun kita belum tahu, akan hasil perbuatan kita, tetapi kalau kita tilik sikapnya pihak sana, maka kita boleh mengambil keyakinan, bahwa jalan kita ada baik. Baru saja sekolah kita dibuka, Surabayasch Handelsblad serta konco-konconya sudah berteriak : “Hai, pemerintah awasi sekolah SI itu”. Wakil pemerintah di Semarang (Ass. Resident) sudah melarang membikin pasar derma (dengan art 520. WVS ??), yang selamanya ini boleh dilakukan, melarang anak-anak kromo meminta darma dengan menyanyi international (sepanjang art 154. WVS).
Pendeknya sekalian halang-halangan itu, yang dirasa menutup jalan untuk memperbaiki sekolah, sudah menimbulkan protest besar pada tanggal 13 Nopember ini, pada vergadering SI yang dikunjungi oleh kira-kira 5000 orang lelaki dan plm. 4000 orang perempuan. Perkara tanah yang juga penting buat Rakyat Semarang cuma memakan kira-kira 1 jam, sedangkan perkara onderwijs itu ada menghabiskan waktu kira-kira 2 ½ jam.
Selama kita tinggal di Semarang, belumlah pernah kita menyaksikan suara yang begitu tajam dan keras, baik dari pihak Destuur ataupun lid-lid SI. Sikapnya vergadering tadi seolah-olah seekor burung, yang anaknya disambar Elang. Di dalam di luar vergadering (di desa-desa) kita mendengar: SI school mesti terus:
Ya, SI school mesti terus, inilah jawab kita.

PERATURAN ONDERBOUW (SEKOLAH RENDAH)
Bahwa sekolah SI bukan seperti sekolah particulier yang lain-lain, yakni pertama sekali buat mencari keuntungan, bolehlah kita buktikan dengan bermacam-macam jalan. Bukan saja karena ongkos buat uang sekolah adalah lebih enteng, dan pengajaran ternyata lebih baik seperti keterangan anak-anak sendiri yang datang dari sekolah-sekolah partkulier, tetapi yang terutama sekali, karena hawa (=geest) di sekolah SI ada lebih sehat dan lebih dekat pada watak dan sifat anak asal dari Timur, yakni kalau kita bandingkan dengan geewst di sekolah-sekolah partikulier atau HIS Gouvernement. Nyata buat kita yang anak-anak suka bekerja keras untuk mencari kepandaian, yang perlu kelak buat keperluan hidup (seperti membaca, menulis, berhitung, bahasa dsb) pada dunia kemodalan, yang tiada mempunyai kasihan satu sama lain, pada dunia yang memberi rezeki dan keselamatan cuma pada yang kuat dan pintar saja. Itu memang kewajiban kita sebagai gurunya, supaya kelak anak-anak yang keluar dari sekolah SI cukup membawa senjata untuk perjuangan kelak dalam hal mencari pakaian dan makanan buat anak istrinya.
Pula kita tidak lupa, bahwa ia masih kanak-kanak dalam usia mana ia belum boleh merasa sengsaranya hidup dan berhak atas kesukaan bergaul sebagai kanak-kanak.
Perkara yang ketiga kita ingat juga, bahwa murid-murid kita kelak jangan hendaknya lupa pada berjuta-juta Kaum Kromo, yang hidup dalam kemelaratan dan kegelapan. Bukanlah seperti pemuda-pemuda yang keluar dari sekolah-sekolah biasa (Gouvernement) campur lupa dan menghina bangsa sendiri.
Ringkasnya maksud kita yang terutama :
1.    Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb).
2.    Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (verenniging).
3.    Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo.

I. Memberi senjata cukup, buat mencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, membacara, babad, ilmu bumi, bahasa Jawa, Melayu, Belanda dan sebagainya).
Perkara yang pertama ini tidak perlu kita panjangkan. Tiap-tiap kita yang keluar dari sekolah sudah tahu, apa artinya pengajaran sekolah hari-hari. Cuma kita dengan pengajaran sekolah itu juga mesti bangunkan hati merdeka, sebagai manusia dengan bermacam-macam jalan. Lagi pula kita mesti bangunkan sifat-sifat kuno, yang terbilang baik. Nyanyi-nyanyi jawa dan wayang-wayang begitu juga menggambarkan wayang-wayang yang begitu sukar kita hargai tinggi. Dalam dua tiga hari saja dinding sekolah kita sudah penuh dengan bermacam-macam gambaran wayang (Bambang Irawan, Prabu Doso Muko, Gatot Koco dan sebagainya), yang digambar oleh anak-anak sendiri dalam waktu temponya. Dalam kepintaran menggambar ini kita sebagai guru mengaku tunduk sama anak-anak yang berumur 10 atau 12 tahun itu. Kita berani mengatakan, yang juga anak-anak eropa yang berumur sebegitu, atau lebih, mesti akan kalah sama anak-anak kita. Nah, kalau bangsa Eropa meninggikan betul kepintaran menggambar itu, lebih-lebih bangsa Belanda1, kenapa tidak dikeluarkan kepandaian yang memang tersembunyi pada bangsa jawa itu? Jawabnya: barangkali sebab pabrik gula atau kantor post lebih suka sama yang pandai menyalin kopi, atau menghitung uang masuk dan keluar, dari pada sama orang, yang pandai menggambar Doso Muko.
Perkara berhitung, tentu kita berani tanggung. Kita tahu, bahwa orang-orang sekolah kelas II dahulu lebih pintar berhitung dari keluaran sekolah HIS sekarang, seperti juga orang-orang keluaran sekolah kweekshchool 20 tahun yang lalau umpamanya, lebih gemar dan lebih pandai berhitung dari keluaran kweekschool sekarang. Tentulah bahasa Belanda itu sangat menghambat kemajuan berhitung. Juga caranya mengajar. Dahulu orang-orang itu disuruh sendirinya saja berhitung. Cuma apa yang tidak bisa saja yang diterangkan.
Bukankah seperti sekarang guru-guru mabuk methode (cara mengajar), sehingga anak-anak tidak bisa cari jalan sendiri. Kita ingat akan babad onderwijs (sejarah pendidikan) di negeri Belanda, dimana orang-orang tani desapun, beberapa ratus tahun dulunya, turut campur berhitung. Semua isi desa memikirkan suatu persoalan, dan yang mendapat pendapatan dimuliakan betul. Kita sendiri masih ingat akan masa, dimana teman-teman kita murid sekolah kelas II (bukan HIS) kesana sini pergi mencari hitungan. Di sekolah SI kita biarkan juga kemauan berhitung itu. Yang pandai kita suruh terus, beberapa kuatnya saja, sehingga sudah ada anak yang duduk di kelas IV umpamanya, yang sekarang sama kitab hitungannya dengan kelas V HIS.
Kita memang tidak pakai Rooster (daftar pengajaran) seperti HIS. Tidak saja dalam berhitung kita lepas anak-anak sebagaimana kuatnya, tetapi dalam hal mengajar bahasa (Belanda) kita melanggar Rooster. Di kelas II umpamanya duduk anak-anak ada yang sampai berumur 13 tahun. Anak-anak ini keluar sekolah kelas II. Kita mesti terima anak-anak ini. Kalau tidak tentu dia mesti mondar-mandir saja di jalan rayat, karena sekolah yang lain buatnya tidak ada, atau terlampau mahal.
Kita jangan lupa, bahwa diantaranya banyak yang kencang otak, cuma tak bisa bahasa Belanda saja. Tetapi sebab kelak perlawanannya ialah kaum modal, yang memakai bahasa Belanda, maka perlu sekali kita ajarkan betul bahasa itu, terutama untuk mengerti, baru yang kedua untuk menulis atau berbicara dalam bahasa itu. Jadi sebab anak-anak berumur 13 tahun ke bawah itu sudah bisa berhitung buat kelas II, sementara kita pentingkan mengajarkan bahasa Belanda. Tentulah sementara saja, karena kita tidak lupa akan pengajaran lain-lain.
Anak-anak keluaran kelas II itu menjadi pertimbangan yang penting sekali buat kita. Untuk mencari pekerjaan mereka itu masih amat kecil. Tetapi ia tiada bisa meneruskan pengajaran. Sebab itulah mereka itu merasa sampai hati sanubarinya dihimpit oleh kemodalan, yang memberi onderwijs (pendidikan) buat yang kaya dan yang mampu membayar saja. Inilah anak-anak yang mudah dimasuki rasa kemerdekaan karena mau naik, tetapi tiada bisa. Pemuda-pemuda semacam inilah di Rusia, yang di muka, di medan peperangan yang menahan pelornya kaum Modal, yang mempertahankan peraturan Komunisme, yang memberi kesempatan bagi kemajuan pikiran dan perasaan pada tiap-tiap manusia. Anak-anak kita di SI school yang keluar kelas II ada serupa kaumnya di Rusia tadi.
Dialah yang rajin, gemar dan kalau menyanyikan internasional (lagunya kaum yang tertindas di atas dunia), maka suaranyalah yang keras dan matanyalah yang bercahaya api, disebabkan oleh arti lagu internasional itu.
Selain dari pada vak-vak (mata pelajaran) berhitung, menggambar, bahasa itu, tentulah vak-vak ilmu bumi, babad (sejarah) dunia, menyanyi dan sebagainya kita ajarkan dengan cara dan dasar, yang cocok dengan haluan kaum SI, ialah kaum yang melarat. Semua ini belumlah program yang sempurna. Kalau ada perlu tentu disana-sini boleh dirubah.

II. Memberi haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan.
Kalau kita perhatikan pergaulan anak-anak di sekolah-sekolah masa sekarang, maka sia-sialah kita mencari geest (hawa) yang sepadan dengan usianya anak-anak. Murid-murid sekarang kerjanya lain tidak semacam mesin pabrik gula, yang siang malam tak berhenti bekerja. Siang malam anak-anak mesti belajar dan menghafalkan pelajaran, sehingga tiadalah berapa waktu tinggal untuk bermain-main. Lain dari pada waktu uitspanning, (main-main di pelataran) tiadalah ada mereka sanggup bercampur-campur. Satu sama lain kenalnya di kelas saja, sehingga kanak-kanak tiada merasa enaknya kumpul-berkumpul. Sifat ini kelak kalau besar akan terbawa-bawa juga, sehingga tiap-tiapnya orang suka mencari kesenangan sendiri-sendiri saja.
Anak-anak itu memangnya suka berkumpul-kumpul. Dalam permainan apapun juga, ia ada mempunyai peraturan sendiri. Sungguhpun peraturan tadi (dalam main layangan umpamanya) tidak dituliskan pada Reglement, tetapi mereka yang kecil-kecil itu tiada akan melanggar peraturan yang tetap. Dalam permainan apapun juga kita bisa pastikan, bahwa di sana ada kepala, yang menguruskan permainan, sungguhpun kepala tadi tidak dipilih dengan cara memilih seperti dalam sebuah vereeniging. Kalau ada anak yang melanggar adat bermain, mak anak itu lekas kena tegur dan kalau tiada mau mendengar, maka ia akan kena boycot.
Sifat yang batin-batin itu, mesti kita majukan, dan mesti kita sambung. Apa yang kurang mesti kita tambah. Tetapi tidak semacam guru tidak boleh jadi diktator dalam permainannya. Dia mesti merdeka sendirinya. Cuma kalau dia salah atau tidak tahu jalan, baru kita memberi nasehat.
Sifat suka bergaul itu kita sudah mencoba membangunkan sedikit dengan perkataan. Dengan lekas anak-anak kita di SI school mau mengambil buktinya. Dengan segera terdiri suatu “Commite untuk Bibliotheek” (perkumpulan buku-buku) dan baru-baru ini Commite Kebersihan, dan Voetbal Club (klub sepakbola), Coorzitter dan bestuur yang lain-lain sama sekali dipilih oleh anak-anak. Begitupun Reglementnya dibikinnya sendiri. Dalam watku uitspanning atau sesudah sekolah, maka kita melihat mereka sering mengadakan Vergadering, untuk merembukkan ini itu. Dalam Vergadering SI (orang besar) anak-anak kita yang berumur 13 atau 14 tahun itu sudah pernah bicara, di Semarang ataupun Kali Wungu.
Sedangkan orang-orang tua dan pintar masih gentar dan takut bicara di muka orang banyak; tetapi anak-anak SI school sudah pernah menarik hati orang-orang tua, lantaran keberaniannya. Mereka yang kecil, yang memakai selempang, ditulis dengan rasa kemerdekaan, anak-anak yang berpidato dan menyanyikan internasional, sudah pernah menjatuhkan air mata beberapa lid SI yang mengunjungi Vergadering.
Anak-anak kita akan terus bikin propaganda untuk Bibliotheeknya tadi. Selama ini disambut dengan girang hati. Begitu juga murid-murid SI ada berpengarapan, yang kasnya akan lekas terisi derma, dan lemarinya akan terisi buku-buku, yang dikehendakinya.
Dalam hal organisasinya tadi, kita hampir tiada menolong apa-apa, karena maksud kita bukan hendak mendidik anak-anak jadi Gromopon. Kita mau, supaya dia berpikir dan berjalan sendiri.
Besar pengharapan kita, bahwa kelak Vereeniging yang lain-lain seperti tooneel (komidi, sandiwara), wayang menyanyi, surat kabar dan lain-lain, yang setengahnya sekarang masih dalam pikiran saja akan hidup dan maju seperti “Vereeniging Bibliotheeknya” ini.

III. Menuju kewajibannya kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo
Ini maksud mudah dituliskan, tetapi tiada mudah disampaikan. Kita jangan lupa, bahwa kita mengajar kanak-kanak, yang belum pernah membanting tulang sendiri buat mencari penghidupan untuk anak istrinya. Seorang yang mempunyai hati dan pikiran yang suci mudah kemasukan iblis, kalau sudah ditimpa bahaya kemelaratan hidup. Demikian juga kelak anak-anak keluaran SI tentu akan ada juga yang pecah iman, kalau mesti masuk pada neraka kemodalan. Hal itu tentu tiada boleh menakuti kita; hanyalah menambah memaksa memikirkan daya upaya, supaya anak-anak keluaran sekolah SI jangan kelak membelakangi Rakyat.
Kalau kita periksa dalam-dalam segala perkara-perkara yang memisahkan pemuda-pemuda keluaran sekolah Governement dari Kaum Kromo, maka ternyatalah, bahwa perkara-perkara itu mesti dicari pada sifatnya didikan sekolah-sekolah tersebut.
Di sekolah Governement diajarkan kebersihan pada murid-murid, tetapi tiada dibilang, bahwa Kromo tiada tahu, apa yang bersih, kalau tahu apa bahaya kekotoran. Nanti kalau murid-murid ini sudah besar, maka tiadalah sedikit juga kehendak padanya untuk membangunkan kebiasan kebersihan itu pada kaum melarat itu. Tidak, malah mereka dalam batinnya turut benci pada si Kromo yang kotor katanya itu, dan turut membilang, bahwa kekotoran itu memang sudah sifatnya si Kromo. Jadi didikan sekolah Governement semacam itu, yang tiada disertai kecintaan atas Rakyat, tiada menanam kewajiban buat menaikkan derajat Rakyat menyebabkan, maka didikan itu menimbulkan suatu kaum (bernama kaum terpelajar) yang terpisah dari Rakyat.
Tentulah tiada perkara kebersihan saja yang mendatangkan pisahan itu. Juga kepandaian, adat istiadat, yang didengarkan atau dibacanya dalam sekolah, sama sekali tidak menanam belas kasihan pada Kromo. Dan kalau tiada dibangunkan rasa kewajiban dan kecintaan, maka sudahlah tentu yang bersih pandai dan sopan itu tiada akan tahu menahu yang kotor, bodoh dan biadab, kata kaum sana itu.
Perkara juga yang bisa mendatangkan pisahan itu ialah perceraian kerja tangan dan kerja otak. Sekolah biasa dianggap cuma buat mencari kepandaian otak saja. Itulah pula kerjanya anak-anak itu hari-hari. Dahulu kala, dan sekarang juga, anak-anak itu di desa turut mencangkul atau bertukang. Semuanya dilakukannya dengan kegemaran. Tetapi pada sekolah zaman sekarang bertukang atau mencangkul itu cuma dilihatnya saja baik dalam perjalanan atau pada gambar-gambar sekolah. Kalau pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan oleh kaum kotor, bodoh dan sebagainya, heranlah kita, kalau pemuda-pemuda yang bernama terpelajar itu kelak berpikir: Kerja tangan itu rendah sekali?
Di sekolah SI tidak saja dibilang apa yang bersih, tetapi diajarkan sendiri mencari kebersihan. Jongos-jongosan tidak ada.
Baru-baru ini sesudah kita mencela kekotoran sekolah dan perkakasnya sekolah kita sendiri, maka segera dibangunkan “Commite kebersihan”, Commite inilah yang menjaga supaya segala pekerjaan berhubung dengan kebersihan sekolah (bangku, bord, dsb) dilangsungkan. Kalau sekarang belum pukul delapan kita memasuki kantor SI maka kelihatanlah anak-anak yang bersingsing lengan baju, memegang kain atau ember untuk membersihkan bangku atau bord (papan tulis). Ini kemajuan besar. Karena, kalau 2 atau 3 bulan yang lalu, kita sedikit minta tolong, umpamanya membersihkan papan, maka kita lihat muka yang seolah-olah mau berkata : “Ini pekejaan jongos”.2
Memandang rendah pada pekerjaan tangan, yakni kerja ibu bapaknya hari-harian, itulah yang mau kita perangi dengan sekuat-kuatnya. Anak-anak mesti cinta pada segala macam pekerjaan yang disahkan (halal).
Sesudah kita bisa buang sifat didikan yang bisa mendatangkan benci pada kaum Kromo (yang kerja tangan) itu, maka harus kita perhubungkan anak-anak kita dengan kaum melarat. Itulah gunanya, kalau ada tempo kita membicarakan nasib si kromo; kita menanam hati belas kasihan sama bangsa yang tertindas; kita menunjukkan kewajiban sebagai anak kaum yang tertindas itu. Sebab itulah kita membangunkan hatinya, supaya berani bicara dalam Vergadering SI, atau Vergadering Kaum Buruh.
Bijak dan berani berpidato, yakni kepandaian yang dimuliakan oleh segala bangsa yang merdeka, baik dahulu, baik sekarang, bisa ditanam cuma dengan jalan Vergadering saja. Kalau kita amat-amati pemimpin-pemimpin muda kita, baik dalam Commite Bibliotheek, “Commite kebersihan” atau “Voetbal Club” dalam Vergaeringnya masing-masing, maka mudah kita saksikan, bahwa dalam Vergaderingnya itu ada orde (aturan), dan ada hati sungguh (baik dari pihak speker (pembicara) ataupun yang mendengar). Kadang-kadang kita heran melihat, bagaimana seorang kanak-kanak bisa mengenggam Vergadering yang dikunjungi oleh lebih kurang 180 anak-anak. Vereeniging inilah suatu sekolah, yang besar artinya untuk mendidik rasa dan hati mereka; mendidik untuk memikirkan dan menjalankan peraturan buat pergaulan hidup, mendidik untuk fasih dan berani bicara, didikan mana dalam zaman perbudakan ini lebih besar harganya dari pada mengetahui, berapa banyaknya sungai-sungai di pulau Borneo umpamanya.
Kalau kita bisa menyambungkan perkumpulannya dalam sekolah itu dengan perkumpulannya ibu bapaknya seperti Serikat Islam, maka rasanya kelak, kalau ia keluar sekolah tidak akan berpisah dengan ibu bapaknya itu. Sebab itulah maka kalau ada vergaering SI Semarang, kita mengajak anak-anak yang sudah mengerti, mengunjungi vergadering tadi.
RINGKASNYA :
1.    Di sekolah anak-anak SI mendirikan dan menguruskan sendiri pelbagai-bagai vereeniging, yang berguna buat lahir dan batin (kekuatan badan dan otak). Dalam urusan vereeniging-vereeniging tadi anak-anak itu sudah belajar membikin kerukunan dan tegasnya sudah mengerti dan merasa lezat pergaulan hidup.
2.    Di sekolah diceritakan nasibnya Kaum Melarat di Hindia dan dunia lain, dan juga sebab-sebab yang mendatangkan kemelaratan itu. Selainnya dari pada itu kita membangunkan hati belas kasihan pada kaum terhina itu, dan berhubung dengan hal ini, kita menunjukkan akan kewajiban kelak, kalau ia balik, ialah akan membela berjuta-juta kaum Proletar.
3.    Dalam vergadering SI dan Buruh, maka murid-murid yang sudah bisa mengerti, diajak menyaksikan dengan mata sendiri suaranya kaum Kromo, dan diajak mengeluarkan pikiran atau perasaan yang sepadan dengan usianya (umur), pendeknya diajak berpidato.
4.    Sehingga, kalau ia kelak menjadi besar, maka perhubungan pelajaran sekolah SI dengan ikhtiar hendak membela Rakyat tidak dalam buku atau kenang-kenangan saja, malah sudah menjadi watak dan kebiasannya masing-masing.

PERATURAN MIDDENBOUW (SEKOLAH TENGAH)
Demikianlah bunyinya program SI school di Semarang. Menilik nama Brosure kita yakin bahwa maksud kita bukan hendak mengadakan satu sekolah saja, malah mempertimbangkan hal onderwijs (haluan didikan), juga buat SI. Tegasnya maksud kita mencari suatu macam didikan yang bisa mendatangkan faedah bagi Rakyat, negeri-negeri lain di luar semarang, yang mau mendirikan sekolah seperti di Semarang, maka kita mesti mengatur sekolah itu seperti di Semarang juga.
Sampai sekarang sudah ada tiga atau empat kota yang sudah meminta pada kita, supaya diadakan dan diatur pula sekolah-sekolah SI. Kota-kota itu sudah siap murid, siap bangku sekolah dan perkakas yang lain-lain. Cuma belum siap akan gurunya. Perkara guru itu penting sekali. Jarang guru keluaran keewwkschool, yang mau atau berani memihak pada kita, kalau memihak, ialah karena gaji saja, bukan karena hati atau haluannya.
Sebab itulah kita sendiri pula mesti menanam guru buat SI school itu (sekolah tengah). Pekerjaan ini sudah kita mulai, jadi tidak tinggal dalam pikiran saja lagi. Setiap sore (sementara ini baru 3 x satu minggu saja) di kantor SI diadakan kursus mengajar murid-murid SI yang kelas V, VI, dan VII (jadi murid-murid yang berumur dari 15 tahun ke atas) menjadi guru. Murid-murid itu biasanya kebetulan keluaran sekolah kelas II, jadi sudah menerima pengajaran dalam berbagai-bagai kepandaian. Dalam kepandaian yang tersebut dan dalam bahasa Belanda mereka tiap-tiap pagi dari pukul 8 – 1 dapat pelajaran. Sebab ia keluaran kelas II tadi, maka ia biasanya lekas sudah berhitung, menulis dan sebagainya. Jika ia sudah, maka ia segera disuruh menolong mengajar di kelas rendah SI school yakni pada anak-anak yang baru masuk sekolah. Jadi murid-murid yang besar-besar tadi tiap-tiap hari boleh belajar mendidik, tidak dalam teori saja, malah juga dalam praktek.
Pendeknya kerja murid-murid di atas dari kelas V yang keluaran sekolah kelas II, dan berumur lebih dari 15 tahun adalah seperti di bawah ini :
a.    Dari pukul 8 – 1 (pagi) ia meneruskan pelajarannya di sekolah. Karena ia lekas sudah mengerjakan tiap-tiap vak, maka selama ¼ jam temponya itu, ia disuruh membantu guru-guru SI di kelas I dan II (semacam guru bantu).
b.    Tiap-tiap sore murid-murid besar itu diberi ilmu pendidikan (paegogogie), supaya teorinya buat mengajar semacam guru.
Selamanya ini pekerjaan ada langsung. Sebentar lagi kita memang berani mempercayakan kelas I sama sekali kepada anak-anak yang sudah kena kursus itu. Tentulah kursus sore itu belum bisa sempurna, sebab belum cukup banyaknya anak-anak yang dari kelas V ke atas itu. Sesudah tiga atau empat tahun lagi barulah kursus sore itu bisa diatur semacam kweekschool yakni dikasih pengajaran sama tinggi dengan kweekschool Gouvernement. (kita sendiri juga sudah keluaran Kweekschool Gouvernement itu).
Tetapi sebab permintaan negeri-negeri yang lain-lain di atas tadi, maka dari sekarang kita mesti bersiap. Tiadalah ada salahnya kalau sekarang lebih dahulu kita bicarakan gaji murid-murid keluaran kursus tadi. Kalau murid sudah mendapat kursus 1 tahun, jadi dihitung berhak mengajar di kelas I SI school, maka gajinya plm. bisa f 40,-. Kalau murid itu sudah dapat kursus 2 tahun jadi dihitung berhak (bevoegd) mengajar di kelas II SI school, maka gajinya kira-kira bisa f 50,-. Demikianlah berturut-turut, sehingga kalau guru-guru tadi sudah berhak (bevoegd) mengajar di kelas VII SI dan umurnya dipukul rata 22 tahun, maka gajinya bisa f 100,-. Kalau sekolah maju dan muridnya bertambah-tambah, tentu gajinya guru keluaran kweekschool SI bisa sempurna.
Di bawah ini kita kasih begrooting, yang kira-kira bisa diteruskan di kota besar-besar seperti Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta, dsb.
SI, school yang mempunyai murid 300. jumlah uang sekolah sebulan = 300 x f 3 = f 900. Gaji guru-guru = f 40 + f 50 +f 60 + f 70 + f 80 + f 90 + f 100 = f 490. Sisa = f 510.Yang f 500 lebihnya ini boleh sebagian dipakai untuk menambah gaji guru yang sudah lama dinas, yang rajin, pandai dan sebagainya sehingga rasanya maximum f 200 bisa didapat. Banyak murid itu bisa lebih dari 300, karena kita bikin paralelklassen (Ia, Ib, Ic; kelas-kelas ini sama pengajarannya, Cuma gurunya lain-lain, sehingga di klas I saja bisa masuk lebih dari 2 atau 3 guru, dan murid lebih dari 100 atau 200).
Jadi pendeknya pemuda-pemuda keluaran kursus SI Semarang, bisa jadi guru di SI school lain-lain. Buat anak-anak keluaran kelas II school juga kita terima terbuka jalan buat memimpin Rakyat, baik yang kecil, baik yang besar. Karena sesudah sekolah, maka guru-guru SI school bisa membela perkumpulan politik atau Vakvereeniging, ilmu-ilmu mana di SI school sudah diteori dan dipraktekan.
Berapa perlunya onderwijs di Hindia ini tiadalah berguna dibicarakan lagi. Berapa banyaknya kota-kota yang bisa kita rebut sekolahnya sudah terang, bahwa Gouvernement tidak akan bisa dalam 10 tahun ini memberi pengajaran pada 50 % anak-anak saja (di tanah Jawa saja baru kira-kira 2 % orang keluaran sekolah Gouvernement) karena memangnya tidak ada orang, kalau buat ornderwijs, sebab sudah banyak termakan oleh lasykar darat dan laut. Pemerintah sekarang asyik membicarakan dan meneruskan perkara armada laut, yang akan memakai ongkos kira-kira f 220.000.000,- Apalagi leerplicht (paksaan memasukan tiap-tiap anak ke sekolah), tentulah masih bertambah mustahil (jauh) lagi.
Buat kita SI yang memihak pada Rakyat masih besar pasar yang bisa direbut. Makin lekas kita bergerak, dan bersiaplah murid dan sekolah, makin lekas sampai maksud. Kalau kita kaum Rakyat kerja keras semacam ini, tentu dalam 10 atau 15 tahun sudah bisa memakan hasilnya pekerjaan kita. Sudah bisa beribu kaum yang tepelajar, yang pandai mengerti dan memihak dengan pikiran dan nyawanya pada Rakyat.
Peraturan onderwijs semacam ini tidak mimpi saja, tetapi bisa menjadi, ya, dan mesti menjadinya. Berulang-ulang sudah diterangkan, bahwa dari pemuda-pemuda keluaran sekolah Gouvernement tidak boleh kita mengharapkan besar pertolongan buat pergerakan Rakyat. Seperti sudah diterangkan di atas, anak-anak yang sebagian besar keluaran kweekschool SI bisa dapat pekerjaan di golongan SI (lain dari pada sekolah tentu vak-vak vereeniging akan suka mengambil anak-anak keluaran SI kita).
Anak-anak keluaran SI school, yang mau meneruskan pengajaran pada ambachtschool Gouvernement dan sebagainya, tentu dari pihak kita tak akan dapat halangan. Melainkan kita akan menjaga, supaya ia sanggup membuat examen (ujian). Sekarangpun rupanya sudah ada satu dua anak-anak yang baru-baru ini tidak diterima di HIS lantaran mana ia lari dari SI school kita, tetapi belum lama ini diterima di HIS tadi. Jadi rupanya pintu HIS Gouvernement, tidak ditutup buat anak-anak SI school.
Sebaliknya, kita tak perlu takut, bahwa skolah SI kita akan jadi kosong. Anak-anak keluaran kelas II berumur 12 – 13, yakni bibit kita sejati, tidak akan bisa diterima oleh Gouvernement. Lagi pula tiap-tiap minggu Kromo membawa anaknya pada kita, dan tiap-tiap minggu anak-anak minta keluar dari partikulir 1-1, dan masuk pada sekolah kita. Katanya sebab pelajaran baik, bayaran lebih murah dan buat anak-anak ada bermacam-macam permainan dan perkumpulan. Kebenaran itu boleh kita buktikan, dengan keterangan, bahwa ada murid kita yang dari Cepu, dari Sragen (Solo), dari Jawa Barat dan lain-lain. Diantaranya ada yang minta keluar dari HIS Gouvernement.
Pendek kata, dalam berlomba mencari pasar, yakni merebut mendidik sekalian anak Kromo, SI tak perlu khawatir. Makin besar dan banyak sekolah-sekolah kita dirikan, makin lekas kita sampai di padang kemajuan. Kalau onderbouw (sekolah rendah) sudah cukup, maka niscaya kita dengan pertolongan SI bisa mendirikan middenbouw (sekolah tengah). Kalau sudah ada umpamanya 6 sekolah rendah, dan sekolah-sekolah itu diatur dari central, maka tiadalah akan susah bagi tiap-tiap sekolah mengadakan fonds (dana) kira-kira f 100 sebulan, sehingga sesudah 5 tahun saja sudah bisa ada uang kira-kira f 40.000,- Dengan derma dan l.l uang itu boleh ditambah-tambah. Sesudah 5 atau 6 tahun SI school berdiri, yaitu sesudah kira-kira ada anak-anak yang mesti keluar, maka anak-anak itu boleh meneruskan pengajarannya di sekolah tengah SI ambachtsschool umpamanya.
Peraturan batin ambachtsschool itu kita mesti pegang sendiri (buku-buku baca, ilmu bumi, babad, dan sebagainya). Hanya perkara bertukang atau tehnik kita serahkan pada guru-guru yang biasa. Guru ini mudah saja didapat. Di negeri Jepang, Swedia, atau Swiss ribuan orang yang pandai dan mau meninggalkan engeri, kalau ada penghidupan yang sempurna di negeri lain. Juga di Hindia ini lambat launnya akan timbul pemuda-pemuda yang rela memihak pada kita. Ringkasnya perkara guru itu (tehnik) kita tak perlu sekejappun cemas, asal ada uang di Kas.
Pun buat anak-anak keluaran ambachtsschool atau sekolah tengah lain-lain itu, adalah akan mudah juga jalan penghidupan, asal didikannya kerakyatan. Asal masih ada Rakyat dan pergerakan di Hindia ini, maka bagi pemuda-pemuda itu akan cukup pekerjaan. Bersambung dengan Rakyat dia akan bisa memimpin Koperasi dalam pertukangan umpamanya. Lagipun di tempat lain-lain tentu ia bisa dapat kerja, asal pintar dan rajin saja.
Demikianlah ringkasnya saja maksud kita tentangan onderwijs buat Rakyat. Barangkali reaksi dan musuh kita tak akan kurang terus memfitnah dan menghalang-halangi daya upaya kita. Nyata sudah, bahwa dari pihak pemerintah kita tidak akan mendapat bantuan. Jangankan bantuan, tetapi kemerdekaan pun tidak kita peroleh, yakni kemerdekaan sepeti pada tiap-tiap orang atau vereeniging (partikulier dan zending) buat mendirikan sekolah yang cocok dengan haluan masing-masing.
Seperti Muhammadiyah, zending dan lain-lain di Hindia ini dapat kepercayaan dan bantuan lahir dan batin dari pihak pemerintah. Pada bulan Agustus tahun ini pemerintah sudah membenarkan statusnya “Vereeniging buat mendirikan dan menguruskan sekolah-sekolah Kristen untuk uitgebreid Lager, Middelbaar dan Vakonderwijs-nya di Jawa Tengah”. Dasar onderwijs-nya disebutkan Gods-Woord = Firman Tuhan, yakni Tuhannya kaum Kristen. Memang sudah lama di Hindia ini zending bergerak (Minahaasa, Batak, Ambon, Jawa). Memang sudah banyak di Hindia ini kaum Kristen, lebih-lebih dalam bala tentara (Ambon, Manado).
Meskipun di Hindia ini tinggal plm. 50 juta kaum Muslimin, tetapi pemerintah tiada menaruh keberatan atas propaganda-nya kaum Kristen, yang dalam babad sering berperang-perangan dengan kaum Muslimin. Kita orang perjuangan tentu tidak akan mengurangkan satu agama terhadap kepada agama lain – Cuma kita campur meminta kemerdekaan seluas-luasnya, buat onderwijs, yang sepanjang keyakinan kita cocok dengan keperluan Rakyat, yang melarat, Onderwijs mana juga oleh SI Semarang sudah di akui sah.
Tetapi seperti sudah disebutkan lebih dahulu, kita sudah dapat halangan keras, ketika SI mau mengadakan pasar derma, untuk memperbaiki sekolah saja. Juga baru-baru ini dilarang anak-anak mencari derma di desa-desa dengan menyanyi international. Karena kita tidak mendapat subsidi, maka derma itulah saja jalan buat kita, untuk meneruskan daya upaya. Sehingga kalau derma itu dihalang-halangi, maka sama artinya dengan menghalang-halangi sekolah Serikat Islam.
Pendeknya, sekolah kita ada bisa segenap waktu dapat ancaman atau bahaya.
Terus atau tidak kita semata-mata bergantung pada SI. Kalau SI sama sekali mau mempertahankan bibit yang sudah kita tanam itu seperti SI Semarang (Bandung, Sukabumi, dll juga akan mau) maka halangan tentu semuanya terhindar. Sesudah tentu maksud kita gampang dan lekas sampai.
Buat kita sendiri sudah cukup bukti yang menerangkan, bahwa peraturan SI school Semarang, sudah dimufakati oleh beribu-ribu kaum SI. Hal ini mengeraskan keyakinan kita, bahwa jalan dan haluan kita lurus dan sah. Apa kehendak dan perbuatan kaum sama, kita tunggu dengan hati tetap. Ikhtiar kita, yaitu hendak menarik hati SI terhadap kepada didikan kita, sudahlah cukup hasilnya.
Kepercayaan Rakyat yang sudah diperoleh itu bagi kita laksanakan sesuatu wet yang kita akui sah dan terkuasa; kepercayaan itulah saja yang menumpu (mendorong) kita dari belakang untuk berjalan terus, dengan tiada menoleh kiri kanan.

DAFTAR ARTI KATA-KATA ASING DALAM KARYA TAN MALAKA “SI SEMARANG dan ONDERWIJS”
1.    Onderwijs        = Pengajaran, pendidikan, atau perguruan.
2.    Lid SI               = Anggota Sarekat Islam.
3.    SI School         = Sekolah atau Perguruan SI.
4.    Surabayasch Hendelsblad = Harian perdagangan Belanda yag terbit di Surabaya.
5.    Vergadering SI = Rapat atau pertemua SI.
6.    Destuur            = Pimpinan / pengurus.
7.    Peraturan Onderbouw (sekolah dasar) = Tingkat bawah / dasar.
8.    Sekolah particulier = sekolah swasta.
9.    Hawa (geest) di Sekolah SI = lebih tepat : jiwa di sekolah SI.
10.    HIS Gouvernement = Hollands Indlandse School Governement = sekolah dasar pemerintah (khusus untuk pribumi anak pegawai negeri tingkat menengah ke atas).
11.    Vereeniging      = perkumpulan, persatuan.
12.    Sifat-sifat yang kuno = lebih tepat : sifat-sifat yang lama.
13.    Dalam watku temponya = dalam waktu istirahat.
14.    Kweekschool   = sekolah pendidikan guru (untuk sekolah dasar).
15.    Sekolah kelas II = sekolah ongko loro, sekolah dasar untuk anak pribumi golongan rendahan.
16.    Babad onderwijs = sejarah pendidikan.
17.    Kencang otak   = berotak cerdas.
18.    Rusland            = Rusia.
19.    Vak-vak berhitung, dll = mata pelajaran berhitung dll.
20.    Boycot             = Boikot.
21.    Reglement        = Reglemen, peraturan.
22.    Sifat yang batin-batin itu = Sifat kejiwaan itu.
23.    Bibliotheek       = Perpustakaan.
24.    Voetbal Club    = Perkumpulan sepak bola.
25.    Gromopon        = Gramopon, pesawat pemutar piringan hitam.
26.    Bangku, bord, dsb = Bangku, papan tulis, dsb.
27.    Cukup aanleg dalam pertukangan = Cukup berbakat dalam pertukangan
28.    Bisa menggenggam vergadering = bisa menguasai pertemuan / rapat.
29.    Speker             = Pembicara.
30.    Peraturan Middenbouw (sekolah tengah) peraturan tingkat menengah (sekolah menengah).
31.    Negeri-negeri lain = Daerah-daerah lain.
32.    Uitspanning (pauze) = Waktu istirahat (jedah).
33.    Begrooting        = Anggaran.
34.    Parallelkalassen = Kelas-kelas sejajar, misalnya kelas I a, I b, dsb.
35.    Vakvereeniging = Serikat sekerja / buruh.
36.    Lasykar darat dan laut = Angkatan darat dan laut.
37.    Leerplicht         = Wajib belajar.
38.    Ambachtschool Gouvernement = Sekolah tehnik pemerintah.
39.    Examen            = Ujian.
40.    Diatur dari Centraal      = Diatur dari pusat.
41.    Fonds               = Dana.
42.    Uitgebreid Lager, Middelbaar dan Vakbonderwijs = pendidikan / pengajaran tingkat rendah, menengah dan kejuruan.
43.    Wet                  = Hukum, undang-undang.
44.    Babad              = Sejarah.
45.    Commite          = Panitia.
46.    Orde                = Aturan.
47.    Pulau Borneo    = Kalimantan.
48.    Ilmu didikan (paedagogie) = Ilmu pendidikan.

1 Tukang-tukang gambar seperti Rembrandt dan Jan Steen di negeri Belanda memang lebih dimuliakan dari pada berpuluh menteri-menteri (minister).
2 Kalau cukup modal segera akan kita ajarkan bertukang pada anak yang besar-besar anak-anak Jawa yang cukup aanleg dalam bertukang dan ukir-mengukir itu akan bisa membikin bangku, meja, kursi dan lain-lain. Maka hasil pekerjaan itu akan dijual oleh murid-murid sendiri. Pendek kata urusan pertukangan dan administrasi akan jatuh ditangan murid-murid. Sama sekali dengan peraturan koperasi. Cita-cita ini sudah menggemparkan SI school dan anak-anak bertanya : “Kapan, kapan dimulai”. Anak-anak bisa hidup merdeka, baik di sekolah, ataupun kelak. Kalau mau menyingsingkan lengan baju, tiadalah kelak perlu mengemis pada dan jadi budaknya kaum modal.

Semangat Muda

Oktober 28, 2008

Tan Malaka (1926)
Tulisan ini kembali hadir di tengah-tengah teman-temah pergerakan di Indonesia setelah 60 tahun hilang dari Indonesia, ditemukan kembali oleh sebagian kawan-kawan yang masih berusaha mencari tulisan-tulisan klasik dari jaman kejayaan gerakan buruh di Indonesia era 1920an, diharapkan akan menjadi tenaga tambahan karena gerakan di Indonesia yang masih kekurangan teori mengenai ke Indonesiaan walaupun mungkin dalam banyak hal telah berubah apakah itu sistem kapitalis dan juga mengenai kondisi masyarakat Indonesia. Hidup persatuan yang teguh dari semua kelompok yang anti Kapitalisme, Imperialisme dan NeoLiberalisme, Hidup persatuan antara gerakan kiri di Indonesia, hilangkan konflik lama yang akan merugikan gerakan buruh di Indonesia ……… MERDEKA 100%
Kontributor,
“Pacar Merah Indonesia”
———————-

Semangat Muda, yang ditulis pada tahun 1926, mengandung buah pemikiran Tan Malaka tentang bagaimana menjalankan organisasi revolusioner sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu; yaitu dengan menggandeng perjuangan politik (nasional) dengan perjuangan ekonomi (kelas); dengan menyatukan perjuangan pembebasan nasional dengan perjuangan pembebasan Kelas Buruh. Terkandung di naskah ini adalah program nasional yang mengikutsertakan kaum borjuis kecil dan kaum tani Indonesia, yang notabene saat itu jumlahnya lebih besar dari pada kaum buruh, dengan kaum buruh sebagai pemimpin gerakan kemerdekaan. Naskah ini sangatlah relevan sebagai pelajaran sejarah bagi gerakan di Indonesia saat ini, dimana gerakan anti-imperialis (anti modal asing) harus disatukan dengan gerakan pembebasan buruh sebagai sebuah kelas. Gerakan nasional dan gerakan kelas tidaklah boleh dilihat sebagai dua tahap yang terpisah, tetapi sebagai satu kesatuan; ini benar untuk Indonesia pada tahun 1926 dan terlebih benar untuk Indonesia saat ini.
Editor,
Ted Sprague
———————

Senjata Feodalisme dan Kapitalisme terutama Peluru dan Pedang.
Senjata Proletar Industri ialah Agitasi, Mogok dan Demonstrasi.
Sebulan Massa-Aksi di Indonesia sekarang lebih berguna dari 4 tahun Dipo Negoro­Isme.
Zaman Baru membawa Senjata Baru !!!!

Dicetak di Tokyo Januari 1926.

ISI BUKU:
I. KE ZAMAN KOMUNISME.
1. Watak Zaman Bangsawan
2. Watak Zaman Hartawan
3. Zaman Diktatur Proletar
4. Taktik
5. Rusia
II. KEADAAN INDONESIA
1.    Ekonomi
2.    Sosial
3.    Krisis Ekonomi
4.    Krisis Politik
III. PROGRAM
1.    Program Nasional PKI & SR
2.    Keterangan Program
IV. ORGANISASI
1.    Maksud dan Sifat Organisasi
2.    Tentara Nasional
V. REVOLUSI
1. Peperangan dan Revolusi
2. Revolusi di Indonesia
3. Taktik di Indonesia
4. Massa Aksi di Indonesia
5. Rapat Rakyat Indonesia
6. Revolusioner Komunis

I. KE ZAMAN KOMUNISME
Tiap-tiap pergaulan hidup di muka bumi ini, baik di Asia atau Eropa, baik dulu ataupun sekarang, terdiri oleh klassen atau kasta, yakni kasta tinggi, rendah. dan tengah.
Menurut pikiran KARL MARX, maka timbulnya kasta tadi, yaitu disebabkan oleh perkakas mengadakan hasil, seperti cangkul, pahat dan mesin. Adanya kasta tadi pada sesuatu pergaulan hidup, menyebabkan, maka politik, Agama dan adat, dalam pergaulan hidup itu bersifat kekastaan atau bertinggi berendah. Ringkasnya perkara mengadakan hasil, menimbulkan kasta, dan kasta itu menimbulkan paham politik, agama dan adat yang semuanya bersifat kekastaan. Oleh sebab itu kata Marx lagi, semua sejarah dari semua bangsa, ialah pertandingan antara kasta rendah dan tinggi, antara yang terhisap dan yang menghisap, antara yang terhimpit dan yang menghimpit. Demikianlah pada Zaman Feodalisme atau Zaman Bangsawan, Kaum Hartawan yang terhimpit itu bertanding dengan kaum Bangsawan dan Raja yang menghimpitnya. Di Eropa pada tahun 1789 Kaum Hartawan di Prancis bisa mengalahkan Kaum Bangsawan dan mendirikan Peraturan Kemodalan seperti macam sekarang.
Dalam hal itu pertandingan belum lagi berhenti. Karena pada Zaman Kemodalan sekarang, pertentangan kasta makin tajam, ialah antara Kaum Buruh yang terbanyak dan tertindas itu dengan Kaum Hartawan, yang terkecil, tetapi terkaya dan terkuasa itu.
Berhubung dengan lebar dan dalamnya pertandingan dalam Zaman Kemodalan ini, maka kelak Kaum Buruh, kalau menang ia tidak saja akan memerdekakan dirinya sendiri, seperti dulu Kaum Hartawan, melainkan akan memerdekakan seluruh pergaulan hidup dan sekalian manusia. Dan oleh sebab Kaum Hartawan di seluruh dunia bersatu, maka haruslah pula Kaum Buruh seluruh dunia bersatu, buat manghancurkan musuhnya.

1. Watak Zaman-Bangsawan
Pada Zaman-Bangsawan, maka perkakas di sawah dan ladang, hanyalah cangkul atau bajak. Di tempat pertukangan, pahat atau ketam yang semuanya diangkat dengan tangan. Hasil sawah, pertukangan dan pertenunan, cuma buat keperluan masing-masing orang atau masing-masing famili saja. Kalau ada berlebih dari keperluan itu, barulah dijual, supaya bisa membeli kain, cangkul atau bajak. Jadi perniagaan baru mulai timbul.
Ringkasnya pada Zaman-Bangsawan perkakas kecil, hasil sedikit dan buat keperluan masing-masing famili saja. Sisa keperluan satu-satu famili juga sedikit, sebab itu perniagaan masih lemah.
Beberapa tani, tukang dan saudagar pada Zaman Bangsawan berkumpullah mendirikan desa atau kota. Buat menjaga keamanan dalam desa tadi dan mempertahankan desa tadi pada musuh, maka mereka mendirikan Pemerintah Desa. Anggota biasanya terdiri dari orang yang tua, yang pandai, cerdik, berani dan mendapat kepercayaan dari orang banyak. Pangkat memerintah negeri akhirnya jadi turun menurun dari bapak ke anak. Sekarang penduduk desa sudah mulai terbagi atas kasta: Tani, Tukang, Saudagar dan kasta-memerintah, yaitu Bangsawan. Apabila desa tadi banyak berperang-perangan, maka makin besar kuasanya Kaum Bangsawan dan makin dalam kebangsawanan. Kemudian dua desa atau beberapa desa mulai mangadakan perserikatan buat mempertahankan diri kepada serangan dari luar. Urusan negeri dan peperangan sekarang jatuh di tangan seorang Bangsawan yang tetinggi, yang sekarang berpangkat Raja dan berkuasa lebih dari Bangsawan yang sudah-sudah. Makin banyak peperangan dan kemenangannya Raja itu, makin besar kekuasaannya turun menurun.
Negeri bertambah besar, kekuasaan makin tertumpuk kepada Raja dan Bangsawan, kekayaan makin tertumpuk kepada Kaum Hartawan serta kaum Buruh dan Tani makin terhisap dan tertindas.
Supaya Buruh dan Tani yang terbanyak itu, takluk saja kepada Kaum Raja dan Bangsawan, maka harus diadakan Agama, Didikan dan Adat yang bersifat kekastaan atau kebudakan.
Gereja atau mesjid jatuh di tangan Kaum Bangsawan juga, anaknya Rakyat diajar jongkok dan menyembah, sedangkan anaknya Raja serta Bangsawan diajar memukul, memaki dan menerjang.
Demikianlah wataknya Zaman-Bangsawan itu di India, di Jawa atau Tiongkok dan Jepang.

2. Watak Zaman Hartawan
Kira-kira 200 tahun yang lalu, kaum Hartawan di Eropa makin bertambah kaya. Pertukangan, dan pertenunan yang dulu kecil-kecil, dan buat keperluan masing-masing famili saja, sekarang sudah terkumpul pada satu pabrik. yang memakai beratus-ratus kuli. Perniagaan sudah jauh melewati batas desa atau negeri. Bank sudah meminjamkan kepada atau menerima uang simpanan dari seluruh penduduk negeri.
Tetapi, walaupun kekayaan Kaum-Hartawan sangat maju, kekuasaannya masih tinggal seperti dulu. Raja dan Bangsawan masih bisa ambil pajak sehekendak hatinya. Kemerdekaan Kaum-Hartawan buat mengirim barang dari satu negeri ke negeri lain sangat terhambat, karena barang-barangnya acap kali dipajaki oleh Bangsawan atau Raja. Juga Kaum Pendeta, yakni keturunan Bangsawan tak kecil keganasannya.
Buat merdeka mendirikan pabrik dan kirim mengirim barang, maka Kaum Hartawan mesti merdeka dalam urusan politik-Negeri.
Dengan pertolongan Tani dan Buruh, maka Kaum Hartawan pada tahun 1789 bisa menghancurkan semua kekuasaan Kaum Bangsawan dan Raja Prancis. Sekarang urusan ekonomi, dan politik luar serta dalam negeri sama sekali jatuh di bawah tangan Kaum Hartawan dan Wakilnya.
Sekarang Modal bisa tumbuh dan menjalar kiri kanan dengan leluasa. Dalam satu pabrik tidak seratus atau dua ratus, melainkan sudah sampai 30 ribu orang kuli kerja (Inggris, Jerman dan Amerika). Hasilnya dalam satu jam saja sudah beribu-ribu pikul. Mengangkutnya hasil tidak lagi dengan bahu, kerbau atau kuda, melainkan dengan kereta atau kapal yang cepatnya seperti petir. Dengan kelingking saja satu sekerup dibuka, mesin yang kuatnya sejuta kuda berputar dengan sendirinya saja. Kirim mengirim dan pesan memesan barang ke empat penjuru alam dijalankan dengan kawat atau radio. Dari Asia dan Afrika tiap-tiap hari diangkut barang-barang yang mesti dikerjakan dalam pabrik di Eropa, dan dari Eropa atau Amerika tiap-tiap jam berjalan kapal yang mengangkut barang-barang pabrik ke Asia dan Afrika. Ringkasnya mesin kerja dengan kuat dan cepat, Kuli terkumpul pada satu pabrik saja sampai beribu-ribu, pekerjaan teratur dari satu administrasi-pabrik dan dikerjakan bersama-sama, sedangkan perniagaan sudah internasional.
Tetapi seperti pada Zaman-Bangsawan ada pertentangan antara Kaum Bangsawan dan Kaum Hartawan, begitulah juga pada Zaman Hartawan atau Kemodalan ada pertentangan antara Kaum Hartawan dan Kaum Buruh serta Tani. Seperti Zaman­Bangsawan mengandung Benih-Hartawan yang kelak akan menghancurkan Kaum-Bangsawan sendiri, demikianlah pula Zaman-Hartawan kita ini mengandung Benih Buruh yang kelak akan menghancurkan Kaum Hartawan.
Keyakinan ini kita Kaum Komunis tidak diperoleh dari limau-purut atau ujung jari, seperti tukang-tukang ramal, tetapi kita peroleh dari bukti yang nyata.
Pertentangan-pertentangan yang nyata dan tak bisa didamaikan pada Zaman-Kapitalisme atau Hartawan, ialah:
I.       Hak-Milik. Pada Zaman-Hartawan, seperti juga pada Zaman-Bangsawan maka perkakas mengadakan hasil itu berpisah dari orang yang mengadakan hasil, yakni Kaum-Buruh. Sebab perkakas itu bukan kepunyaan Kaum-Buruh, melainkan satu atau dua orang Hartawan, maka hasil yang diadakan oleh Kaum-Buruh tidaklah kepunyaan Kaum-Buruh sendiri, melainkan kepunyaan yang memiliki perkakas, seperti: tanah, pabrik, kereta, kapal dan lain-lainnya. Kaum Hartawan tak bekerja, tetapi ia memiliki hasil. Kaum Buruh membanting tulang, tetapi tak memiliki hasil yang diadakannya sendiri. Sebabnya, maka dunia sampai terbalik begitu, ialah karena hak-Milik, yang pada semua negeri Bangsawan diaku sah oleh Wet (Bahasa Belanda untuk hukum – catatan editor) dan agama, sekarang dalam Zaman-Hartawan menjadi racun. Dengan alasan hak Milik itu, modal kecil menjadi besar, perusahaan kecil terpukul oleh yang besar dan tani kecil terpukul oleh tani besar, sehingga tukang-tukang kecil dan tani­tani tidak lagi berpunya apa-apa. Kaum yang tidak berpunya ini, terpaksa menjual tenaganya pada Kaum Hartawan dengan harga seberapanya saja, asal bisa menolak bahaya lapar dan mati. Jadi sebab hak Milik tadi pergaulan hidup terbagi dua: l. Kaum Hartawan Sang tersedikit orangnya, tetapi memiliki Perkakas dan Hasil, dan 2. Kaum Buruh, yang terbanyak orangnya, yang sungguhpun mengadakan hasil tak memiliki hasil itu, karena ia orang upahan saja.
II.       Anarkisme. Sungguhpun dalam satu pabrik ada teratur banyak dan caranya mengadakan basil, tetapi satu pabrik berpukul-pukulan dengan yang lain. Kalau satu negeri mempunyai misalnya 100 pabrik kain, maka tiap-tiap pabrik ada mengatur dan menentukan banyak hasil yang mau diadakan, buat masing-masingnya, tetapi yang 100 pabrik tadi tidak mengatur banyak hasil buat seluruh negeri, melainkan masing-masing mengadakan hasil buat memukul yang lain. Makin banyak hasil dapat makin murah harganya barang, sehingga lawannya terpukul dan jatuh. Kalau hasil tiba-tiba menjadi terlampau banyak, harga terlampau murah, dan pabrik tertutup, seperti teh, getah dan minyak di Indonesia baru-baru ini. Walaupun Rakyat perlu memakai hasil itu, tetapi yang punya tidak akan membagikan pada Rakyat, malah lebih suka membuang hasil itu, seperti Kapitalis-Gandum di Amerika pada tahun 1922. Jadi hasil yang diadakan oleh 100 pabrik tadi bukanlah buat negeri dan penduduknya, melainkan buat perniagaan dan pukul-memukul dalam perniagaan. Demikianlah Kaum Hartawan mengadakan hasil tidak rasional, yakni menurut keperluan orang banyak, melainkan anarkistis, yakni sesukanya saja, buat mencari untung.
III.       Mesin. Buat pukul-memukul dalam perniagaan atau concurrensi, Kaum Hartawan memakai mesin baru. Dengan jalan begitu hasil dengan cepat menjadi berlipat ganda, sehingga harganya barang itu bisa murah sekali. Tuan pabrik yang masih memakai mesin tua, tidak bisa menghasilkan begitu banyak dan begitu cepat. Harga barangnya tinggal mahal, dan akhirnya ia jatuh. Tetapi mesin baru tadi mengurangkan tangan yang mengangkatnya, karena mesin itu bisa dijalankan dengan uap atau listrik saja. Berhubung dengan memakai mesin baru, beribu-ribu buruh dilepas, karena melimpah. Tiap-tiap negeri di Zaman Hartawan penuh dengan limpahan Buruh, yakni buruh yang dilemparkan dan tidak bisa dapat kerja. Limpahan Buruh ini, selalu bertambah-tambah, karena mesin baru tiba-tiba menaikkan hasil, dan tiba-tiba naiknya hasil tiba-tiba pula mendatangkan krisis yakni jatuh harga barang. Kalau krisis datang beribu, berjuta buruh dilepas. Ringkasnya Zaman-Hartawan penuh mempunyai perkakas (mesin), dan penuh mempunyai hasil, tetapi sebaliknya berjuta manusia tanpa pekerjaan dan hidup dalam kelaparan. Nyatalah sudah Kaum Hartawan tidak bisa mengurus keperluan Rakyat.
IV.       Kasta. Pada Zaman-Hartawan satu kongsi perniagaan bisa maju dengan dua jalan: pertama dengan memukul, kedua dengan berkawan. Kalau satu kongsi mempunyai modal yang besar, tentu ia dengan sementara menurunkan harga barangnya, bisa menjatuhkan musuhnya. Tetapi kalau mereka sama-sama kuat, maka ia mencoba berserikat. Dengan perserikatan mereka mudah menaikan harga barang dengan sekehendak hatinya, karena tak ada persaingan lagi. Yang kerugian tentulah Rakyat juga, yang terpaksa membayar. Dengan jalan berserikat itu dua atau tiga maatschappy (perusahaan) menjadi sindikat. Sindikat ini kurang teratur lagi, karena masih banyak kepala yang mengurus, ialah kepala-kepala dari maatschappy (perusahaan) yang berserikat. Supaya urusan lekas, maka kepala yang banyak tadi ditukar jadi satu, sehingga perniagaan bertambah kuat, urusan rapi dan lekas, karena urusan ge-centraliseerd yakni mempunyai satu kepala saja. Inilah namanya trust. Trust ini bisa berserikat lagi dengan trust lain, seperti trust besi dengan trust arang, sehingga harga arang dan besi boleh dibikin sekehendak yang punya trust. Di Jerman umpamanya Stinnes tidak mempunyai satu, melainkan bermacam-macam trust, seperti arang, besi, kertas, kereta, kapal, Banken, kayu, dan sebagainya. Jadi pertama harga grondstof atau barang asli, yang perlu dikerjakan di pabrik bisa rendah sesuka Stinnes saja. Sebaliknya fabriekswaren atau barang pabrik boleh dia naikkan sesuka hatinya, karena pabrik, kereta, kapal dan surat kabar buat advertensi sama sekali jatuh ditangannya. Jadi semua kongsi, maatschappy (perusahaan) dan Sindikat jatuh di bawah combinatie-trust-Stinnes. Semua urusan ekonomi di Jerman hampir tergenggam di tangan satu manusia saja. Juga Bank dari kongsi kecil menjadi Sindikat, Sindikat menjadi trust dan Trust-Combinaties. Jadi semua urusan Bank jatuh di bawah kekuasaan satu manusia pula (Stinnes). Bank pada tiap-tiap negeri memberi pinjaman pada industri. Supaya ia dapat untung tetap, maka ia adakan kontrol pada industri tadi. Akhirnya industri jatuh di bawah kekuasaan Bank. Bank memberi pinjam uang pada negeri, sebab itu menteri pada suatu negeri kemodalan harus cocok dengan Direktur Bank. Begitulah semua menteri di Amerika mesti tunduk pada Bankir Morgan, Jerman pada Stinnes, Prancis pada lauchuer dan sebagainya. Bank pada suatu negeri acap memberi pinjaman uang kepada negeri lain. Supaya bunga terus diterima, Menteri luar harus menjaga keperluan itu, dan kalau perlu haruslah negeri luar itu dijadikan jajahan. Dengan jalan begitu barang jajahan bisa tetap masuk (kopi, gula, kapas, dll.) orang jajahan tetap beli barang pabrik (kain, mesin, dll.) dan bayar hutang. Nyatalah sudah, bahwa kemajuan kapitalisme mengumpulkan kekuasaan pada satu dua orang. Seorang Bankir menguasai industri negeri, pemerintah negeri dan koloni. Kaum modal pada sesuatu negeri semakin hari semakin bertambah kaya dan bertambah sedikit, kaum buruh bertambah banyak dan bertambah miskin. Pertentangan Hartawan dan Buruh bertambah tajam, sehingga puteran kasta yakni revolusi sosial tak bisa dihindarkan. Salah satu Hartawan atau Buruh mesti hancur.
V.       Imperialisme. Anarkisme dalam hal mengadakan menyebabkan Kaum-Hartawan dalam sesuatu negeri satu dengan lainnya berpukul-pukulan dan hancur- menghancurkan. Walaupun mereka terhadap kepada negeri lain ada bersatu, tetapi anarkisme tadi juga menyebabkan beberapa negeri di atas dunia ini satu sama lainnya berpukul pukulan dan hancur-menghancurkan pula. Tiadalah satu negeri mengadakan hasil buat keperluan seluruh dunia, melainan buat perniagaan dan persaingan. Satu negeri yang perlu memakai barang jajahan buat pabriknya seperti kapas, getah, dan sebagainya mau sendiri saja memiliki barang asli atau grondstof itu. Ia sendiri saja mau memiliki negeri jajahan itu sebagai pasar barang pabriknya (besi, mesin, kain-kain, kertas dll.) dan ia sendiri saja mau meminjamkan uang pada jajahan itu, supaya ia sendiri saja pula mendapat bunga yang tetap. Berhubung dengan keperluan industri dan perniagaannya, maka ia sendiri pula mau menggenggam politik negeri jajahan itu. Politik imperialisme ini menyebabkan yang satu negeri berdengki-dengkian dan bermusuh-musuhan dengan negeri yang lain Hal ini menaikkan persiapan peperangan pada tiap-tiap negeri imperialisme dan akhirnya mengadakan peperangan dunia. Demikianlah peperangan dunia yang baru ini, yang memakan jiwa 10.000.000 manusia dan beribu juta harta disebabkan oleh pertentangan antara imperialisme Inggris dan Jerman. Sesudah Jerman kalah, maka timbul lagi sekarang pertentangan antara imperialisme yakni Inggris dan Prancis di Eropa dan lebih tajam lagi Jepang dan Amerika di Asia Timur. Nyatalah sudah, bahwa imperialisme tak bisa dibunuh selama kapitalisme dan anarkisme dalam hal mengadakan hasil masih tetap. Sebab itu peperangan dunia pada tiap-tiap waktu masih mengancam kita.
Kelima penyakit kemodalan yang kita sebutkan diatas ini tiadalah bisa sembuh, karena sudah terbawa oleh diri kemodalan sendiri. Penyakit itu lah yang menyebab­kan Kaum Hartawan bertambah penakut dan bertambah sedikit orangnya dan sebaliknya penyakit itu lah yang menyebabkan Kaum Buruh bertambah miskin, tetapi bertambah rajin kerja (sebab terpaksa) bertambah tertindas, tetapi bertambah revolusioner dan bertambah banyak orangnya. Krisis ekonomi dan politik bertambah dekat, artinya ini cuma revolusi sosial atau putaran-kasta sajalah yang bisa mengobati krisis itu, dan menghindarkan bala yang bisa menimpa seluruh manusia diatas dunia ini:
“Kaum Hartawan yang malas dan sedikit itu haruslah turun, serta Kaum Buruh yang terbanyak dan mengadakan hasil itu, harus memiliki hasil itu dan membagikan hasil itu buat kastanya sendiri dan sekalian orang yang kerja. Ringkasnya Kaum Buruh harus merebut kekuasaan ekonomi dan politik dunia”.
3. Zaman Diktatur Proletar
Kaum Agama mengambarkan surga persis seperti kehendak nafsunya sendiri. Begitu juga Kaum Utopis, seperti Thomas More, Saint Simon, Fourier dan Robert Owen menggambarkan masyarakat yang sempurna di dunia ini persis seperti nafsunya masing-masing.
Kita Kaum Komunis tidak mengambil gambaran Komunisme itu dari nafsu seorang tukang mimpi atau ahli nujum saja. Kita tidak disuruh Karl Marx buat menghapalkan saja sifat-sifat Komunisme dan terus tinggal mendoa saja supaya Surga Dunia itu datang. Melainkan kita mendapat keterangan yang jelas dari Marx, bahwa kemajuan Feodalisme di dunia ini membawa kemajuan Kapitalisme, dan kemajuan Kapitalisme sekarang ini membawa kemajuan Komunisme. Sebagaimana Kaum Bangsawan sudah terpukul oleh Kaum Hartawan, begitu juga kelak Kaum Hartawan akan dikalahkan oleh Buruh. Kalahnya itu bukanlah pula oleh sebab-sebab yang mistik atau gaib­gaib melainkan atas sebab-sebab yang nyata, yang bisa dilihat dan dirasa.
Tidaklah pula datangnya Komunisme itu tiba-tiba saja, seperti surga akan terkembang sesudah hari kiamat, tetapi berangsur-angsur, yakni seperti Zaman Kemodalan sendiri yang dulu datangnya juga berangsur-angsur. Dimana pertentangan sangat dalam, seperti di Rusia, maka putaran kasta Buruh dengan Hartawan itu akan disertai dengan banjir darah. Dimana pertentangan itu, selalu dikurang-kurangi, karena Kaum hartawan selalu kasih konsesi atau kemunduran, seperti bisa terjadi di Inggris, maka putaran kasta tadi, boleh jadi tidak berapa menuntut jiwa. Tetapi buat seluruh dunia putaran-kasta itu tiada akan terjadi dengan damai, seperti juga putaran kasta Bangsawan dengan Hartawan dulunya tiadalah terjadi dengan damai.
Tingkat yang mula-mula mesti kita tempuh di atas Zaman-Kemodalan ini ialah Dictaturnya-Proletar. Bukanlah pada satu negeri saja seperti Rusia, tetapi buat di seluruh dunia. Pada tingkat Diktator-Proletar ini, semua Perkakas Hasil, seperti Pabrik Tambang, Tanah, Kereta, Kapal, Gudang-Gudang dll. dimiliki oleh Kaum-Buruh dan diserahkan pada negaranya Kaum Buruh. Semua urusan buat mengadakan hasil, jatuh di bawah pimpinan Kaum-Buruh sendiri, yang di jalankan oleh Wakil-Wakil yang dipilih oleh Kaum Buruh itu tidak lagi ditetapkan buat perniagaan dan mencari untung saja, tetapi terutama buat keperluan Rakyat. Anarkisme dalam hal mengadakan hasil akan hilang dan berganti dengan rasionalisme, yakni mengadakan hasil menurut keperluan Rakyat. Kaum buruh berhenti menjadi orang upahan yang dibayar sebagaimana suka si Kapitalis saja, karena Buruh sekarang sudah memiliki perkakas hasil yang diadakannya sendiri. Sepadan dengan itu Kasta-Buruh, sebagai Kasta upahan atau budak hilang dan berganti dengan Kasta Pekerja yang campur mengurus pekerjaannya dan memiliki hasil yang dikerjakannya. Oleh karena sekarang mengadakan hasil tidak lagi dengan sesukanya seorang Kapitalis buat perniagaan saja, maka hasil tak akan melimpah lagi, sehingga bisa mendatangkan krisis atau mesti menimbulkan politik merebut jajahan buat pasarnya barang limpahan itu. Jadi politik imperialisme akan hilang dan berganti dengan tukar-menukar barang, seperti barang Eropa dengan Afrika atau Asia, satu negeri dengan yang lain. Berhubung dengan hilangnya politik imperialisme, maka akan hilang pula militarisme dan hilang pula peperangan dunia buat merebut jajahan dan pasar.
Supaya Kaum Buruh aman dan sentosa memiliki perusahaan dan semua hasilnya perusahaan, maka haruslah ia merebut politik-negeri. Kaum-Hartawan dan budaknya dari Kasta Tengah atau Kaum Sosial-Demokrat haruslah diusir dari pemerintahan negeri. Kalau tidak begitu ia akan memogoki (saboteeren) semua peraturan yang baik buat Kaum-Buruh dan menunggu waktu yang baik, dimana ia bisa memakai laskar, armada, justisi, polisi dan bui buat menindas peraturan ekonomi kaum buruh, seperti yang kita rancangkan diatas. Bersama dengan Pemerintah-negeri, haruslah dengan sekejap Laskar, Armada, Justisi, Polisi dan Didikan dijadikan merah. Artinya itu, semua anggota ini, haruslah jatuh di bawah kekuasaan Kaum-Buruh dan seberapa bisa diisi dengan Kasta Kaum Buruh sendiri.
Dengan Pemerintah Merah, Tentara Merah, Polisi Merah, dan Didikan Merah, maka Kaum Buruh bisa menjaga peraturan mengadakan hasil dan haknya atas hasil itu, terhadap kepada musuh baik di dalam atau pun di luar negeri, yang tak putus akan mencoba merebut kembali kekuasaannya yang hilang itu.
Apabila sesudah bertahun-tahun Kaum Hartawan sama sekali hancur, seperti dulu juga Kaum Bangsawan sama sekali hancur, maka barulah lambat laum anggota-anggota Ekonomi Merah, Politik Merah, Didikan Merah dan Justisi Merah berhenti menjadi perkakas penginjak Kemodalan dan Kaum Hartawan, dan menjadi perkakas buat mendatangkan Komunisme. Pada Zaman Komunisme, kasta akan hilang, tindasan dan isapan akan hilang, kekayaan, kepintaran, pengetahuan, kesenian, dan literatur akan menjadi miliknya orang bersama.
Jadi Komunisme itu bukanlah ilmu batin, yang datangnya sesudah habis dibakar kemenyan sepikul, melainkan suatu peraturan buat pergaulan hidup yang sudah terkandung sendiri oleh pergaulan hidup yang sekarang ini. Lekas datangnya itu bergantung sebagian besar dari cakap dan kuatnya Kaum-Buruh Dunia, mendatangkan Diktatur Proletar, yakni memerahkan peraturan ekonomi dan politiknya Kaum Hartawan yang ada sekarang.
4. Taktik
Pada Zaman-Feodalisme, maka Taktik buat mendatangkan pemerintah baru itu, yakni dengan ramal dan kemenyan. Seorang guru atau Kiyai, tahu membaca dalam buku atau di ujung jarinya, kapan Ratu Adil atau Imam Madhi akan datang. Dengan jimat dan kemenyan, maka Kaum Revolusioner-feodal bisa mengalahkan musuh. Psikologi atau semangat semacam ini lahir dari keadaan cara mengadakan hasil juga. Pada Zaman-Feodalisme itu mengadakan hasil terutama dengan cangkul. Kalau tanahpun subur, si Tani rajin mencangkul, tetapi hujan tak turun-turun tentu padi tak dapat. Apa itu hujan, buat si Tani, yang belum pernah dengar Natuurkunde atau ilmu-alam adalah perkara kasih atau bencinya Tuhan. Dia bergantung kepada Tuhan itu, dan cara mendapatkan hujan tidak lain dari membakar kemenyan. Bukanlah seperti buruh-pabrik, yang sama sekali tak tergantung pada alam, malah memakai alam itu uap dan elektris kapan ia suka dan berapa ia suka. Sebab itu si Tani pasif atau penerima dan si Buruh aktif atau jalan. Sifat itu terbawa-bawa dan juga buat mendatangkan pemerintah baru, tak lain akal buat si Tani melainkan nujjum, jimat dan kemenyan.
Di antara Kaum-Buruh industri adalah tiga taktik yang terutama dimajukan: Anarkisme, Reformisme dan Revolusioner.
Taktik Anarkisme lahirnya pada pertengahan Abad yang lalu. Kaum Anarkis, percaya, bahwa kalau tiap-tiap pembesar Kaum-Hartawan di bom, diracun atau ditikam, maka mereka akan takut memerintah. Si Penindas akan hilang, dan Komunisme akan datang sendirinya saja. Jadi mereka tidak memakai tingkat Diktatur Proletar seperti kaum Komunis, dan.tidak memperdulikan organisasi massa-aksi atau aksi ramai-ramai yang teratur. Bahwa semuanya itu mimpi tak perlu dibentangkan disini. Kaum Hartawan dengan polisi, justisi dan tentaranya adalah sangat teratur dan mempunyai disiplin yang sangat keras. Dan kalau satu pembesar terbunuh, maka seribu lagi gantinya. Sebab itu, kalau Kaum-Buruh tak berkelahi teratur dan mempunyai disiplin yang keras ia mesti kalah. Anarkisme belum pernah menang. Cuma pada waktu Bakunin masih ada, disana sini di negeri yang achterlyk atau mundur kapitalismenya seperti di Selatan Jerman, di Balkan ia bisa bikin huru hara. Tetapi di negeri yang sudah maju kapitalismenya pada masa itu (tahun 1850) seperti Inggris, Bakuninisme sama sekali tak bisa dijalankan. Di Rusia sendiri pada tahun 1917 dan sekarang di Jerman Anarkisme sama sekali tak berarti. Sebab kaum anarkis tak mau mengakui aturan dan disiplin itu, maka ia tak bisa membikin perserikatan, malah mudah berpecah-pecahan, dan bertengkar-tengkaran. Sebab ia mengukur kemarahan Rakyat yang tertindas itu kepada yang menindas bukan dengan alasan ekonomi, melainkan dengan kemarahannya personal, maka ia mudah kena provokasi, dan terdorong, sehingga ia terisolasi dari orang banyak, dan akhirnya kalah.
Taktik Kaum Sindikalis, yang juga beralaskan Anarckisme yang terutama berpengaruh di sebelah Selatan Eropa dan Amerika Selatan pun tak bisa mencukupi kekuatan buat memerangi kemodalan zaman sekarang. Kaum Syndicalist itu anti-parlemen dan anti-politik. Sebab itu Kaum Syndicalist tak mau mengirim wakil ke parlemennya kaum Hartawan. Sebaliknya ia menyangka, bahwa Serikat Buruh itulah yang tertinggi. Sudahlah tentu dasar anti-politik dan anti-parlemen itu salah sekali. Dengan sikap begitu, Kaum-Buruh tak tahu akan politiknya Kaum-hartawan, sedangkan politik dan ekonomi itu bersanak sudara. Politik tidak lain dari gecon­centreerde ekonomi, artinya itu, politik ialah pusatnya urusan ekonomi. Apabila Kaum-Buruh akan menyia‑nyiakan politik, yakni pusatnya ekonomi kaum Hartawan itu, mereka akan mudah terjerat kaki dan lehernya.
Taktik Kaum Sosial Demokrat tak perlu kita uraikan di sini dengan panjang lebar. Mereka itu percaya bahwa Modal dan Tenaga (Arbeid) tak bertentangan. Begitu juga Hartawan dan Buruh bisa sama-sama jalan. Sebab itu Kaum Sosial Demokrat memasuki Parlemennya Kaum Hartawan. Mereka percaya, bahwa kalau kelak dengan jalam damai mereka bisa mengadakan wakil lebih banyak dari Hartawan, maka Hartawan akan kalah suara dan akan mundur saja. Sesudahnya itu perusahaan ekonomi boleh dijatuhkan ke tangan Buruh. Berhubungan dengan itu, maka Kaum Sosial Demokrat anti-revolusioner dan aksinya ialah merebut bangku Parlemen saja. Sepadan dengan keyakinan ini, maka Kaum Sosial Demokrat, dimana-mana sudah menjadi Kaum Penghianat. Pembunuhan jiwa Buruh yang 10.000.000 dalam peperangan besar baru lalu, ialah terjadi dengan bantuan Sosial Demokrat, yang selalu bantu Begrooting Kaum Hartawan dimana-mana. Di sekalian jajahan, Sosial Demokrat membantu politiknya Kaum Imperialist buat menindas bangsa Timur. Di Jerman, Ebert, Noske dan Scheidemann sudah merasakan, bahwa Parlemen itu tak mudah dijadikan anggota Kaum Buruh. Dimana dulu, Sosial Demokrat mendapat Meerderheid atau Suara Kelebihan dalam Ryksdag (Parlemen), sekarang mereka jadi boneka saja, dan pemerintah sama sekali jatuh di tangan Fasis. Oleh karena Sosial Demokrat pada tahun 1918-1923 tidak memerahkan Justisi, Kementerian, Laskar dan Polisi, maka anggota-anggota ini dengan rahasia mengumpulkan kekuatannya di bawah selimutnya Sosial-Demokrat. Oleh karena kaum reaksi Jerman sekarang di bawah Presiden Jendral bisa sembelih semua Sosial Demokrat, yang dulu tuannya itu.
Taktik Merah, atau taktik revolusioner tidak saja di Rusia sudah menjatuhkan kemodalan, dan bisa mempertahankan Soviet sudah lebih dari 8 tahun, tetapi dimana-mana di dunia, Eropa Barat, Amerika, Tiongkok, Jepang, India dan Indonesia sedang membingungkan yang berkuasa. Taktik merah tidak bersarang di jimat atau kemenyan, melainkan berurat pada keadaan hidupnya Rakyat yang tertindas. Kita tidak anti-parlemen seperti Kaum Syndicalist, tetapi tidak pula parlemener seperti si Pengkhianat Sosial Demokrat. Kita masuki Parlemen, buat membuka topengnya Kaum Hartawan dan Sosial Demokrat, tetapi sama sekali tiada mengharapkan hasilnya yang konkrit atau nyata dari aksi di Parlemen itu. Kita tahu, bahwa sebagian besar dari Buruh masih mengikut Sosial Demokrat dan percaya pada Parlementarisme. Sebab itu kita masuki Parlemen itu buat memecahkan dari dalam. Dalam pada itu kita lebih pentingkan mengatur kekuatan Buruh, Tani dan sekalian Rakyat yang tertindas di luar Parlemen. Semuanya aksi dan pertarungannya Buruh, Tani dan penduduk kota, baik ekonomi ataupun politik mesti kita campuri. Bukan buat menipu mereka dan memperdamaikan dengan Hartawan seperti laku Sosial Demokrat, melainkan buat membantu mendorong, dan kalau bisa menghancurkan Hartawan dan budak­budaknya. Menurut kekuatan kita dan Rakyat yang percaya pada kita, maka kalau bisa semua aksi ekonomi kita besarkan jadi mogok umum, kalau perlu ditambah dengan boikot dan demonstrasi. Dari mogok umum, boikot dan demonstrasi yang dilakukan di seluruh negeri itulah bisa lahir pemberontakan buat merebut politik negeri dan mendirikan Diktatornya Proletar.
5. Rusia
Seperti Pemberontakan Hartawan kepada Bangsawan di buka oleh Hartawan Prancis pada tahun 1789, begitulah Pemberontakan Buruh kepada Hartawan dimulai oleh Buruh Rusia kepada Hartawan disana. Seperti Revolusi 1789 di Perancis didahului oleh revolusi kecil di Inggris pada tahun 1650 (Cromwell), begitu pula diktatur proletar di Rusia tidak sama sekali baru, karena sudah didahului oleh Komune Paris pada tahun 1870, pada percobaan 1870 Karl Marx, dan Lenin banyak mendapat pelajaran buat menyempurnakan diktaturnya Proletar.
Pada Revolusi Prancis kita bisa mempelajari, bahwa kemenangan Kaum Hartawan yang masih revolusioner itu turun naik. Republik-Hartawan yang didirikan pada tahun 1789 cuma bisa berdiri 5 tahun saja. Kemudian datang Napoleon yang akhirnya jadi Kaisar dan sesudahnya Napoleon jatuh maka berturut turut Raja keturunan Lodewyk XVI, (yang dipancung kepalanya oleh kaum pada revolusioner) bisa kembali memerintah. Barulah pada tahun 1849, maka Republik Hartawan bisa kembali lagi, yang walaupun sementara disambung oleh Napoleon III, sampai sekarang bisa terus berdiri. Jadi tidak kurang dari 60 tahun Prancis berkelahi dengan kalah menang buat demokrasi dan Parlemenarisme cara kemodalan. Dalam waktu Prancis berjuang dengan Bangsawan itu, maka berturut-turut negeri menjatuhkan Raja dan Bangsawannya seperti Belanda dan dimana-mana kekuasaan Bangsawan dan Raja di potong-potong seperti Jerman, Italia, Spanyol, dll. Ringkasnya berpuluh tahun Hartawan di seluruh dunia mesti berperang dengan kalah dan menang baru bisa menghancurkan Raja dan Bangsawannya sama sekali.
Ini pengajaran yang dalam artinya buat kita. Dunia Hartawan yang berpuluh-puluh kali lebih kukuh dari dunia Bangsawan tentulah takkan bisa kita hancurkan dalam satu hari.
Kita tahu, bahwa reaksi di seluruh dunia sekarang bertambah hebat. Karena kaum Sosial Demokrat pada tahun 1917-1923 berkhianat, maka Revolusi Rusia tak diikuti oleh negeri lain-lain. Kaum Reaksi di belakang baju Sosial Demokrat, yang dikemukakan di Jerman buat melindungi Kaum Hartawan bisa bernapas kembali dan mengumpulkan semua senjatanya, yang pada tahun 1918-1923 hampir sama sekali hilang dari tangannya. Sekarang di Jerman Kaum Reaksi sudah mengancam dengan pemerintah Fasis, yakni diktaturnya Kaum Hartawan. Kaum Hartawan tidak akan memakai Parlemen lagi melainkan tangan besi, seperti Mussolini di Italia. Hartawan akan lemparkan demokrasi, dan atur ekonomi dengan memaksa kaum buruh kerja, dengan gaji sedikit, dan waktu yang lama, dan menghancurkan semua pergerakan revolusioner, dengan jalan kasar. Begitu juga di Prancis, dimana ekonomi kusut, Fasis sudah siap. Di Inggris, dimana pada 2 atau 3 bulan lagi disangka akan datang frisis sekarang Fasis sudah mengasah-asah pedang kiri kanan dan mengumpulkan uang dan senjata. Di Amerika, dimana Kaum Komunis mulai maju, Klu Klux Klan, sudah jadi Fasis, dan selalu sedia akan menghancurkan pergerakan merah. Tentulah Fasis dapat sokongan dari Kaum Hartawan baik lahir ataupun batin.
Tetapi makin gelap jalan di muka, makin terang buat kita suluh yang di belakang. Sejarah menyaksikan kita, bahwa pertandingan kasta itu, bukanlah permainan, melainkan suatu kemestian pergaulan hidup dan suatu kewajiban sebagai manusia. Kalau musuh kita mengasah-asah pedang, maka jawab kita lain tidak hanyalah menegapkan barisan dan mempertajam senjata lahir dan batin. Pekerjaan yang sudah dimulai oleh Rusia dengan korban beribu-ribu jiwa, tiadalah boleh kita khianati dengan kelembekan atau dengan meninggalkan dasar yang sudah kita peluk.
Walaupun di kiri kanan ada reaksi, kita mesti terus menyusun tentara yang ada di negeri kita. Kalau kawan kita pada waktu yang di muka ini, baik di Rusia ataupun Eropa Barat dan Amerika dapat serangan, maka kita harus tidak mundur malah merebut kemenangan pada barisan yang kita duduki, yakni: di muka Rakyat Indonesia.

II. KEADAAN INDONESIA
1. Ekonomi
Adapun sifat kapitalisme di jajahan, seperti Indonesia dan Asia lain, adalah berlainan sekali dengan kapitalisme di Belanda dan Eropa lain. Disana lahir dan majunya kapitalisme itu terbawa oleh keperluan negeri sendiri, sedangkan di sini lahir dan majunya kemodalan itu terbawa oleh keperluan bangsa asing. Sebab itu di Eropa majunya kapitalisme itu dengan jalan menurut alam atau Organisch, sedangkan di Indonesia kunstamatig atau bikinan. Berpadan dengan hal itu, Kapitalisme di Eropa ada sehat dan sempurna, sedangkan yang di Indonesia verkracht atau terperkosa, seolah-olah sepokok kayu yang kena kelindungan.
Kapitalisme di Eropa membagi negeri atas kota dan desa. Di kota terdapat perusahaan atau industri dari kain, besi, batu, kertas dll. Sedangkan di desa terdapat gandum, sayur, sapi, domba dan hasil buat lain-lain makanan. Jadi dipukul rata kota memperusahakan barang pabrik dan desa mengadakan hasil tanah dan ternak. Bagian pekerjaan di kota dengan desa itu bertambah terang sekali pada negeri yang sangat maju permodalannya
Tentulah hasil pabrik di kota itu, gunanya, terutama buat penduduk kota sendiri. Sisanya itu ditukarkan dengan makanan yang dihasilkan oleh desa. Begitulah kain, pisau, perkakas rumah, baja, dll yang dibikin di kota ditukar dengan gandum, sayur, daging, dll yang dihasilkan di desa, yakni dengan sisa yang dimakan oleh penduduk desa. Pada negeri kemodalan yang belum terang imperialistis, dan sehat ekonominya seperti Amerika sebelum perang 1914-1918, maka jumlah harga sisa barang kota itu hampir sama dengan harga sisa hasil tanah di desa. Begitulah asal majunya kemodalan dan perusahaan, yakni dari pertukaran barang pabrik di kota-kota dan hasil tanah di desa-desa. Makin maju perusahaan di kota, makin banyak penduduk desa lari ke kota mencari pekerjaan, kepandaian atau kepalsiran, karena di kota terkumpul, pabrik, sekolah, bioskop, rumah komedi, dll.
Di Indonesia juga akan bisa begitu, kalau Belanda tak datang dan membunuh perusahaan kecil-kecil, buat membikin kapal, kain, barang-barang besi, seperti sudah ada di Tuban, Gresik, dll. Perusahaan kecil-kecil itu juga akan jadi besar, memakai uap dan listrik seperti di Eropa dan Amerika. Kota-kota Indonesia juga akan menarik penduduk desa dengan lekas dan bertambah hari bertambah maju penduduk, pabrik dan kaum buruhnya. Juga di kota Indonesia akan diadakan kain, bajak buat desa, dan desa-desa terutama hasilnya buat penduduk kota-kota Indonesia sendiri.
Tetapi sebab Belanda dengan hukum melarang membuat kapal dan membunuh perusahaan anak negeri dengan memasukkan barang pabrik yang murah harganya, maka kota dan desa kita jadi lain sifatnya dari kota di Eropa. Kota kita tidak ada yang menghasilkan, kain, bajak dan perkakas lain buat desa-desa, karena semua barang, ini dimonopoli atau diborong oleh Belanda. Desa kita tidak buat mengadakan hasil untuk penduduk kota, melainkan terutama buat tebu, teh, kopi, getah d. s. g. bukan buat keperluan negeri dan Bumiputera, melainkan buat untung si Pengisap yang tidur di Belanda. Sebab itu desa dan kota kita satu dengan lainnya tidak bergandengan dan tali bertali seperti pada suatu negeri yang sehat ekonominya, melainkan keduanya buat pengisi perut besar si Lintah Darat yang tidur di Belanda itu saja. Berhubung dengan hal ini, maka majunya kapitalisme di negeri kita jadi kunstmatig atau tak sehat.
Sebab perusahaan di negeri kita tidak buat keperluan anak bumi putera sendiri, maka barang yang perlu buat hidup kita, harus dibeli dari negeri lain dengan harga sesukanya orang lain itu saja. Dan oleh karena tanah di Jawa terdesak oleh kebun-kebun besar, maka beras, yakni nyawa kita, mesti datang dari negeri lain.
Demikianlah pada tahun 1922 Rakyat membeli barang kain yang masuk ada kira-kira F. 182.531.000. Di jajahan lain seperti India, Tiongkok dan Filipina barang pakaian sudah bisa dibikin dinegeri sendiri. Jadi disana uang Rakyat bayaran kain itu tinggal di negeri sendiri, sedangkan di Indonesia terbang kesakunya Lintah Darat Belanda. Harga beras masuk, walaupun beras Jawa nomor 1 kualitasnya di dunia dan bangsa Jawa memang pintar bertani pada tahun 1922 juga ada F. 74.947.000. Karena di Jawa hampir tak ada kapital dan saudagar anak negeri, seperti di jajahan maka untung perniagaan beras ini tidak satu peser jatuh di tangan anak negeri. Demikianlah untung perniagaan berhubung dengan import (barang masuk) yang pada tahun 1922 banyaknya ada F 696.300.000 itu hampir semuanya mengalir ke saku Lintah Darat Bangsa Asing.
Sudahlah terang, bahwa total export (harga barang keluar) yang pada tahun 1922 ada F.1.142.400.000 sama sekali dimakan oleh Lintah Darat Belanda yang memonopoli sekalian perusahaan besar-besar di Indonesia ini. Sedangkan di jajahan lain untung dari import dan export itu ada sebagian jatuh di tangan anak negeri, maka di Indonesia yang sangat subur dan kaya ini, semuanya keuntungan perniagaan dan hasilnya perusahaan dan tanah sama sekali terbang ke perutnya Lintah Darat yang tidur, palsir atau mondar-mandir di Belanda. Sisanya yang terlempar kepada bumiputera, gunanya sekedar buat hidup sebentar, seperti kuda atau kerbau, yang dipakai penarik kereta, juga mesti diberi makan.
Sebab kapitalisme Indonesia gunanya buat memenuhi keperluan bangsa asing, yang jauh tinggalnya itu, maka keadaan dan majunya kapitalisme Indonesia juga semata-mata menurut keperluan bangsa asing yang tinggal di negeri asing itu. Kromo mesti menyewakan tanah buat gula, getah dan teh dan jadi kuli Belanda mau dapat untung. Rakyat Indonesia tak bisa dapat pabrik kain, pabrik mesin dan kapal, sebab Belanda takut Twente dan perusahaan kain sana akan jatuh, dan juga saudagar-saudagar Belanda, pabrik kapal dan perusahaan-perusahaan kapal yang mengangkut barang import dan export dari Indonesia ke Belanda akan turut jatuh. Sebab itu Indonesia mesti tinggal jadi landbow-land atau negeri-pertanian tidak negeri perusahaan atau industri-land. Penduduknya mesti tinggal mundur (pasif) dan mudah ditindas. Tiadalah seperti pada negeri industri, yang mempunyai buruh yang lebih maju dan lebih aktif dan tak gampang ditindas. Selama Indonesia tinggal jadi jajahan, maka ia tak akan bisa memajukan ekonomi dan perusahaannya sebagaimana yang baik buat dirinya senriri, karena ia terpaut oleh Lintah Darat Belanda, yang tak memperdulikan nasib Rakyat Indonesia.
2. Sosial
Di negeri-negeri yang sangat maju kemodalannya, seperti Jerman dan Amerika maka Kaum Buruh itu jumlahnya ada kurang lebih 3/4 bagian dari seluruh penduduk negeri. Artinya itu ada 3/4 atau 75% dari penduduk yang tak berpunya apa-apa lain dari tenaganya dan tergantung hidupnya semata-mata dari modal besar.
Sepanjang ada bahwa perhitungan tahun 1905, maka di Jawa saja ada kira-kira 40% dari bumiputera yang proletar atau tak berpunya apa-apa. Kalau kita taksir sekarang, berhubung dengan bertambah majunya industri, angka itu sudah jadi 50%, maka dari penduduk tanah Jawa yang 36 juta itu ada 18 juta yang hidupnya tergantung dari perusahaan besar dan kecil. Tetapi di Sumatra, Borneo, Celebes, Daerah Ternate dan sebagainya yang jumlah jiwa kira-kira 18 juta itu masih sedikit kaum proletar. Hampir semua penduduk mempunyai tanah, modal kecil, perusahaan kecil atau perahu penangkap ikan. Kita pikir kita akan tak berapa salah menaksir (karena statistik yang sah belum ada ), bahwa kaum proletar di seluruh Indonesia pada masa ini ada kira-kira 18 juta, yakni kira-kira 34% dari penduduk yang 54 juta itu.
Tetapi di antara yang tak berpunya, Buruh Industri masih sangat sedikit. Di Jerman umpamanya, yang jumlah isi negeri hampir sama dengan Indonesia, yakni 60 juta ada kira-kira 2 juta buruh-pelikan (buruh pertambangan), sedangkan di Indonesia tak lebih dari 100.000, yakni seperdua puluhnya. Buruh kereta juga kira-kira 2 juta, sedangkan di Indonesia tak lebih dari 80,000, jadi kurang dari seperduapuluhnya di Jerman. Berjuta-juta buruh industri model baru, seperti pada pabrik membuat kereta, mesin, kapal, kain dll.  yang ada di Jerman, sama sekali tak ada di Indonesia. Jadi perkara banyaknya buruh industri, maka Indonesia, jauh kalahnya oleh Jerman, Inggris dan Amerika, juga kalah oleh Jepang dan India, dimana juga sudah terdapat buruh industri model baru.
Di Eropa, Amerika dan Jepang yang memiliki Pabrik, Tambang, Kereta, Kapal, Bank dll itu ialah bumiputera juga, Di Jajahan seperti India, Filipina dan Mesir sudah banyak bumiputera sendiri yang mernpunyai industri model baru, pertanian dan perniagaan model baru. Tetapi di Indonesia modal besar bumiputera bolehlah dikatakan tak ada. Betul di Jawa, lebih-lebih Sumatera di antara bumiputera ada yang mempunyai modal F.100.000 kebawah, tetapi ini masih kecil, dan urusan perniagaan atau perusahaan yang mempunya F.50.000.000, yang memiliki tambang, pabrik dan Bank seperti di Tiongkok, India atau Jepang, jadi kasta Hartawan bumiputera, memang di Indonesia tak ada. Sebabnya ialah karena dulunya Belanda dengan sengaja membunuh timbulnya modal anak negeri. Di Indonesia kasta-kasta itu terutama kasta-tani, kasta-buruh dan kasta tengah (ambtenar, saudagar, tani besar, kaum terpelajar d.s.g.) Di antara kasta-kasta ini, kasta inilah yang terbanyak dan kasta buruhlah yang terkuat dan makin hari makin kuat, karena kaum buruhlah yang geconcentreerd atau terkumpul dan ialah yang menjalankan industri, yakni nyawanya ekonomi, dan kasta buruhlah yang akan termaju pikiran dan wataknya dalam pergerakan ekonomi dan politik.
Dengan angka-angka saja belum bisa kita dengan sempurna memperbandingkan majunya buruh Indonesia dengan Eropa. Majunya itu terutama pula tergantung pada kualitas atau tingginya industri yang ada. Kita sudah terangkan di atas, bahwa Indonesia bukanlah industri-land melainkan terutama landbow-land, walaupun landbow atau pertanian di Indonesia dijalankan dengan perkakas yang model baru sekali.
Berhubung dengan itu, maka buruh Indonesia terutama bukanlah buruh industri malah buruh tani (gula, teh, getah dan sebagaianya). Yang buruh industri betul (minyak tanah, kereta, kapal) masih sedikit sekali. Perbedaan buruh pertanian Indonesia dengan buruh perusahaan di Eropa itu membawa perbedaan lahir batin pula. Proletar Indonesia masih muda, dan masih ada pertaliannya dengan familinya di desa-desa, dan acap kali masih mempunyai tanah di desa-desa. sedangkan proletar-industri Eropa sudah sampai ke nenek moyangnya terikat oleh pabriknya. Proletar kita masih mundur dalam pekerjaan teknik, masih percaya sama tahayul dan masih pasif. Proletar industri Barat sigap dan disiplin dalam pekerjaan, tak terikat oleh tahayul lagi, serta bersikap aktif dalam pikiran dan pekerjaan.
Begitulah pula kaum-tengah Eropa bersifat lain dari kaum tengah Indonesia. Di Indonesia sendiripun, berbeda pula satu kasta dengan kasta yang lain dan berbeda pula satu kasta pada satu pulau dengan kasta itu juga pada pulau lain di Indonesia. Seorang tani di Jawa umpamanya, yang selalu campur dengan pabrik gula, yang acap naik kereta tentulah berlainan sekali pikiran dan wataknya dengan seorang tani pemotong sagu di daerah Ternate, yang belum pernah seumur hidupnya melihat asap pabrik atau mendengar peluit kereta express. Ringkasnya perbedaan kemajuan industri pada satu negeri dengan negeri lain membawa perbedaan kualitas, yakni pikiran dan wataknya kasta-kasta di negeri negeri itu, seperti Buruh Eropa dengan Buruh Indonesia, Tani Jawa dengan Tani di daerah Ternate.
3. Krisis-Ekonomi
Walaupun Indonesia sangat kaya, dan pertanian serta perusahaan dijalankan dengan cara model baru sekali, tetapi bumiputera selalu dalam kemiskinan dan urusan uang (staatsfinancien) sudah lama selalu dalam krisis. Walaupun pada waktu perang yang baru lalu, modal-besar mendapat untung berlipat ganda dari waktu normal atau biasa, tetapi sebab harga barang naik dan gaji tinggal sedikit, maka kemelaratan Rakyat malah bertambah dari yang sudah-sudah. Pada penghabisan perang, urusan uang kalang kabut, sehingga hampir mendatangkan bangkrutnya negeri.
Sebab yang dalam, yang mendatangkan kesengsaraan dan krisis itu, walaupun kapital-besar mendapat untung berlipat ganda, terutama sekali, karena untung itu baik langsung atau tak-langsung semuanya mengalir ke Eropa. Langsung karena tiap-tiap tahun berjuta-juta uang dikirim ke Eropa, buat membauar bunga modal (dividenten) yang masuk di industri, kereta, pelikan dan kapal tak langsung, yakni dengan jalan perniagaan (export dan import), yang sama sekali dimiliki oleh bangsa asing juga.
Walaupun Pemerintah Indonesia sekarang (ambtenar, serdadu, Justisi, armada, polisi d.s.g.) gunanya bermata-mata buat membantu dan membesarkan modal asing serta sebaliknya penindas dart, pengisap bumiputera buat modal besar itu, tetapi uang buat pengisi perutnya Pemerintah itu, yakni pajak, tiadalah dibayar oleh Kaum-Modal Belanda sendiri, melainkan oleh bumiputera juga. Jadi Rakyat Indonesia tidak saja membiarkan harta, tenaga dan kemerdekaannya dirampok oleh Kaum Modal Belanda, tetapi mesti membayar gaji hambanya kaum modal itu, yaitu Gubernur-jendral, Resident, Regent, Wedono, Commissaris van Politie, Jendral, Major dan beribu-ribu hamba yang lain-lain.
Sebab Modal-Belanda tak mau membayar gaji hambanya itu dari kantongnya sendiri, dan buat penambah Modal-Besar di Indonesia, maka Pemerintah Belanda terpaksa meminjam uang ke lain negeri. Sampai tahun 1923, maka banyaknya uang pinjaman itu sampai F. 1476.662.000. Dengan bunga 5%, maka saban-saban tahun mesti dibayar bunga kepada negeri lain F.6.471.641. Bunga itu tentulah tiada dibayar dari gaji Guberner-Jendral atau untungnya Colijn, melainkan dengan pendapatan Rakyat juga. (Semua angka-angka ini kita petik dari Handbook of the Netherlands East-Indie, yang dikeluarkan oleh pemerintah sendiri)
Uang masuk atau inkomsten, yakni terutama buat gaji hambanya pemerintah pada tahun 1921 ada F.769.700.000 tetapi uang keluar atau uitgaven, yakni yang dimakan oleh hamba-hamba tadi ada F.1.055.200.000. Jadi dapat kekurangan F.285.500.000. Kekurangan itu tinggal terus menerus, tiap-tiap tahun.
Buat pengobat krisis ini, maka Kaum-Modal Belanda memilih hambanya Guberner-Jendral  Fock.
Sebab Fock ini dulunya ia mengaku liberal, maka buat penutup malunya sebagai liberal ia mula-mula pura-pura mau menolong Rakyat Indonesia. Ia berjanji mau memaksa Modal-Gula memperbaiki nasib buruh dan tani gula dengan ongkos Modal Gula sendiri. Lagi pula ia mau memaksa Modal Besar menolong Rakyat membayar pajak yang besar itu, supaya kekurangan pajak tadi bisa tertutup dan rakyat dapat kelonggaran
Tetapi sesudah Modal Gula menyepak kembali, maka tuan Fock diam saja. Dan apabila Colijn, yakni Raja Minyak menjawab “Tutup mulutmu, kalau tidak kamu saja boikot, dan pabrik minyak kami tutup”, maka tuan Fock yang liberal tadi lebih suka memihak kepada gajinya yang beribu-ribu itu, dari pada memihak kepada Rakyat atau kepada paham liberalismenya. Malah ia lebih menjilat ke atas dan lebih menendang ke bawah.
Keatas: Gaji ambtenaren yang besar-besar di naikkan, laskar, armada dan polisi dibesarkan.
Kebawah: Pajak dinaikkan, buruh dilepas dan diturunkan gajinya, uang-keluar buat pendidikan, dan kesehatan Rakyat diturunkan.
Walaupun Fock sedikit menaikan cukai dari barang masuk dan ke luar tetapi saudagar Belanda yang mempunyai barang-barang itu dengan mudah bisa menaikkan harga barang-barangnya, yang mesti dibayar oleh Rakyat yang membelinya juga (minyak, kain, korek-api d.s.g.)
Rumah-Gadai, yang dipunyai oleh pemerintah sendiri menaikan untungnya pula dengan jalan menaikan isapan (Renten) pada Rakyat yang miskin juga. Sekarang ini menurut keterangan buku-buku, Rakyat Indonesialah yang tertinggi sekali membayar pajak di dunia ini.
Di negeri-negeri lain di Timur seperti India, Filipina dan Tiongkok, bumiputera sendiri ada mempunyai perusahaan, pertanian dan perniagaan besar, sehingga untungnya juga tinggal dalam negeri sendiri, dan sebagian dari untung itu dipakai buat membayar pajak negeri. Tetapi di Indonesia pikulan uang sama sekali tertimpa pada Rakyat-Melarat, yang makin tahun bertambah miskin, karena semuanya untung mengalir ke sakunya Lintah Darat yang tidur di Den Haag atau Zorgvliet.
Makin besar Pemerintah-Indonesia meminjam uang kepada bangsa lain seperti Amerika dan Inggris, makin berkuasa Modal Asing di Indonesia, makin habis tanah ditelan oleh Modal-Asing itu, makin besar uang yang mengalir ke negeri sebagai bunga dan dividen uang pinjaman itu, dan berhubung dengan itu makin dalam kemelaratan Rakyat dan makin hebat pula krisis ekonomi yang akan datang.
Selama semua untung dari modal-besar, baik langsung atau tak langsung sama sekali mengalir ke luar negeri, selamanya itu Krisis ekonomi Indonesia tak bisa diobat. Betul sekarang, Fock hampir bisa mengadakan balans-begrooting atau sama-berat uang masuk dan uang-keluar, tetapi balance itu semata-mata memperberat pikulan Rakyat, dan wujudnya langsung akan memperjauhkan yang memerintah dari yang terperintah dan memperdalam krisis-politik.
4. Krisis Politik
Di Filipina, India dan Mesir, oleh karena adanya Tani-Besar, Kapitalis besar dan Saudagar Besar dari bumiputera sendiri, maka dalam waktu krisis politik, kaum imperialist bisa memadamkan atau mengurangkan krisis politik itu, dengan jalan konsesi, yakni memberikan sebagian dari kekuasaan itu kepada bumiputera. Disana kaum modal asing mempunyai banyak sama keperluan ekonomi dengan modal bumiputera. Kalau pada suatu jajahan, dimana Imperialisme itu masih autokratik (yakni memungut semua kekuasaan) Rakyat bergerak menuntut kemerdekaan, seperti di India pada tahun 1918-1923, maka kaum imperialis memukul pergerakan itu dengan konsesi politik. Imperialisme Inggris memberi 1/2 atau 3/4 Parlemen, dimana Kaum-Modal bumiputera boleh mengirimkan wakilnya. Oleh karena kaum-tengah dan intelektual pada negeri yang ada mempunyai nasional-capital hampir semuanya memihak pada nasional kapitalis itu, maka mereka itulah yang terpilih menjadi anggota dari 1/2 atau 3/4 Parlemen tadi. Oleh karena keperluan Modal-Asing dan Modal Bumiputera banyak bersamaan, maka buat modal asing itu tak besar bahayanya, kalau sebagian dari politik negeri terserah pada wakilnya modal kulit hitam. Oleh karena kaum buruh dalam pertandingan buat keperluannya tak bisa membedakan Modal hitam dan Modal putih, maka Kaum Tengah dan intelektual, yang mempertahankan modal hitam itu terbawa-bawa mempertahankan modal putih seperti C. R. Das pemimpin Partai-Swaray di India. Dengan konsesi politik itulah di India Inggris menarik Kaum intelektual, yakni pemimpin pergerakan Rakyat ke dalam Parlemen dan dengan jalan kompromi itulah ia sering-sering mengundurkan revolusi.
Menurut pemandangan kita, atas dasar Marxisme, maka di Indonesia, sebab tidak ada nasional-kapital, Modal Belanda tak bisa memberi konsesi-politik yang berarti. Ia harus sendirinya memerintah atau dengan bumiputera yang memang terang budaknya.
Kaum cap Budi-Utomo (B.O.), Serikat-Islam (S.I.) dan Nasionale Indische Partij (N.I.P) yang dulu terpikat oleh suara merdunya Van Lim­burg Stirum, sekarang kita harap sudah yakin, bahwa mereka yang mau tinggal jadi Wakil Rakyat Indonesia tak bisa kerja bersama-sama dengan Wakil Modal Belanda di Volksraad, dan Volksraad tak bisa jadi 1/2 Parlemen, seperti di India atau 3/4 Parlemen seperti di Mesir dan Filipina. Volksraad mesti tinggal semata-mata buat Kapital-Asing, dan anti seluruh Rakyat. Tetapi oleh karena Nasionalis atau Islamis dinegeri kita tak sepeser mengerti Marxisme, yakni kea­ daan dan kedudukan kasta-kasta di Indonesia dan ber­hubung dengan itu politiknya kasta, maka mereka tentu masih bingung, tak mengerti apa-apa, apa sebab Dr. Tjipto, Tjokro dan Muis disepakkan, sesudah dipakai oleh Limburg Stirum pada waktu Krisis-politik tahun 1918. Kita kaum Komunis yang memboikot Volksraad pun belum pernah mengadakan pemandangan kekastaan yang jelas dan terang, kenapa Volksraad Indonesia tak bisa menjadi Parlemen, selama Keadaan Sosial d inegeri kita masih tetap seperti sekarang.
Pemandangan kita di negeri jajahan lain, seperti India di atas sudah sebagian memberi keterangan. Di Indonesia tak ada Kasta-Landlords (Tuan Tanah) atau Bangsawan yang berarti banyaknya dan kekayaannya. Kasta saudagar-besar dan Modal-Besar sama sekali tak ada. Sebab itu kaum intelektual, yang di negeri kita baru mulai timbul belum mempunyai kasta bumi­putera tempat mereka berlindung. Sebab itu kaum intelektual kita masih pasif. Karena didikannya di sekolah imperialis, mereka tak mengerti, bahwa kasta mereka mesti mencampurkan diri ke kasta Buruh dan tani, karena kasta-kasta inilah di Indonesia yang bisa merebut kemerdekaan.
Oleh karena Kasta Modal Bumiputera di indonesia tak ada atau masih sangat kuno dan lemah serta kasta-intelektualnya pasif, maka kalau Modal Belanda mau memberi 1/2 atau 3/4 Parlemen, haruslah ia memberi hak-politik dan Suara Memilih Wakil kepada Buruh dan Tani. Kepada kasta-kasta kedua inilah ia harus memberi konsesi dan dengan Rakyat melaratlah ia harus membagi kekuasaan politik.
Ini namanya contradictio determinis, artinya itu membantah diri sendiri. Masakan yang menindas bisa memberi 1/2 atau 3/4 senjata kepada yang tertindas, seperti si Penyamun akan memberikan pistolnya kepada yang disamunnya. Dengan segera yang disamun akan membunuh yang menjamun.
Semua Hukum dan Kekuasaan yang ada di Indonesia sekarang, ialah buat membantu dan membesarkan Modal Asing dan sebaliknya buat menginjak Rakyat Indonesia. Kalau Rakyat yang sama sekali terinjak itu diberi hak politik, yakni senjata buat mengubah, atau menghapuskan Hukum-Negeri tentulah tak satu Hukum akan tinggal buat mempertahankan Modal Asing itu. Kalau di Indonesia ada kasta Modal Bumiputera yang kuat, Kasta-Terpelajar yang kuat pula, tentulah kasta-terpelajar ini bisa ditipu oleh Modal Asing dengan 1/2 atau 3/4 sampai 7/8 Parlemen. Dengan politik menipu kaum-terpelajar (kaum mana terutama di jajahan sangat dipercayai oleh Rakyat), kaum imperialist. Belanda akan bisa menipu Rakyat yang mengikut kaum-intelektual itu dan meundurkan revolusi. Tetapi di Indonesia sebagian besar dari Rakyat ialah Tani, Buruh dan Saudagar kecil-kecil yang sama sekali tak bersamaan keperluannya dengan Modal Asing, malah sama sekali bertentangan. Sebab itulah Belanda takkan bisa memberi konsesi-politik yang berarti kepada Rakyat kita.
Pertanyaan di negeri kita tidaklah revolusioner atau evolusioner, melainkan bagaimana kita harus mengadakan program-merah, taktik-merah, organisasi-merah, agitasi-merah dan aksi-merah, supaya Rakyat kita dengan lekas dan dengan sedikit kerugian jiwa bisa lekas lepas dari tindasan dan isapan Modal Belanda.
Sikap Merah kita ini menjadikan cemas dan ketakutannya Kaum Modal Belanda, dan kecemasan serta ketakutannya itu membesarkan, laskar, armada, polisi dan resisir pula. Hal yang terakhir ini seterusnya menaikan pajak pula dan kenaikan pajak mendalamkan dendam kesumat Rakyat Indonesia pada pemerintah asing ini pula. Demikianlah satu bersangkutan dengan yang lain dan hasilnya memperdalamkan krisis ekonomi dan politik juga. Ringkasnya sikap merah kita tidak saja berguna, buat mendidik Rakyat Indonesia dalam politik, tetapi juga memperdalam pertentangan antara si Penghisap dan yang Terisap, sebab itulah mencepatkan datangnya kemerdekaan.

III. PROGRAM.
Diatas kita sudah mencoba menerangkan, bahwa krisis atau pertentangan ekonomi & politik di Indonesia sangat tajam. Pertentangan itu, lebih-lebih, kalau kelak dicampuri oleh hal-hal lain, seperti bahaya kelaparan atau penyakit, pada tiap-tiap waktu bisa melahirkan revolusi.
Keyakinan ini tiadalah kita peroleh dari satu dalil atau nujum. Juga tidak, dari ilmu kebangsaan cap N.I.P yakni karena yang memerintah berkulit putih dan yang terperintah berkulit hitam, yang memerintah berwatak Barat dan yang terperintah berwatak Timur. Warna, watak atau Agama itu tak perlu mendatangkan revolusi. Kalau umpamanya di Indonesia ada kasta­hartawan bumiputera yang kuat, walaupun kasta ini beragama berkulit putih dan berwatak Timur, tetapi dengan konsesi 1/2 sampai 7/8 Parlemen, revolusi itu tiap-tiap kali bisa dihindarkan. Betul warna, agama dan watak itu bisa menambah tajamnya pertentangan yang sudah ada, tetapi tiada bisa menjadi hoofd-factor atau hal yang terpenting dalam sesuatu pemberontakan. Yang bisa mendatangkan revolusi di Indonesia kita ini sewaktu-waktu ialah karena pada krisis ekonomi dan politik, yang dipertajam oleh perbedaan watak, warna dan agama, tak ada kasta-hartawan bumiputera, yang bisa memperdamaikan yang memerintah dengan yang terperintah.
Sebab kita tahu, bahwa kemodalan Belanda besok atau lusa mesti jatuh, maka haruslah kita dari sekarang mengadakan peraturan ekonomi & politik, ialah program yang cocok dengan kastanya partai kita, yakni partai Rakyat melarat, yang tergambar pada P.K.I dan S.R.
Betul sesuatu program revolusioner, yakni kehendak sesuatu golongan atau kasta, tak berarti, kalau tak ada pergerakan revolusioner dari kasta itu sendiri. Tapi betul pula, bahwa sesuatu pergerakan revolusioner yang tidak mempunyai basis teori, atau lantai yang berdiri atas teori akan mati sendirinya saja. Lihatlah Budi Utomo, S.I dan N.I.P. Ketiganya, dulu, mula-mulanya revolusioner. Tetapi tidak satu yang bisa menggambarkan maksudnya dengan terang. Betul juga sebab jatuhnya ketiga partai itu karena tak mempunyai disiplin, tetapi sebab yang terutama sekali ialah mereka tak bisa membuat program yang kukuh
Juga partai kita, walaupun di sana sini lebih terang melahirkan kehendaknya dari partai yang lain 2 di Indonesia, belum pernah memformulasi atau menetapkan program dengan secukupnya. Apabila kita mau tinggal memegang pimpinan revolusioner atas Rakyat melarat di Indonesia, maka haruslah sekarang kita memaklumatkan kehendak kita, dalam perkara ekonomi, politik, sosial d.s.g.
Adapun program itu tiadalah bisa kita gali dari dalil yang keluar lebih dari 1300 tahun dahulu, seperti pahamnya Haji Agust Salim, karena peraturan negeri pada zaman yang belum mempunyai pabrik, Bank dan kereta api itu berbeda sekali dengan keadaan negeri kita sekarang. Tiadalah pula bisa program itu kita timbulkan dari sentimen atau perasaan kebangsaan saja Kaum N.I.P. Akhirnya tiada pula bisa disalin dari programnya sesuatu partai komunis di Eropa atau Amerika dimana keadaan ekonomi, politik dan sosial berbeda sekali dengan keadaan di Indonesia. Melainkan kita harus memakai geest atau semangatnya Marxisme, buat mendirikan program yang cocok dengan keadaan di negeri kita. Jadi cuma metode atau cara mendirikan program itu saja bisa Marxis atau Komunis tetapi material atau perkakas mendirikan itu ialah Indonesia.
Berpadanan dengan itu, maka watak program kita haruslah:
a)    Cocok dengan kekuatan kita. Tuntutan kita tak boleh terlampau jauh, supaya kita jangan lekas dilabrak oleh musuh, baik diluar atau didalam negeri, Sebaliknya pula kita tak boleh mengadakan peraturan ekonomi & politik yang mundur, dimana Rakyat akan tinggal terhisap dan tertindas. Berapa jauhnya tuntutan kita itu, sebagai partai internasional, kita juga mesti memikirkan keadaan internasional. Artinya itu, revolusi dunia, boleh jadi tiada lama lagi akan pecah. Tetapi boleh jadi juga lebih lama dari kita kehendaki sendiri, Kalau revolusi-dunia besok pecah, tentu kita besok pula bisa dapat pertolongan lahir dan batin (perkakas mesin, kepandaian buat industri d.s.g) dari buruh Eropa dan Amerika. Kita dalam hal ini tak akan celaka, kalau segera mendirikan Diktatur-Proletar yang sempurna, yang sepadan dengan keadaan Kapitalisme Indonesia. Tetapi kalau revolusi dunia lama lagi akan pecah, dan kita besok mendirikan Soviet-Republik, maka kita yang terletak di antara imperialisme Inggris, Amerika dan Prancis ini dan terpisah sekali dari kaum Buruh revolusioner di Rusia, Eropa dan Amerika, dengan lebih lekas dan lebih kuat dari pada Rusia akan dikepung dan dilabrak oleh imperialisme itu. Sedangkan Republik biasa saja (demokratis) sudah akan bisa menggojangkan seluruh Asia, apalagi kalau nama Republik itu dimerahkan pula. Tidak bisa dibantah lagi bahwa, walaupun Indonesia terutama landbouw-land, tetapi hidup kita sudah sama dengan industrieel land seperti Eropa. Ekonomi sudah hampir sama sekali bersifat internasional, karena hasil industri dan landbouw kita seperti gula, minyak-tanah, karet, kopi, kina, dll sama sekali tergantung dari perniagaan di luar negeri kita dan pasar-pasar di luar Indonesia. Sebaliknya pula semua keperluan hidup Rakyat Indonesia seperti kain, perkakas dan beras sama sekali datang dari negeri lain. Kalau Inggris atau Amerika besok tak mau mangaku kemerdekaan kita, artinya itu tak mau berniaga dengan kita, maka sehari kita tak bisa mengurus ekonomi. Berhubung dengan itu sebentar kita akan jatuh. Jadi jauhnya program kita haruslah sepadan dengan kekuatan kita yang ada dan cakap menentang musuh lari atau tersembunyi, baik didalam ataupun diluar negeri. Program itu haruslah satu lantai yang kukuh buat berjalan sendiri (kalau revolusi dunia belum datang) atau buat berjalan bersama-sama dengan dunia (kalau revolusi dunia sama datang dengan kemerdekaan Indonesia).
b)    Bisa menaikkan derajatnya Rakyat Indonesia. Kaum-Buruh Indonesia haruslah memiliki perkakas hasil yang besar-besar, seperti pabrik, ondernemingen (bahasa Belanda untuk ventures atau perusahaan – catatan editor), tambang, Kereta, Kapal dan Banken. Mereka haruslah betul-betul berkuasa dalam hal menentukan, membuat dan membagikan (produksi & distribusi) hasil negeri. Mereka haruslah berkuasa betul dalam hal politik negeri. Perhubungan antara tuan dan budak, seperti yang masih ada di Eropa (kecuali Rusia) Amerika dan Jepang, yakni negeri-negeri yang kapitalistis pelan, haruslah dihapuskan. Untung yang berjuta‑juta yang sekarang tiap-tiap tahun mengalir kesaku Lintah Darat Belanda, di Den Haag, haruslah tinggal di Indonesia sendiri. Uang, ini boleh dipakai buat Didikan dan Kesehatan Rakyat, buat membantu Kaum Tani dan saudagar kecil dan Tukang-Tukang dengan jalan Koperasi dan terutama buat mendirikan industri model baru di Indonesia, seperti industri pembuat kapal, kereta, mesin-mesin dan perkakas lain-lain, pabrik kain, kertas dan membangun electrische-centrale (bahasa Belanda untuk pembangkit tenaga listrik – catatan editor) dari sungai-sungai dan danau-danau di Indonesia. Dengan perbutan demikian, maka niscayalah lama lambat seluruh Rakyat Indonesia, Buruh , Tani, Tukang dan Student akan maju derajatnya dalam hal ekonomi, politik, sosial dan kebudayaan atau peradaban.
c)     Bisa menarik Indonesia ke zaman industrialisme model baru. Bahwa perusahaan besar-besar, kepunyaan modal asing perlu dan bisa dimiliki kaum-Buruh, itu sudahlah terang. Perlu, karena dengan jalan begitu, hasil boleh diatur dengan rasional, yakni menurut keperluan Rakyat, bukan lagi buat di Lintah Darat di Eropa. Bisa, karena perusahaan besar-besar itu semuanya kepunyaan Modal-Asing, yang memperoleh harta itu dari Rakyat Indonesia juga dan tiadalah ada Kaum-Hartawan bumiputera yang cukup kuat buat melawan politik nasionalisasi Kaum-Buruh. Dengan pertolongan uang pada tukang, saudagar-kecil dan tani di Indonesia, dan dengan memberi pertolongan kepada mereka mendirikan Koperasi Negara, Pemerintah Baru di Indonesia bisa membesarkan dan mengumpulkan perusahaan kecil-kecil yang terpancir-pancir dan bisa membawa semua perusahaan kecil-kecil itu ke bawah pimpinannya. Semua perusahaan kecil, lama lambat akan hilang, sebab terbawa di bawah pengaruh Pemerintah-Baru (Republik-Indonesia), atau kalah bersaing dengan perusahaan Republik yang besar-besar. Kalau daya upaja yang tersebut diatas ditambah lagi dengan daya upaja mendirikan perusahaan yang model baru, maka dengan segera Indonesia, yang begitu mundur sekarang industrinya, sesudah beberapa lama akan menjadi negeri industri model baru di dunia penduduknya akan bertambah maju dalam segala hal dan politiknya juga akan memeluk seluruh alam atau menjadi internasional.
d)    Bisa Mengadakan kerukunan seluruh Rakyat melarat. Kerukunan itu perlu tidak saja buat merebut kemerdekaan dari imperialisme Belanda, tetapi juga buat mempertahankan kemerdekaan itu keluar negeri (Inggris, Amerika dan Jepang). Walaupun Kaum-Buruh kita terkuat dari kasta-kasta lain di Indonesia, tetapi ia sendirinya saja tentu sukar merebut kemerdekaan buat seluruh Indonesia, seperti juga buat Sumatra, Borneo, Celebes d.s.g, dimana industri dan kaum buruh baru mulai datang. Di Jawa sendiripun buruh industri yang betul-betul masih sedikit. Ringkasnya, walaupun buruh bisa termuka dan bisa memberi pimpinan pada seluruh Rakyat melarat dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, tetapi ia mesti mendapat pertolongan dari, tani, saudagar, student, serdadu dan tukang. Haruslah seluruh Rakyat tertindas di Indonesia terikat dalam satu “tentara‑kemerdekaan”. Tetapi ikatan itu harus berdasar ekonomi. Tani, atau tukang, tak bisa lama diikat dengan paham kebangsaan cap N.I.P. atau B.0. atau dengan agama cap S.I. saja. Ikatan semacam itu tidak bisa kukuh, karena tak mengandung kekuatan lahir melainkan perasaan saja. Ikatan itu cuma bisa kekal, kalau berdasar ekonomi jani, kalau tani, tukang dan saudagar dalam persahabatan dengan buruh itu betul‑betul mendapat keuntungan lahir dan batin (ekonomi, politik dan sosial). N.I.P. dan B.0. takkan bisa memperbaiki nasib kaum melarat, sebab kalau Indonesia di bawah pimpinan mereka menjadi merdeka, maka perusahaan besar-besar akan jatuh di bawah Angenent, Veynschenk, Raden Mas ini, atau Raden itu. Pun S.I tak akan bisa juga karena sesudah negeri merdeka urusan ekonomi sama sekali akan jatuh di bawah Kyai, Haji atau Sjech, seperti di Mesir Arab, Turki atau India. Tetapi kalau P.K.I. dan S.R. yang merebut kekuasaan, ia bisa menaikan derajat si Kecil karena lebih dulu mereka menghapuskan hak-Milik pada perusahaan besar-besar dan menghapuskan kasta Hartawan. Sebab kasta-buruh di Indonesia bukan Kasta-Penghisap, maka ia kelak bisa mengadakan perserikatan yang kukuh dengan segala golongan yang terhisap dan tertindas oleh imperialisme sekarang.
e)    Bisa membangunkan semangat revolusioner seluruh Rakyat Indonesia, dengan kekal. Betul perasaan kebangsaan dan Agama bisa menbangunkan kebencian kepada Penindas dan mendatangkan kerukunan pada Rakyat, tetapi kebencian dan kerukunan semacam, sangat negatif dan sementara. Sebentar menjadi dingin, seperti pepatah Minangkabau: Panas-panas tahi ayam. Tetapi satu Program yang mempunyai lantai teori yang kokoh dan mudah dimengertikan pada Rakyat, bisa mendatangkan keyakinan yang tetap, karena keyakinan semacam ini berhubung betul dengan hidup dan pikirannya hari-hari, dan bisa memberi jawab pada soal-soal ekonomi, politik dan sosial. Dari keyakinan semacam itulah saja bisa timbul kemauan yang keras buat mempraktikkan cita-cita yang terpeluk oleh Program itu. Sebab itu Program yang kukuh itulah saja yang bisa membangunkan dan menetapkan semangat revolusioner dari seluruh Rakyat Indonesia sampai maksudnya sampai.

III. PROGRAM
1. Program Nasional P.K.I & S.R.
A. Ekonomis
1. Nasionalisasi atau memindahkan Pabrik dan Tambang (seperti pabrik gula, kina, kelapa, semen dan tambang arang, emas, timah d.s.g.) ke tangan Pemerintah Rakyat Indonesia.
2.    Nasionalisasi Tanah dan Kebon, seperti Gula, Getah, Tebu, Kopi, Kina, Kelapa, Indigo d.s.g.
3.    Nasionalisasi Transportasi dan Komunikasi (Kereta, Kapal, Telegraf dan Telepon).
4.    Nasionalisasi Bank, Perusahaan dan lain-lain Anggota-Perniagaan.
5.    Electrificatie perusahaan, dan mendirikan industri model baru dengan pertolongan Negara, seperti buat pakaian, kereta, kapal, mesin d.s.g.
6.    Mendirikan Koperasi-Rakyat dengan pertolongan Negara. Memberi perkakas dan pertolongan pada Kaum Tani, buat memperbaiki pertanian.
7.    Emigrasi atau memindahkan sebagian penduduk Jawa dengan ongkos Negara, ke pulau-pulau di luar Pulau jawa.
8.    Membagikan Tanah-Tanah kosong pada proletar-tani, dan memberi pertolongan pada Tani itu buat mengerjakannya.
9.    Menghapuskan sisanya feudalisme (Yogya, Solo d.s. g) dan Tanah Partikulier, serta membagikan tanah-tanah ini pada Tani-Tani Miskin dan Proletar Tani.
B. Politik.
1. Kemerdekaan Indonesia yang sempurna (absolut) pada saat ini juga.
2. Mendirikan Federasi-Republik dari kepulauan Indonesia.
3. Memanggil Rakyat-Rakyat Indonesia yang mewakili seluruh Golongan dan Rakyat Indonesia pada saat ini juga.
4. Memberi hak-Memilih yang sempurna pada Rakyat Indonesia (lelaki & perempuan) pada waktu ini juga.
C. Sosial.
1. Gaji minimum.
2. Kerja 7 jam dan memperbaiki nasib kerja dan hidupnya Kaum Buruh.
3. Perlindungan Kerja (Arbeidsbescherming) Kaum Buruh dengan mengakui hak buat mogok.
4. Mendapat sebagian Untung dari Perusahaan yang besar-besar.
5. Mendirikan Rapat-Buruh (Arbeidersiaden) pada perusahaan besar-besar.
6. Menceraikan Negara dengan Agama, dengan mengakui Kemerdekaan Agama seluas-luasnya.
7. Memberi hak-hak ekonomi, politik dan Sosial pada semua penduduk Indonesia lelaki dan perempuan.
8. Nasionalisasi Gedung besar-besar, mendirikan rumah-rumah baru, dan membagikan tempat tinggal buat Buruh-Negara.
9. Membunuh penyakit menular dengan sekuat-kuatnya.
D. Didikan.
1. Didikan dengan diwajibkan dan ongkosnya Negara buat semua penduduk Indonesia sampai berumur 17 tahun, didikan mana memakai bahasa Melayu sebagai bahasa utama dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terpenting.
2. Menghapuskan  peraturan dan asas Didikan sekarang dan mendirikan peraturan dan asas baru, yang praktis, yang langsung berhubung dengan industri yang ada dan yang akan didirikan.
3. Memperbanyak dan memperbaiki sekolah Pertanian Pertukangan dan Perniagaan dan menambah serta memperbaiki sekolah tinggi buat Personel Teknik dan Administrasi yang tinggi.
E. Militer
1. Menghapuskan Laskar yang imperialistis sekarang dan mendirikan Laskar Rakyat buat mempertahankan Republik Indonesia.
2. Menghapuskan hidup di tangsi dan peraturan yang menghina Kaum-Serdadu, memberi izin tinggal di kampung dan di rumah yang dibikin buat mereka, penganggapan yang lebih baik dan menambah gaji Kaum Serdadu Rendah,
3. Memberi hak leluasa buat Organisasi dan Pertemuan kepada Kaum Serdadu.
F. Polisi dan Justisi.
1. Memisahkan Pemerintah dari Polisi dan Justisi.
2. Memberi hak-sempurna kepada tiap-tiap Pesakitan, buat mempertahankan diri di muka Hakim, dan melepaskan seorang tertuduh dalam 24 jam, apabila keterangan dan saksi kurang cukup.
3. Semua Perkara, yang wettig (mempunyai cukup dasar hukum) mesti diperiksa dalam 5 hari pada tempat yang umum, teratur dan patut.
G. Aksi-Program.
1. Menuntut 7 jam kerja.
2. Minimum Gaji dan perbaikan Kerja dan Hidupnya Kaum Buruh.
3. Mengakui Federasi Serikat Buruh dan hak Mogok.
4. Mengatur Tani buat hak-ekonomi dan politik.
5. Menghapuskan Punale Sanctie (pidana terutama atas penolakan untuk melakukan pekerjaan dan melarikan diri – catatan editor).
6. Menghapuskan hukum-hukum dan peraturan-peraturan buat menghambat pergerakan politik, seperti Exorbitante-Stakings-Pers (sensor media – catatan editor) dan Onderwyswetten dan mengaku hak leluasa buat bergerak.
7. Menuntut hak membikin demonstrasi. Massa demonstrasi (ramai-ramai) di seluruh Indonesia buat melawan Tindasan Bergerak dan Pajak dan buat melepaskan semua pemimpin Rakyat yang dibui dan mengembalikan semua pemimpin Rakyat yang dibuang, massa aksi mana harus dikuatkan oleh Mogok-Umum dan Massa-ongehoorzaamheid (tak menurut perintah pemerintah).
8. Menuntut menghapuskan Volksraad (dewan penasehat untuk Netherlands East Indie yang dibentuk oleh Belanda – catatan editor), Raad van Indie (Council of Indies atau Dewan Hindia yang dibentuk untuk mengawasi Gubernur-Jendral VOC – catatan editor) dan Algemeene Secretarie (Seketratis Jendral – catatan editor) dan memanggil Rapat Rakyat (Nasional Assembly) dari mana nanti akan dipilih Anggota Menjalankan Hukum (Komite Eksekutif), yang bertanggungan kepada Rapat Rakyat.
2. Keterangan Program.
Program diatas, ialah buat seluruh Rakyat Indonesia, yaitu Kasta-Proletar dan Non-Proletar atau yang tidak Proletar, seperti Kasta Tukang, Saudagar Kecil, Tani, Student d.s.g yang semuanya menghendaki Kemerdekaan sebagai Bangsa dan melawan Imperialisme Belanda. Sebab di Indonesia tidak sampai 1% penduduk yang membenci pada Indonesia Merdeka dan cinta pada Pemerintah Belanda, maka Program Nasional ini tidak salah namanya, karena betul memeluk hampir semua penduduk Indonesia.
Oleh karena di Indonesia Kasta Buruhlah yang terkumpul atau geconcentreerd (terkonsentrasi), maka ia lah pula yang bisa memberi pimpinan pada kasta-kasta yang lain-lain yang cerai berai itu. Pada Program ini kita melihat, bahwa Buruhlah yang termuka dalam hal tuntutan. Terutama tuntutan ekonomi (A), Sosial (C), dan Aksi (G), sebagian besar semata-mata buat keperluan Kaum Proletar. Tetapi dalam tuntutan Politik (B), Didikan (D), Pengadilan (F), keperluan Buruh banyak bersamaan dengan non-Proletar, sebab itu bisa dicampurkan. Umpamanya semua tuntutan politik (B. dari 1-4) sama sekali boleh dipakai buat non-proletar. Tuntutan ekonomi seperti A. 5, 6, 7 dan 8 bolehlah dikatakan terutama buat non Proletar. Sedangkan tuntutan F dari 1-3 semata-mata buat kasta yang tidak boleh kita lupakan dan lengahkan ialah Kaum-Serdadu.
Walaupun pada Program Nasional, yakni buat seluruh Native atau penduduk Indonesia, semua tuntutan kita jadikan satu, tetapi dalam propaganda dan agitasi tentulah, tuntutan yang terutama buat Kaum Buruh tidak boleh kita pakai buat kaum Tani. Umpamanya tututan nasionalisasi pabrik tentulah buat kaum Tani tidak sepenting perkara pertanian dan koperasi. Jadi dalam agitasi dan propaganda kita mesti pilih tuntutan yang konkrit atau yang nyata dan dirasa buat masing-masing kasta. Kadang-kadang kita pentingkan betul tuntutan ekonomi seperti pada kasta Buruh dan Tani, kadang-kadang kita pentingkan politik seperti pada penduduk kota dan Kaum Student, kadang­kadang perlu kita terangkan sikap kita terhadap kepada agama, seperti di Solo, Yogya, Aceh, Banjarmasin.
Semua tuntutan yang diatas tentulah yang umumnya saja. Berpuluh-puluh tuntutan kecil-kecil buat Buruh, Tani dan Student atau Tukang, di Jawa atau Sumatera d.s.g pada kitab ini tak bisa kita tuliskan. Program Nasional haruslah pendek dan memeluk dasar dari tuntutan yang terutama saja. Tetapi plaatselyke Organisaties dan plaatselyk Beleid atau kecakapan pada masing-masing tempat tak boleh melupakan tuntutan yang plaatselyk dan penting buat satu kasta atau golongan. Umpamanya buat Kaum Militer boleh lagi ditambah beberapa tuntutan. Begitu juga buat Buruh Gula, buat Pelabuhan, buat Tani di d jawa, Sumatera dan Borneo, buat saudagar kecil di mana-mana negeri, buat pemancing ikan di Madura, Ternate d.s.g, pimpinan pada masing-masing tempat mesti mengadakan tuntutan, sehingga seluruh penduduk Indonesia mempunyai Program buat mengubah nasib masing-masing kasta atau golongan.
Semua tuntutan itu haruslah konkrit atau dirasa, pendek dan terang. Dari tuntutan bersifat semacam inilah bisa datang keyakinan dan bisa lahir aksi revolusioner.

IV. ORGANISASI.
Adapun perkara organisasi pada suatu jajahan, seperti Indonesia adalah suatu perkara yang sangat sukar dan penting sekali. Dari pada kuatnya organisasi kita itulah bergantungnya, bisa atau tidakkah kita kelak memecahkan organisasi musuh yang sangat teratur tiu. Berhubung dengan Organisasi kitalah kelak bergantungnya, bisa apa tidakkah kita merebut Kemerdekaan, baikpun sebagai Bangsa ataupun sebagai Kasta.
Tiadalah bisa kita putuskan semua persoalan Organisasi itu dengan perkara Agama, sehingga barang siapa sudah “dikekahkan” dan pandai menyebut “syahadat” bolehlah diikat di dalam satu perkumpulan. Tiada perduli apa yang satu Saudagar Besar dan yang lain buruh atau tani melarat. Atau dengan persoalan Kebangsaan, sehingga barangsiapa mempunyai kulit hitam atau setengah hitam bisa masuk ke dalam satu Partai politik. Tak perduli apa yang satu Tuan Tanah dan yang lain tak berpunya apa-apa.
Kita harus menyusun serdadu buat merebut kemerdekaan itu menutut keperluan masing-masing, yang sama keperluan hidup dalam satu organisasi pula, karena buat memperbaiki keperluan hidup itulah manusia dari tiap-tiap Sejarah dan tiap-tiap bangsa bergerak dan mengorbankan nyawanya. Oleh karena si Kapitalis bertentangan keperluannya dengan si Buruh, baikpun mereka “Indier” cap N.I.P. ataupun kaum-Islam cap S.I, seperti macan bertentangan keperluannya dengan sapi, oleh karena itulah mereka dari dua Kasta itu tak boleh disusun dalam satu barisan. Kalau mereka sementara bisa bekerja bersama-sama buat menendang musuh, seperti di Indonesia, haruslah mereka disusun dalam berlain-lain barisan. Oleh karena kita Marxis percaya, bahwa semua pertandingan di dunia terbawa oleh tindasan dan kemelaratan, maka sebab itulah kita terutama bersandar atas Kaum Tertindas dan Melarat.
Walaupun kita internasionalistis, tiadalah bisa kita mengambil saja Organisasi Buruh di Eropa atau Amerika dan tanpa kritik, menanam Organisasi itu di negeri kita. Organisasi-pindahan semacam itu akan mati sendirinya saja, seperti gandum Eropa, kalau dipindahkan ke Indonesia niscaya akan mati juga. Kita harus dengan semangat Marxisme, memeriksa keadaan ekonomi, sosial dan kebudayaan di negeri kita, memeriksa banyak, kuat dan kualitasnya kasta-kasta yang ada di Indonesia dan menyusun tiap-tiap Kasta yang terhimpit pada masing-masing Barisan dan menyusun semuanya Barisan dari semuanya Kasta itu pada Tentara Nasional, buat memecahkan musuh dari dalam ataupun luar negeri.
1. Maksud dan Sifat-sifat Organisasi
Maksudnya Partai Revolusioner di Indonesia ialah buat menendang Musuh dan mempraktikkan atau melakukan Programnya. Jadi Cara dan Sifatnya bekerja haruslah sepadan dengan Maksudnya itu, dan sepadan pula dengan Tempat dan Keadaannya bekerja. Artinya yang terus ialah sepadan dengan tingkat dan tajamnya perkelahian dan sepadan dengan pulau, kota atau desa tempat kita mengadakan aksi. Berhubung dengan itu, maka aksi kita pada waktu reaksi belum kurang ajar dan Rakyat masih lembek berlainan den­ gan aksi kita, kalau reaksi kurang ajar dan Rakyat bangun dan tetap hati. Dan lagi aksi yakni cara dan sifatnya kerja kita itu di Jawa lain dari di Sumatera atau Ternate, di Surabaya lain dari di Cicalengka atau Magelang, dimana industri masih lemah.
Makin plastis atau liat seperti rotan Cara dan Sifat kerja kita itu, makin besar pengaruh Partai kita di seluruh Indonesia dan makin dekat Maksud kita. Supaya kita bisa memimpin seluruh Rakyat Indonesia yang tertindas itu, haruslah kita lebih dahulu bisa memimpin Partai kita sendiri yang sebagai Avant-Garde atau Pasukan Muka dari Rakyat yang Revolusioner  itu.
Sebab itulah maksudnya Organisasi kita, terutama buat mengatur pimpinan yang sempurna, yakni menyusun dan mendidik kekuatan yang bisa memberi pimpinan kepada seluruh Rakyat.
Pimpinan itu baru bisa sempurna, kalau perhubungan atau kontak dengan Rakyat sempurna pula. Tanpa kontak satu Partai tak bisa memberi pimpinan, karena ia terlampau maju di muka atau terlampau tinggal di belakang Rakyat.
Supaya hubungan dengan Rakyat Melarat rapi sekali, maka Organisasi kita memeluk dasar Demokratis Sentralisme. Artinya ini Sentralisasi Pekerjaan yang dilakukan dengan semangat demokratis atau sama rata. Jadi semua anggota Revolusioner dan semua anggota Revolusioner, seperti P.K.I, S.R, Serikat Buruh, JOI, d.s.g, masing-masingnya harus bekerja menurut kekuatan masing-masing, pekerjaan mana mesti teratur dan terkumpul. Bedanya Partai kita dengan Partai Sosial Demokrat, yakni beda bekerja. Pada Partai Sosial Demokrat yang bekerja itu cuma pemimpinnya, tetapi anggotanya pasif saja. Sebab itulah Partai Sosial Demokrat sangat birokratis. Semua anggota menurut saja apa perintah pemimpinnya, sama betul dengan demokratisnya Parlamentarisme Kaum Hartawan, yang juga terbagi atas Menteri yang aktif dan mengerjakan sekalian pekerjaan dan anggota Parlemen, yang kerjanya mengomong saja. Pada Partai Komunis semuanya anggota harus bekerja, kecil atau besar (propaganda, kursus, membagi surat kabar, buku, mengerjakan administrasi d.s.g menurut kecakapan masing-masing), sehingga demokrasi atau sama rata kita artinya “sama rata bekerja.” Sifat Demokratis Sentralisme itulah yang bisa menghilangkan birokratisme, dan ialah yang mendidik pimpinan sampai kuat dan plastis.
Disiplin itu, ialah nyawanya suatu pergerakan revolusioner. Dalam pergerakan S.I sudahlah cukup kalau seorang bersumpah “demi Allah demi Qur’an,” buat menjadi anggota. Dalam pergerakan N.I.P sudahlah cukup kalau orang yang mau jadi anggota itu mengaku azas N.I.P. Sesudahnya ia bersumpah, atau sesudah ia mengaku dasar itu ia boleh tidur nyenyak, dengan tiada dapat gangguan apa-apa dari partainya. Tetapi buat pergerakan kita “mengaku Program” itu belum lagi setengah kewajiban seorang anggota.
Partai komunis tiadalah menghendaki “pendeta Komunis” yang hapal programnya dari muka sampai ke belakang dan dari belakang sampai ke muka. Partai kita mau aksi atau perbuatan, aksi yang tetap dan benar yang berpadanan dengan azas dan maksud kita. Kalau pada waktu sebelum revolusi seorang anggota tiada mengeluarkan aksi apa-apa, maka tiadalah bisa kita harapkan yang dia pada waktu yang penting tiba tiba saja akan mendapat semangat yang aktif, seolah-olah mendustakan dirinya sendiri pada waktu biasa. Ringkasnya Partai kita menuntut aksi yang tetap dan benar, besar atau kecil dari tiap-tiap anggota. Kalau seorang anggota tiada mencukupi perintah Partai, mengerjakan pekerjaan yang dikira berpadanan dengan kekuatan anggota itu, maka lebih baik ia keluar saja dari pada tinggal dalam Partai dan memberi contoh yang buruk pada kawan‑ kawannya yang lain. Tetapi disiplin kerja atau arbeid­disipline semacam itu, tentulah pula tidak dalam satu hari saja bisa kita jatuhkan. Kita periksa dulu keadaan satu Seksi atau Lokal dan perkara menjatuhkan “disiplin kerja” itu harus ditimbang betul-betul dengan pemimpin-peminpin yang sudah lama kerja. Tetapi disiplin itu haruslah segera dijatuhkan pada seorang anggota yang mengkhianati partai, juga pada seorang anggota yang tiada mempertahankan.
Serdadu revolusioner itu ialah serdadu yang mengerti dan mufakat dengan Program partainya, yang selalu bekerja sepadan dengan kekuatannya dan selalu menjaga kesentosaan partainya terhadap kepada musuh di dalam atau di luar partainya.
Agitasi. Seperti seorang Penambang menceraikan emas itu dari tanah dan lumpur, maka kita mengeluarkan aksi Kaum Tertindas itu dari peri kehidupan mereka itu juga. Perkakas kita buat mengeluarkan aksi itu ialah Agitasi. Dari dalam, betul dan kuatnya Agitasi itulah bergantung datangnya Aksi.
Membuat Agitasi itu tiadalah dengan “Assalamualaikum atau dalil-dalil” cap Haji Agust de Groote …… dengan tiada menyelesaikan persoalan hidup si Kromo hari-hari, atau kalau menyelesaikan ia tiada berani menarik si Kromo kepada aksi. Juga tiada seperti N.I.P yang agitasinya tiada pula lebih jauh welsprekendheid (lancar) atau mahirnya bicara tentang darah Indier dan wataknya Indier. Kita Kaum Komunis tak pula boleh berlaku seperti Kaum Syndicalist, yang menyangka, bahwa kalau kita campur menuntut hak Kecil-kecil ada berlaku kompromistis, dan cuma berharap, seperti kaum Utopis, bahwa Aksi Rakyat itu kelak datangnya akan sama sekali tiba-tiba saja. Tidak pula seperti si Pengkhianat Kaum Sosial Demokrat yang campur menyelesaikan persoalan si Kecil itu ialah buat menarik mereka, supaya ia memilih Kaum Sosial Demokrat jadi anggota Parlamen, atau supaya Kaum Buruh masuk jadi anggota Partai Sosial Demokrat. Kita Kaum Komunis menyelesaikan persoalan si Kromo, supaya mendapat kepercayaan dari mereka, bahwa kita betul-betul mau menolong mereka. Begitulah kita mendapat kontak dengan mereka dan bisa menarik mereka kepada aksi yang teratur.
Agitasi itu haruslah konkrit atau nyata sekali. Haruslah ia bersandar atas hisapan dan, tindasan si Kecil hari-hari. Di antara Buruh, tentulah perkara gaji, lama kerja dan penganggapan-lah perkara yang ter penting. Tiadalah perkara ini boleh kita singkirkan, melainkan kita dengan segala kepintaran memberi jawab, yang bisa memberi kepercayaan dan menimbulkan aksi kaum Buruh. Pada penduduk kota-kota, dimana non-proletariers yang terbanyak itu, selalu diojak-ojak oleh Tuan Tanah, Pemungut Pajak, Tuan Rumah, d.s.g. perkara pajak dan perkara sewa rumah itulah perkara yang penting buat peri hidupnya Rakyat. Begitulah pula pada desa-desa, baik di Jawa, Sumatera atau Celebes perkara tanah dan pajak itulah sangat dirasa oleh penduduk negeri. Dalam hal ini tiadalah boleh kita memangku tangan dan seperti seorang Pendeta menunjuk ke kitabnya, serta berkata: “Kalau Komunisme datang semuanya itu akan hilang. Apalkanlah Komunisme supaya Zaman Keselamatan itu lekas datang. Rajinlah saudara mengunjungi Kursus kami. Kami tak suka main pakrol-pakrol, karena itu semua kompromis. Tahanlah lapar dan sakit sampai Komunisme datang.” Kita ulang lagi, apa saja tindasan Rakyat kita mesti memperlihatkan kepintaran buat memberi oplossing atau jawab, mesti mempunyai keberanian buat berdiri di muka, menuntut Haknya Rakyat, yang tertindas. Seperti si Penambang akan mendapat emas dengan memasukan tangannya kedalam lumpur begitulah pula kita harus bisa membawa Rakyat ke dalam Aksi, kalau kita campuri kesakitan dan siksanya hari-hari.
Dari aksi kita hari-hari itulah kita bisa memperoleh kepercayaan, pengaruh dan Contract yang kekal, dan dari aksi kecil-kecil itulah bisa lahirnya aksi yang besar. Marxisme itu bukanlah ilmu “hapalan” melainkan satu pedoman buat aksi, atau satu richtsnur tot handelen (guide to action)
Legal atau Illegal yakni Terbuka atau Tertutupnya, kita bekerja semuanya bergantung kepada keadaan bekerja. Kita suka bekerja legal, karena dengan jalan umum itu Program dan Taktik kita lekas diketahui oleh seluruh Rakyat. Tetapi kalau terpaksa, kita mesti teruskan propaganda dan Agitasi kita dengan jalan tertutup. Walaupun kita dipaksa berjalan tertutup, kita harus memakai dengan segala kekuatan dan kecakapan segala jalan buat mendapat kontak dengan Rakyat. Tidak boleh kita geisoleerd (terisolasi) atau terpisah dari Rakyat.
Di Eropa Barat kita melihat pada waktu sebelum perang, Partai yang terbuka itu, tak bisa sama sekali bekerja tertutup seperti Partai kita di Rusia. Sebabnya ialah karena di Barat sangat tebal demokratisnya negeri, jadi orang bisa mendorong kiri kanan dengan mulut. Tetapi di Rusia Partai revolusioner harus bekerja di bawah tanah. Sebab itulah kalau Revolusi datang dan Partai revolusioner di Barat itu terpaksa bekerja tertutup ia tidak bisa jalan seperti Partai kita di Rusia yang tahu kerja, baik terbuka atau pun tertutup.
Partai yang selalu kerja tertutup itu, ada mengandung bahaya, sama sekali akan kehilangan kontak dengan Rakyat melarat. Sebab itu ia akan tidak tahu, bagaimana perasaan Rakyat, dan kalau ia tiba-tiba keluar, Rakyat tidak mengikut, atau kalau Rakyat melarat tiba-tiba memberontak, Partai yang tersembunyi dan kehilangan kontak tadi, belum lagi siap.
Contoh Partai Konspirasi atau Rahasia, yang tak mempunyai kontak itu banyak di negeri Timur, seperti. Afdeeling B satu contoh yang baik. Sesudah anggotanya disumpahi setinggi langit, maka ia boleh kelak menunggu “alamat” dari Alam dan menunggu perintah dari pimpinan yang tertinggi, kapan mesti keluar. Alamat buat keluar itu, tiadalah hal yang nyata yang beralasan ekonomi atau politik melainkan, barang yang gaib-gaib yang kita kaum Komunis pada masa ini tak bisa mengerti lagi. Anggotanya tak bekerja dengan sadar, memakai anggota ekonomi dan politik Rakyat yang ada dan diaku sah oleh Pemerintah buat mendalamkan aksi, melainkan bekerja menambah iman. Tiba-tiba ia ketahuan oleh pemerintah, dan kalau pemimpinnya di hukum berat, Rakyat tercengang, karena ia memang tak tahu apa-apa.
Kalau kita mengatakan kita mesti kerja tertutup, maka maksud kita bukanlah mesti meninggalkan pekerjaan yang praktis hari-hari dan kita lakukan kerja tertutup itu ialah karena terpaksa, seperti sekarang kita sudah terpaksa menutup sebagian dari pekerjaan. Bukan karena kita takut melainkan karena kita tidak bodoh dan mau diprovokasi, yakni berkelahi sebelum siap betul. Pada masa Afdeeling B tak ada hal yang penting yang menyebabkan anggotanya perlu bersumpah gelap-gelap, karena S.I mempunyai pengaruh berjuta-juta. Kalau S.I mempunyai pimpinan yang pantas atau ditolak maju berterang-terangan oleh Pasukan S.I. sendiri, dan dalam S.I. sendiri, sebagai Linker-Vleugel atau Sayap Kiri, maka 2 atau 3 biji Belanda, yang tersesak karena ada peperangan (1914-1918) itu gampang dikirim ke pulau Merak.
Kalau kita Kaum Komunis terpaksa bekerja tertutup, maka kita mesti tetap tinggal bersambung dengan Rakyat. Anggota kita mesti tinggal mengurus anggota-anggota yang masih diaku Sah oleh yang berkuasa. Kalau Serikat Buruh umpamanya tak diaku, maka kita lari ke koperasi, kalau inipun tak diakui kita lari lagi ke Serikat Kematian, dan seterusnya, sampai “saat” kita datang, yakni kalau seluruh Rakyat keluar bergerak. Bekerja dalam Organisasi yang di aku sah oleh pemerintah itu perlunya bukan saja buat mengetahui stemming atau suaranya Rakyat, tetapi juga buat mendidik pemimpin-pemimpin kita berbicara dan mengatur Organisasi. Sehingga kalau Pemberontakan datang kita tidak kekurangan Orator, yakni tukang pidato, Agitator dan Organisator yang cakap, pemuka-pemuka mana perlu sekali buat merebut dan mempertahankan Kemerdekaan ke dalam dan ke luar Negeri.
Partai Komunis berdiri atas Massa-Aksi, yakni Aksi beramai-ramai dan Massa-Aksi ini bersamping kepada demonstrasi. Demonstrasi-politik, dijalankan dengan tuntutan politik. Kalau yang menuntut cukup kuat dan gembira, maka hak-politik itu boleh direbut dengan kekarasan.
Pada sesuatu demonstrasi, kontak atau Perhubungan dengan Rakyat (Buruh, Tani, Tukang, Saudagar dan Student) haruslah teguh betul. Perhubungan itu baru bisa teguh dan boleh dipercaya, kalau Pimpinan demonstrasi itu ada mempunyai cukup wakil dari semua Kasta yang tersebut diatas. Suara semua Wakil Kasta itu mesti didengar betul oleh urusan demonstrasi, kalau tidak demonstrasi itu bisa terlandpur atau ketinggalan. Sebab di Italia dan Inggris umpamanya pada waktu sesudah perang Partai kita, yang dikhianati oleh Sosial Demokrat itu tak cukup mengadakan Wakil dari Serikat Buruh, jadi tak cukup mengadakan kontak dengan Buruh, maka ia jadi kalah, Di kedua negeri itu kita sudah bisa merebut politik negeri, sebab Buruh sudah luar biasa kegembiraannya (di Inggris 1-2 juta Buruh Tambang 3 bulan mogok). Tetapi Partai Politik Komunis disana tak cukup mendapat Suaranya Kaum Buruh itu, sebab tak cukup Wakil di dalam Partai.
Supaya demonstrasi di Indonesia berhasil, haruslah kelak di Sentral Pimpinan Revolusioner diadakan Wakil dari semua Pulau dan semua Kasta di Indonesia. Begitulah suara dari segenap pihak boleh di ukur dan kita tak mudah ketinggalan seperti di Italia atau Inggris dulu itu dan tak pula mudah terlanjur seperti pada Aksi bulan Maret di Jerman 1921.
Demonstrasi itu menuntut Pimpinan yang plastis dan Korban yang banyak. Pimpinan mesti selalu tahu, apa demonstrasi mesti diperkencang lagi dengan Pemogokan atau Boikot. Dalam masa itu Pimpinan, Surat Kabar, dan Perhubungan surat menyurat mesti ditempat yang rahasia, yang tak bisa diketahui oleh musuh.
Sebelum demonstrasi keluar, haruslah dibicarakan lebih dahulu tempat Demonstrator yang keluar dari semua penjuru kota atau desa mesti bertemu, apa tuntutan yang penting buat masa itu, apa perspektif atau Hasil demonstrasi kelak, kapan dan bagaimana mesti dibubarkan. Bersama-sama dengan beribu­ribu dan berjuta-juta Demonstrator itu ada tersembunyi Pimpinan, sebagai Staff umum atau Sidang Pimpinan, yang cukup mendapat kabar dari mana­mana dan pada tiap-tiap saat bisa memberi perintah kepada pemimpin-pemimpin yang ditaruh dipenjuru yang penting-penting, buat memimpin sekalian pasukan demonstrasi tadi.
2.          Tentara Nasional.
Berapa susahnya mengadakan Organisasi yang tetap pada suatu jajahan seperti Indonesia, sudahlah bisa dibuktikan oleh sejarah pergerakan Indonesia, sendiri dalam kira-kira 17 tahun yang terakhir ini, Organisasi B.O cuma tergantung diawang-awang saja, sama sekali tak mempunyai pengaruh diantara Rakyat. N.I.P dan S.I yang diembus dengan “kebangsaan” dan “Agama” sekarang sudah kosong karena pompa angin tak bisa kerja begitu lama. Organisasi itu mesti berurat pada ekonomi dan Kasta, baru ia bisa tumbuh dengan tetap. Tetapi kita mesti bilang terus terang, bahwa sampai sekarang pada partai kita sendiripun belumlah jelas dan konsekuen, bahwa “Keadaan ekonomi dan Keadaan Kasta di Indonesia” itulah yang menjadi kriteria atau ukuran dalam pertimbangan kita buat mengadakan Organisasi. Di jajahan lain-lain seperti Mesir, India d.s.g dimana ada Nasional Kapital yang kuat dan pergerakan Nasionalisme yang revolusioner, maka dalam golongan Kaum Komunis sendiri adalah timbul pertimbangan, apakah tidak baik, jangan mendirikan Partai Komunis sendiri, melainkan memasuki Partai Nationalis yang revolusioner yang ada, dan dari dalam, sebagai Linksche Vleogcl atau Sayap Kiri, menumpu pergerakan Nasionalisme itu sampai ke Revolusi. Alasan pihak ini, yakni, dimana Buruh diatur oleh Kaum Komunis berpisah dari Kaum Nasionalis, seperti sudah dilakukan di Mesir dan India, disana pergerakan Nasionalis jadi mundur. Jadi kata pihak ini, selama pergerakan Nasionalisme masih revolusioner, biarlah Buruh Industri, yang menang pada tiap-tiap jajahan jadi pasukan muka pergerakan revolusioner, diatur oleh Kaum Nasionalis, dan kita Komunis cuma menolong saja dari dalam dan menjaga supaya pergerakan jangan jadi lembek. Maksud yang pertama toh, kata pihak ini seterusnya melemparkan “imperialisme.”
Disini tak tempatnya buat memeriksa pertimbangan ini lebih jauh. Tetapi kita boleh mengambil pengajaran dari pertimbangan itu, bahwa pada satu jajahan pergerakan nasionalisme itu buat melemparkan imperialisme satu faktor atau hal yang sangat penting, yang tiada boleh kita putuskan dengan dogma atau “kajian hapalan” saja.
Sebaliknya pula kita tidak boleh menunjuk ke bangkai S.I dan N.I.P dan berkata : “Nah, kan perlu lagi dihidupkan bangkai bangkai ini.”
N.I.P dan S.I mati karena ada mempunyai sebab yang dalam sekali, ialah karena tak ada Nasional Kapital yang kuat di Indonesia, yang bisa memberi inspirasi atau semangat buat mendirikan Program yang kokoh, Organisasi yang teratur serta Taktik yang tetap, seperti di Mesir dan India. Oleh karena pemimpin-pemimpin B.O, N.I.P, & S.I seperti Dauwes Dekker, Tjipto, Tjokro Aminoto dan Salim terpaut oleh Kasta dan didikan mereka, ia tak pernah sampai ke kasta Kaum Buruh. Mereka tak bisa mengerti, bahwa di Indonesia Kasta inilah yang kuat karena geconcentreerd (terkonsentrasi) dan dari Kasta inilah bisa datangnya inspirasi dan pimpinan buat merebut kemerdekaan.
Sebaliknya pula kita Komunis tak pula boleh memandang Indonesia sabagai Negeri industri, seperti Jerman atau Inggris, dan memikir bahwa Kebangsaan dan Agama dalam pertarungan kemerdekaan sama sekali tak ada artinya. Dan berhubungan dengan hal ini cukuplah kalau di Indonesia kita adakan Satu Partai Komunis saja.
Sikap inilah kira-kira yang dipeluk oleh pihak yang mau menghapuskan S.R pada Konferensi bulan November 1924 di Yogya. Yang dijadikan alasan, ialah :
“Kaum borjuis kecil di Indonesia selalu kalah, juga dalam perjuangan dengan imperialisme Belanda, yang tergambar pada B.O, N.I.P & S.I. Sebab itu S.R yang juga kumpulan borjuis kecil tak akan bisa menang.”
Demikianlah kira-kira isinya Referaat Hoofdbestir. Kalah atau menangnya borjuis kecil di Indonesia buat kita pada masa ini perkara “puur philosophisch” (filosofi murni) artinya perkara timbang menimbang dengan tiada akan mendapat keputusan. Tetapi bukanlah kesimpulan atau putusan kalah menangnya itu sekarang yang terpenting buat kita, melainkan akuan, yang tak dibantah, malah terbawa oleh Referaat tadi sendiri, yakni Kaum borjuis kecil masih selalu berkelahi, jadi masih revolusioner.
Inilah yang terpenting buat kita, dan hal ini memang apriori atau sudah termasuk ke dalam pikiran. Kaum Borjuis Kecil, di mana-mana mau menjadi Borjuis Besar atau Hartawan-Besar. Pada Zaman Bangsawan, Borjuis kecil Indonesia terhambat oleh Raja dan Bangsawan kita, sebab itu ia acap berperang dengan Bangsawan itu. Pada Zaman kita mereka terhambat oleh imperialisme Belanda, sebab itu ia sekarang melawan imperialisme Belanda. Perlawanan ini sudah terbawa oleh alam dan tak akan habis, selama keadaan kasta-kasta masih tetap. Ringkasnya sekarang dalam himpitan imperialisme Belanda, borjuis kecil kita yang kira-kira 70% banyaknya dan tak berapa bedanya tertindas dari Kaum Buruh Industri akan tinggal revolusioner.
Berhubung dengan akuan diatas ini maka persoalan kita seharusnya, sebelum imperialisme Belanda belum kalah, ialah:
Bagaimana kita mesti mengatur P.K.I. yang kuat sebagai Avant-Garde atau Pasukan-Muka dari pergerakan revolusioner Indonesia ?
Bagaimana kita mesti menyusun Kaum Non-Proletar, sebagai Reserve atau Pasukan Pembantu pergerakan revolusioner ?
Bagaimana kita mesti menarik Landstorm atau Laskar dalam waktu tersesak, dari seluruh Rakyat Melarat ?
Bagaimana kita mesti mengadakan perhubungan antara P.K.I dan S. R. sebagai Partai Non-Proletar ?
Inilah persoalan kemerdekaan di Indonesia. Kita mesti mengaku, bahwa Non-Proletar saja tanpa Kaum Buruh susah mengalahkan Belanda. Sebaliknya pula Kaum Buruh tanpa pertolongan 70% Non-Proletar tidak pula mudah akan menang. Sedangkan di Jerman, dimana 75% dari penduduk negeri sama sekali buruh Industri model baru, pada tahun 1923, yakni waktu yang terpenting sekali buat revolusi, kita dengan segala daya upaja mendekati Kaum Borjuis Kecil. Juga di Rusia kemerdekaan kita peroleh dan kita pertahankan dengan Kaum Tani besar kecil yang banyaknya 80% itu, jadi dengan borjuis kecil juga.
Berhubungan dengan 4 persoalan yang diatas, maka kita sangka pertimbangan buat mengadakan Satu Partai, yakni P.K.I saja buat seluruh Indonesia ada salah. Kita pikir di kota besar-besar seperti Betawi, Semarang dan Surabaya pun sekarang mesti dilakukan Partai Kembar, yakni P.K.I dan S.R. Dengan politik Satu Partai, baik di seluruh Indonesia ataupun buat kota-kota besar, kita pikir, pertama kita bisa tinggal kecil (sectarisme) atau kedua besar, seperti perut kemasukan angin.
Kecil, karena sudah kita terangkan, bahwa Indonesia tidak negeri industri betul melainkan landbouw-industri. Sudah pula kita perlihatkan, bahwa kota-kota kita bukan pusatnya industri (kain, besi, mesin, kapal d.s.g). Penduduknya kota-kota kita, terutama non-proletar, seperti tukang-tukang, dobi, saudagar kecil-kecil seperti penjual cendol, satai d.s.g. atau Buruh Halus, seperti guru-guru, jongos, clerk d.s.g. Yang buruh tulen di kota-kota kita masih sangat sedikit, kalau diperbandingkan dengan jumlah penduduk. Lagi pula mereka bukan buruh industri produktif yakni buruh yang mengadakan hasil (kain, besi, dll), melainkan buruh pengangkut, seperti kereta, kapal dan tram, yang kecakapannya juga kurang dari buruh industri betul. Tiadalah seperti di Berlin, London atau New York, dimana, kalau tutup pabrik pukul satu berbunyi kita melihat sampai 1.000.000 Buruh Pabrik, yang muka, tangan dan pakaiannya berkilat-kilat dengan minyak mesin, berduyun-duyun meninggalkan pabrik. Ini belum ada! Malah belum seperti Bombay, dimana buruh kain saja terkumpul 150.000. Atau di Calcutta yang mempunyai 300.000 buruh model baru, seperti buruh pelikan (tambang), kain, mesin, kereta, kapal dll. Betul ada beratus ribu sudah terkumpul di perusahaan gula, tetapi mereka itu buruh tani. Yang buruh pabriknya baru sedikit, dan sebab disini ada pabrik gula, disana 50 KM lagi berdiri pabrik lagi, jadi sebab sangat terpencar-pencar, maka kita susah pula mengatur mereka.
Ringkasnya betul buruh kita (kereta, kapal, gula, minyak d.s.g.) lebih kuat dari non-proletar, karena mereka menjalankan perusahan negeri, tetapi kita jangan overschatten (overestimate atau melebih-lebihkan), melebihi perhitungan kekuatan kita. Kalau kita bersandar semata-mata pada buruh tulen dengan mengadakan Satu Partai, serta menghilangkan S. R. maka Partai kita akan sangat kecil.
Kalau ia dijadikan besar, maka terpaksa ia menarik jadi anggotanya saudagar-saudagar cendol, nasi, rujak d. s. g. Inilah namanya verwatering (mengencerkan), lebih santan dari pada air dan seperti SI akan segera jatuh kegemukan saja. Tidak boleh tidak elemen borjuis kecil itu, kalau masuk Partai Komunis, walaupun ia “menghapalkan” program kita, akan membawa semangat dan wataknya borjuis kecil (adat, logika, dan sifatnya). Betul kursus dan didikan bisa membangunkan semangat revolusioner, tetapi sebagai Marxis kita mesti tahu “bahwa keadaan itulah yang menentukan semangat” atau de mate­rieele onderbouw bepaalt den geestelyken bovenbouw. Cuma kaum Utopis dan Dogmatis yang percaya, bahwa dengan “menghapalkan” saja satu ilmu bisa jadi orang bersifat baru. Betul bisa satu atau dua orang yang bukan golongan buruh bisa menjadi Komunis, tetapi sebagai kasta, Kaum borjuis kecil tak bisa dilompatkan menjadi Komunis Revolusioner. Dan sebab di Indonesia borjuis kecil itu memang masih terpaut oleh semangat revolusioner (sebab belum pernah menang) sebab itulah kita gampang menyangka, bahwa sebab dia revolusioner itu ia Komunis. Inilah bahaya yang ada kalanya kelak bisa masuk ke dalam badan PKI sendiri, yang bisa memecahkan diri dari dalam.
Bagaimana, kalau kita dirikan Satu Partai buat seluruh Indonesia dari kaum Buruh, dan non-proletar kita susun dalam Serikat Buruh?
Serikat Buruh saja tak cukup buat mereka, karena mereka borjuis kecil di negeri kita juga mempunyai cita-cita politik. Siapapun di kota-kota atau desa-desa, apapun juga pekerjaannya ia mau merdeka sebagai bangsa. Jadi kita harus mengadakan politik yang sepadan dengan kehendak mereka itu. Koperasi, Serikat Buruh atau Serikat Tani tak mencukupi cita-cita politik, lebih-lebih dari penduduk kota dan setengah kota.
Lagi pula, kalau kita mau mengadakan Serikat Buruh buat borjuis kecil di kota besar-besar seperti Betawi, Semarang, Surabaya d.s.g. di kota-kota klas dua seperti Sumedang, Pekalongan, Palembang, Banjarmasin d.s.g, berapa ribu Serikat Buruh mesti kita bikin, buat mengikat saudagar kecil-kecil, jongos, tukang penatu d.s.g, Ini dalam praktiknya mustahil!
Kita tidak saja di desa-desa dan kota-kota klas dua mesti mengadakan Organisasi politik yang memenuhi cita-cita 70% dari penduduk kita, tetapi juga di kota­kota besar seperti Betawi dan Surabaya, dimana borjusi kecilah yang terbanyak dan industri produktif sama sekali belum ada. Baru kalau Partai Komunis bersamping dengan Organisasi, yang memeluk beribu-ribu anggota, yang pada segenap waktu bisa dijalankan bersama-sama, baru kita bisa mengadakan aksi politik umpamanya demonstrasi yang berarti. Walaupun kita cuma dua atau tiga ribu, tetapi kalau kita dalam Aksi politik sebagai Avant-Garde dikelilingi oleh beribu-ribu Proletar & Non-proletar sebagai reserve, dan disukai oleh seluruh Rakyat yang tertindas sebagai Landstorm, kita bisa menang.
Berhubung dengan pertimbangan kita diatas, maka buat menjawab 4 pertanyaan tadi buat Indonesia Organisasi yang berikutlah yang sepadan dengan keadaan kita
1.    Diadakan Partai-Kembar (PKI & S. R.), pada pusat ekonomi, politik dan Pergerakan, seperti di Betawi, Semarang, Surabaya, Bandung, Padang dan Medan, pada pusat ekonomi (industri) seperti Cepu, Kediri, Pelaju, Belitung, Pangkalan Brandan, Sawah-Lunto, Balik Papan d.s.g, pada pusat politik, seperti Palembang, Kota-Raja d.s.g., pada pusat pergerakan, baik kereta atau kapal, seperti lain yang sudah tersebut diatas juga Banjarmasin, Makasar, Cilacap, Cirebon d.s.g. yakni menurut pertimbangan yang lain-lain (seperti di Balik Papan sudah cukup PKI saja).
Anggota PKI terutama mesti dari Buruh industri, seperti dari bengkel, baik kereta ataupun pelabuhan, Buruh Cetak, Pabrik gula, minyak­tanah, tambang arang, minyak d.s.g. Golongan inilah yang mesti jadi ruggegraat atau tulang punggungnya P.K.I.
Kursus mesti dikencangkan, tetapi isinya mesti praktis dan berpadan dengan keadaan dan aksi di Indonesia. Program dan Agitasi, dikencangkan betul, ialah yang berhubungan dengan industri dan negeri. (Lihat Program Nasional!).
Kontribusi dipertinggi dan disiplin diperkeras. Dalam semua Aksi seperti Pertemuan, Mogok dan demonstrasi anggota P.K.I mesti dimuka.
2.    Diadakan S.R. saja, selainnya dari tempat yang tersebut diatas (1) di seluruh Indonesia, di kota-kota klas dua, seperti Sumedang, Magelang, Paja Kumbuh, Pontianak, di pelabuhan klas dua, di desa-desa dan gunung-gunung sampai masuk ke dalam hutan seperti Puruk Tjau di Borneo. Tak ada tempat yang boleh di lupakan.
Anggota S.R boleh dari sembarang kasta, asal mengakui dasar revolusioner, yakni mau mengusir imperialisme Belanda (jadi berbeda dengan N.I.P, B.O & S.I ). Student, saudagar, tukang, tani dan penjual ini atau itu, beragama Islam, Kong Hu Tju atau Kristen; yang suka sama kebangsaan, agama atau anarkisme, pendeknya semua yang benci kepada Tindasan Imperialisme bolehlah berdiri di bawah bendera S. R.
Kursus haruslah berhubungan betul dengan “keadaan dan cita-cita mereka. Perkara kemerdekaan sebagai Bangsa Nasional yang merdeka, perkara sewa rumah, Pajak, pendidikan dan perkara yang lain, yang terasa betul oleh penduduk kota tak boleh dilupakan. Dalam kesusahan hari-hari, baikpun dengan pakrol-pakrol si Kecil di kota atau desa yang tak berhak apa-apa itu mesti ditolong oleh S. R.
Kontribusi mesti serendah-rendahnya, karena maksud kita yang terutama, supaya menarik mereka ke bawah pengaruh dan ke dalam aksi kita. Juga disiplin tidak bisa begitu keras, karena hal ini sudah terbawa oleh watak mereka. Jadi maksud kita yang terutama ialah mengumpulkan semua golongan yang tak senang hati di bawah Imperialisme Belanda dan memimpin mereka dalam segala aksi.
3.    Dengan Perantaraan P.K.I, kalau krisis ekonomi dan politik datang kita bisa menarik terutama, segala Buruh industri yang ada, baik yang sudah diatur dalam Serikat Buruh ataupun yang belum di atur. Dalam Pemogokan atau demonstrasi PKI. akan memberi pimpinan yang langsung atas semua golongan Kaum Buruh di Indonesia.
Dengan perantaraan S.R, semua penduduk kota, seperti klerk, tukang, penjual ini atau itu, student d.s.g dan semua penduduk desa dan gunung akan menarik dengan Tuntutan yang pantas ke dalam Aksi, seperti Boikot dan demonstrasi buat melawan Krisis ekonomi atau politik dan merebut Kemerdekaan. Jadi P. K. I. & S. R. keduanya mesti menjadi Organ atau Anggota buat seluruh Rakyat Indonesia merebut Kemerdekaan.
Teranglah sudah maksud kita bahwa kedudukan P.K.I dan S.R bukan kedudukan Bovenbouw (atas) dan Onderbouw (bawah), yang di kursus atau tak di kursus atau tinggi berendah (memang kita dengan semua Rakyat melarat mau ke zaman persamaan, bukan?), melainkan kedudukan dua kasta tertindas, tetapi berlainan keperluan dan sifatnya, oleh sebab mana mereka harus di atur dalam dua pasukan. Sebab Buruhlah yang terkumpul dan memegang perusahaan negeri yang terutama serta non-proletar terpencar-pencar, maka dari buruhlah bisa datang Aksi yang tetap, Ideal atau cita-cita yang tetap, Program yang tetap dan Senjata yang tetap (Mogok). Berhubung dengan itulah ia di Indonesia bisa memberi Pimpinan yang tetap revolusioner. S.R berdirinya bukanlah karena internasional (memang ini dulu pelawan semangat N.I.P) atau karena tak beragama (memang ini mengandung dan melawan semangat S.I) melainkan karena ia berdiri atas kasta non-proletar yang bersifat revolusioner. Kasta dan semangat revolusioner itulah yang menjadi kriteria atau ukuran di S.R, dengan tiada melanggar Agama atau Kebangsaan, malah mufakat, kalau Agama dan Kebangsaan itu ada memperkuat keyakinan dan semangat Revolusioner.
4.    Karena Buruhlah kasta yang terkumpul, dan ialah yang mempunyai senjata yang tertajam, yakni mogok, maka ialah pula yang mesti memberi pimpinan politik buat merebut kemerdekaan Indonesia.
Walaupun Seksi atau Lokal diatur dengan Partai Kembar, tetapi Sentral tentu mesti satu, supaya urusan, agitasi dan aksi bisa satu pula. Supaya semua golongan di Indonesia bisa diperhatikan keperluannya, maka pada Sentral Pimpinan Revolusioner di Betawi, seberapa boleh kelak mesti diadakan wakil dari semua pulau, dan semua kasta yang terutama seperti Buruh, Student, Tani dan Penduduk kota. Buat memperhatikan kepulauan Indonesia yang begitu besar tentulah belum cukup 5 atau 6 orang duduk di Sentral Pimpinan.
Supaya agitasi buat seluruh Indonesia dirasa betul oleh semua golongan haruslah Sentral Pimpinan Revolusioner, membedakan agitasi buat satu negeri dengan yang lain (Jawa dengan Sumatera atau Celebes, Padang dengan Jambi); dan satu golongan dengan golongan lain (Buruh dan Tani atau Student dengan Penduduk kota). Berhubung dengan hal ini pekerjaan di Sentral pimpinan haruslah dibagi-bagi (verdeling en specialiseeren van arbeid) (partisi dan spesialisi kerja).
Supaya pimpinan tinggal revolusioner, jangan seperti S.I atau N.I.P, haruslah baik di Sentral Pimpinan ataupun di Seksi atau Lokal, S.R yang mayoritas atau terbanyak ialah pemimpin Komunis. Dengan jalan begitu, kita menjaga supaya pergerakan Indonesia tinggal proletaris dan tak menjadi oportunistis atau reformistis, yakni lembek seperti S. I. dan N. I. P.
Demikianlah Sentral Pimpinan Revolusioner di Indonesia, yang mengikat semua Seksi P.K.I & S. R, semua Serikat Buruh, Koperasi, dan mengikat JOI dan Rakyat-Scholen, yang menaruh semangat proletaris dan revolusioner, menunggu datangnya saat, dimana ia dengan Massa-Aksi kelak akan merebut hak ekonomi dan politik.
Oleh karena Massa-Aksi itu cuma bisa dijalankan dengan Massa, yakni beramai-ramai, maka haruslah P.K.I yakni pemuka Kaum Buruh dan S.R yakni pasukan Muka Kaum Non-Proletar menambah anggotanya dengan berlipat ganda. Kalau S.I pada waktu baiknya bisa mengumpulkan sampai 1 atau 2 juta anggota (betul belum seperti anggota sekarang), dan menurut laporan pemerintah sendiri sampai 5 atau 6 juta simpatisan, yakni yang mufakat dengan S.I, maka kalau Taktik, Program dan Agitasi kita benar dalam waktu di muka ini sekurangnya kita mesti dapat laskar buat PKI 10.000 dan buat S.R 500.000. Juga anggota dari Serikat Buruh yang terutama seperti V.S.T.P, S.P.P.L, S.P.L.I dan S.G.B haruslah berlipat ganda banyaknya. Di Jambi, Palembang, Banjarmasin, Aceh d.s.g mesti ada koperasi-koperasi yang kuat. Demikianlah pula JOI harus memperbanyak anggota dan Seksinya. Di Betawi, Semarang dan Surabaya bersamping dengan P.K.I yang bisa mempunyai 1000-2000 anggota S.R bisa mendapat 10-20.000 anggota. Kalau sudah bisa kita mengadakan Tentara Nasional sebesar ini tidak saja Imperialisme Belanda segenap waktu bisa hancur, tetapi juga imperialisme Asing tak akan gampang menentang Tentara yang sebesar itu.

V. REVOLUSI.
1. Peperangan dan Revolusi.
Sebermula maka kemajuan Pergaulan itu diatur oleh hukum yang juga menguasai seluruh alam (hewan dan tumbuh-tumbuhan), yang dinamai Hukum Evolusi dan Revolusi. Kedua hukum ini sebetulnya satu, karena tak ada bedanya dalam sifat, melainkan berbeda cepatnya bekerja.
Seperti suatu sungai harus mengalir ke lautan, demikianlah juga pergaulan hidup kita ini menuju ke zaman persamaan, kesentosaan dan peradaban. Seperti sungai itu mengalirnya di tempat yang datar dengan tenang, demikianlah pergaulan hidup kita, kalau tak kuat kasta yang menghambat maju dengan sentosa. Berhubung dengan itu, maka kekayaan, kepandaian dan peradaban maju dengan tiada di rasa.
Tetapi seperti sungai yang terhambat majunya oleh gunung akan menebus gunung itu, demikianlah pula Pergaulan Hidup, yang terhambat majunya oleh satu Kasta atau Bangsa yang menindas, akan memecahkan Kasta dan Bangsa itu.
Baik dengan damai atau perkosa, Evolusi atau Revolusi Pergaulan Hidup kita tetap maju.
Sebagian dari kemajuan itu terjadi dengan peperangan. Satu Bangsa memerangi yang lain, dan menghimpit bangsa yang lain itu dengan alat senjata peperangan. Kemudian, maka bangsa yang menang itu bertambah kaya, bertambah kuasa dan bertambah pandai, sedangkan yang kalah bertambah miskin, serta bertambah bodoh. Nietsche, seorang filsuf atau Pemikir Jerman, menjunjung tinggi Uebermensch, atau Dewa dalam bukunya “Also Sprach Zarathustra” (Begitulah sabdanya Nabi Zoroaster) dan dalam “Die Willie Zur Macht (Nafsu merebut Kekuasaan), dimana ia menggambarkan dengan giat sifat-sifat yang perlu dipakai oleh seorang panglima perang dan pembesar negeri. Buku-buku itu dibaca oleh Kasta Opsir di Jerman di medan peperangan yang baru lalu ini dalam asap meriam dan hujan pelor dengan segala keyakinan.
Nietsche, ialah Nabi-Imperialisme, yang menyangka, bahwa peradaban itu mesti terbawa oleh kemenangan suatu bangsa atas bangsa yang lain. Inilah filosofi imperialisme, yakni Kultur Paksaan, Peradaban Militerisme & Peperangan, serta Peradaban bunuh membunuh sesama manusia dengan maksud hendak menindas dan memeras bangsa yang lemah. Nietsche ialah Zenith atau puncak Peradaban, yang tergambar oleh Arjuno, Iskandar Zulkarnain, Napoleon dan Wilhem II.
Selamanya ada tindasan, selamanya itulah pula ada rasa kemerdekaan. Cacingpun, yang diinjak bergerak kiri kanan, lebih-lebih manusia yang terinjak itu akan berusaha melepaskan dirinya dari injakan itu. Si Bengis Nero, menguatkan majunya Kaum Kristen. George III mengadakan Washington, yang melepaskan Amerika dari tindasan Inggris. Tsarisme di Rusia mengadakan Bolshevisme. Inggris di India melahirkan Pergerakan Boikot dan Swaray, demikianlah tak akan putus putusnya.
Peperangan buat Kemerdekaan tiadalah untuk menindas bangsa lain, melainkan buat melepaskan tindasan. Satria Kemerdekaan-Bangsa, tiadalah seorang Penindas, seperti Caesar, Napoleon dan Wilhem II, melainkan manusia yang berhati suci, berfikiran jernih dan yang setia kepada yang tertindas. Phoseon di Griek L’Ouver­ture pemimpin budak Negro, Garibaldi di Italia dan Rizal di Filipina, semuanya Satria, laksana gambaran Kemerdekan, Kesucian, Keberanian serta Kecintaan hati. Laskar Kemerdekaan, walaupun biasanya miskin dan tiada bersenjata, lebih kuat dari pada Laskar Imperialisme, karena dasar dan makudnya lebih tinggi. Disiplin laskar Kemerdekaan tiadalah pula perbudakan, seperti pada Laskar Imperialisme, melainkan kegiatan yang suci.
Tindasan feodalisme di Prancis, melahirkan pemikir baru, yang wujudnya mau melepaskan tindisan satu kasta dari kasta yang lain.
Voltaire dan Rousseau, dengan pena yang maha tajam memecahkan Feodalisme itu dan melahirkan fikiran baru, buat zaman yang baru pula, yakni: “Kemerdekaan, Persamaan dan Persaudaraan.”
Kaum Satria baru lahir pula, yakni buat menjalankan buah pena pemikir tadi. Mirabeau, Madame Roland, Danton, Robespierre dan Marat, ialah satria zaman baru, zaman mana kita masuki dengan banyak darah dan air mata mengalir. Satria Prancis tadi belumlah insaf, bahwa Kemerdekaan, Persamaan dan Persaudaraan itu sekarang diperkosa oleh Kapitalisme.
Pemikir baru mesti berdiri pula. Marx dan Engels, melahirkan pikiran dan pertandingan baru: “Kaum Proletar seluruh dunia bersatulah” Tidak lagi satu kasta dalam satu negeri, melainkan Kasta Hartawan diseluruh dunia haruslah dihancurkan oleh Kasta Proletar seluruh dunia, supaya datang Kemerdekaan dan Komunisme.
Lenin, Trotsky, dll sejawatnya di Rusia sudah memperlihatkan, bagaimana besar kekuatan Kaum Proletar itu. Sekarang di seluruh dunia Kaum Proletar sedang mengatur kekuatan buat perkelahian yang lama, sukar dan bengis itu.
Imperialisme boleh bersiap mengadakan kapal perang, meriam, kapal terbang, kapal selam, bom dan gas beracun. Bangsa jajahan di Timur dan Kasta Buruh di dunia boleh sementara dihisap dan ditindas, dan tiada apa kalau miskin dan tak bersenjata. Bangsa jajahan dan kasta Proletar ada mempunyai senjata yang lebih tajam dari pada peluru dan bom, yakni kerukunan.
Kalau Bangsa di jajahan dan Kaum Proletar mengerti, serukun dan mau, maka tentara imperialisme itu akan pecah dari dalam sendirinya karena yang memegang sekalian senjata itu ialah Kaum Proletar juga.
Inilah senjata kita Kaum Revolusioner yang terutama sekali: Otak, Pena dan Mulut.
Serdadu Revolusi, ialah serdadu yang mengerti serta yakin, dan kalau saatnya sudah sampai, maka dengan perkataan dan tangan saja ia bisa menjatuhkan musuh berapapun besarnya.
Revolusi bukanlah peperangan imperialisme, yang dilakukan buat bunuh membunuh dan rampas merampas. Revolusi ialah satu pertarungan lahir dan batin, dimana satu Bangsa Tertindas atau Kasta Tertindas, melahirkan dan mengumpulkan sifat-sifat manusia yang termulia untuk maksud yang tersuci.
2. Revolusi di Indonesia.
Objektifnya, yakni hal keadaan negeri di Indonesia sudahlah lama masak buat Revolusi. Lepasan-Kerja (pemecatan – catatan editor) terjadi hari-hari, dan tentara Kaum Buruh yang tak kerja (werkeloozen) belum pernah sebesar sekarang. Gaji Kaum Buruh banyak dikurangkan, walaupun harga barang-barang masih tetap tinggi. Pajak sudah lama melewati kekuatan Rakyat kita.
Walaupun ekonomi dan politik dalam krisis, tetapi Rakyat belum lagi matang revolusioner, artinya itu belum sempurna siap dan bergerak sendirinya merebut dan memegang urusan ekonomi dan politik Negeri. Kesadaran Rakyat kita dalam hal politik, sungguhpun sangat cepat majunya, baru dalam permulaan, sebab itu masih satu persoalan besar, apakah ia cukup kuat dan giat buat menentang musuh di dalam dan di luar negeri (Inggris, Amerika dan Jepang) pada pertarungan yang tentu hebat dan lama sekali. Rakyat Indonesia, yang belum pernah sedikitpun mempunyai hak politik, karena, dari dulunya terhimpit oleh despotisme dan imperialisme, tentulah tiada bisa dibangun kan dalam dua tiga tahun saja. Perkumpulan politik kita mesti dilipat ganda banyak dan kualitas anggotanya pada masa ini juga. Berhubung dengan itu agitasi mesti lebih dalam dari pada yang sudah-sudah. Pun Serikat Buruh belum lagi cukup mempunyai banyak dan kualitasnya anggota, buat merebut ekonomi dan politik Negeri dan kelak menguruskan hasil dan pembagian hasil itu (produksi dan distribusi) serta mempertahankan negeri terhadap musuh di dalam dan di luar negeri.
Wataknya kelak Revolusi di Indonesia bolehlah sekarang kira-kira kita gambarkan. Tiadalah akan seperti di Marokko umpamanya, dimana ekonomi masih sangat mundur sekali. Oleh sebab disana pencarian hidup teutama pertanian kecil (bukanondernimingen) dan bergembala, maka tiadalah ada keberatan Abdul Karim buat menarik Tani dan Gembala itu lari ke gunung­gunung, buat meneruskan peperangan dengan Prancis dan Spanyol. Sebab negeri sangat besar dan penduduk sangat sedikit (luas Marokko saja, yang terletak ditepi gurun Pasir itu ada 4 1/2 Jawa, tetapi penduduk cuma 1/6 dari Jawa, sehingga Jawa ada 27 kali serapat Marokko dan kalau Jawa sekarang penduduknya serapat Marokko isinya tidak 36 juta melainkan 1 1/3 juta) dan pencarian hidup gampang sekali, maka perang gerilya, yakni perang lari-larian bisa diteruskan bertahun-tahun. Tetapi Jawa yang mempunyai isi negeri yang nomor satu rapatnya di dunia itu, dimana tak ada tempat lagi buat berlindung seperti Abdul Karim, dimana industri sudah sampai ke Trust dan Syndikaat, dimana hasil sama sekali tergantung pada pasar di luar negeri, dimana tiap-tiap tahun mesti masuk beras seharga F.75.000.000, jadi dimana ekonomi negeri sudah sama sekali berdasar kapitalistis dan internasional, tentulah tak setahun bisa menjalankan Karim-isme atau Dipo Negoro-isme. (Pada masa DipoNegoro penduduk Jawa baru 5 juta).
Oleh karena di India ada Kasta Hartawan bumi putera yang kuat, maka juga pergerakan politik selamanya  ini  bisa nasionalistis tulen. Artinya itu, cuma buat mengusir pemerintah Inggris dan mengisi pemerintah itu dengan Wakil dari Hartawan bumi putera. hak Milik akan tinggal tetap, dan berhubung dengan itu perusahaan yang besar-besar tiada akan jatuh di tangan Buruh industri. Buat Rakyat Kemerdekaan di India itu tak akan berapa menambah hak ekonomi dan politik. Dalam perkelahian menentang Imperialisme Inggris, politiknya Kaum Nasionalis India semata-mata buat memakai Rakyat dan Buruh sabagai serdadu buat maksud Kaum Hartawan. Oleh karena senjata mogok, buat dilawankan kepada Inggris, juga berbahaya buat kapital nasional sendiri, maka Ghandi melarang Kaum Buruh mogok. Senjata yang bisa dipakai oleh Kaum Nasionalis di India ialah Boikot saja, karena boikot itu mengenai perusahaan dan perniagaan Inggris dan membesarkan perusahaan dan oerniagaan Hartawan Bumi Putera.
Tetapi di Indonesia senjata mogok itu bisa dipakai seluas-lusnya, karena tak ada kapital nasional yang bisa dikenai. Mogok umum di Indonesia bisa dan mesti disertai oleh demonstrasi umum, karena pergerakan politik kita bukan untuk satu golongan kecil, yakni dari hartawan saja, melainkan untuk rakyat melarat yang terbanyak itu. Rakyat Indonesia, kalau sudah merebut kekuasaan politik, bisa mengubah nasibnya dengan lekas dan bisa menasionalisi sekalian perusahaan yang besar-besar (kebon, pabrik, tambang, kereta, kapal, dan bank) yang sekarang di tangan hartawan Belanda. Bersama dengan ini, maka kelak nasib buruh dan Rakyat akan segera bisa menjadi baik.
Berhubung dengan hal diatas, maka Revolusi Indonesia kelak akan berbeda betul dengan pemberontakan Marokko dan pergerakan di India (Non-Cooperation clan Swaray). Revolusi Indonesia tiadalah akan semata-mata untuk menukar kekuasaan Belanda dengan kuasaan bumi putera (Peperangan Kemerdekaan bangsa), tetapi juga untuk menukar kekusaan hartawan Belanda dengan Buruh Indonesia (putaran-sosial).
Jadi pergerakan kita sekarang, ialah nasionalis sosial, dan berpadanan dengan itu perkakas bertarung ialah perkakas militer (Karim-isme) bercampur dengan perkakas ekonomi dan politik, yakni mogok, boikot dan demonstrasi.
Mana kelak yang lebih kuat diantara perkakas militer dan perkakas ekonomi dan politik itu, buat seluruh Indonesia, yang mempunyai pulau-pulau yang tiada sama kemajuannya, tiadalah bisa kita putuskan dengan sepatah perkataan saja.
Di Jawa, sebagai sentral ekonomi Indonesia tentulah Karim-isme cuma sebagian bisa dilakukan, yakni kalau perkakas mogok, boikot dan demonstrasi sudah segenap waktu bisa dipakai. Artinya itu, kalau perkumpulan politik (P.K.I & S.R) dan Serikat Buruh sudah siap betul. Sungguhpun begitu, Kaum Serdadu tak sekejap boleh dilupakan. Karena, kalau kelak buruh dan Rakyat bisa merebut semua kota-kota di pesisir, tetapi benteng-benteng Bandung, Ambarawa dan Malang masih setia pada pemerintah, maka Belanda bisa lekas mendatangkan pertolongan dari luar Indonesia (Negeri Belanda, Inggris dan Amerika). Seperti dulu Spanyol, sesudah 3/4 di usir oleh Filipina, tiba-tiba menjual Filipina kepada Amerika, begitu juga kelak Belanda, kalau sudah 3/4 terusir, akan mencari akal busuk. Sebab itu benteng-benteng di Jawa, dimana kelak Belanda lari berlindung, mesti kita persatukan dengan Rakyat merah. Dan kelak kita tak boleh menjatuhkan palu terakhir dan menjalankan Karim-isme (kekuatan militer) sebelum kumpulan politik dan buruh matang betul dan kaum serdadu mengerti betul akan maksud kita.
Di luar Jawa, dimana industri masih mundur Karim-isme bisa dilakukan. Tetapi kita mesti jaga lebih dahulu supaya Jawa sudah siap dengan senjatanya, yakni mogok, boikot dan demonstrasi. Kalau belum siap dan Karim-isme diluar Jawa dijalankan, maka pergerakan kita semacan itu akan sia-sia dan bisa lama memundurkan aksi.
Meskipun begitu, kalau sekiranya Karim-isme itu di Sumatra, Borneo, Celebes atau Ternate bisa dijalankan dengan lama dan kuat sekali, maka Belanda mesti akan dapat kesusahan besar. Tentu ia segera akan memukul pergerakan politik dan Serikat Buruh di Jawa, tetapi sebab ia terpaksa menaikkan pajak, semangat revolusioner akan tetap naik di seluruh Indonesia.
Kita tahu, bahwa Anarkisme di mana-mana, sebab kapitalisme sudah sangat teratur, tak bisa menang. Anarkisme di India sudah masyur bertahun-tahun, tetapi tetap tinggal kalah. Di Mesir sangat memukul pergerakan yakni sebagai provokasi, yang memberi senjata pada Inggris buat melarang sama sekail pergerakan politik (sesudah pembunuhan Sir Lee Stac). Pergerakan Anarkisme malah sangat mengacaukan dan melemahkan pergerakan Buruh di Jepang. Tetapi walaupun kita sama sekali tak mempunyai pengharapan akan mendapat Kemerdekaan Indonesia dengan jalan Anarkisme, berhubung dengan sikap pemerintah, Anarkisme di Indonesia bisa timbul. Selama Rakyat masih bisa mendengar pembicaraan nasibnya, protes dan maksud kita, selamanya itu mereka bisa ditahan sampai ke Aksi Teratur. Tetapi kalau pemerintah menutup Kawah Pergerakan, maka api revolusioner itu akan meletus di lain tempat: “Umpamanya gula akan habis terbakar. jembatan akan runtuh, Lokomotif terguling dan Belanda terbunuh dimana-mana.” Bukan karena kemauan P.K.I, melainkan kemauan Rakyat yang sudah putus asa, dan lari dari organisasi kita.
Walaupun pemberontakan Indonesia ada mengandung watak kebangsaan, tetapi, sebab ekonominya Jawa dan sebagian dari Sumatra sudah sangat maju kapitalistis dan internasional, maka Revolusi kita akan berwatak nasionalis-sosial, yakni campuran pergerakan kebangsaan dan kekastaan.
Berhubung dengan wataknya Revolusi di Indonesia itu, maka walaupun Karim-isme atau perang gerilya dan Anarkisme (sebab kapitalisme masih muda) kelak menjadi “aanvulling” (tambahan – catatan editor) atau tempelan dari pergerakan revolusioner, tetapi kemerdekaan Indonesia terletak terutama pada massa aksi yang teratur: “mogok, boikot dan demonstrasi.”
Walaupun berapa juga verleidelijk atau menggodanya Karim-isme dan Anarchisme (lebih-lebih kalau reaksi mengamuk!) kita tidak boleh diprovokasi dan menyimpang dari jalan yang betul, melainkan tetap mendidik sampai Rakyat bisa memegang senjata Massa aksi yang maha tajam itu.
3. Taktik di Indonesia.
Dalam daya upaja memecahkan imperialisme Belanda ini tak perlu kita berpusing kepada memikirkan Sosial Demokrasi, seperti Partai kita di Eropa dan Amerika. Stokvis c.s di negeri kita tak berani berhubung dengan rakyat, seperti juga di lain-lain negeri jajahan Kaum Sosial Democrat sama sekali jadi ekornya imperialisme.
Cuma kita mesti menjaga, supaya di dalam partai kita, semangat kelembekan Sosial Demokrat tak bisa masuk.
Taktik kita terhadap kepada revolusioner kebangsaan dan agama ialah menarik mereka kedalam S.R Tiadalah ada salahnya, kalau kita kelak mengadaan Nasional-Platform, yakni Barisan Revolusioner yang memeluk sekalian Partai revolusioner besar kecil yang ada sekarang ini dan memimpin Barisan itu menjatuhkan imperialisme Belanda.
Taktik kita ke dalam negeri, terutama menarik sekalian golongan yang tiada bersenang hati di bawah Belanda. Kita mesti berusaha keras mengatur buruh dan tani gula yang banyaknya barangkali lebih dari 1.000.000 itu. Buruh Kereta yang 80.000, buruh dan tani teh, kopi, coklat, jati, getah yang tentu tak kurang dari 1.000.000 pula, buruh minyak tanah yang kira-kira 40.000, tambang arang, emas, timah yang lebih dari 50.000 itu, buruh pelabuhan yang kira-kira 100.000 dan kuli kontrak yang 300.000 itu. Juga tiada boleh dilupakan Kaum Student yang di sekalian jajahan jadi pasukan-muka pergerakan. Di Jambi, Palembang, Padang, Banjarmasin bumi putera yang berada itu, perlu koperasi buat mempertahankan diri terhadap kepada kapitalis besar. Penduduk kota nomor satu dan kota nomor dua dan desa-desa harus semua ditarik ke dalam S.R. atau P.K.I. Disebabkan oleh bermacam-macam hal, maka masih sangat sedikit dari semua golongan yang di atas terikat oleh organisasi kita. Kita percaya, berapa pun besarnya reaksi dengan segala kecakapan pada waktu di muka ini kita akan bisa melipat ganda anggota P.K.I & S.R, Serikat Buruh, JOI d.s.g. Sedangkan Ternate suatu pulau kecil saja ada kalanya bisa menarik anggota 13.000 dan berkontribusi beratus rupiah. Kita sama sekali tak akan heran, kalau dijalankan betul, Jawa, Sumatra, Borneo, Celebes, Ambon dan Bali besok atau lusa akan memeluk beratus ribu anggota, yang bisa membayar cukup dan tetap.
Kalau kita tidak bisa mengadakan organisasi yang bisa memeluk sekalian Kasta dan sekalian pulau terberai-berai itu, maka pekerjaan melemparkan Imperialisme itu adalah satu percobaan yang sangat sia-sia. Belanda bisa lari dari satu tempat ke tempat yang lain buat berlindung dan mencari kawan. Jawa akan bisa di adu dengan Sumatra, Menado dan Ambon sama Rakyat Islam d.s.g. Sebab itu taktik kita yang terpenting sekali ialah mempersatukan semua pulau dan Kasta dengan Program Minimum, yang dirasa oleh semua penduduk Indonesia.
Kalau kita bisa mempersatukan seluruh Indonesia dan mengadakan disiplin yang keras, barulah kita bisa memikirkan merebut kemerdekaan dan barulah bisa mempertahankan kemerdekaan itu terhadap kepada Inggeris dan Amerika.
Inggris tentu tak suka Indonesia akan menang. Pusat armada di Singapura (satu negeri di Indonesia juga), gunanya buat mempertahankan dan melebarkan jajahan Inggris di Asia. Dalam waktu peperangan, maka Singapura mudah diperhubungkan dengan Australia, India dan HongKong. Kalau di Indonesia pecah revolusi, maka perhubungan dengan Australia akan terancam. Inilah hal yang bisa dijadikan alasan oleh Inggris buat menolong Belanda dan memakai Volkenbond buat membetulkan politik Inggris. Lagi pula berjuta-juta ada Kapital Inggris di kebon getah, teh dan terutama di Minyak Tanah, sehingga Koninkelijke Petroleum Maatschappij itu bolehlah dikatakan perusahaan Inggris. Akhirnya kemerdekaan Indonesia akan sangat disukai oleh Tanah Malakka dan India dan dengan lekas akan menggoncangkan seluruh jajahan Inggris, lebih berbahaya dari segala macam pergerakan revolusioner di Eropa.
Kita tahu bahwa ketika Amerika memikir-mikir mau memberikan kemerdekaan pada Filipina, yang sudah lama matang buat Zelfbestuur (managemen swadaya – catatan editor) itu ia dapat tegoran dari Prancis, Inggris, Jepang dan Belanda. Alasan negeri-negeri imperialis, itu akan menyebabkan semua jajahan akan lebih keras menuntut kemerdekaannya dan akhirnya kekuasaan bangsa putih di Asia akan jatuh. Sebab itu terhadap kepada kemerdekaan Indonesia semua Imperialis mesti akan bersatu.
Walaupun Amerika menamai dirinya demokratis, buat kita tak kurang bahayanya. Pada tahun yang sudah dia terpaksa membeli getah dari luar negeri F.1.500.000.000. Harga ini F.1000.000.000 lebih mahal dari 2 tahun terlampau. Sebabnya ialah karena Inggris yang menguasai 70%. dari semua getah di dunia bisa dengan sekehendak hatinya menaikan harga itu, sehingga Amerika mesti membayar berlipat ganda. Supaya ia lepas dari monopoli Inggris, maka Amerika berdamai dengan Belanda. Boleh jadi pada waktu paling di muka ini berjuta-juta modal Amerika akan masuk ke Indonesia buat menambah kebun getah.
Jadi ringkasnya Inggris dan Amerika (juga Jepang) semuanya cinta pada Indonesia dan semuanya mau menduduki. Kalau kita merdeka, tetapi tak cukup bersatu, maka seperti Tiongkok, kaum perampok itu akan mudah adu-mengadu kita sama kita. Negeri kita akan cerai-berai, diperintahi atau dipengaruhi oleh beberapa imperialis. Dengan segera kita yang tiada mempunyai armada ini, kalau pikiran dan maksud tak satu akan hancur.
Sebaliknya kita tak boleh ngeri, asal mengerti, bahwa diantara satu imperialis dan yang lainnya, yang semuanya mengancam kita itu ada pertentangan keperluan. Politik kita kelak haruslah arif bijaksana mengenal pertentangan itu sewaktu-waktu dan memperdalam pertentangan itu supaya satu sama lainnya si perampok itu berkelahi dan kita terpelihara.
Kalau saatnya itu kelak sudah sampai, dan kita betul bersatu, maka nakoda kapal kemerdekaan itu, wajiblah dengan segala keyakinan, keberanian, ketetapan hati dan kepintaran menentang ribut topan di dalam dan di luar negeri, serta awas akan batu karang yang tersembunyi yang setiap waktu bisa menghancurkan kapal kemerdekaan itu.
4. Massa Aksi di Indonesia..
Apabila kira-kira 30 tahun yang lalu Bonifacio mendapat jawab dari Rizal, bahwa Filipina tak bisa membuat Revolusi, karena tak mempunyai kapal dan bedil, maka Bonifacio dengan marah berkata: “Bliksem (petus!). Dimana dia baca?”
Dr. Jose Rizal, ialah seorang intelektual, yang dibuang oleh Spanyol ke sebuah pulau kecil. Ketika Dr. Rizal akan ditembak, sesudah diadakan tuduhan yang palsu, maka Bonifacio, yang memimpin Katipunan, yakni satu perkumpulan rahasia, mengirim wakil dengan rahasia sekali menemui Dr. Rizal, meminta, apakah ia mau lari dari penjara dan apakah ia mau memimpin Katipunan dalam revolusi kepada Spanyol. Dr. Rizal menjawab seperti diatas. Mendengar jawab itu Bonifacio menyindir dengan marah, bahwa tak ada buku sejarah, yang mengatakan, bahwa bangsa yang miskin dan tertindas itu mesti lebih dahulu menyiapkan kapal dan bedil buat revolusi.
Bonifacio ialah seorang Proletar tulen. Tetapi sebab sangat rajin belajar sendiri, ia cukup mengetahui revolusi di Eropa dan Amerika. Oleh sebab keberanian, kesucian serta ketetapan hati ia mendapat pengaruh dalam rahasia di seluruh Filipina luar biasa sekali. Sudah lama ia bercerai dari La Liga Filipina (Persatuan Filipina) yang didirikan oleh Dr. Rizal, karena perkumpulan ini sudah terang kompromis dan lembek sekali. Tetapi sebab Rizal guru dari Bonifacio dan tinggal diseganinya sebagai pemikir dan satria yang luar biasa, ia sudi menyerahkan pimpinan Katipunan yang dibikinnya itu kepada Dr. Rizal.
Apabila akhirnya Dr. Rizal dengan tuduhan palsu ditembak, maka seluruh rakyat Filipina meratap dan berniat membalas dendam. “Kalau Rizal seorang yang begitu besar, sehingga sangat disegani oleh Profesor di Eropa, yang tiada bersalah apa-apa ditembak lagi, siapakah yang bisa bekerja buat kemerdekaan Filipina?” Inilah pertanyaan yang lahir dalam pikiran Bumi Putera lelaki dan perempuan.
Sekaranglah datangnya saat buat Bonifacio akan memperlihatkan kepercayaannya atas massa atau Rakyat Filipina. Di Balintawak dekat dalam rahasia sekali Bonifacio mengumpulkan anggotanya dan dengan “bolo” (pedang) sekerat saja mereka menyerang tentara Spanyol yang teratur dan kuat itu. Beribu-ribu Rakyat mengikut panggilan Katipunan dengan bolo atau tanpa bolo. Dalam beberapa pertemuan dengan serdadu Spanyol, Rakyat Filipina, yang tak bersenjata itu merebut dengan tangan saja senapan serdadu Spanyol. Pada tiap-tiap medan peperangan berpuluh dan beratus senapan direbut, sehingga akhirnya cukup Rakyat mempunyai senjata api buat melawan Spanyol.
Tiada lama antaranya, maka bendera Rakyat yang karena miskinnya dibuat dari kain robek-robek saja terkibar di sebagian besar dari kepulauan Filipina. Hanyalah benteng Manila saja yang belum jatuh.
Banyak lagi contohnya massa aksi, yakni aksi Rakyat, kalau betul sudah matang revolusioner, baik di Eropa ataupun Asia, walaupun tiada bersenjata apa-apa bisa menundukan laskar yang teratur.
Umpamanya L’Ouverture, seorang budak Negro di Haiti (Amerika Tengah), yang memimpin budak miskin pula, bisa menaklukan Inggris, Spanyol dan serdadu Napoleon berikut-ikut. Di Revolusi Besar Prancis (1789) Rakyat yang paling miskin dan kurus kelaparan itu, sesudah kena propaganda revolusioner bertahun-tahun, akhirnya dengan tangan dan batu juga mengalahkan Laskar Raja dan Bangsawannya. Juga buruh di Rusia, yang miskin itu, baik pada revolusi 1905 ataupun 1917, tiada lebih dahulu memesan “kapal terbang” sebelum ia menyerang tentara Kaum Hartawan dan bangsawan di Rusia.
Senjatanya Rakyat yang betul revolusioner itu, hanyalah pena, mulut dan tangan saja. Kalau semangat revolusioner sudah betul menjadi darah daging Rakyat melarat, maka semua kepandaian dan senjata itu akan timbul sendirinya. Senapan bisa direbut dengan tangan dan juga seperti di Filipina tukang rumput bisa jadi jenderal. Inilah kemuliaan Revolusi dan kesucian si Revolusioner. Kita diatas mengambil contoh terutama dari Filipina, sebab penduduknya lebih dekat kepada kita dari penduduk negeri lain.
Orang tak bisa bantah, “O, ya, mereka tinggal di negeri sejuk sebab itu kuat.” Atau “mereka berkulit putih atau berasal ini atau itu.” Rakyat Filipina juga bangsa Melayu dan diamnya juga di Khatulistiwa.
Sebaliknya, walaupun sifat dan asal kita bersamaan, dalam hal lain-lain Rakyat Filipina lebih dalam kecelakaan dari pada kita.
Ketika mereka memberontak kepada Spanyol dan kemudian kepada Amerika, serta 3 tahun mendirikan Republik, jumlah jiwa cuma 8 juta. Spanyol kira kira 25 juta, dan satu imperialisme terbesar di dunia seperti Inggris. Amerika yang 50.000 terbunuh oleh bolo itu terkaya, dan mempunyai 100.000.000 jiwa. Sedangkan Indonesia sekarang mempunyai 55.000.000 jiwa, dan menentang Belanda yang cuma 6 1/2 juta saja.
Kita sekarang ada mempunyai perkakas mogok, tetapi Rakyat Filipina, sebab waktu revolusi industri belum maju, terpaksa langsung bertanding di medan peperangan, yang menuntut korban 100.000 jiwa mereka.
Kita lebih besar membayar pajak dari Filipina di bawah Spanyol, yang sekarang lebih besar dari bangsa apa­pun juga di dunia.
Kita masih bisa dan tetap akan bisa menaburkan benih revolusi, karena kita cukup mempunyai propagandisten dan surat kabar yang dibantu oleh kereta dan kapal. Sedangkan di Filipina Rizal yang memimpin La Liga Filipina yang sejinak B.O itu ditembak, dan propaganda terutama harus dijalankan dari luar negeri, Banifacio harus menjalankan propagandanya di Filipina dengan sangat rahasia sekali serta dengan kaki atau sampan kecil saja. Buku-buku dan surat kabar revolusioner, karangan Rizal, Del Pilar, d.s.g. yang dimasukan dengan rahasia sekali dari Spanyol, Hong-Kong dan Singapore, dibacakan oleh pasukan bacaan, yang membacakan pada Rakyat yang tak pandai membaca itu dalam rahasia sekali, karena pemerintah menghukum dan menyiksa keras si pembaca atau si punya buku dan surat kabar itu.
Walaupun Rakyat Filipina lebih dalam kecelakaan dari pada kita, ia toh bisa dan berani menentang Spanyol dan Amerika lamanya 3 tahun dan acap kali mengalahkan tentara kedua negeri yang sangat teratur itu.
Kita satu menitpun tak ada syak (keraguan) dan waham (ketidakpercayaan), bahwa kalau Rakyat Indonesia cukup sadar dalam hal politik (politik bewust) dan sudah tunggang mau merebut haknya baik ekonomi ataupun politik, juga dengan tangan dan batu saja bisa mengusir Belanda yang dua tiga biji itu dan menolak semua musuh dari luar negeri.
Disini tiada tempatnya buat membicarakan perkakas kita yang baik kita pakai, kalau Mogok dan demonstrasi kelak sudah melewati batas perdamaian dan sampai sendirinya ke tingkat perkelahian senjata. Memang kita di negeri semacam Indonesia cukup menyimpan senjata, yang segera akan kelihatan, apabila Rakyat yang 55.000.000 juta itu betul-betul sadar politik dan sama sekali keputusan jalan damai. Ringkasnya, kalau semuanya Buruh, Tani, Saudagar, Student, Penduduk kota, Jongos, Shauffeur, Serdadu, Matros, Tukang Cukur, Koki d.s.g  mau merebut kemerdekaan dan rela mengorbankan jiwa seperti Rakyat Filipina tempo hari, maka kemerdekaan kita letaknya di ujung pena saja: “Besok Republik Indonesia bisa ditabalkan (diproklamasikan).”
5. Rapat Rakyat Indonesia.
Saat kita buat Massa Aksi itu sewaktu-waktu bisa datang. Krisis ekonomi dan politik yang sekarang sudah begitu dalam akan bertambah dalam lagi, kalau umpamanya datang bahaya kelaparan dan bahaya penyakit. Juga sikap reaksioner dari pemerintah sekarang ini sangat memperdalam permusuhan antara Belanda dan Rakyat.
Kalau Rakyat sempurna sadar akan haknya sebagai manusia, maka semua pembuangan dan tutupan yang sewenang-wenang itu kelak segera akan dibalas oleh Rakyat sendirinya. Kalau umpamanya Pimpinan melarang perbuatan semacam itu, maka Pimpinan itu sendiri akan dilemparkan oleh Rakyat dan akan diganti oleh Rakyat sendiri dengan pimpinan baru.
Kalau pemerintah melarang membuat pertemuan, demonstrasi & mogok, maka ia tiada akan memperdulikan perintah itu lagi, melainkan terus keluar memperlihatkan tiada senangnya dengan peraturan yang ada.
Kalau pemerintah mengirim Polisi dan Serdadu, maka Rakyat yang betul betul sadar itu sendirinya akan mendekati Serdadu dan Polisi itu. Kalau mereka itu tak mau memihak kepada Rakyat, maka Rakyat akan mengadakan Pasukan-Merah sendiri, mencari senjata sendiri dan bekerja sendiri buat mempertahankan Mogok, Pertemuan, dan demonstrasi.
Kalau Pemerintah terus memakai “Tangan Besi” dan tiada menimbang permintaan Rakyat (yang mengisi perutnya hamba-hamba Pemerintah itu), tetapi Rakyat belum berani melawan berterang-terangan, maka ia akan sendirinya berjalan gelap-gelap. Seperti di Mesir, India dan Irlandia juga di Indonesia akan kejadian sabotase, racun-meracun dan bunuh-membunuh dengan rahasia sekali.
Semangat revolusi itu, kalau sudah menjadi darah daging Rakyat melarat tiadalah bisa dibunuh dengan hukum atau peluru lagi. Kalau semangat revolusi itu sudah masuk di semua kasta dan sekalian pulau, maka datanglah saatnya buat memanggil Rapat Rakyat Indonesia.
Proletar, Tani, Student, Saudagar dan Serdadu haruslah dengan atau tanpa izin Pemerintah, memilih dan mengirimkan Wakil ke suatu tempat di Indonesia buat Rapat atau Pertemuan.
Rapat Rakyat ini akan membuat Hukum untuk Rakyat Indonesia, dan kalau pemerintah Belanda tak suka menjalankan atau mengaku hukum itu dan tak suka pergi (sudah tentu is tak suka!!), maka Rapat Rakyat itu mesti sendirinya menjalankan. Kalau Pemerintah mengirim laskarnya, maka Rakyat mesti sudah bisa menjawab kiriman pemerintah itu dengan sepatutnya (baik dengan propaganda dalam laskar itu sendiri, baikpun dengan Tentara Merah).
Memanggil Rapat Rakyat itu artinya mengirim ultimatum atau menentang Pemerintah sekarang, yang kita sudah yakin tak bisa mengurus terus ekonomi dan politik negeri dan tak disukai lagi oleh Rakyat. Panggilan kita itu haruslah dikeraskan oleh kemauan dan perbuatan Rakyat, yang sudah terbukti pada Mogok Umum dan demonstrasi, yang tak memperdulikan korban lagi dan dimana seluruh Rakyat melarat memperlihatkan ketetapan hati dan kegiatan. Dalam hal ini Rapat Rakyat itu, seolah-olah mahkotanya aksi kita dalam politik.
Tentulah Rapat Rakyat itu baru bisa dipanggil kalau sudah lahir alamat dan tanda-tanda, bahwa Rakyat melarat sudah matang revolusioner::
“Umpamanya kalau mogok, pertemuan dan demonstrasi, walaupun dilarang bisa diteruskan (tentulah kalau pimpinan merasa perlu…). Kalau tuntutan ekonomi dan politik dalam mogok dan demonstrasi sudah kelihatan terasa dan termakan betul oleh seluruh Rakyat. Misalnya buruh tetap menuntut tambah gaji, sebagian dari untung, merdeka bergerak, dan disana sini sudah mendirikan dewan buruh atau rapat buruh buat menguruskan hasil serta sudah merebut pabrik atau kebun terutama di SOLO-VALLEY, atau Daerah Kali Solo, yakni pusatnya ekonomi Indonesia. Kalau berhari dan berbulan (seperti di Mesir, India, Tiongkok, Jerman dan Rusia) Rakyat Indonesia berdemonstrasi menuntut di hapuskan pajak, menuntut Algemeen Kiesrech (hak umum untuk memilih – catatan editor), Rapat-Rakyat, Kemerdekaan dan tuntutan politik dll. Kalau Rakyat yang 55 juta itu, lebih suka mati dari pada hidup seperti budak dan ketawa melihat kuda dan karet polisi. Kalau bui dibongkar dan pemimpin dikeluarkan. Kalau buruh kereta dan kapal mungkir membawa pemimpinnya ke tempat buangan. Kalau kaum serdadu mungkir menindas pergerakan dan mungkir menembak Rakyat yang tak bersenjata dan tak bersalah itu. Kalau Belanda tidur dengan pistol di tangannya, dan tak berani makan, kalau makanannya tidak diperiksa oleh dokter lebih dahulu…”
Inilah semuanya tanda dan alamat, bahwa semangat revolusi itu sudah berurat dalam dan menjalar kemana-mana, serta tiada bisa diobat lagi, kecuali dengan kemerdekaan.
Barulah datang saatnya buat pimpinan revolusioner itu menimbang kekuatan kawan dan lawan, mengumpulkan Tentara Nasional dan mengerahkan tentara itu terhadap kepada musuh di dalam dan di luar negeri.
Sebelumnya saat buat bertanding habis-habisan itu datang, maka pekerjaan kita yang terutama terus: “Pertama Agitasi, kedua Agitasi dan ketiga Agitasi.”
Kalau Bonifacio, seorang proletar tulen, dengan jiwa selalu terancam dan dimana perkakas buat propaganda dan agitasi belum secukup di Indonesia bisa mengadakan Nasional Organisasi pada beratus-ratus kepulauan Filipina, maka kita di Indonesia Selatan dengan jiwa 55 juta dan perkakas lahir batin lebih dari cukup, tak boleh lekas putus asa dan tak boleh lekas menyimpang dari jalan yang betul.
Kita, sebagai Kaum Marxis, mesti tinggal bersandar pada keperluan, kemauan dan kekuatan massa, yakni Rakyat melarat dan kalau mereka belum masak-revolusioner dan belum siap menentang musuh dalam dan luar negeri yang sangat teratur itu, maka kita tak boleh diprovokasi oleh musuh, yakni tertipu bertarung pada tempat dan saat yang tidak kita kehendaki.
Semua pemberontakan Indonesia, kalau Rakyat belum matang revolusioner akan sia-sia belaka. Semua macam “putch” (pemberontakan tiba-tiba dari satu golongan kecil) harus kita singkiri dan musuhi. Kalau pemberontakan semacam itu sekiranya menang, maka Indonesia merdeka itu akan segera jatuh di tangan seorang militer. Dalam hal ini tiadalah politik dan rakyat yang berkuasa melainkan tangan besi seorang Militer. Hal ini terjadi di Tiongkok pada tahun 1911, dimana kekuasaan politik segera lepas dari Dr. Sun Yat Sen dan jatuh di tangan Yuan Shi Kai & Co.
Aksi ekonomi dan politik yang menempuh Rapat Rakyat itulah buat kita jalan yang tentu dan sentosa buat merebut kemerdekaan, menjatuhkan segala kekuasaan negeri pada Kaum politik, dan menghindarkan diktaturnya dan tindasan Kaum Militer dari bangsa Indonesia sendiri.
6. Revolusioner Komunis.
Pada suatu negeri yang banyak mengandung sisa feodalisme, serta bibit kapitalisme, seperti Indonesia, sangatlah susah sekali buat menjadi komunis. Sisa feodalisme membawa agama dan politik, yang walaupun bisa revolusioner (seperti Dipo Negoro) tetapi sifatnya feodalistis. Demikianlah B.O & N.I.P yang percaya, bahwa Kerajaan cara Majapahit bisa dibangunkan lagi atau S.I yang dulunya percaya, bahwa Kerajaan Islam dan Kalifatullah yakni peraturan feodalisme akan bisa dibangunkan lagi.
Kapitalisme jajahan yang masih muda di negeri kita itu, mengandung bermacam-macam bibit pula. Ada yang bersifat kapitalistis, seperti juga terbawa oleh 3 partai yang tersebut diatas tadi, yang menghendaki modal Indonesia. Buruhnya yang masih muda itu ada pula mengandung anarkisme, yakni paham borjuis kecil yang dikalahkan oleh Modal-Besar. Demikianlah Anarkis di Eropa, yang hidup pada zaman yang lalu seperti Waffling, Proudon, Bakunin d.s.g mewakili kasta borjuis kecil atau kasta buruh yang kemarinnya borjuis kecil. Sebab borjuis kecil itu individualis (berdiri sendiri), karena ia si berpunya kecil, maka perkakasnya bertarung juga individualistis (memakai bom) dan tak tahu bersama-sama.
Tetapi buruh industri model baru, yang selalu kerja bersama-sama dan berdisiplin (karena kapitalisme memaksa begitu), membawa wataknya bersama itu menentang kapitalisme. Sebab itulah pada buruh industri, dan cuma pada buruh industri saja terbawa “kerja bersama” dan “bertarung bersama” dan dengan didikan lekas bisa hilang individualisme. Makin maju kapitalisme makin hilang anakisme (seperti Inggris dan Jerman) dan makin maju “kerja bersama” dan “aksi Bersama.”
Jadi revolusioner agama, feodalistis, revolusioner hartawan dan anarkistis cuma perkara yang lalu, yang besok kalau industri maju, akan hilang seperti abu ditiup angin, dan berganti dengan revolusioner komunis.
Dasarnya revolusioner komunis, tiadalah perasaan, seperti pada revolusioner yang lain-lain tadi, melainkan pengetahuan. Adanya revolusi kita percaya, karena perbantahan kasta. Di Indonesia karena kasta modal Belanda tak bisa kompromi dengan Rakyat Indonesia. Datangnya revolusi tidak tiba-tiba jatuh dari langit, melainkan kalau Krisis ekonomi dan politik sudah cukup dalam dan Rakyat sudah cukup sadar. Revolusi itu bisa berhasil, kalau banyak dan kualitas anggota, dan pengaruhnya partai kita sudah mencukupi.
Kalau keadaan ekonomi dan politik sudah cukup matang-revolusioner, tetapi Rakyat dan Partai kita belum siap, maka kita komunis mesti bisa menahan perasaan kita sebagai individu, menyingkiri segala percobaan avonturisme atau sia-sia dan menunggu bertarung sampai Rakyat dan Partai kita siap. Tiadalah sekejap kita boleh ditarik perasaan, melainkan tetap berdiri atas pengetahuan. Tentu kita menjunjung tinggi keberanian Partai kita, kalau disana atau sini didorong oleh musuh.
Imperialis putih ialah, politik Amerika semacam itu akan atau Bangsawan yang berarti banyaknya dan kekayaannya tetapi tidak seperti individu, melainkan bersama dengan Massa dan buat Rakyat Melarat itu pula. Aksi dan keberanian individual buat kita sangat sedikit harganya.
Kalau keadaan ekonomi & politik umpamanya sementara berubah baik, dan Rakyat jadi sementara lembek, maka kita tak boleh jadi refomis, seperti Sosial Demokrat atau jadi mata gelap seperti anarkis, melainkan tetap meneruskan Aksi revolusioner yang sepadan dengan keadaan. Kita tahu, bahwa Kapitalisme tak bisa mengatur negeri dan besoknya krisis mesti datang lagi.
Strategi kita tiadalah bersandar atas perasaan, seperti kebangsaan atau keberanian sebagai individu (melemparkan bom), melainkan bersandar pada pengetahuan tentangan ekonomi & politik Negeri dan pengetahuan yang dalam sekali atas psikologi atau tabiat Rakyat kita, tabiat mana turun naik sepadan dengan keadaan ekonomi. Bagaimana keadaan industri, pertanian dan perniagaan serta sikapnya imperialisme Belanda haruslah kita ketahui betul, karena keadaan inilah yang menurun naikkan semangat revolusionernya seluruh Rakyat melarat.
Kalau krisis dalam, rakyat melarat matang revolusioner. Partai kita sempurna mempunyai kekuatan, disiplin dan pengaruh, serta musuh di dalam dan di luar negeri kebingungan, maka barulah General Staff kita mengumpulkan segala kekuatan yang ada dan mengorbankan tenaga dan jiwa buat kemerdekaan sebagai bangsa dan sebagai kasta..
Hai Rakyat Melarat !!
Berapa lamakah lagi kamu mau menderita injakan dan tindasan semacam ini? Tiadakah kamu tahu bahwa sangat besar kekuatan mu yang tersembunyi? Tiadakah kamu insaf, bahwa kerukunanmu artinya kemerdekaan buat kamu dan keturunanmu? Beranikah kamu terus hidup dalam perbudakan dan menyarankan anak cucumu juga jadi budak ?
Hai Kawan-Kawan Separtai !!
Ketahuilah, bahwa Rakyat kita, yang beribu tahun diajar jongkok, yang belum pernah mempunyai hak sebagai manusia itu tak mudah dididik. Janganlah kamu putus asa, kalau daya upayamu tidak lekas memperlihatkan hasil yang nyata. Teruskan pekerjaanmu yang maha-mulia itu, di tengah-tengah ratap tangis Rakyat melarat. Teruskan pekerjaanmu, walaupun bui, buangan, tonggak gantungan selalu mengancam. Ketahuilah, bahwa didikan itulah yang sangat ditakuti oleh musuh kita. Karena tak ada bangsa atau kasta yang mengerti di dunia ini yang rela ditindas dan dihisap…
Kawan-Kawan !!!
Janganlah segan belajar dan membaca! Pengetahuan itulah perkakasnya Kaum Hartawan menindas kamu. Dengan pengetahuan itulah kelak kamu bisa merebut hakmu dan hak Rakyat. Tuntutlah pelajaran dan asahlah otakmu dimana juga, dalam pekerjaanmu, dalam bui ataupun buangan! Janganlah kamu sangka, bahwa kamu sudah cukup pandai dan takabur mengira sudah kelebihan kepandaian buat memimpin dan menyelamatkan 55 juta manusia, yang beribu-ribu tahun terhimpit itu. Insaflah bahwa pengetahuan itu kekuasaan. Ada kalanya kelak dari kamu, Rakyat melarat itu akan menuntut segala macam pengetahuan, seperti dari satu perigi yang tak boleh kering. Bersiaplah !!
Kalau saatnya datang, berdirilah tegak di tengah­-tengah Rakyat, menentang peluru dan bayonetnya musuh. Jangan dilupakan ideal kita komunis: “Menang atau mati dalam Massa Aksi.”
Di tanganmu tergenggam Kemerdekaan-Indonesia, yakni Kekapaan, Keselamatan, Kepandaian dan Peradaban…
Kamu Kaum Revolusioner !!
Kelak Rakyat keturunanmu dan Angin Kemerdekaan akan berbisik-bisik dengan bunga-bungaan di atas kuburanmu: “Disini bersemayam Semangat Revolusioner”

Tokyo, Januari 1926.

Politik

Oktober 28, 2008

Tan Malaka 1945

PENGANTAR
DUA LUSIN TAHUN lamanya saya menunggu-nunggu kejadian yang berlaku dengan pesat dahsyat di Indonesia sekarang ini. Berbahagialah rasanya hidup saya karena bisa menyaksikan perjuangan di Surabaya selama satu minggu lamanya (17 – 24 November 1945).
Sikap dan semangat proletar, tani, dan pemuda Indonesia memuncak, sesuai semua karya dan pengharapan saya selama dalam perantauan. Di Shanghai atau Berlin, di Mesir atau Moskow, saya tak menjumpai sikap dan semangat yang lebih tepat-tangkas-tegap.
Tetapi rasanya masih ada kekurangan baik ditilik dari penjuru ideologi ataupun organisasi.
Pengalaman seminggu lamanya di masa Surabaya dihujani dengan pelor dan bom, ditambah pula dengan permohonan dari pihak pemuda yang sedang berjuang dengan hati laksana baja, saya dalam perjalanan ini terpaksa menulis beberapa brosur.
Yang sudah ditulis tergopoh-gopoh dalam perjalanan ini ialah Politik ini, yang berhubungan dengan kemerdekaan. Brosur yang kedua ialah yang berhubungan dengan Rencana Ekonomi. Yang ketiga akan berhubungan dengan Muslihat mempertahankan Republik Indonesia. Kedua buku yang belakangan itu diharap akan dihabiskan dalam perjalanan pula.
****

Percakapan tentang politik ini terjadi antara MR. APAL (wakil kaum inteligensia), SI TOKE (wakil pedagang kelas menengah), SI PACUL (wakil kaum tani), DENMAS (wakil kaum ningrat), dan SI GODAM (wakil buruh besi).
I. ARTINYA “MERDEKA”
A. ARTI SEDERHANA
SI PACUL : Selamat pagi, apa kabar ?
SI TOKE : Terlampau panjang ini Saudara! Sekarang masa perang dan masa berontak, ucapkan yang pendek dan tepat saja: “Merdeka” begitu. Pendek, tepat, dimengerti, dan membangunkan perasaan bertarung. Ucapan yang panjang tadi asalnya dari terjemahan Belanda. Kalau nanti berbaubau Nica, tentu engkau dicari buat dibawa ke Batalyon X.
SI PACUL : Memang saya tak tahu yang demikian itu. Tetapi sudah jadi kebiasaan saja. Di sekolah rendah dipelajari dan memang selalu diucapkan begitu. Tetapi sekarang satu dua kali juga saya ucapkan “MERDEKA” kalau berjumpa pengawalan di jalan-jalan. Tetapi terus terang saja, saya sendiri juga belum tahu betul artinya “Merdeka” itu.
SI TOKE : Cul, saya pun tak paham betul akan arti perkataan itu. Tetapi contoh ini bisa memberi penerangan. Engkau lihat itu burung gelatik. Dia bisa terbang kesana kemari, dari pohon ke pohon mencari makan. Alangkah senang hatinya. Di mana ada makanan di sana dia berhenti makan sambil menyanyi. Kalau hari senja dia pulang ke sarangnya. Itu namanya merdeka. Tak ada kesusahan. Selalu riang gembira.
SI PACUL : Betul senang kelihatan dari luar. Tetapi kelihatan dari luar saja. Belum tentu hatinya sang gelatik sendiri selalu senang. Belum tentu pula burung gelatik itu selalu menyenangkan orang lain. Kemerdekaan semacam itu tak begitu memuaskan.
SI TOKE : Bagaimana tak memuaskan, Cul? Bukankah merdeka seperti burung di udara itu selalu dipuji, selalu diambil sebagai contoh?
SI PACUL : Tadi saya bilang belum tentu hatinya sang gelatik itu selalu senang. Bung Toke memang orang kota, memang punya perusahaan buat hidup sendiri. Tak perlu banyak takut sama ini atau itu. Tetapi bung Toke jangan lupa, bahwa sang gelatik selalu diintai musuhnya. Kucing atau berangan ialah musuh besarnya. Burung elang ialah musuhnya yang lebih besar. Sang manusia pun bisa sewaktu-waktu menangkapnya atau menembaknya.
SI TOKE : Sang gelatik toh bisa lari terbang?
SI PACUL : Ya, memang dia bisa lari terbang. Cuma kecakapan yang diperolehnya dari Alam itu saja yang bisa melindungi jiwanya. Tetapi mana ada adat atas undang-undang masyarakat yang melindunginya? Bahkan, mana masyarakatnya sang gelatik?
SI TOKE : Benar juga Cul. Engkau memang dari desa, yang masih hidup di Alam. Memang di Alam itu undang-undang yang berlaku ialah: Besar hendak melanda. Tetapi dalam masyarakat pun begitu juga, bukan?
SI PACUL : Memang masyarakat kita juga belum sempurna. Tetapi jauh lebih sempurna dari masyarakat burung atau hewan yang lain. Barangkali kita manusia pun tak akan sampai kepada masyarakat yang sempurna. Tetapi kita senantiasa, selangkah demi selangkah bisa menghampiri kesempurnaan …
SI TOKE : Aku tak sangka kau seorang ahli filsafat, Cul. Rupanya tadi engkau berlaku pura-pura bodoh saja. Tetapi tunggu dulu! Baik kita kembali ke pokok perkara. Engkau sudah terangkan bahwa sang gelatik belum tentu selalu berhati senang, karena musuh selalu mengintai. Tak ada undang-undang atau adat masyarakat burung yang bisa melindungi masing-masing burung. Tetapi engkau belum terangkan, bagaimanakah sang gelatik yang hina papa itu bisa tidak menyenangkan orang lain, bisa mengganggu orang lan?
SI PACUL : Memang rupa sang gelatik itu hina papa. Tetapi kalau satu rombongan saja gelatik itu sampai ke sawah kami, maka mereka itu merdeka pula memusnahkan hasil pekerjaan kami. Dari masa meluku sampai masa menanam padi, dari waktu padi masih hijau kecil sampai kuning matang, kami mengeluarkan jerih payah dan peluh keringat. Sekarang sesudah jerih payah kami memperlihatkan hasilnya datanglah rombongan gelatik yang tidak mengeluarkan keringat setetespun dan susah gelisah sedikit pun atas hasil pekerjaan kami tadi. Tetapi dengan tidak meminta izin lebih dahulu, dan dengan tak malu-malu mereka bersuka ria, bersenda gurau di atas tangkai padi, memilih buah yang matang dan bernas. Bukankah kemerdekaan semacam itu kemerdekaan orang tak berusaha yang merampas hasil pekerjaan orang lain yang mengeluarkan tenaga? Merdeka semacam itu berarti merdeka merampas. Inilah sebenarnya akibatnya kemerdekaan liar itu. Apa gunanya “merdeka” semacam itu buat masyarakat manusia?
SI TOKE : Wah, Cul. Ini gara-gara “selamat pagi” apa kabar tadi. Tetapi memperbincangkan arti “Merdeka” itu bukan lagi perdamaian yang aku peroleh dalam hatiku. Memang semua perkara yang engkau kemukakan tadi yang berhubungan dengan “kemerdekaan” itu benar belaka. Sekarang saya sendiri dalam kekacauan pikiran. Aku sendiri mau tahu pula “apa merdeka yang sebenarnya”.
SI PACUL : Marilah kita bertanya kepada mereka yang lebih ahli.
B. ARTI LEBIH DALAM (Definisi)
SI TOKE : Sini, Denmas! Denmas, tuan sudah dengar kami belum lagi mendapat kecocokan tentang arti MERDEKA. Tetapi saya sudah yakin, bahwa MERDEKA itu tidak berarti boleh menjalankan kemauan diri sendiri saja, dengan tiada mempedulikan hak dan kemauan orang lain. Bukankah begitu, Cul, sari perundingan kita tadi.
SI PACUL : Memang begitu. Tetapi siapakah dan bagaimanakah cara membatasi kemauan masing-masing orang? Cobalah Denmas kasih jawab! DENMAS : Memang kemauan liar diri sendiri itu mesti dibatasi. Di zaman Majapahit umpamanya kemauan liar tak terbatas itu dikendalikan ke jalan yang baik oleh raja yang adil dan bijaksana.
SI TOKE : Belum terang benar perkataan Denmas itu pada saya. DENMAS : Artinya dikendalikan itu ialah diarahkan ke jurusan yang benar. Kalau seorang warga negara merusak atau mencuri harta warga yang lain, maka si pencuri tadi dihukum. Dengan begitu dia sendiri dan warga lainnya terbatas atau hilang keinginannya merusak atau mencuri harta orang lain. Lagipula, kalau Negara diserang oleh Negara lain maka raja tadi memerintahkan semua warga yang kuat sehat mengangkat senjata mengusir musuh. Kalau ada warga negara yang kuat sehat itu ingkar, maka ia dihukum pula oleh raja.
SI PACUL : Jadi kalau begitu memang kemauan merusak, mencuri, atau lari kalau musuh datang dibatasi atau dibatalkan oleh raja.
MR. APAL : Tetapi bagaimana kalau raja tadi sendiri mau merusak, memperkosa, dan lari diserang musuh dengan tiada mengadakan perlawanan suatu apa? DENMAS : Raja itu mestinya adil, bijaksana, dan berani gagah perkasa.
SI PACUL : Baik kalau kita mendapatkan seorang Raja semacam itu. Selama ada Raja semacan itu memang negara aman dan makmur. Tetapi bagaimana kalau Raja semacam itu tak ada? Atau kalau adik seorang Raja atau adiknya sebapak tetapi tak seibu lebih adil, lebih bijaksana, dan lebih gagah mau menjadi Raja pula? Tentu timbul perang saudara bukan? Atau kalau Raja itu tak punya keturunan sama sekali, tetapi di antara keluarganya yang dekat atau jauh ada yang berani tetapi zalim, atau ada yang adil tetapi lembek penakut? Siapa yang akan menjadi Raja? Tentu bisa timbul perang saudara pula, bukan?
SI TOKE : Rupanya engkau ini betul seorang ahli filsafat jempolan, Cul. Sokrates sendiri akan bangkit dalam kuburnya mendengarkan pertanyaanmu semacam itu. Memang keadaan begitu sering timbul di zaman Sriwijaya ataupun Majapahit. Di masa itu memang Raja itu seringkali zalim, tetapi tak ada aturan yang membatasi kezalimannya. Raja zalim itu cuma bisa ditukar dengan jalan pemberontakan rakyat. Jadi negara pun kacau. Atau kalau ada pertengkaran di antara para calon Raja, maka masing-masing calon memanggil punakawannya buat perang saudara. Betul di bawah perintah seorang Raja, negara bisa aman sentosa, kalau Raja itu sendiri sempurna dalam segala-galanya dan semua Raja turun-temurun sempurna pula. Jadi keamanan dan kemakmuran negara semacam itu bergantung kepada satu keluarga saja.
SI PACUL : Memang negara aman sentosa kalau keluarga Raja itu sempurna, tak ada celanya. Tetapi celakalah Negara kalau keluarga Raja itu tak sempurna atau jahat.
SI TOKE : Kembali kita sebentar pada pokok perkara. Pertama tadi kita mau mengendali kemauan liar seorang warga negara. Si Pengendali itu kita namai Raja. Tetapi di belakangnya kita lihat bahwa Raja itu manusia juga, acapkali perlu dikendali pula. Memang susah mencari seorang atau serombongan manusia buat mengendali Si Pengendali itu. Jadi apa mestinya yang mesti mengendali kemauan warga negara itu, supaya yang dikendali jangan merusak dan Si Pengendali sendiri jangan merusak pula.
MR. APAL : Sekarang kita sampai ke tingkat yang selama kita berunding ini saya simpan saja dalam pikiran saya. Jadi Si Pengendali yang amat sentosa itu ialah aturan atau undangundang. Undang-undang Negara itulah yang menangkap, memeriksa, atau menghukum seorang warga negara yang dianggap salah. Dengan aturan yang sudah ditetapkan itulah negara mesti diperintah. Aturan memerintah negara itu kita namai Undang-Undang Dasar atau konstitusi.
SI TOKE : Jadi kalau begitu Undang-Undang Dasar itulah yang memerintah, bukan lagi manusia, Undang-Undang Dasar itu lebih tetap dari kemauan seorang Raja atau kemauan keluarga Raja. Boleh dituliskan dan diterjemahkan lebih pasti.
SI PACUL : Tetapi siapa yang mesti membikin Undang-Undang Dasar itu?
SI TOKE : Iya, benar, itu kita mau tahu. Siapa yang berkuasa “berdaulat” buat menentukan Undang-Undang Dasar itu?
MR. APAL : Dengan perkataan lain: di tangan siapakah terletak “kedaulatan” itu? Tadi sudah dibicarakan, bahwa kedaulatan itu tak aman tak tetap kalau ditaruhkan di tangan Raja atau satu keluarga Raja. Sekarang marilah kita periksa di tangan siapa kedaulatan itu harus kita taruh, supaya cara memerintah itu tetap, tak berubah-ubah menurut perasaan seorang Raja, menurut baik atau jeleknya hari, menurut suka atau marahnya Raja itu. Buat itu marilah kita periksa bermacam-macam bentuk Negara. Bentuk yang baiklah yang akan kita pakai.
II. BENTUK NEGARA DAN KEDAULATAN
A. BENTUK NEGARA
MR. APAL : Sebenarnya selama ini sudah kita bicarakan bentuk Negara itu, pada permulaan. Sendirinya kita sampai kepada kedaulatan. Memang bentuk Negara itu banyak berhubungan dengan kedaulatan. Sebelum kita selidiki perkara Kedaulatan lebih baik kita tegaskan dahulu perkara “Bentuk Negara”.
SI TOKE : Saya sering dengar Negara bentuk Kerajaan dan Negara berbentuk Republik. Dalam perundingan kita tadi sudah saya rasa perbedaan kedua bentuk itu, tetapi perbedaan yang pasti memang saya minta tegaskan kepada Mr. Apal.
MR. APAL : Dalam suatu kerajaan tulen, Raja itulah yang mempunyai kemauan tertinggi. Raja itulah yang memberi putusan terakhir. Rajalah yang berdaulat. Tidakkah sering kita baca atau dengar dalam komedi setambul: “Daulat Tuanku?”
SI PACUL : Memang. “Daulat Tuanku” sering pula ditambahtambah dengan “digantung tinggi dan dibuang jauh” kalau tuanku menghendaki!
SI TOKE : Tetapi di mana raja Indonesia itu terbatas kekuasaannya oleh rakyat seperti di Sumatera, maka kita dengar pula: “Raja adil Raja disembah, Raja zalim Raja disanggah.” Jadi Raja –terutama di Minangkabau—amat terbatas sekali kekuasaannya.
MR. APAL : Memang kerajaan itu mempunyai beberapa jenis pula. Satu jenis bernama kerajaan tunggal: absolute monarchie. Dalam kerajaan tunggal itu kemauan raja itu tak ada batasnya. Andaikata pagi ini raja itu marah atau cemburu pada seorang gundiknya, maka hari itu juga menterinya dilepas dari pekerjaannya, karena “whim” (buah hati) saja. Atau karena girang gembira mendapatkan selir yang cantik molek, maka Fulan yang tak tahu apa-apa tentang urusan Negara diangkat jadi Menteri, sebab ia sekarang menjadi iparnya Raja. Kerajaan Tunggal itu mudah sekali bertukar menjadi “Kerajaan sewenang-wenang”.
SI PACUL : Balasannya tak lain pemberontakan buat mencari Raja Adil Bijaksana.
SI TOKE : Berapa lama Negara itu beruntung mempunyai seorang Ratu Adil? Seandainya sesudah naik tahta seumur Ratu Adil. Hidup dia terus adil bijaksana, tetapi bagaimana kalau turunannya seorang bangsat atau bodoh?
MR. APAL : Ada pula jenis kerajaan di mana kekuasaan Raja itu amat dibatasi oleh undang-undang. Undang-undang itu dibikin oleh rakyat. Undang-undang itu tak boleh diubahubah oleh siapapun. Jadi Sang Raja berlaku dikendali oleh undang-undang dasar. Keadaan begitu kita dapati di Inggris sekarang dan dahulu kala di Minangkabau. Kerajaan semacam itu dinamai Constitutional Monarchy (Kerajaan terbatas).
SI TOKE : Jadi yang sebenarnya berkuasa pada kerajaan terbatas itu ialah undang-undang dasar. Raja itu cuma satu lambang persatuan saja. Tetapi lambang itu amat mahal. Bukankah rakyat mesti memikul semua ongkos raja dan keluarganya yang sebenarnya kelas nganggur? Apakah tak lebih murah harganya dan tepat-jitu sifatnya kalau undang-undang dasar saja yang memerintah, mengendali Negara?
MR. APAL : Bentuk semacam inilah yang kita sebut sekarang “REPUBLIK”. Dalan suatu republik Raja dan keluarganya itu tak ada sama sekali. Dalam suatu republik Negara itu diperintah menurut undang-undang. Perintah itu terletak di tangan Presiden dan para Menterinya, beserta Sidang Pusat dan Daerah, dan sebagian juga di Mahkamah Tertinggi.
SI TOKE : Saya minta sedikit penjelasan tentang kalimat terakhir ini.
MR. APAL : Seorang ahli filsafat Perancis bernama Montesquieu membagi kerja (function) pemerintahan itu atas tiga bagian : 1. Kekuasaan membikin undang-undang (Legislative Power). 2. Kekuasaan menjalankan undang-undang (Executive Power). 3. Kekuasaan mengawasi undang-undang (Judicial Power). Kekuasaan membikin undang-undang itu ditaruh di tangan sidang perwakilan. Kekuasaan menjalankan undang- undang itu ditaruh di tangan Sidang Para Menteri. Akhirnya pengawasan terhadap Negara membikin dan menjalankan undang-undang itu ditaruh pada Mahkamah Agung.
SI PACUL : Jadi membikin, menjalankan, dan mengawasi undang- undang itu tidak terletak pada satu orang seperti pada raja. Juga tidak pada satu badan melainkan pada tiga badan.
MR. APAL : Memang begitu! Dalam undang-undang dasar Amerika ditegaskan pula, maksudnya tiga pembagian itu ialah buat mengadakan setimbangan (check and balance) dalam pemerintahan Negara. Tiap-tiap bagian itu ditentukan pula kekuasaannya dengan undang-undang dan batas kekuasaannya.
SI TOKE : Apakah tiap-tiap bagian tak akan terlampau merdeka sendiri-sendiri dan menimbulkan kekacauan pula???
MR. APAL : Memang kemungkinan itu ada. Tetapi semua bagian itu dipersatukan dan dikuasai oleh kelas yang terkuasa dalam Negara Republik itu dengan perkakasnya yang dinamai birokrasi. Tetapi baiklah kita diamkan saja perkara ini. Lebih baik kita bicarakan perkara kedaulatan.
B. KEDAULATAN
SI PACUL : Kedaulatan itu sebenarnya apa???
MR. APAL : Kedaulatan itu sebenarnya kekuasaan yang tertinggi, kekuasaan yang memutuskan suatu persoalan. Sovereignity, namanya dalam bahasa asing.
SI TOKE : Jadi kalau suatu undang-undang atau tindakan menimbulkan percekcokan dalam satu Negara, maka kekuasaan tertinggi itulah yang akan menjatuhkan putusan terakhir. Itulah yang terkuasa, yang berdaulat. Memang perkara ini satu perkara yang penting. Seharusnyalah dalam sesuatu Negara ada sesuatu yang memberi putusan terakhir. Tetapi tak pula kurang pentingnya, di tangan siapakah Kedaulatan itu mesti ditaruh?
MR. APAL : Di zaman Kerajaan-Kota memutus itu terletak di tangan raja. Jadi undang-undang itu terletak di ujung lidahnya raja atau di ujung pedangnya saja.
SI PACUL : Benar sekali, bahwa dalam suatu kerajaan, di mana perkataan raja itu adalah satu undang-undang, harta gampang dirampas, kemerdekaan orang gampang diperkosa, dan perempuan orang gampang diambil oleh yang berkuasa.
MR. APAL : Sebab itu menurut dasar republik seharusnyalah kedaulatan itu di tangan rakyat dan pada undang-undang yang dibikin oleh para wakil rakyat. Kalau suatu tindakan menimbulkan kesangsian atas benar atau tidaknya tindakan itu, maka Mahkamah Tertinggi bisa membandingkan tindakan itu dengan Undang-Undang Dasar. Seandainya sesuatu macam ”pajak” yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat menimbulkan kesangsian itu, maka Mahkamah Agung boleh memutuskan cocok atau berlawanankah tindakan itu dengan Undang-Undang Dasar.
SI TOKE : Bagaimana kalau putusan Mahkamah Agung itu sendiri menimbulkan kesangsian pula?
MR. APAL : Dalam hal ini beberapa Negara Republik menaruhkan kedaulatan itu pada Permusyawaratan Rakyat, umpamanya di Swiss. Suara seluruh rakyat dewasa dipungut. Ini dinamai referendum rakyat. Suara terbanyak itulah suara putusan.
SI PACUL : Tiga atau empat juta penduduk Swiss saja tiada mungkin berkumpul pada suatu tempat buat bermusyawarat dan berunding. Apalagi 70 juta rakyat Indonesia, seandainya bisa mereka meninggalkan kota atau desanya masing-masing. Jadi bagaimana mempraktikkan kedaulatan rakyat itu???
MR. APAL : Memang bukan perkara mudah menjalankan referendum itu. Tetapi biasa dijalankan, yakni seperti menjalankan pemilihan juga. Seandainya warga A dalam Republik itu tak setuju dengan tindakan pajak tadi maka ia catatkan saja “tidak setuju” dalam kartu resmi. Kartu itu dimasukkan ke dalam peti umum. Warga B yang setuju, mencatatkan “setuju”. Kalau seandainya di antara 40 juta warga Negara Indonesia yang berhak bersuara, 30 juta tidak setuju dan cuma 10 juta yang setuju, maka undang-undang yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat tadi jadi “batal”, yaitu tak sah.
SI PACUL : Kalau begitu memang rakyat yang terkuasa karena putusan yang terakhir betul di tangan Rakyat Jelata. Gampang tetapi jitu dan tepat teknik memerintah semacam itu.
SI TOKE : Ingin pula saya hendak mengetahui siapa orangnya mengeluarkan pikiran itu yang bermula sekali? Siapa pemikir besar yang menghasilkan paham yang begitu yang berfaedah buat masyarakat manusia?
MR. APAL : Amat susah mengatakan siapa yang sebenarnya “pada awalnya” memikirkan referendum atau “suara Rakyat” itu. Boleh jadi bukan satu orang pada satu waktu saja yang mendapatkan pikiran itu. Boleh jadi pikiran yang bermula keluar itu belum nyata benar, tetapi sudah mempunyai garis besar atau sifat yang pasti. Boleh jadi pula pikiran itu sudah pasti, tetapi cuma pinjaman dari orang lain atau negara lain. Boleh jadi pula pungutan “Suara Rakyat” itu dijalankan begitu saja, bukan sebagai pelaksanaan satu teori atau paham melainkan sebagai “naluri rakyat murba” belaka (political instinct of the masses).
SI TOKE : Bagaimana juga, tentu “Suara Rakyat” sebagai teknik memerintah itu sejalan dengan sempurna atau tidaknya Suara Rakyat itu mempunyai sejarah. Barangkali bukan sejarah menurut kesempurnaannya.
MR. APAL : Memang “Suara Rakyat” itu bukan saja satu teknik yang penting gampang buat suatu pemerintahan. Tetapi Suara Rakyat itu juga menjadi ukuran jauhnya kemerdekaan Rakyat dalam suatu Negara.
SI TOKE : Dengan obor semacam itu cobalah tuan cantumkan secara sederhana “Suara Rakyat” yang berseluk-beluk dengan Kedaulatan Rakyat dan kena mengena dengan kemerdekaan Rakyat itu.
MR. APAL : Saudara sudahkah mendengar nama Min Tze, artinya guru Ming?
SI TOKE : Belum. Tetapi nama guru Kung Cu, yaitu pemikir Tionghoa memang sudah saya dengar. Hidup kira-kira 2.500 tahun lampau.
MR. APAL : Nah, Guru Kung memang seorang pembentuk masyarakat Tionghoa yang terbesar. Negara bentukan Guru Kung berdasarkan kekeluargaan yang dipuncaki oleh Raja dan keluarganya. Muridnya ialah Guru Ming memberatkan kedaulatan itu bukan kepada Raja seperti gurunya, tetapi kepada Rakyat Jelata. Maksudnya Guru Ming lebih kurang, apabila Raja itu zalim maka Rakyat berhak memberontak.
SI TOKE : Jadi bukanlah Rakyat buat Raja, melainkan Raja buat Rakyat. Seperti pepatah Indonesia di atas: Raja adil Raja disembah, Raja zalim Raja disanggah.
MR. APAL : Baru saja tahun 1789, jadi lebih kurang 22½ abad di belakang Guru Ming, Jean Jacques Rousseau, di samping Montesquieu, mengeluarkan pikiran yang sama artinya dengan pelajaran Guru Ming tadi. Pengaruh Tionghoa memang terang pada Montesquieu tadi. Dan Rosseau itu dianggap Nabinya Pemberontakan Perancis.
SI TOKE : Indonesia tak perlu lari ke negara asing saja. Indonesia sendiri mempunyai “suara rakyat” itu. Di masa luhurnya Minangkabau, abad 14 sampai l6, Minangkabau berdasarkan kekeluargaan juga: Rakyat ber-raja pada Penghulu Penghulu ber-raja pada Mufakat Mufakat ber-raja pada alur dan patut. Jadi raja yang diakui lebih tinggi dari Penghulu sebagai wakil rakyat ialah kata Mufakat. Tetapi “Kata Mufakat” itu mesti diperoleh dengan perundingan yang merdeka, tenang, dan luas. Putusan yang diperoleh tiadalah takluk pada Kata Raja atau laskarnya, melainkan pada Alur (logika) dan Patut (keadilan). Alur dan Patutlah Raja Tertinggi di Minangkabau pada masa jaya. Maharaja di Minangkabau itu takluk pada Kata Mufakat, pernah disalahkan oleh Mahkamah Agung Minangkabau. Disangka kedaulatan Rakyat Minangkabau semacam itu, yang berupa “suara rakyat” itu diturunkan oleh pemikir “Ketumenggungan”.
III. ISI KEMERDEKAAN
SI TOKE : Kalau sebentar kita meninjau perundingan kita sampai sekarang, nyatalah sudah bahwa “Bentuk dan Isi Kemerdekaan” itu ada dua perkara yang terpisah.
SI PACUL : Apa yang engkau maksudkan dengan “isi” itu?
SI TOKE : Barangkali saya tak salah, kalau yang isi itu ialah “Kedaulatan” tersebut. Rupanya Kedaulatan itu berarti “kemauan” atau “kekuasaan”. Dan pada kekuasaan itulah terletaknya “hak lahir atau batin” dari seseorang atau golongan orang dalam masyarakat.
SI PACUL : Nah kek, sekarang engkau bawa pulang saya ke tempat yang lebih kurang saya ketahui. Engkau tadi menerangkan “isi” kemerdekaan dengan kata yang sudah dikenal seperti kedaulatan, kemauan, dan kekuasaan. Semua perkataan ini cukup kuketahui tetapi anak kalimat “hak lahir dan batin” itu apa pula maknanya.
SI TOKE : Hak lahir ialah hak atas keperluan hidup, seperti makanan, pakaian, perumahan, gaji, dan sebagainya. Hak batin ialah hak buat merdeka berkumpul, berbicara, menulis, hak buat melindungi harta, kemerdekaan, dan jiwa, yang di zaman Revolusi Perancis dinamai “hak manusia”.
SI PACUL : Kalau begitu engkau memberi pemandangan baru pada saya, kek. Hak lahir dan hak batin itu memang tak terlihat pada buntutnya kemerdekaan, yakni bentuk suatu Negara Merdeka. Dalam negara berbentuk kerajaan boleh jadi lebih besar golongan yang berhak (lahir dan batin) daripada dalam negara berbentuk Republik.
SI TOKE : Engkau ini memang cepat memahami suatu paham! Cepat dan tepat bertanya dan melaksanakan! Sekarang aku sendiri tak cukup mengerti apa yang kau maksudkan dengan kalimat di belakang ini.
SI GODAM : Memang petani itu sering mempunyai pikiran sehat segar seperti buah jeruknya.
SI PACUL : Baru sekarang engkau muncul, Godam. Selama ini engkau menonton saja, diam-diam saja engkau pura-pura tak mengerti! Sekarang sesudah sampai ke perundingan perkara “isi” kemerdekaan baru engkau muncul.
SI TOKE : Biarkanlah dahulu si Godam ini. Nanti tentu dia akan muncul terus. Tetapi cobalah tegaskan apa yang engkau katakan tadi, Cul, bahwa dalam sesuatu kerajaan boleh jadi besar golongan yang berhak (lahir dan batin) daripada dalam suatu republik.
SI PACUL : Contoh yang segar-bugar gampang kita kemukakan. Lihatlah Jerman Nazi adalah satu Republik. Tetapi golongan yang paling besar dalam negara (yakni kaum proletar) digencet sehebat-hebatnya. Gaji buruh diturunkan, lama kerja diperpanjang buat menghasilkan alat perkakas perang. Gestapo bermaharajalela buat membasmi kumpulan dan rapat buruh. Cuma sebagian kecil warga negara Jerman (yakni kaum Fasis) yang mempunyai hak lahir dan batin itu. Sebaliknya di Inggris, negara merdeka berbentuk kerajaan, besar golongan yang berhak lahir dan batin itu daripada di Jerman. Gaji lebih tinggi, lama kerja lebih kurang, dan hak berkumpul, berunding, dan menulis lebih luas.
SI GODAM : Ya benar kalau engkau membandingkan satu kerajaan dengan republik semacam itu. Memang bentuk itu tak memastikan isi. Jadi tidak dalam semua kerajaan hak lahir dan batinnya golongan rakyat itu diperkosa. Tidak dalam semua republik sebaliknya hak lahir dan batinnya golongan terbesar itu terjamin.
SI TOKE : Sekarang saya sudah mengerti. Jadi besarnya kemerdekaan dalam suatu negara merdeka itu mesti diukur dengan besarnya golongan orang dalam negara itu yang mempunyai hak lahir dan batin.
SI PACUL : Kalau begitu dalam Negara Merdeka yang selalu dipuji oleh Denmas tentulah kaum yang sedikit itu yang sebenarnya merdeka.
SI TOKE : Engkau jangan menyindir-nyindir, Pacul. Denmas toh bukan absolutis, penganut kerajaan Tunggal. DENMAS : Memang bukan! Tadi si Pacul sendiri sudah memberi contoh bahwa bentuk itu belum memastikan isinya. Bukankah dalam negeri merdeka berbentuk kerajaan seperti Inggris golongan yang mempunyai hak lahir dan batin cukup besar? Pacul sendiri yang memberikan contoh ini!
SI GODAM : Cukup besar tetapi …………………
SI TOKE : Diam dulu, Dam, aku sudah tahu ke mana engkau mau pergi. Cukup besar, tapi sama sekali belum lagi cukup! Bukankah begitu, Dam?
MR. APAL : Sebenarnya, semenjak ahli pikir Aristoteles sudah banyak perubahan isi dalam bentuk negara merdeka, baik berupa Kerajaan maupun Republik. Dalam kitab kuno memang biasa sekali dianggap bahwa dalam satu kerajaan itu raja dan keluarganya yang berkuasa, berdaulat, jadi berhak lahir dan batin. Tetapi sekarang Inggris memberi contoh yang aneh.
SI TOKE : Bagaimana pula buku kuno itu menjeniskan Republik?
MR. APAL : Banyak pula jenisnya Republik itu. Republik itu bisa aristokratis, artinya di sana kaum ningrat yang berkuasa, seperti Republik Sparta di masa lampau. Republik itu bisa plutokratis Di sana kaum hartawanlah yang memegang tampuk kekuasaan, yakni yang sebenarnya berdaulat. Ada pula yang demokratis! Di sini rakyatlah yang berkuasa. Inilah sebenarnya watak Negara Modern yang besar-besar di zaman sekarang. Contohnya yang nyata ialah Amerika Serikat. Di sinilah Rakyat yang berdaulat, berkuasa, yang menentukan baik atau tidaknya Undang-undang, yang memilih dan melepas Presiden, para Menteri, dan wakil Dewan Negara. Di sinilah hak lahir dan batin hampir seluruh masyarakat terjamin.
SI PACUL : Bagaimana, Dam?
SI GODAM : Kapitalisme dan Birokratis! Itu yang berdaulat di semua negara merdeka di dunia ini, berbentuk Kerajaan ataupun Republik, baik plutokratis ataupun demokratis!
IV. BIROKRASI
SI PACUL : Nah, Dam, sekarang rupanya engkau punya giliran. Lebih dahulu aku mau tanyakan. Birokrasi itu sebenarnya apa?
SI GODAM : Birokrasi itu adalah seekor ular berkepala 10, tersembunyi tempatnya dan dengan begitu dia leluasa menyemburkan racunnya ke arah musuhnya.
SI PACUL : Jangan pakai perumpamaan begitu, Dam! Saya mau keterangan yang pasti. Saya sudah banyak kali mendengar kata birokrasi itu. Tetapi artinya yang sebenarnya saya sampai sekarang belum tahu.
SI GODAM : Birokrasi ialah perkakas memerintah dan administrasi yang di zaman kapitalisme menjadi perkakas menindas kaum pekerja. Mulanya biro, kantor itu memang perlu buat satu pemerintah dan satu administrasi. Tetapi lama kelamaan oleh pengaruh kapitalisme menjadi badan yang terpisah dari Rakyat murba dan dipakai sebagai alat penindas semua gerakan murba yang membahayakan kekayaan dan kekuasaan kaum kapitalis yang di zaman kapitalisme memiliki birokrasi itu.
SI PACUL : Sedikit terang. Tetapi belum cukup terang. Cobalah lanjutkan.
SI GODAM : Administrasi tentulah perlu buat satu negara. Sedangkan buat satu perusahaan saja perlu administrasi itu. Dalam satu perusahaan saja, bukankah perlu dicatatkan keadaan pekerja dalam tiap waktu. Umpamanya perusahaan itu mau tahu berapa pekerjanya. Pada permulaan bulan 4 tadi umpamanya 100 orang. Kalau yang masuk di bulan itu 100 orang dan keluar 50 orang, jadi sisa penghabisan bulan empat itu 150 orang. Nama, bagian pekerjaan, umur, asal, keluarga, sekolah dll tiap-tiap pekerja mesti didaftarkan supaya jangan mendatangkan kekacauan. Gajinya berhubung dengan pengalaman, sekolah dan kecakapannya mesti didaftarkan pula. Buat kesehatan, perpindahan, atau kematian, pekerjaannya mesti ada pula pendaftaran yang cukup. Belum lagi perkara hasil atau produksi perusahaan itu: turun naiknya, masuk keluarnya hasil itu. Perkara gaji buruh halus di kantornya! Perkara keuangan, bahan, penjualan, dan bermacam-macam perkara lain buat beresnya satu perusahaan itu saja.
SI PACUL : Satu perusahaan saja sudah begitu banyak cabang pekerjaan dan cabang administrasi. Apa lagi satu negara.
SI GODAM : Apa lagi satu Negara yang mempunyai cacah jiwa sampai puluhan juta, yang turun naik pula penduduknya, yang mempunyai banyak jabatan dalam Pemerintahan Negara seperti jabatan politik Negara, Pertahanan Negara, Perekonomian, Lalu-Lintas, Perhubungan, Keuangan, Penerangan- penerangan, Pendidikan. Berapa banyaknya cabang pekerjaan dan berapa banyak ranting dan lain-lain, dan anak ranting pekerjaan. Susahnya pula, semua ranting mesti dipusatkan ke cabang dan semua cabang dipusatkan kepada bagian dan semua bagian di pusat, dipusatkan pula ke PUSAT Negara seluruhnya.
SI PACUL : Pusing kepala saya memikirkan. Memang pekerjaan itu menjadi sulit kalau didengar begitu saja. Tetapi tidak begitu sulit kalau tiap-tiap ranting cabang dan pusat mengetahui hak dan kewajiban sendiri dan berani tanggungjawab ke atas dan ke bawah. Salahnya, yang di bawah tak berani tanggung jawab dan yang di atas mau memungut semua kekuasaan untuk memutuskan, tetapi sering pula tak berani menanggungjawab putusannya itu. Yang di bawah yang tak berani tanggung jawab itu menanti-nantikan saja putusan dari Atas, sampai di atas bertimbun-timbun perkara yang mesti diputuskan.
SI TOKE : Sampai perkara tetek-bengek mesti diputuskan di Atas, karena yang bawahan tak berani memutus.
SI GODAM : Begitulah administrasi itu menjadi Berat-Kepala (topheady). Lebih berat kepalanya daripada kakinya. Karena semua putusan mesti datang dari atas, maka semua putusan itu terlambat datangnya ke bawah. Tindakan yang mesti dijalankan dengan cepat mesti ditunda karena menunggu putusan atas. Tindakan itu sering terpaksa ditunda selamanya, karena tidak akan berhasil lagi kalau dijalankan juga, sudah terlewat.
SI PACUL : Apakah semua tindakan mesti ditunda buat semua orang dan semua golongan?
SI GODAM : Tentu tidak! Inilah akibat pertentangan dalam dunia kapitalisme. Kesulitan dalam administrasi itu memberi kesempatan pada kaum hartawan buat menduduki administrasi itu. Mereka adakan sekolah menengah dan tinggi buat mendidik anak yang mampu mengadakan dan menjalankan administrasi yang sulit bertingkat-tingkat (hirarkis).
SI PACUL : Anak yang mampu tentulah anak kaum kapitalis.
SI GODAM : Tepat Cul. Dan anak kapitalislah yang memegang buku, sebagai pemegang Staat ini dan Staat itu, yang diatur secara akademis, yang cuma bisa dimonopoli golongan terpelajar, anaknya kapitalis.
SI PACUL : Begitu semua biro, semua kantor itu jatuh ke tangan golongan kapitalis, sudah tentu kantor itu menjadi perkakasnya golongan kapitalis, terutama golongan bankir.
SI GODAM : Tepat, Cul. Dan karena keperluan Kapitalis dan Buruh bertentangan seperti hidup dan mati, sudah tentu semua undang-undang dan tindakan yang menguntungkan kapitalisme lekas dijalankan oleh birokrasi yang dikepalai oleh Menteri Negara. Pendeknya, tuntutan si kapitalis biasanya tiada ditunda. Tetapi semua undang-undang dan tindakan yang merugikan kaum kapitalis dan menguntungkan kaum pekerja tentulah “gampang disabot”, dimogoki, dimogok “sit-down” oleb kaum birokrat, ular tersembunyi dalam administrasi Negara itu.
SI PACUL : Aku mengerti, Dam, kenapa tadi birokrasi itu engkau namai ular berkepala sepuluh. Tetapi saya harap kepalanya bukan 10 melainkan 13.
SI TOKE : Benar, Cul! Memang dia akan celaka 13. Kalau saja kelak wakil kaum buruh mendapatkan suara lebih dan merebut kursi lebih dalam parlemen. Para wakil buruh akan bisa bikin undang-undang buat mengadakan tindakan yang akan melenyapkan, menghancurluluhkan kapitalisme.
SI GODAM : Tunggu dulu Kek! Tunggu dulu! Tak gampang kaum buruh suatu negara merebut kursi lebih dalam parlemen. Sekalipun dapat, tak bisa ia menghancurkan kapitalisme kalau tak dengan pemberontakan. Si Pacul : Nah lho!
V. AKSI PARLEMENTER ATAU AKSI MURBA?
A. AKSI PARLEMENTER
SI PACUL : Nah, Godam, masih dalam giliranmu sekarang. Terangkanlah mana yang baik, aksi parlementer atau aksi murba (aksi massa).
SI GODAM : Saya ulangi sekali lagi. Merebut kursi terbanyak dalam parlemen itu adalah satu perkara yang amat susah, walaupun mungkin.
SI PACUL : Terangkan dulu, apa maksudnya merebut kursi terbanyak itu!
SI GODAM : Umpamanya Parlemen mempunyai wakil rakyat 600 orang! Kalau kaum buruh, yang memang terbesar dalam satu negara modern, mendapatkan wakil dalam pemilihan wakil ke Parlemen umpamanya 301 orang saja dalam teori ia sudah mendapat suara lebih, ialah 2 orang lebihnya dari semua golongan lain, yang 299 itu. Dalam hakikatnya kaum buruh di Inggris, Amerika, atau Jerman memang bisa mendapatkan 2/3 atau 3/4 dari seluruh suara, ialah menurut besar kelasnya proletar, yang ada di negara tersebut.
SI PACUL : Jadi dengan kursi terbanyak itu kaum buruh bisa mengadakan undang-undang dalam Parlemen, buat melenyapkan hak milik perseorangan atas industri penting umpamanya. Industri penting bisa dijadikan milik Negara. Produksi dan distribusi diatur secara kolektif. Semuanya dijalankan secara mengusul dan memutuskan dengan suara lebih dalam Parlemen.
SI GODAM : Benar begitu, tetapi walaupun kaum buruh lebih banyak orangnya, ia kalah saja berteriak dalam pemilihan para anggota Parlemen itu.
SI PACUL : Sebab apa, Dam?
SI GODAM : Sebab yang berteriak memajukan dan memuja-muja para calon wakil itu di zaman kapitalisme ini ialah fulus, uang. Siapakah yang bisa mengirimkan propagandis ke kota- kota dan semua pelosok?
SI PACUL : Tentu kapitalis.
SI GODAM : Siapa pula yang bisa menyewa gedung besar-besar buat rapat umum? Mempunyai persuratkabaran, majalah, radio, sandiwara, buat memuja-muji calon sendiri dan mencemoohkan calon lawan.
SI PACUL : Tentu kaum fulus.
SI GODAM : Kepada kaum mana memihaknya profesor, guru, gereja, dan pujangga dalam negara kapitalis?
SI PACUL : Ya, ya, Dam. Engkau tak perlu lanjutkan. Sebab itu di Amerika negara yang modern dan kapitalis tulen itu, sampai sekarang belum pernah kaum buruh mendapat suara terbanyak dalam parlemen walaupun di Amerika itu sebelum perang besar tetap 11 juta buruh menganggur.
SI TOKE : Di Inggris, sekarang kaum buruh ke 3 kalinya mendapat kementerian Negara. Sekarang Partai Buruh mempunyai suara terbanyak pula dalam Parlemen Inggris.
SI GODAM : Yang ketiga kalinya pula partai kaum buruh Inggris akan memperlihatkan kepada proletar Inggris dan dunia lain, bahwa mengadakan undang-undang buat melenyapkan kapitalisme Inggris itu bukanlah perkara menghitung “suara” atau “kursi” dalam parlemen saja. Memang menurut Karl Marx, mungkin sosialisme dijalankan di Inggris dengan jalan parlementer itu. Tetapi di masa Marx, birokrasi Inggris belum begitu kuat, licik, dan ganas seperti di abad ke 20 ini.
SI TOKE : Kalau undang-undang penghapusan kapitalisme sudah diterima dalam Parlemen, maka administrasi yang dikepalai Perdana Menteri Sosialis toh boleh perintahkan kepada administrasi untuk menjalankan penghapusan kapitalisme itu.
SI GODAM : Dalam teori memang begitu. Tetapi jarang manusia yang menghukum mati dirinya sendiri itu. Administrasi itu seperti sudah dibilang di atas dipegang oleh keluarga borjuis, pengikut kaum kapitalis. Semua otak hati jantungnya serta pengalamannya sudah dipusatkan pada Arsip Raja, dalam gedung administrasi itu. Orang lain dari golongan lain susah memasuki gedung arsip yang penuh rahasia itu. Berbenteng pada arsip rahasia itu sang jurutulis gampang mengadakan pemogokan atau sabot terhadap perintah menteri sosialis. Berbenteng pula pada arsip-gaib-rahasia itu sang jurutulis, sang komis kelas satu, kelas dua … sampai tiga belas. Berhubungan pula dengan polisi, kehakiman, tentara, dan terutama dengan bank negara dan bank partikelir. Di zaman kapitalisme ini bank itulah yang menjadi bentengnya kapitalisme, bank itulah yang mengendali perindustrian di dalan negeri dan akhirnya mengendalikan politik negara.
SI PACUL : Jadi sekarang terang kedudukan kekuasaan dalam negara kapitalis itu buat saya, Dam. Kaum kapitalis yang mempunyai benteng lahir pada golongan bankir, mempunyai tukang sulap yang tidak kelihatan pula dalam administrasi, berupa birokrat. Kalau wakil borjuis kalah dalam parlemen ia minta bantuan pada tukang sulapnya, ialah sang birokrat dalam administrasi. Kalau di sini ia kalah pula, ia baru minta bantuan pada polisi, yustisi, dan tentara. Mereka opsir tinggi dari polisi, yustisi, dan tentara itu tentulah anak kaum mampu, yakni kaum borjuis, maka tentulah pula polisi, yustisi, dan tentara –semua badan pembela keamanan negara itu—pembela negara kapitalis. Tegasnya dalam pertentangan Kapitalis-Proletar tentulah polisi, yustisi, dan tentara itu membantu kapitalis dan membasmi proletar.
SI GODAM : Begitu mestinya, Cul! Pada semua pergerakan murba, maka terang benar birokrasi menjadi perkakas kapitalis menindas semua gerakan yang menentang kapitalisme. Begitu di semua negara Eropa. Berhubung dengan itu maka 100 tahun lampau Marx dalam salah satu bukunya yang banyak mengandung sejarah sudah berkata: “Staat itu tak boleh diambil oper begitu saja oleh kaum buruh (revolusioner), tetapi mesti dihancurkan dan diganti dengan administrasi kaum buruh.” Yang dimaksud dengan staat itu, dengan Negara itu, tentulah terutama juga administrasi dan birokrasi tadi.
SI PACUL : Kalau parlemen dan aksi parlementer itu tak boleh dipakai, dan administrasi bersama birokrasinya tak boleh diambil oper begitu saja, bagaimana jalan menghapuskan kapitalisme itu??
SI GODAM : Sekarang kita sampai kepada aksi murba. Memang engkau sebagai wakil proletar tani tertarik ke jalan massa-aksi itu. Tetapi tak mengherankan pula kalau Denmas, Mr. Apal, dan si Toke, burger kecil ini menguap-nguap saja, seperti orang tak peduli.
B. AKSI MURBA
SI GODAM : Aksi murba itu tentulah mengandung beberapa syarat yang penting pula. Sudahlah tentu perkara kalah menang mesti dipikirkan.
SI PACUL : Sudah mestinya kekuatan lahir dan batin yang ada pada lawan kita mesti dibandingkan dengan kekuatan lahir dan batin yang ada pada kita. Seharusnya para pemimpin murba itu tak boleh menyia-nyiakan ribuan jiwa yang diserahkan pada pimpinannya.
SI GODAM : Semestinya kita tidak takut berkorban. Tetapi semestinyalah pula kita tiada boleh berkorban sia-sia. Tiap-tiap tetes darah mengalir, mestinya mendapatkan hasil yang seimbang.
SI PACUL : Kemenangan itu tentulah berupa kemenangan politik dan ekonomi.
SI GODAM : Selain perkara perbandingan kekuatan, mesti pula dipikirkan perkara “tempo dan tempat”. Pada waktu musuh sedang kuat, dan kekuatannya terpusat pula pada suatu tempat, sudahlah tentu kita bodoh sekali kalau menyerang dengan kekuatan kurang, pada “tempo dan tempat” yang baik buat musuh itu.
SI PACUL : Sekurangnya kita mesti tambah tenaga dan susun lebih baik lagi tenaga yang sudah ada. Selain dari itu kita mesti tunggu pula tenaganya musuh yang terpusat itu dicerai-beraikan. Atau tunggu temponya musuh sedang lengah.
SI GODAM : Jadinya, pendek kata carilah gelang yang lemah pada rantai pertahanan musuh. Putuskan rantai itu dan musnahkan tiap-tiap bagian yang lemah itu!!
SI PACUL : Apa lagi yang mesti diperhatikan?
SI GODAM : Memang banyak lagi. Syarat yang penting buat seorang pemimpin –pemimpin apapun juga—ialah pemimpin itu pertama mesti mempunyai kecakapan memimpin. Kedua dia mesti bisa menaksir keadaan sekarang dan besoknya; dan ketiga dia mesti ulet, tidak lekas patah hati, melainkan mempunyai kemauan baja. Ia tak boleh diombangambingkan oleh kemenangan dan kekalahan sementara, melainkan tetap pegang teguh hasratnya berjuang dan kebenaran alasannya buat berjuang. Ketetapan hati itu mesti tergambar di wajahnya kalau berhadapan dengan pengikut dan teman seperjuangannya, apalagi dalam marabahaya.
SI PACUL : Memang pemimpin yang tak melihat garis besar gerakan politik, tak mempunyai hasrat, kemauan, dan iman teguh tak akan bisa mengendalikan pengikutnya, apalagi mengendalikan keadaan.
SI GODAM : Pimpinan mesti mempunyai sumber yang terus mengalir. Artinya itu ia tak boleh pegang satu teori saja kalau menyerang atau mempertahankan. Dia mesti cakap mengadakan muslihat baru pada keadaan baru. Pelajaran yang dihafalkan dari buku saja tiada cukup.
SI PACUL : Jadi engkau sudah majukan: 1. Perkara perhitungan kalah-menang (perbandingan kekuatan), 2. Perkara tempo dan tempat, 3. Syarat pemimpin dan pimpinan, 4. Sumber yang terus mengalir di pihak pimpinan. Apakah persatuan tidak penting???
SI GODAM : Penting sekali, Cul. Itulah jiwanya suatu perjuangan. Walaupun syarat yang empat tadi ada, tetapi kalau persatuan dalam barisan yaag dikerahkan itu lemah atau tak ada sama sekali, sudahlah tentu tak ada harapan buat menang, kecuali kalau lawan itu lebih lemah lagi dalam segala-galanya. Tetapi persatuan itu mesti mempunyai dasar yang teguh.
SI PACUL : Bukannya disiplin dasar yang teguh itu?
SI GODAM : Betul, disiplin adalah satu syarat atau dasar persatuan itu, tetapi disiplin itu sendiri mesti berdasar pula.
SI PACUL : Apakah pula dasarnya disiplin itu?
SI GODAM : Inilah perkara yang penting dalam Aksi Murba. Dalam aksi militer, disiplin itu semata-mata berdasar atas perintah yang kuasa saja. Tetapi dalam Aksi Murba, disiplin itu mesti dimengerti dan dirasa. Jadi dasarnya ialah keperluan bersama, kepentingan bersama di pihak murba. Atas keinsyafan sama kepentingan, sama tujuan, dan sama berjuang itulah dirasa perlunya disiplin. Artinya disiplin dalam aksi murba ialah dengan sejujur-jujurnya dan sebaik-baiknya menjalankan suatu putusan, yang sudah diputuskan bersama-sama menurut suara yang terbanyak.
SI PACUL : Tetapi toh tidak sama keperluan tani, buruh, saudagar, dan penduduk kota?
SI GODAM : Tepat perkataanmu itu, Cul. Betul tidak sama tetapi ada persamaan. Kucing memang tidak sama dengan macan, tetapi banyak persamaannya. Lebih banyak persamaan kucing dan macan daripada antara kucing dan ikan atau kucing dan tongkat.
SI PACUL : Jangan filsafat, Dam! Bentangkanlah persamaan yang praktis!
SI GODAM : Persamaan dari masing-masing orang kelas proletar tentulah nyata. Mereka sama ditindas dengan cara yang sama. Mereka sama-sama menghendaki perubahan yang sama pula. Lebih mudah mengadakan persatuan dan disiplin di antara satu kelas manusia itu. Persatuan dan disiplin bisa didasarkan pada keperluan sama, yakni sama-sama menuntut hak lahir dan batin (gaji, lama kerja, hak berkumpul dan rapat).
SI PACUL : Tetapi di manakah letaknya persamaan keperluan tani, buruh, dan penduduk kota?
SI GODAM : Baik, saya ambil contoh yang tepat saja, Cul. Ambil Rusia di tahun 1917. Susunan masyarakat di masa itu: Di puncak ada Tsar dengan keluarga ningratnya yang memiliki tanah luas-luas sekali. Yang mengerjakan tanah itu ialah tani melarat. Tani melarat itu terbagi pula atas 3 golongan. Kesatu yang hidup memburuh sama sekali; kedua setengah memburuh dan setengah bertani; dan ketiga tani yang membanting tulang buat hidup cukup saja. Ketiga golongan itu revolusioner terhadap Tsar. Selain tiga golongan tani melarat ini ada lagi tani sedang. Tani ini memakai buruh sampai 10 orang. Tetapi masih mau perubahan demokratis. Begitu juga tani besar. Selain tani, ada lagi kelas borjuis besar, tengah, dan kecil. Semuanya menghendaki hak demokratis (perwakilan rakyat dsb). Kelas yang paling terkemuka dalam pemberontakan ialah buruh-industri.
SI PACUL : Bagaimana kaum komunis mengadakan persatuan di antara borjuis, tani, dan proletar itu?
SI GODAM : Itulah keulungan komunis Rusia. Dia tahu bahwa kaum borjuis besar revolusioner terhadap feodalisme, keningratan di bawah Tsar. Selama menentang Tsar dan kaum ningrat itu mereka bikin satu barisan rakyat. Jadi di masa ini persatuan itu mengikat borjuis besar-tengah-kecil, tani besar-tengah-kecil, dan proletar, sampai feodalisme terbengkalai. Baru sekarang ditantang dan dibengkalaikan borjuis besar-tengah-kecil. Akhirnya, tinggalah persatuan kekal antara proletar mesin dan proletar tanah.
SI PACUL : Jadi pada tiap-tiap tingkat pertarungan itu dicari persamaan tuntutan berdasarkan persamaan keperluan. Apakah persamaan tuntutan proletar mesin dan proletar tanah?
SI GODAM : Kedua golongan menghendaki perdamaian. Jadi mereka sama-sama meletakkan senjata menghentikan berperang dengan Jerman. Selanjutnya para proletar pabrik merebut pabrik, dan kaum borjuis dan proletar tanah merebut tanah dari kaum ningrat. Dengan begitu proletar dan tani sama sama menentang kontra-revolusioner dari pihak borjuis dan ningrat.
SI PACUL : Jadi kalau saya mengerti betul, Dam, Komunis Rusia pada tiap-tiap tingkat perjuangan memusatkan pukulannya terhadap satu musuh saja. Dalam hal itu dia menjaga persatuan dalam barisannya sendiri, walaupun terdiri dari berbagai golongan.
SI GODAM : Itulah keulungan Komunis Rusia, Cul!
VI. MERDEKA 100%
SI TOKE : Apa yang dimaksudkan dengan merdeka 100%? Buat saya merdeka itu merdeka tak ada batasnya.
SI GODAM : MERDEKA itu memang selalu ada batasnya. Batasnya itu pertama terhadap ke dalam. Kedua terhadap keluar.
SI TOKE : Apa artinya?
SI GODAM : Terhadap ke dalam! Bukankah tiap-tiap orang dalam negara merdeka itu mesti menghargai kemerdekaan tiaptiap warga lain? Jadi tiada boleh berbuat sekehendak hatinya saja terhadap warga sejawatnya. Di sinilah terletak batasnya.
SI PACUL : Kalau begitu terhadap keluar: tiap-tiap negara merdeka mesti pula mengakui kemerdekaan tiap-tiap Negara Merdeka yang lain, besar atau kecil. Berapa pun kuatnya satu negara merdeka tidaklah dia bisa berbuat sekehendak hatinya saja terhadap negara lain. Dengan begitu maka kemerdekaan satu negara terletak pula pada kemerdekaan negara lain, jadi arti luasnya pada suasana kemerdekaan umumnya.
SI GODAM : Tepat, Cul! Kalau suasana kemerdekaan itu dalam arti umum terganggu, maka lambat laun akan hilang kemerdekaan tiap-tiap negara. Lihatlah contoh di sekitar kita dan dalam sejarah dunia! Berapapun kuat satu Negara Merdeka, yang memperkosa kemerdekaan negara lain akhirnya ia jatuh juga!
SI TOKE : Kalau satu negara merdeka mesti menghargai kemerdekaan negara lain pula tentu satu warga negara merdeka mesti pula menghormati warga negara lain sebagai tamunya. Bukankah begitu?
SI GODAM : Sebenarnya begitu! Di sana teranglah sudah bahwa kemerdekaan manusia itu mengandung “perdamaian” buat seluruh manusia. Perdamaian itulah dasar kemakmuran. Akhirnya kemakmuran itulah pula yang menjadi dasar kemerdekaan.
SI PACUL : Memang kemerdekaan, perdamaian, kemakmuran itu berseluk-beluk. Tetapi kalau kubiarkan engkau melanjutkan perundingan tentang kemerdekaan itu secara begitu, aku takut kita akan selangkah demi selangkah kau bawa ke ‘jurang’ filsafat. Baiklah kita kembali ke tanah yang datar. Berilah contoh yang pasti (konkret) tentang batas kemerdekaan itu.
SI GODAM : Pertama batas itu boleh berupa daerah. Kemerdekaan Spanyol amat terbatas karena Inggris menduduki Karangbatu bernama Gibraltar buat dijadikan benteng. Ini berarti satu pistol mengancam dadanya Spanyol. Begitu pula Terusan Suez, Tanah-Asing di Shanghai dan lain-lain.
SI PACUL : Walaupun daerah itu kecil, tetapi ia amat menguasai politik ke dalam dan ke luar Negara yang diduduki. Apalagi batasnya?
SI GODAM : Batas yang terang tentulah berhubung dengan pembatasan kedaulatan. Tentulah tak ada Negara yang merdeka dalam arti liar. Di atas sudah disebutkan batas tiap-tiap Negara Merdeka itu ke dalam dan keluar. Tetapi itu berlaku buat tiap-tiap negara, dimengerti dan dirasa perlunya oleh tiap-tiap Negara. Tetapi status (kedudukan dalam politik) seperti Dominion Status, Free-State (Irlandia) atau Gemeenebest yaag didengung-dengungkan oleh Belanda itu adalah batasan pincang.
SI PACUL : Sebenarnyalah begitu. Karena Indonesia yang digemeenebest- kan oleh Belanda itu tiadalah meng-gemeene-kan Belanda. Jadi batas itu berlaku buat Indonesia saja. Seolaholah Indonesia kurang dari Belanda.
SI GODAM : Apalagi kalau suatu Negara Merdeka mencampuri administrasinya Negara lain. Keadaan ini terjadi pada semua jajahan. Hal ini tak perlu dilanjutkan. Indonesia sudah tahu bahwa urusan administrasi dari desa sampai ke daerah, ke pulau, dan akhirnya sampai ke semua kepulauan, hingga 17 Agustus 1945 dicampuri oleh Belanda.
SI PACUL : Jadi batasan pasti yang sudah engkau sebutkan ialah: batasan daerah, batasan kedaulatan, dan batasan administrasi. Tidakkah ada batas-batas yang lain-lain?
SI GODAM : Secara lahir tidak-ada lagi. Tetapi secara tertutup ada. Sudahkah engkau mendengar nama-nama Negara Merdeka seperti Meksiko, Honduras, Kuba, Peru, Brasil, juga Tiongkok sebelum Perang Dunia kedua ini?
SI TOKE : Semua negara itu memang Merdeka. Semua negara itu mempunyai Undang-Undang Dasar sendiri dan merdeka memilih dan memecat pemerintahnya sendiri. Selain itu juga merdeka menentukan politiknya ke luar negeri.
SI GODAM : “Rupanya” begitu dipandang dari luar. Ambil saja Meksiko sebagai contoh. Selama pemerintah Meksiko mengakui keleluasaan kongsi minyak Inggris-Amerika di Meksiko, selama itu pula ada pengakuan penuh dari Inggris- Amerika. Tetapi coba timbul pemerintahan Meksiko yang menentang kongsi minyak itu. Sebentar saja timbul revolusi dari golongan Meksiko juga, yang disokong oleh kongsi minyak. Satu jenderal Meksiko diadu dengan jenderal Meksiko yang lain. Barangkali kedua jenderal itu cinta pada Negara dan Rakyatnya. Tetapi mereka sadar atau tidak, gampang dibelit oleh “lasso” (tali pengikat) yang ujungnya berada di kantor pusat kongsi minyak di Amerika yang tentu berhubungan pula dengan birokrasi Amerika. Demikianlah semua pemberontakan di Amerika Tengah dan Selatan, seperti juga dahulu di Tiongkok disebabkan oleh pengaruh busuk kapitalisme asing yang bersarang di Negara yang menurut syarat Undang-Undang Internasional memang merdeka.
SI PACUL : Jadinya kapital-asing itu kalau ditanam begitu saja dalam suatu Negara Merdeka bisa mengacaukan politik Negara Merdeka itu. Bisa mengadudomba sebagian penduduk terhadap bagian lain dari penduduk Negara itu juga.
SI TOKE : Jadinya kita tak perlu kapital-asing? Bukankah Indonesia tak cukup mempunyai mesin dan uang buat mengganti mesin yang sudah rusak dalam peperangan sekarang dan buat menambah mesin yang baru???
SI GODAM : Sebenarnya kita membutuhkan mesin, bahkan juga beberapa ahli. Malah kita membutuhkan berlipat-ganda mesin dan para ahli asing buat mendirikan perindustrian baru dan memperbaiki yang lama. Berapa puluh lokomotif, mesin kapal dan kapal terbang kita butuhkan. Lebih dari itu, tidak saja mesin yang sedia buat dipakai kita perlukan. Tetapi juga mesin yang membikin mesin. Kita perlukan mesin yang akan membikin mesinnya oto, membikin lokomotif, membikin mesin kapal air dan udara, membikin meriam, tank, bom-atom dll, pendeknya “mesin-induk”. Berhubung dengan itu kita perlukan pula para ahli yang kita belum punya.
SI TOKE : Bingung aku mendengarnya. Tetapi di samping itu bukan main girang hatiku mengelamunkan “Indonesia punya atas Mesin-Induk” itu, mempunyai “Industri Berat” itu. Tetapi uangnya???
SI GODAM : Uang tak perlu! Tetapi yang perlu ialah KEMERDEKAAN 100%. Sekali lagi! Uang sebagai kapital-asing tak perlu. Malah membahayakan dan tidak membawa Indonesia ke arah yang kita tuju.
SI TOKE : Sekarang saya bertambah pusing Dam. Membahayakan bagaimana? Tidak membawa kita ke tempat yang kita tuju bagaimana?
SI GODAM : Membahayakan dan tiada menyampaikan maksud, seperti terjadi di Amerika Tengah dan Selatan, Kek. Sekarang Amerika Tengah dan Selatan tak bisa bikin mesin apalagi bikin mesin-induk. Pengaruh kapital-asing di Amerika Tengah dan Selatan tak membenarkan sekalian Republik Merdeka itu mempunyai dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat. Sebab kapital-asing itu takut akan persaingan. Takut kalau-kalau kelak industri berat di Amerika Tengah dan Selatan menyaingi atau membunuh industri berat atau ringan negara yang meminjamkan modal. Karena pemerintah Negara di Amerika Tengah dan Selatan terikat oleh uang pinjaman dari Inggris-Amerika, dia tak bisa mengambil tindakan yang tepat buat mendirikan Industri Berat Nasional.
SI TOKE : Baiklah kita tinggalkan dahulu Amerika Tengah dan Selatan itu. Kau bilang tak baik kalau kita menerima modal asing. Baik! Kita butuhkan Industri Berat. Tetapi uang dari mana kita ambil? Para ahli ke mana kita cari di antara bangsa Indonesia?
SI GODAM : Uang? Bukankah minyak tanah kita, arang kita, timah kita, aluminium kita, intan-mas kita, perak-mutiara kita semuanya uang??? Engkau ini seorang toke. Apakah kertas yang kau lipat-lipat itu yang dicetak oleh Jepang sampai 40.000.000.000 dalam 3 tahun itu yang uang??? Bukankah beras, intan berlian, dan mesin yang diangkutnya ke Tokyo dulu yang sebenarnya uang??? Kertas itu cuma wakil dari barang. Kertas itu sendirinya hampir tidak ada harganya. Belum lagi kusebut barang yang berharga seperti teh, kopi, kina, kelapa, gula, getah, dan banyak lagi yang tidak dipunyai Negara lain dan amat dibutuhkan Negara lain.
SI PACUL : Aku tahu maksudmu, Dam! Semua hasil dari dalam dan atas tanah Indonesia ditambah pula dengan hasil lautnya yang kaya raya itu akan kau kirimkan keluar negeri buat “ditukarkan” dengan mesin dan para ahli, dan kalau perlu tentu juga dengan “uang asing”.
SI GODAM : Tepat, Cul! Para ahli itu tidak berada di Amerika saja. Atau di Inggris saja. Di Swedia, Swiss, atau Jerman juga ada. Mereka akan ingin bekerja-sama dengan Republik Indonesia Merdeka. Bukan seperti tuan besar, melainkan sebagai pegawai yang menerima perintah.
SI TOKE : Tetapi kalau engkau membikin industri baru seperti tambang besi, pabrik besi baja dan mesin industri muda, barangkali layu dan mati kalau kelak disaingi oleh barang besi-baja dan mesin dari Eropa dan Amerika. Mereka bermodal besar, tahan bersaing. Mereka berpengalaman. Barangnya murah dan baik!
SI GODAM : Itulah dia Kek! Bayi manusia, walaupun tegap-kokoh mesti dilindungi dahulu dalam beberapa tempo. Begitu pun tumbuhan dan hewan. Itu sudah hukum alam. Pun dalam ekonomi, undang-undang itu berlaku. Dalam ilmu ekonomi namanya itu “perlindungan industri bayi” (protection on infant-industry). Amerika sendiri masih mempunyai cabangindustri yang dilindungi.
SI TOKE : Bagaimana melindungi industri bayi kita itu?
SI GODAM : Mesin atau barang yang sedang kita bikin itu mesti kita batasi masuknya dari luar negeri atau kalau perlu larang sama sekali masuknya. Tentu pada permulaan kita belum bisa membikin semua mesin atau baja yang kita butuhkan. Jadi barang ini masih perlu dimasukkan dari luar. Tetapi dibatasi banyaknya. Cuma buat menambah yang masih kurang saja. Supaya yang perlu dimasukkan itu jangan menjadi saingan buat industri bayi kita, maka mesin atau besi yang masuk itu mesti dipajaki sampai tak bisa merusakkan kemajuan industri kita. Kalau perlu dilarang sama sekali masuknya.
SI PACUL : Buat membatasi masuknya barang asing itu atau melarang masuknya sama sekali kita mesti 100% merdeka buat menguasai keluar-masuknya barang di Indonesia (ekspor dan impor).
SI GODAM : Tepat, Cul! Merdeka 100%! Kalau kita sudah merdeka 100% buat menguasai keluar masuknya barang asing itu, maka barulah kita bisa merdeka 100% menentukan “ARAH” industrialisasi di Indonesia, yakni menuju ke INDUSTRI BERAT seperti kilat. Baru sesudah kita mempunyai dan sanggup menyelenggarakan industri berat, baru kita bisa membikin sendiri alat kemakmuran dan alat pertahanan (seperti meriam, tank, kapal selam – terbang dsb). Barulah pula bisa dijamin Kemerdekaan Indonesia. Selama Indonesia belum mempunyai Industri Berat, selama itu pula INDONESIA MERDEKA terancam sangat Jiwa Kemerdekaannya.
SI TOKE : Rupanya engkau tak mengizinkan sama sekali masuknya kapital-asing dan barang asing?
SI GODAM : Barang asing bisa masuk dan akan tetap bisa masuk. Harapanku sampai hari kiamat kita makin makmur, makin membutuhkan barang asing yakni hasil istimewa di negara asing. Malah modal asing bisa ditanam di sini buat membikin barang yang belum bisa kita bikin sendiri dan tak membahayakan perindustrian, kemakmuran, dan pertahanan Kemerdekaan kita.
SI PACUL : Apa salahnya kalau Tionghoa membuka toko menjual sutera Shantung yang halus yang tak ada pada kita itu. Apa salahnya Tionghoa membuka pabrik sutera di samping pabrik sutera Indonesia? Apa salahnya Tionghoa memasukkan uangnya, sebagai andil dalam perusahaan Indonesia, asal saja terbatas banyaknya? Apa salahnya Jerman mendirikan pabrik Pilsener Bier yang lezat-sehat itu? Atau apa salahnya kawan kita dari Rusia membuka toko menjual kaviar yang sedap sehat itu?
SI GODAM : Yang menjadi ukuran buat semua-mua itu ialah: Rakyat Indonesia jangan terancam kemerdekaan dan kemakmurannya. Bangsa tamu tetap aman dan makmur. Lama kelamaan dengan jalan yang cocok dengan undang-undang dan adat istiadat Indonesia bangsa tamu lebur menjadi rakyat Indonesia yang taat setia kepada Negara Rakyat dan Undang-Undang Indonesia.
SI TOKE : Kaubilang tadi kalau Indonesia Merdeka 100% maka secepat kilat kita bisa menuju ke arah Industri Berat. Bukankah majunya industri itu tak bisa kita perkosa?
SI GODAM : Tak ada sesuatu yang akan kita perkosa, Kek! Kita cuma percepatkan jalannya sesuatu yang bergerak menurut kodratnya sendiri. Kita tahu air itu baru mendidih kalau panasnya sudah sampai kurang lebih 100 derajat. Tetapi derajat setinggi itu baru kita peroleh sesudah dimasak satu jam umpamanya kalau apinya lemah. Tetapi dengan listrik yang tinggi derajatnya bisa kita peroleh dalam beberapa menit saja.
SI PACUL : Perbandingan lagi, Dam! Langsung tepat saja, Dam!
SI GODAM : Kembali pada perindustrian kita! Memang kalau kita biarkan “perseorangan” bermaharajalela dalam perekonomian kita, barangkali 100, 200, atau 500 tahun pun kita takkan sampai ke tingkat Industri Berat Nasional. Tetapi dengan “Rencana” menurut “HUKUM EKONOMI TERATUR” dalam sepuluh tahun saja kita bisa sampai ke tingkat yang mengagumkan.
SI PACUL : Asal pemerintah tetap Merdeka 100% dan rakyat bersatu! Pimpinan tetap tegap, percaya atas diri sendiri dan tetap jujur terhadap rakyat jelata. Pasal bahan memang tak ada yang kurang di Indonesia, baik sebagai “jasmaninya kemesinan” seperti besi aluminium, bauksit dll, baik sebagai “rohaninya kemesinan” (seperti arang, listrik, dan minyak). Mengenai bahan, Indonesia ini, apalagi Indonesia Raya tak kurang dari Negara manapun di bawah kolong langit ini.
SI TOKE : Dam, coba bentangkan “RENCANA” buat Industrilisasi kilat itu!
SI GODAM : Maaf, Kek! Terlampau panjang dan terlampau sulit, kalau kubentangkan di sini. Baiklah kubentangkan nanti dalam brosur istimewa pula! Sekarang baiklah kita meninjau kembali ke belakang, buat membulatkan perundingan.
VII. KEMERDEKAAN DITINJAU KEMBALI
SI PACUL : Cobalah, Dam, engkau berikan beberapa kesimpulan dari perundingan kita sampai sekarang.
SI GODAM : Kesimpulan apa yang mesti kuberikan, Cul! Aku sendiri sudah bingung dibawa ke sana kemari dalam perundingan yang sulit dan panjang itu.
SI TOKE : Seadanya saja. Simpulkan apa yang kau rasa penting saja.
SI GODAM : l) Kemerdekaan itu bukanlah Kemauan Tunggal orang atau negara, melainkan kemauan Terikat (bukan absolut melainkan relatif). Kemerdekaan itu sendiri mestinya berdasarkan pengakuan atas kemerdekaan pihak lain. Sebaliknya kemerdekaan di pihak kita diandaikan atas pengakuan pihak lain terhadap kemerdekaan sendiri. Apabila berkenaan satu sama lainnya itu terganggu, maka kemerdekaan itu tak akan kekal adanya. Dengan adanya pengakuan atas terikatnya kemerdekaan itu satu sama lain, maka kemerdekaan itu menjadi rasional, masuk diakal, berakal. 2) Sudah berabad-abad pemikir semua bangsa memikirkan bentuk Negara yang bisa menjamin kemerdekaan itu. Tetapi bentuk saja tiadalah memberi jaminan kepada kemerdekaan itu. Ada di antara bentuk Republik yang memberi jaminan kemerdekaan lebih daripada beberapa bentuk kerajaan (Rusia di zaman Republik Soviet dibanding dengan Rusia Tsar). Tetapi ada pula bentuk kerajaan yang memberi jaminan kemerdekaan lebih daripada bentuk republik (Kerajaan Inggris dibandingkan dengan Jerman-Nazi). Tetapi nyata sudah, bahwa Republiklah bentuk yang lebih cocok buat menjamin kemerdekaan. Kerajaan- terbatas sebagai bentuk negara adalah keistimewaan sejarah, sebagai sisa yang terpaksa diteruskan saja. 3) Isi kemerdekaan itu ialah kedaulatan, dan kedaulatan itu ialah berupa kekuasaan dan kemakmuran. Pertanyaan tentang “siapakah atau golongan siapakah yang berdaulat pada satu negara merdeka” mesti dilaksanakan atas pertanyaan “siapakah atau golongan manakah yang sebenarnya memegang kekuasaan dan mengecap kemakmuran dalam negara itu”. Dipandang dari penjuru ini maka “demokrasi” yang dibangga-banggakan negara kapitalis itu, kalau diteropong besarnya golongan atau kelas yang sebenarnya memegang kekuasaan dan merasakan kemakmuran itu tiadalah sepadan dengan namanya “kedaulatan rakyat”. Yang benar berkuasa, makmur, dan tenteram kemakmurannya ialah kaum kapitalis, kaki tangannya akal kaum tengah dan sebagian kecil dari proletar atasan. Sebagian besar dari mereka yang tak berpunya itu diombang-ambingkan oleh krisis ekonomi dan peperangan imperialisme. 4) Dalam suasana kemodalan, maka hak pemilihan secara umum, langsung, dan sama itu, ataupun suara rakyat (referendum) tiadalah bisa membayangkan kemauan kelas proletar yang terbanyak itu. Kaum borjuis yang sedikit itu dengan harta perusahaan dan profesor, agamawan dan radionya bisa menukar yang putih menjadi hitam, yang salah menjadi benar. Kaum borjuis bisa merebut suara. Seandainya partai proletar bisa merebut kursi terbanyak dalam parlemen, dan bisa mengadakan undang- undang sosialistis, partai itu akan tergelincir dalam birokrasi kaum borjuis, atau akan tertumbuk pada polisi, justisi, dan tentara yang dipimpin oleh borjuis itu, kalau undang-undang itu dijalankan. 5) Yang berhak menentukan nasib Rakyat Indonesia ialah kemauan, pelor, atau bambu runcingnya Rakyat Indonesia sendiri. Hak Rakyat Indonesia atas kemerdekaan itu diambilnya dari alam yang didudukinya. Ia hidup atau tenggelam dengan alamnya itu. Selama Indonesia-Merdeka tiada mengganggu kemerdekaan negara lain, selama itulah negara lain tidak berhak mengganggu kemerdekaannya. Pengakuan Republik Indonesia oleh Negara lain bukanlah menjadi syarat adanya Republik Indonesia. Pengakuan itu adalah hal tersambil, satu hal di luar hak Rakyat Indonesia atas kemerdekaannya. Mengambil, merebut, atau melaksanakan kemerdekaannya itu, bukanlah satu perkara antara rakyat Indonesia dengan negara lain, melainkan urusan diri sendiri. 6) “MERDEKA 100%” adalah satu jaminan buat terus merdekanya Indonesia. Tanpa MERDEKA 100% Indonesia takkan bisa mengadakan kemakmuran cukup buat dirinya sendiri. Juga Indonesia walaupun merdeka tak akan bisa mempersenjatai dirinya sendiri, karena tak akan diberi kesempatan oleh kapitalisme asing buat mendirikan “Industri-Berat Nasional”. Kemerdekaan Indonesia abad ke-20 ini tak bisa dipisahkan dari “Industri-Berat Nasional” dan “Rencana Ekonomi”. 7) Indonesia tak bisa, tetapi tak pula perlu mempertahankan kemerdekaanya dengan jalan kemiliteran sejati. Perang kemerdekaan berlainan wataknya dengan perang imperialisme. Dalam perang imperialisme, kalau semua keadaan lain-lain bersamaan, maka tekniklah yang akan menentukan kalah-menangnya. Dalam perang kemerdekaan, kalau syarat teknik sedikit saja memadai, maka jiwa (psikologi) Murba, dan suara dunia umumnyalah (international public opinion) yang akan memberi putusan terakhir. Mungkin Inggris – Belanda – Jepang menjatuhkan Indonesia merdeka, tetapi tak pula mustahil Republik Indonesia bisa menggulingkan Inggris dan Belanda sebagai negara imperialis. Dengan begitu maka Indonesia sekarang berjuang bukan saja buat Rakyat Indonesia sendiri, tetapi juga buat seluruh Rakyat tertindas di dunia.
SI PACUL : Rasanya sudah cukup 7 simpulan itu. Tetapi bagaimanakah muslihat dan daya upaya mempertahankan Indonesia Merdeka kita sekarang?
SI GODAM : Alamnya Rakyat Indonesia, susunan, watak dan hasrat masyarakat Indonesia serta organisasi berjuangnya banyak berlainan dengan negara lain. Muslihat buat mempertahankan dan memperkokoh Republik Indonesia Merdeka terpaksa pula diadakan pada “Brosur Istimewa”.

Naar de ‘Republiek Indonesia’

Oktober 28, 2008

Tan Malaka (1925)
INTERUPSI
Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya.
Kepada para pembaca !
Mula-mula buku ini dikeluarkan penuh dengan kesalahan-kesalahan cetak. Di sana sini akan terdapat juga kata-kata atau kalimat-kalimat yang sangat asing kedengarannya bagi kuping seorang Belanda asli bagi kesalahan ini perlu saya kemukakan alasan-alasan sebagai berikut :
1.    Buku ini dicetak dan dikoreksi oleh kawan-kawan Tionghoa yang tidak pernah mendengar bahasa Belanda.
2.    Percetakan mereka mempunyai persediaan huruf Latin sangat sedikit.
3.    Dan yang terakhir, penulis ini dalam perantauannya selama tiga tahun akhir-akhir ini tidak pernah melihat bacaan atau surat kabar Harian Belanda dan Asia ini juga tidak pernah menjumpai seorang manusia yang mengerti “bahasa dunia” ini, apalagi berbicara.
Alasan-alasan ini dan kesulitan-kesulitan teknis yang kecil-kecil lainnya harus saya kemukakan untuk mempengaruhi pikiran orang-orang penghasut yang lihat.
Selanjutnya saya rasa tidak perlu menulis brosur yang agak besar karena brosur besar demikian itu akan dapat mengurasi nafsu pembaca dan minta pembaca rata-rata Indonesia pada waktu sekarang ini.
Sekarang dengan wajarnya setelah harapan saya dapat melangsungkan hidup yang ¾ hukuman penjara ini, “tiga perempat hidup penjara”, demi kesehatan saya, di negeri dimana saya mempunyai hak hidup sepenuhnya, telah ditolak oleh pemerintah, saya kira buat sementara waktu semua harapan untuk kembali ke tanah air harus saya kesampingkan. Akan tetapi saya tak mau menganggur. Saya kira saya dapat mengabdi pada partai dan rakyat, jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.
Dimana terdapat cukup fakta revolusioner, dan dimana sekarang menurut dugaan saya mulai tumbuh perhatian besar atas kemajuan perkembangan pergerakan revolusioner di antara orang intelektuil, maka pekerjaan seperti ini bagi saya hanya “pelepas lelah” belaka. Pekerjaan demikian itu tentu lebih baik dan sudah pada tempatnya jika di Tiongkok terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk mencetak. Pekerjaan semacam “pelepas lelah” ini sekali-sekali akan saya guanakan dan pembaca-pembaca terhormat dalam waktu yang akan datang dapat menyediakan diri untuk mempelajari buku-buku yang agak banyak.
“Kegiatan” semacam ini sudah tentu tak akan dapat saya lakukan, jiwa Yang Mulia Gubenur Jenderal memerlukan diri saya agak dalam batas perikemanusiaan. Ini adalah kejadian dibalik kenyataan yang mula-mula tak dapat saya duga, karena kesehatan dan pengasingan. Adalah pada tempatnya saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kawan-kawan Tionghoa yang telah menolong saya dengan sebaik-baiknya.
Sesungguhnya “ucapan terima kasih obyektif”, yaitu terima kasih yang “terpaksa” perlu juga disampaikan kepada beliau Gubernur Jendral Dirk Fook yang mendorong keluarnya “buku kecil” ini sekalipun dorongan tidak langsung.
Canton, April 1925
Tan Malaka.

Keterangan Pada Cetakan Kedua
Kami merasa khawatir, ketika kami mengirimkan buku yang dicetak di Canton kepada pemesan-pemesan Indonesia. Kami takut, bahwa buku yang nampaknya tak indah itu akan dapat melukai rasa seni sastra intelektual-intelektual kita yang biasa membaca buku berbahasa Belanda.
Tetapi itu adalah baik bagi kesadaran politik saudara-saudara kita yang lebih muda, agar mereka tidak kecil hati menghadapi barang sesuatu yang hanya indah nampaknya saja. Permintaan-permintaan akan buku ini yang makin banyak jumlahnya yang dikirimkan kepada kami, memberi bukti nyata, kami telah dapat menawan hatinya. Inilah yang juga mendorong kami akan dicetaknya lagi Menuju Republik Indonesia.
Sekalipun pengawasan polisi sangat keras di negeri geisha-geisha nan cantik dan bunga-bunga teratai nan indah ini, masih juga terdapat tempat di bawah tanah, tempat kami mencetak kembali buku kecil ini dalam bentuk yang agak menarik dengan kesalahan-kesalahan ejaan dan kata-kata yang agak kurang. Itu disebabkan juga karena adanya pergerakan buruh revolusioner yang sedang berkembang.
Dalam interupsi kami di atas telah kami kemukakan, bahwa kami mengeluh tentang kesusahan-kesusahan koreksi dan centakan. Sekalipun demikian halnya dalam cetakan ulangan ini kami kira kesukaran-kesukaran itu masih ada.
Justru di sini pembaca-pembaca kita yang baru dapat memaklumi kesukaran-kesukaran yang kami alami dan kemajuan apa yang telah kami capai dalam mencetak dan koreksi. Dengan ini kami juga mau membuktikan kepada pembaca-pembaca Indonesia kita, bahwa semua usaha lawan-lawan kita untuk menindas “cita-cita” akan sia-sia belaka.
Selanjutnya dengan rasa puas kita disini dapat memaklumi bahwa dalam menafsirkan keadaan international dan nasional dalam cetakan kedua ini tidak perlu mengadakan perubahan atau tambahan. Hanya dalam cetakan ini kiranya kita perlu menambah bab baru untuk memberi penjelasan tentang ide permusyawaratan nasional (national assembly) dengan syarat-syarat dan aksi-aksinya.
Selanjutnya peru ditegaskan pendapat kita tentang mahasiswa-mahasiswa di negeri lain. Sebab mahasiswa-mahasiswa Tionghoa yang dulu pernah kita kemukakan lebih aktif daripada mahasiwa Indonesia sementara itu telah membuktikan kebenaran pendapat kita. Belum lewat satu bulan, sesudah kami mengambil buku-buku kami dari percetakan, maka kurang lebih lima juta mahasiswa Tionghoa dengan serentak meninggalkan bangku-bangku sekolahnya dan mempelopori pemberontakan, pemogokan dan demonstrasi yang diadakan oleh kaum petani dan buruh.
Mengenai keadaan nasional, “calon fasis Indonesia”, karena sikapnya yang memuakkan sehingga kita harus menahan perut, sementara itu lari tunggang langgang, lebih dulu daripada yang kita kirakan.
Sekarang kita harus menahan perut karena kerendahan budi yang digunakan lawan-lawan kita dalam usaha membasmi gerakan rakyat revolusioner Indonesia sebagaimana halnya ketika jaman yang silam, orang-orang desa bersuka ria menyaksikan perampokan yang digantung dengan, ia sekuat tenaga mencoba melepaskan lehernya dari tali gantungan. Seolah-olah Lodewijk III dan Tsar Nicolas II tak pernah hidup.
Sekarang berulang.
Tak dapat dibantah, bahwa perjuangan politik pada bulan-bulan yang akhir ini telah meruncing, kesadaran politik dan kegiatan revolusioner rakyat kita telah tumbuh diseluruh lapisan di Indonesia, sebagaimana belum pernah terjadi sebelumnya.
Padi tumbuh tak berisik.
Tokyo, Desember 1925
Tan Malaka

BAB  I
SITUASI DUNIA
Perang dunia tahun 1914-1918 dalam pengertian ekonomi telah membagi dunia dalam dua bagian :
1.    Negeri-negeri yang kalah, yaitu Jerman, Austria, Hongaria dan Turki. Juga Rusia, dimana kaum buruh telah memegang kekuasaan, dalam bidang ekonomi, tergolong pada negeri-negeri tiu.
2.    Negeri-negeri yang menang, yaitu : Perancis, Italia, Amerika Serikat dll.
Negeri-negeri yang kalah perang tak lama sesudah perang sangat menderita, kekurangan bahan-bahan makanan, hasil-hasil pabrik-pabrik modal dan bahan mentah untuk industri-industri. Kecuali perjanjian Versailles telah mewajibkan Jerman membayar kepada negeri-negeri sekutu setiap tahun ratusan juta mark emas (pampasan perang).
Negeri-negeri seperti Perancis, Inggris, Italia sekalipun tergolong pemenang perang, karena biaya yang kembali uang pinjamannya dengan bunga. Austria yang telah merosot menjadi negeri setengah jajahan dengan wajar terikat baik dibidang ekonomi dan karenanya sudah tentu tak mampu mengadakan tantangan. Jerman yang tak pernah dipercaya oleh negeri-negeri sekutu sekarang diikat kuat-kuat. Jerman telah mendapatkan uang 800.000.000 mark meas dengan mengorbankan kemerdekaan ekonomi, politik dan militernya. Juga Jerman sekarang menjadi setengah jajahan. Militerisme Jerman yang kalah, sekarang berada di bawah telapak kaki negeri-negeri sekutu. Negeri-negeri sekutu ini sekarang mengawasi persoalan militer Jerman. Besarnya dan mutu tentara sekarang ditentukan oleh negeri-negeri sekutu.
Pengawasan ini lebih jauh meliputi anggaran belanja dan keuangan Jerman negeri-negeri sekutu secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran uang Jerman. Sudah tentu pendapatan yang diperolah dari pajak harus lebih besar daripada pengeluaran. Sisa dari pendapatan sesudah dipotong pengeluaran harus diserahkan kepada negeri-negeri sekutu. Bank negara, sesudah bank yang berpengaruh di Jerman sebagai urat nadi penghidupan ekonomi modern suatu negeri telah di internasionalisasikan, yaitu; diusahakan dan diawasi oleh negeri-negeri yang menang perang.
Perbudakan ekonomi yang diderita Jerman sekarang ini sudah tentu disertai dengan penindasan politik. Itu berarti bahwa di bidang politik, baik politik dalam negeri maupun politik luar negeri Jerman harus tunduk pada kehendak negeri-negeri yang menang perang. Hanya Pemerintahan semacam itulah di Jerman sekarang ini yang mungkin melaksanakan dengan patuh ketentuan-ketentuan dalam rencana Dawes.
Rencana Dawes bukan saja menjamin besarnya pembayaran hutang kepada negeri-negeri sekutu, akan tetapi juga bermaksud membunuh industri-industri dan perdagangan Jerman. Jerman tidak diperbolehkan menghasilkan barang-barang dagangan yang lebih baik dan lebih murah daripada barang-barang dagangan negeri sekutu, sebagaimana halnya sebelum terjadi perang besar (Perang Dunia 1914-1918).
Karena peperangan, maka Jerman kehilangan semua tanah jajahannya dan karenanya ia juga kehilangan pasaran untuk hasil-hasil pabrik dan bahan-bahan mentah untuk pabriknya, ditambah pula dengan hancurnya atau dirampasnya kapal-kapal niaganya baginya sangat berat untuk membangun kembali industrinya tanpa bantuan dari luar, terutama dari Amerika. Di pihak lain Jerman sekarang buat sementara waktu tidak merupakan saingan negeri-negeri sekutu di tanah jajahan (Indonesia, India dsb) dan di negeri-negeri setengah jajahan (Tiongkok, Persia, dan Turki). Sekarang kita dapat mengetahui dengan jelas, bahwa di negeri-negeri ini semua pengaruh Amerika sangat pesat perkembangannya.
Mengalirnya modal dari negeri yang kaya-raya seperti Amerika ke negara-negara yang menang dan kalah perang (Eropa) dan ke negeri-negeri setengah jajahan (Asia), di mana kapitalisme masih berada pada tingkat permulaan dan dimana ada kemungkinan untuk berkembang lebih lanjut, mengalirnya kapital yang berlebih-lebihan ini ke negeri-negeri yang menderita kekurangan menimbulkan pertanyaan di kalangan revolusioner kita sendiri :”Apakah tidak mungkin tahun-tahun krisis ini diikuti dengan satu masa damai (Pasifistische periode) yaitu perkembangan kapitalisme dnegan damai, sebagaimana yang telah terjadi pada akhir pertengahan abad yang lalu ? “ (ini berarti, bahwa jatuhnya kapitalisme tidak perlu terjadi sekarang ini, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi).
Pertanyaan ini tidak bisa kita jawab hanya dengan ya atau tidak. Di barisan kita sendiri seorang sejajar Trotsky menegaskan, bahwa masa damai itu mungkin ada. Di pihak lain terdapat cukup alasan yang meramalkan bahwa kapitalisme dunia segera akan runtuh. Karena adanya ratusan kemungkinan yang menyetujui dan menentang ramalan akan adanya masa damai, kita seharusnya jangan tenggelam dalam kemungkinan-kemungkinan itu.
Jika kita sekarang menyusun neraca politik, kita harus berkata, bahwa kemungkinan akan berhasilnya suatu pukulan umum tehadap kapitalisme dunia tidak begitu besar daripada tahun-tahun pertama sesudah Revolusi Rusia pada tahun-tahun 1918-1919-1920. Terangkan sudah, bahwa kita pada masa sekarang ini tidak lagi dalam keadaan offensif (menyerang, akan tetapi dalam defensif, mempertahankan diri). Karena pada bulan Oktober 1923 kita tidak mempergunakan kesempatan memukul hancur borjuasi Jerman, maka borjuasi Jerman kemudian melakukan offensif (serangan) dan partai kita di Jerman dipaksa bekerja di bawah tanah. Juga di Italia dimana teror fasis masih tetap berlaku, partai kita terus harus bekerja di bawah tanah. Di Inggris di mana partai kita yang masih muda pada beberapa tahun yang akhrinya mendapat kemajuan. Pemerintah Sosial Demokrat dari Mac Donald diganti oleh pemerintahan konservatif dari Ludwin. Juga di mana kaum buruh buat sementara waktu harus mundur terhadap reaksi. Di India, negeri tempat bergantung mati hidupnya Imperialisme Inggris, pergerakan non-kooperasi yang dipimpin oleh Gandhi pada tahun 1920-1922 telah dapat menggerakkan jutaan orang yang tertindas dalam suatu demonstrasi, sekarang menjadi pergerakan parlementer yang tenang “tenang dalam tubuh Partai Swaraj”.
Terhadap gejala-gejala yang membela akan ada satu masa damai, timbul kekuatan yang tiap waktu dapat menghancurkan impian-impian akan adanya perkembangan kapitalisme dengan damai yang senantiasa nampak makin jelas. Salah satu dari kekuatan-kekuatan itu yang senantiasa mengancam hendak menghancurkan kapitalisme dunia ialah “Persaingan” (Pertentangan) antara berbagai negeri kapitalisme sendiri. Pertentangan antara kapitalisme Inggris dan Perancis nampak lebih mendalam daripada apa yang kita dapat lihat sepintas lalu.
Tak dapatlah dibantah, bahwa pertentangan ekonomis dan politik antara dua negeri imperialis itu akan menyebabkan perang baru. Jerman yang sekarang menjadi salah satu negeri setengah jajahan yang tertindas, dengan wajar mengharap dapat mempergunakan tiap kesempatan yang baik untuk membebaskan diri dari belenggu yang mengikatnya. Kesempatan itu bisa didapatkan, jika persatuan antara negeri-negeri sekutu terpecah-belah karena pertentangan-pertentangan yang tumbuh dikalangan sendiri. Juga di Timur Jauh persaingan antara berbagai imperialis makin tajam. Jepang yang merasa dirinya terancam oleh persekutuan Inggris-Amerika telah jatuh dalam pelukan lawannya yang terbesar yaitu “Soviet Uni”. Pertentangan-pertentangan antara negeri-negeri kapitalis, baik yang ada di Eropa sendiri, maupun di pasaran (Asia) setiap waktu dapat menimbulkan perang dunia baru. Pembangunan pangkalan armada di Singapura yang sekarang di teruskan penyelesaiannya oleh pemerintah konservatif Inggris, pameran perang-perangan di Lautan Teduh dengan maksud mengeratkan kerjasama antara armada-armada Amerika, Inggris, dan Belanda, untuk menghadapi kemungkinan perang antara Amerika dan Jepang. Perbaikan angkatan darat dan angkatan laut di Jepang dengan tergopoh-gopoh, semua itu memperkuat dugaan akan adanya perang dunia baru di Lautan Teduh yang lebih dahsyat dan lebih mengerikan daripada perang dunia akhir-akhir ini.
Pertentangan nasional dari berbagai negeri-negeri kapitalis di dunia yang terpaksa harus melakukan imperialisme dan perang imperialisme, bukanlah pertentangan satu-satunya. Perkembangan kapitalisme membawa pertentangan yang tak dapat didamaikan antara borjuis dan buruh, yaitu pertentangan kasta, yang setiap waktu akan menghancurkan sistem kapitalisme dan membangun sistem baru di atas puing-puing reruntuhannya.
Proletariat dunia yang karena jumlahnya dan setia kawannya sekarang secara organis nampak tersusun lebih kuat dari pada borjuis dunia, pada masa sekarang ini jauh lebih siap untuk merubah tiap-tiap perang imperialis menjadi perang kasta.
Tak dapat disangkal, bahwa sikap proletar dunia dalam menghadapi kemungkinan perang dunia sekarang akan berbeda daripada sebelum 1914. Kaum sosial demokrat yang dulu menyerahkan kaum buruh kepada kaum borjuis untuk dijadikan umpan meriam, dikemudian hari akan tak mampu lagi menipu dan mengkhianati kaum buruh. Jika di masa sebelum perang dunia belum terdapat satu partai komunis yang tersusun rapi, sekarang Internasionale ke-3 telah mempunyai seksi-seksi revolusionernya hampir di semua negeri di dunia. Pada masa sekarang ini kaum buruh Eropa Barat di bawah pimpinan Sarekat Sekerja International Amsterdam (beraliran sosial demokrat) sedang melakukan perundingan dnegan Sarekat Sekerja Internasional Moskow. Dengan perundingan ini akan tercipta satu persatuan dari kedua Internasionale itu yang akan mewujudkan satu kekuatan dunia yang belum pernah ada di dunia. Jika persatuan ini telah dapat terbentuk, maka runtuhnya kapitalisme dunia lebih psati daripada yang sudah-sudah.
Bila kapitalisme dunia akan runtuh, kita tak dapat meramalkan dan ramalan itupun tak perlu. Komunisme tidak didasarkan atas lelamunan teosofi. Kaum komunis menyiapkan diri untuk berjuang dan melakukan perjuangan itu bukannya karena mereka percaya pada komunisme sebagai satu kegaiban dunia, akan tetapi karena menurut materialisme dialektika Marx, yakni perjuangan kasta, yang telah dapat membawa peri penghidupan yang semula sangat primitif kepada tata hidup kapitalisme dengan mutlak harus membawa peri penghidupan masyarakat kita dewasa ini kepada bentuk yang lebih tinggi, yaitu komunisme.
Kita, kaum komunis janganlah agaknya sangat asyik memikirkan persoalan tentang ada dan tidaknya kemungkinan masa damai dan kemungkinan lamanya masa damai. Kita tak boleh merasa pesimis, pun tak boleh merasa optimis, karena kedua perasaan itu akan mudah membawa kita kepada oportunisme.
Adalah kewajiban kita membentuk di mana-mana Partai Komunis (Partai Rakyat Pekerja) dan memperkuatnya, membawa massa yang mendertia di bawah pimpinan kita dan akhirnya memperkuat ikatan dan setia-kawan internasional.
Jika nanti waktu untuk bertindak bagi kita telah datang baik nasional maupun internasional, maka tiap-tiap komunis dan tiap-tiap seksi Internasionale ke-3 harus mengetahui tugas-tugasnya masing-masing yang harus dilakukan.

BAB II
SITUASI DI INDONESIA
Jika kita bayangkan kapitalisme sebagai satu gedung dan negeri-negeri di dunia adalah tiap-tiap yang mendukung gedung itu, maka Indonesia merupakan salah satu dari tiang-tiang itu. Kita mengetahui sebelumnya bahwa lambat atau cepat gedung itu sekali waktu akan runtuh seluruhnya. Akan tetapi wujud dan luas runtuhannya serta cara bagaimana runtuhnya, hanya praktek yang akan menentukan. Sangat mungkin bahwa semua tiang akan serentak tumbang dan bersama-sama dengan itu juga robohlah seluruh bangunan. Akan tetapi mungkin juga bahwa tiap-tiap itu tidak tumbang serentak, tetapi berurutan, tiap-tiap kali tiang tumbang membawa sebagian dari bangunan itu roboh. Gelombang ekonomi politik yang menggelora di seluruh dunia sehabis perang dunia, hampir-hampir melompat jatuhkan bangunan kapitalisme dunia yang telah goyah. Salah satu dari tiang-tiang yang sangat lapuk, yaitu kapitalisme Rusia, tak dapat bertahan diri dan roboh. Kerobohannya ini hampir-hampir menyebabkan runtuhnya bangunan seluruhnya. Akan tetapi ketika borjuis dunia dalam keadaan gelisah, ketika proletariat dunia hendak memberi pukulan yang menentukan kepadanya, ketika itulah datang budak-budaknya, yaitu kaum sosial demokrat, untuk menahan jatuhnya bangunan kapitalisme dengan dukungan akum buruh dan memberi kesempatan kepada borjuasi memperbaiki bangunan itu sedapat mungkin. Jatuhnya kapitalisme Rusia karenanya tidak diikuti oleh kapitalisme di negeri-negeri lain. Akan tetapi pekerjaan tambal sulam kaum sosial demokrat tidak akan mampu menghalangi keruntuhan bangunan yang lapuk di dalam itu untuk selama-lamanya.
Kami kaum komunis Indonesia tak akan dapat menggantungkan politik kami melulu pada pengharapan, agar negeri-negeri kapitalis di dunia runtuh lebih dahulu. Jika kapitalisme kolonial di Indonesia besok atau lusa jatuh, kita harus mampu menciptakan tata tertib baru yang lebih kuat dan sempurna di Indonesia.
Kebobrokan kapitalisme kolonial Belanda nampak makin lama makin terang. Kapitalisme Eropa dan Amerika didukung oleh kaum sosial demokrat. Di tanah-tanah jajahan seperti : Mesir, India, Inggris, dan Filipina imperialisme yang sedang goyah didukung oleh borjuis nasional. Tetapi di Indonesia tak ada sesuatu yang berarti yang mampu menolong menegakkan kembali imperialisme Belanda yang sedang goyah.
Pertentangan antara rakyat Indonesia dan imperialisme Belanda makin lama makin tajam. Penderitaan massa bertambah pesat. Harapan dan kemauannya untuk merdeka berlangsung bersama-sama dengan penderitaannya. Politik revolusioner merembes di antara rakyat Indonesia makin lama makin meluas. Pertentangan yang makin tajam antara yang berkuasa dan yang dikuasai menyebabkan pihak yang berkuasa menjadi kalap dan melakukan tindakan-tindakan sewenang-wenang.
Suara merdu politik etis sekarang diganti dengan suasana tongkat karet yang menjemukan dan gemerincing pedang di Bandung, Sumedang, Ciamis, dan Sidomulyo. Imperialime Belanda telah melampaui batas poltiik etis. Pelaksanaan politik tongkat karet dan pistol diresmikan dengan darah dan jiwa proletar. Rakyat Indonesia di bawah ancaman dan siksaan di luar batas prikemanusiaan tetap menuntut hak-hak kelahirannya ialah hak-hak yang semenjak puluhan tahun yang lalu telah diakui di Eropa dan Amerika, tetapi oleh imperialisme Belanda dijawab dengan tindakan-tindakan biadab. Teranglah sudah bahwa tongkat karet dan pistol tak akan mampu mengundurkan rakyat yang sedang melangkah maju.
Topeng reaksi sekarang telah jatuh. Rakyat Indonesia sekarang telah yakin, bahwa tak dapatlah diharapkan sesuatu pun dari pemerintah imperialisme. Kita mengetahui, sekali pun para reaksioner menyambut baik tindakan-tindakan kekerasan G. G Fock tetapi orang penguasa sendiri dibalik layar akan berunding dan saling bertanya : “Mengapa rakyat sekarang berbeda dari beberapa tahun yang lalu”.
Politik apakah yang harus kita lakukan pula sekarang ? Lebih dari 300 tahun imperialisme Belanda melakukan politik “gertakan” dan “tindakan”. Belum pernah politik semacam itu oleh rakyat Indonesia yang sabar disambut dengan terang-terangan dan sewajarnya, sebagaimana telah terjadi pada 1 Februari tahun ini. Pemberontakan-pemberontakan yang telah terjadi di semua bagian daerah Indonesia selama 300 tahun, yang telah mengorbankan beribu-ribu jiwa orang-orang Indonesia, pemberontakan Diponegoro, Aceh, Toli-toli, dsb, tak dapat kita persamakan dengan apa yang terjadi di Priangan dan Madiun. Bukan karena sumpah, jimat, suara gaib atau segala kegelapan-kegelapan feodal yang salam ini menjadi sandaran hidup rakyat “Priangan” akan tetapi karena hak-hak yang nyata dan wajar sebagai manusia yang mendorong mereka mengorbankan jiwanya unutk mendapatkan hak-hak itu. Maka tak heranlah kita, jika pihak yang berkuasa pada masa ini, berkata kepada diri sendiri “Orang Indonesia tak dapat lagi digertak dan ditindas”/ kita hanya dapat menambahkan “Selamat jalan jiwa-jiwa budak dan ……..buat selama-lamanya”.
Di belakang layar orang-orang pemegang kekuasan juga akan merundingkan cara-cara untuk menghapus pertentangan yang tajam dengan rakyat Indonesia. Sebab lebih dari yang sudah-sudah, maka ucapan Multatuli akan lebih lantang bergema dikupingnya : “ Jika setiap orang Jawa meludah ke tanah, maka mati tenggelamlah orang-orang Belanda”. Karenanya juga akan dibicarakan cara memperbaiki keadaan ekonomi rakyat. Bersamaan dengan itu juga akan dirundingkan kemungkinan memberi hak-hak politik lebih banyak kepada golongan orang Inodnesia tertentu. Akan tetapi dengan mengenal susunan sosial-ekonomi Indonesia kita kaum komunis dnegan tegas dapat mengatakan, bahwa pemegang kekuasaan itu tak akan dapat selangkah keluar dari lingkungan sempit birokrasinya.
Sebab bagaimana imperialisme Belanda dengan seketika dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah berlangsung berabad-abad dengan serentak.
Di India-Inggris umapamanya, di mana sejak bertahun-tahun telah ada industri nasional yang kuat, di sana dapat diadakan jembatan untuk menghubungkan pertama-tama modal Inggris dengan modal nasional, kemudian menghubungi jurang yang curam antara politik imperialisme dan politik nasional. Tetapi politik imperialisme Belanda sejak semula ditujukkan pada penghancuran industri kecil dan perdagangan kecil nasional teristimewa di Jawa. Penghancuran itu dapat terlaksana, jika orang yakin, dapat mempergunakan modal Tionghoa sebagai alat untuk memisahkan rakyat Indonesia dari rakyat Belanda. Semua industri milik suku Jawa mati tak lama sesudah imperialisme Belanda mulai masuk. Dengan matinya industri suku Jawa itu mati jugalah kerajinan dan inisiatif suku Jawa, yang mempunyai kemampuan yang diperlukan untuk membangun industri nasional modern yang berdasar persaingan dan hak milik perseorangan. Karenanya imperialisme Belanda pada masa ini dengan sungguh-sungguh tidak mengharapkan mendapatkan titik pertemuan untuk suatu kompromi ekonomi dengan orang-orang Indonesia. Berhubung dengan itu suatu kompromi dalam politik akan merupakan sesuatu yang tidak tegas. Menambah jumlah anggota Volksraad dengan dua atau tiga orang Indonesia lagi, atau memberikan konsensi politik lebih banyak kepada orang Indonesia akan hanya berarti satu tetes air saja diatas besi yang membara. Memang teranglah, bahwa krisis Indonesia bukannya hanya krisis politik, seperti di Mesir, India-Inggris dan Filipina, akan tetapi juga terutama adalah krisis ekonomi. Krisis ekonomi ini tak akan dapat disembuhkan dalam beberapa tahun.
Pun seandainya dokter Morgan berkehendak menyembuhkan imperialisme Belanda dengan memberi pinjaman uang kepadanya, akan masih ada pertanyaan, apakah ia akan mampu membangkitkannya dari tempat tidurnya. Indonesia bukan Austria, Polandia atau Jerman, di mana Morgan telah menunjukkan daya sembuhnya yang mengagumkan. Negeri-negeri Eropa tersebut hanya membutuhkan modal. Tetapi pabrik-pabrik, mesin-mesin, buruh ahli dan tidak ahli sangat cukup adanya. Indonesia yang mempunyai penduduk yang tahun baca-tulis 5-6 % saja, yang selama ratusan tahun ditindas dan dihisap, dan kepentingan-kepentingan sosial penduduk tidak diperhatikan sama sekali., tentu tak akan mungkin menciptakan tenaga-tenaga teknis yang cakap dalam beberapa tahun yang diperlukan untuk membangun industri-industri baru (industri-industri logam dan tekstil) yang akan sanggup berhasil baik menyaingi barang-barang barat. Karenanya Morgan tak akan meminjamkan uangnya begitu saja kepada imperialisme Belanda.
Sudah tentu Amerika suka menanamkan modalnya di Indonesia, tetapi hanya di perusahaan-perusahaan yang akan dapat segera menghasilkan keuntungan dengan cepat yang akan dapat memenuhi keuntungan secara langsung, seperti dalam perusahaan minyak atau karet. Akan tetapi pada masa sekarang ini terdapat over produksi karet kecuali itu Amerika telah mempunyai cukup perkebunan karet di Indonesia, sehingga tak perlu memikirkan membuka perkebunan karet baru. Mengenai minyak kita masih ingat, bahwa Colyn telah menyerahkan semua tambang minyak di Jambi kepada Maatschappiy minyak Inggris dan Belanda, yaitu de Koninklijke sebagai monopoli.
Karena imperialisme Belanda tak akan mungkin mendekati rakyat Indonesia dengan memberikan konsesi politik dan ekonomi, ia harus melakukan politik biadab yang lama, warisan dari Oost Indische Compagnie. Angkatan darat dan laut harus diperkuat. Ini adalah jawaban satu-satunya yang tinggal terhadap rakyat Indonesia yang senantiasa bertambah melarat yang makin bertambah gigih berani mempertahankan tuntutan hak-haknya sepenuhnya.
Marx pernah berkata : “Proletariat tak akan kehilangan sesuatu miliknya, kecuali belenggu budaknya”. Kalimat ini dapat kita gunakan di Indonesia lebih luas. Disini anasir-anasir bukan proletar berada dalam penderitaan yang sama dengan buruh industri, karena di sini tak ada industri nasional, perdagangan ansional. Dalam bentrokan yang mungkin terjadi antara imperialisme Belanda dan rakyat Indonesia tak seorang Indonesia pun akan kehilangan miliknya karena bentrokan itu. Di Indonesia kita dapat serukan kepada seluruh rakyat : “Kamu tak akan kehilangan sesuatu milikmu kecuali belenggu budakmu”.

BAB III
TUJUAN PKI
Tujuan partai-partai komunis dunia ialah menggantikan sistem kapitalisme dengan komunisme. Waktu terpukul hancurnya kapitalisme, dan terpukul jatuhnya borjuasi belumlah mewujudkan komunisme. Antara kapitalisme dan komunisme ada satu masa peralihan. Dalam masa peralihan ini, proletariat melakukan diktator atas borjuasi. Ini berarti bahwa proletariat dunia memaksakan kehendaknya atas borjuasi dunia yang berulangkali mencoba mendapatkan kembali kekuasaan politik dan ekonomi yang hilang, agar dapat mempergunakan kembali alat-alat pemeras dan penindasnya. Dalam masa penindasan itu, negeri-negeri kapitalis alat-alat penindasan borjuasi dunia diganti dengan negeri-negeri Soviet. Soviet adalah perwujudan diktator proletariat. Tujuan Soviet ialah menghapuskan kapitalisme dan mempersiapkan tumbuhnya komunisme.
Negara Soviet sebenarnya belum mewujudkan komunisme. Untuk mecapai komunisme orang harus melalui jalan yang lamanya mungkin puluhan tahun. Permulaan komunisme yang tulen berarti berakhirnya Negara Soviet. Negara Soviet akan berhenti sebagai negara, yaitu sebagai alat penindas dari proletariat, jika orang-orang borjuasi sebagai pemeras dan penindas telah dibasmi atau berubah menjadi anggota pekerja masyarakat komunisme.
Di masa kekuasaan diktator proletariat, maka industri besar yaitu industri-industri yang cukup terpusat, dinasionalisi. Itu berarti bahwa industri-industri itu diserahkan kepada negara proletar. Dengan nasionalisasi industri-industri besar, hak milik perseorangan tak berlaku lagi dan diganti dengan hak milik komunal. Dengan demikian juga akan hapuslah anarkisme dalam produksi, yaitu : menghasilkan barang keperluan hidup yang satu sama lain tidak ada sangkut pautnya sebagaimana yang terjadi dalam masyarakat kapitalis. Sebagai gantinya diadakanlah rasionalisasi, yaitu menghasilkan barang-barang keperluan hidup menurut kebutuhan masyarakat. Dengan hapusnya hak milik perseorangan dan anarki dalam produksi, persaingan juga akan hapus. Berhubungan dengan itu juga akan lenyaplah kata-kata yaitu : Kasta Proletar dan Kasta Borjuasi.
Dengan hapusnya persaingan juga tak akan berlaku lagi politik imperialisme, yaitu politik modal bank sesuatu negara kapitalis untuk merampas negara-negara yang dibutuhkan sebagai pasaran kelebihan hasil pabriknya, dan selanjutnya untuk mendapatkan bahan-bahan mentah bagi industri-industrinya serta penanaman kelebihan modalnya.
Jika imperialisme tak ada lagi, perang imperialis pun tak akan ada. Pendek kata dalam masyarakat komunis akan hapuslah adanya hak milik perseorangan, anarki dalam produksi, persaingan, kasta-kasta, imperialisme dan peperangan imperialis. Sebagai gantinya tersusunlah hak milik bersama, produksi rencana, penukaran produksi dengan sukarela dan internasionalisme, yaitu perdamaian, kerjasama dan persaudaraan antara berbagai bangsa di dunia.
Apa yang diuraikan di atas adalah teori komunis yang bisa menjadi kenyataan jika kapitalisme dunia jatuh serentak, sebagaimana yang hampir-hampir terjadi pada tahun-tahun pertama sesudah revolusi Bolshevik pertama di Rusia. Karenanya Soviet Uni pada permulaan revolusi segera disusun atas dasar proletar yang agak tulen. Bukankah pengkhianatan kaum sosial demokrat yang hingga sekarang dapat menghalangi keruntuhan umum kapitalisme yang memaksa bolshevik mengadakan langkah mundur pada tahun 1921. Langkah mundur ini harus diterima dalam arti ekonomi dan taktik. Dalam arti ekonomi karena Negara Soviet mengijinkan berlakunya kembali hak milik perseorangan kepada petani-petani yang merupakan 80 % dari jumlah penduduk Rusia dan kepada borjuis-borjuis kecil di kota-kota, dan bersamaan dengan itu melakukan perdagangan dengan penghasilan barang dagangan atas dasar kapitalisme. Tapi langkah ini ternyata perlu karena perusahaan-perusahaan kecil yang belum cukup adanya pemusatan teknis dan administratif dan mula-mula juga dinasionalisi, menumbuhkan birokrasi yang maha besar. Karena sekarang hak milik perseorangan dan perdagangan para petani-petani dan perusahaan-perusahaan kecil diijinkan, lenyaplah serentak birokrasi dan ekonomi Rusia dapat berjalan lebih lancar. Kenyataan yang terakhir ini menunjukkan keuntungan politik yang banyak tak terduga, karena dengan demikian petani-petani dapat ditarik dalam barisan pendukung Negara Buruh.
Politik Ekonomi Buruh sebagaimana orang menamakannya tak akan terbatas khusus para Rusia yang terbelakang. Juga di negeri-negeri yang murni kapitalistis seperti Jerman, Inggris dan Amerika dimana + 75 % dari penduduknya menjadi buruh, adanya hak milik perseorangan dan perdagangan pada borjuis kecil dan golongan petani adalah suatu keharusan. Terutama di Indonesia politik ekonomi baru itu mempunyai arti yang sangat besar. Kapitalisme Indonesia adalah kapitalisme kolonial dan tidak akan tumbuh secara tersusun dari masyarakat Indonesia sendiri, sebagaimana halnya dengan kapitalisme Eropa. Ia dipaksakan dengan kekerasan oleh suatu negeri imperialis Barat dalam masyarakat feodal Timur, untuk kepentingan-kepentingan negeri Barat.
Kapitalisme Indonesia masih dalam taraf permulaan perkembangannya. Industri-industri besar seperti industri-industri untuk membikin mesin-mesin, lokomotif-lokomotif dan kapal, malah industri-industri yang sangat penitng, seperti tekstil, masih belum ada. Berhubung dengan itu proletariat Indoensia berada lebih rendah daripada proletariat Eropa Barat dan Amerika. Diktator Proletariat yang tulen akan dapat membahayakan prikehidupan ekonomi di Indonesia, terlebih jika revolusi dunia tak kunjung datang. Akibatnya daripada itu bagian yang terbesar daripada penduduk, yaitu orang-orang yang bukan proletar, sangat mudah dihasut melawan buruh Indonesia yang kecil jumlahnya.
Untuk menjamin pripenghidupan ekonomi di Indonesia dalam kemerdekaan nasional yang mungkin datang, kepada penduduk yang bukan proletar harus diberikan kesempatan (dalam jatah yang terbatas) mengusahakan hak milik perseorangan dan perusahaan-perusahaan kapitalisme. Lebih daripada itu, negeri harus memberikan kepadanya bantuan baik materiil maupun moril, untuk mempertinggi produksinya. Sudah barang tentu, perusahaan-perusahaan besar harus segera dinasionalisi. Dengan demikian kegiatan ekonomi rakyat dapat diperkembang tanpa kekuatiran akan datangnya kasta-kasta atau golongan lainnya. Dengan demikian pertimbangan ekonomi antara proletar dan bukan proletar dapat dicapai dan dipertahankan.
Apabila perimbangan ekonomi telah tercapai, maka perimbangan politik akan menyusul dan dengan sendirinya. Sudah semestinya, buruh Indonesia sebagaimana halnya dalam ekonomi jalan politik tak boleh melangkah lebih jauh. Malah jika nanti buruh dalam perjuangan kemerdekaan nasinal dapat bagian yang maha besar, malah mereka tak boleh sama sekali mengabaikan adanya orang-orang bukan proletar dalam perjuangan mendapatkan bagian yang sama besarnya atau lebih, di Indonesia sistem Soviet yang tulen buat sementara waktu masih belum dapat direncanakan. Memang kita harus selalu ingat, bahwa buruh menurut kualitas dan kuantitasnya ada rendah, sedangkan orang-orang bukan proletar dalam jumlah besarnya dan objektif dan revolusioner, yang kecuali itu hampir semuanya tergoloong pada pemilik kecil. Karenanya dalam “Indonesia Merdeka” cara bagaimanapun kepara orang-orang bukan proletar harus diberikan kesempatan mengeluarkan suaranya. Akan tepat adanya, jika buruh dalam perang kemerdekaan nasional yang mungkin datang, mewujudkan barisan pelopor daripada seluruh rakyat, maka perusahaan-perusahaan besar akan jatuh ditangannya dan selaras dengan itu kekuasaan politik. Perimbangan politik dengan orang-orang bukan proletar akan mudah dapat diciptakan, yang mana akan sangat penting adanya bagi Indonesia Merdeka.
Apabila neraca nasional baik ekonomi maupun politik telah tercapai, maka Indonesia selanjutnya akan dapat berkembang di lapangan ekonomi dan politik! Kecepatan menuju ke arah Negara Soviet yang tulen dan selanjutnya ke arah komunisme tergantung kepada keadaan internasional dan lebih lanjut pada perkembangan industri di Indonesia sendiri.

PROGRAM NASIONAL PKI
A.    EKONOMI.
1.    Menasionalisi pabrik-pabrik dan tambang-tambang seperti tambang arang batu, timah, minyak dan tambang emas.
2.    Menasionalisi hutan-hutan dan perusahaan-perusahaan modern seperti perusahaan gula, karet, teh kopi, kina, kelapa, nila dan tapioka.
3.    Menasionalisi perusahaan-perusahaan lalulintas dan angkutan.
4.    Menasionalisi bank-bank, perusahaan-perusahaan perseorangan dan maskapai-maskapai perniagaan besar lainnya.
5.    Me-elektrifisir Indonesia dengan membangun indsutri-industri baru dengan bantuan negara seperti pabrik-pabrik mesin dan tekstil dan galangan pembikinan kapal.
6.    Mendirikan koperasi-koperasi rakyat dengan bantuan kredit yang murah dari negara.
7.    Memberikan bantuan hewan dan alat-alat kerja kepada kaum tani untuk memperbaiki pertaniannya dan mendirikan kebun-kebun percobaan negara.
8.    Pemindahan penduduk besar-besaran biaya negara dari Jawa ke daerah-daerah luar Jawa.
9.    Pembagian tanah-tanah yang tidak ditanami antara petani-petani melarat dan yang tidak mempunyai tanah dengan bantuan uang mengusahakan tanah-tanah itu.
10.    Menghapuskan sisa-sisa feodal dan tanah-tanah partikelir dan membagikan yang tersebut belakangan ini kepada petani melarat dan proletar.
B.    POLITIK.
1.    Kemerdekaan Indonesia dengan segera dan tak terbatas.
2.    Membentuk republik federasi dari pebagai pulau-pulau Indonesia.
3.    Segera memanggil rapat nasional dan yang mewakili semua rakyat dan agama di Indonesia.
4.    Segera memberi hak politik sepenuhnya kepada penduduk Indonesia baik laki-laki maupun wanita.
C.    SOSIAL.
1.    Gaji minimum, kerja 7 jam dan perbaikan jam kerja dan penghidupan buruh.
2.    Perlindungan kerja dengan pengakuan hak mogok di antara buruh.
3.    Pembagian keuntungan bagi buruh di industri-industri besar.
4.    Membentuk majelis-majelis buruh di Industri-industri besar.
5.    Pemisahan gereja dan negara dan mengakui kemerdekaan agama.
6.    Memberikan hak-hak sosial, ekonomi, dan politik kepada semua warga negara Indonesia baik laki-laki maupun wanita.
7.    Menasionalisasi rumah-rumah besar dan membangun rumah-rumah baru dan distribusi rumah-rumah antara buruh negara.
D.    PELAJARAN DAN PENDIDIKAN.
1.    Wajib belajar bagi anak-anak semua warga negara Indonesia dengan Cuma-Cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama.
2.    Menghapuskan sistem pelajaran sekarang dan menyusun sistem yang langsung berdasarkan atas kepentingan-kepentingan Indonesia yang sudah ada dan yang akan dibangun.
3.    Memperbaiki dan memperbanyak jumlah sekolah-sekolah kejuruan, pertanian, dan perdagangan dan memperbaiki dan memperbanyak jumlah sekolah-sekolah bagi pegawai-pegawai tinggi di lapangan teknik dan administrasi.
E.    MILITER.
1.    Menghapuskan tentara imperialis dan mengadakan milisi rakyat untuk mempertahankan Republik Indonesia.
2.    Menghapuskan kehidupan di kamp-kamp (tangsi-tangsi) dan semua UU yang merendahkan militer rendahan mengijinkan bertempat di kampung-kampung dan di rumah-rumah baru yang dibangun untuk mereka, perlakuan lebih baik dan mempertinggi gaji mereka.
3.    Memberikan hak sepenuhnya untuk mengadakan organisasi dan rapat kepada militer Indonesia.
F.    POLISI.
1.    Pemisahan pangreh praja, polisi, dan justisi.
2.    Memberikan hak-hak sepenuhnya kepada tiap-tiap terdakwa unutk melindungi diri menentang hakim di muka pengadilan, dan membebaskan terdakwa dalam waktu 24 jam jika bukti dan saksi-saksi bagi mereka ternyata cukup.Tiap-tiap perkara yang mempunyai dasar hukum, harus diselesaikan dalam waktu lima hari yang sesuai tertib dan di muka umum.
G.    RENCANA AKSI.
1.    Menuntut 7 jam kerja, gaji minimum dan syarat-syarat kerja dan penghidupan yang lebih baik bagi buruh.
2.    Mengakui Sarekat Sekerja dan hak mogok.
3.    Organisasi dan petani untuk hak-hak ekonomi dan politik.
4.    Penghapusan peenalo sanctie.
5.    Menghapuskan hukum-hukum dan undang-undang untuk menindas pergerakan politik, seperti hak-hak pemerintah untuk :
1.    Mengasingkan tiap-tiap orang yang dipandang berbahaya bagi pemerintah.
2.    Melarang pemogokan.
3.    Melarang dan membubarkan rapat-rapat.
4.    Melarang penyiaran pers.
5.    Melarang memberikan pelajaran-pelajaran dan pengakuan sepenuhnya atas kemerdekaan bergerak.
6.    Menuntut hak berdemonstrasi, demonstrasi massa di seluruh Indonesia melawan penindasan ekonomi dan politik seperti : pajak pembebasan dengan segala tawanan politik dan pengembalian orang buangan politik, massa aksi yang mana harus diperkuat dengan pemogokan umum dan melawan pemerintah.
7.    Menuntut hapusnya Volksraad, Raad van Indie dan Algemeene Secretaris dan pembentukan Majelis Nasional (National Assembly) dari mana nanti akan dipilih Badan Pelaksana yang bertanggung jawab kepara Majelis Nasional.

KETERANGAN PENDEK
TENTANG PROGRAM
Belum ada sesuatu partai politik di Indonesia yang begitu jauh telah mengumumkan programnya. Baik partai dari intelektuil-intelektuil seperti Budi Utomo dan Nasional Indische Partij maupun massa Partai Sarekat Islam dapat menyusun dengan pendek tuntutan-tuntutan ekonomi dan politiknya. Mereka berpegang teguh pada perkataan merdeka yang sama. Mereka tak pernah mengupas keadaan ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia. Karenanya mereka juga tak pernah sampai pada programnya, sebab suatu program bukannya hanya satu “daftar keinginan”, akan tetapi harus didasarkan atas susunan sosial ekonomi sesuatu negeri.
Juga Partai Komunis Indonesia belum pernah menyusun apa yang ia sebenarnya mau-kan sekarang di bawah imperialisme, dan sesudah hapusnya imperialisme. Sudah tepat pada waktunya kita kerjakan sekarang. Bukannya karena program adalah segala sesuatunya! Tidak, tak ada sesuatu program revolusioner yang berarti, jika tak ada pergerakan revolusioner. Akan tetapi juga, jika tiap-tiap gerakan revolusioner yang tak mempunyai dasar teori yang nyata dan tujuan revolusioner yang tersusun tegas (yaitu suatu program) akan tak berdaya suatu apa dan akan menjadi alat kapitalisme. Sebagai bukti dapat kita ambil sebagai contoh : BU, NIP, dan SI. Ketiga-tiganya setidak-tidaknya pada permulaan adalah revolusioner. Akan tetapi tak ada satu yang bisa menyusun revolusionernya. Memang pemimpin dan disiplin menyebabkan juga keruntuhan partai-partai ini, akan tetapi sebab yang terutama ialah tak adanya tujuan yang tersusun (program) dan penguraian yang jelas tentang jalan-jalan yang harus ditempuh (taktik).
Pergerakan revolusioner di Indonesia selalu masih ada. Jika pergerakan ini hendak mendapatkan hasil, maka sekarang telah pada waktunya, kita menyusun program nasional dan mengumumkan program ini kepada seluruh rakyat.
Kita kira, program kita ini selaras dengan keadaan ekonomi sosial Indonesia, kita dapat dengan rasa berat selangkah lebih jauh dalam tuntutan kita, tanpa menyusahkan kita sendiri. Di bagian lain kita tak akan dan tak perlu mundur selangkah pun. Program ini agaknya sesuai dengan kemungkinan, baik internasional maupun nasional. Jika besok atau lusa kapitalisme dunia jatuh, sehingga rakyat Indonesia bisa mendapatkan segala bantuan lahir dan batin dengan langsung dari proletariat barat, maka program ini dapat digunakan sebagai dasar yang kuat untuk membentuk bangunan komunistis. Jika kita besok atau lusa terpaksa melakukan perjuangan nasional sendiri, maka program ini cukup mempunyai unsur-unsur untuk membangkitkan dan memusatkan tenaga-tenaga seluruh rakyat Indonesia yang sedang tidur, tenaga-tenaga yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional.
Jika kita selanjutnya mendapatkan kemerdekaan itu, kita dapat juga mempertahankannya dengan lebih baik. Dengan tenaga-tenaga yang terdapat di Indonesia kita – nanti sesudah mendapatkan kemerdekaan – dapat melangkah ke arah komunisme internasional lebih cermat dan dengan pengharapan lebih banyak.
Jika kita dapat melaksanakan program ini di Indonesia Merdeka, maka kemerdekaan semacam itu akan lebih nyata daripada yang dinamakan merdeka di banyak negara-negera modern di dunia. Buruh Indonesia akan memiliki industri-industri besar dan melakukan kekuasaan yang nyata baik dalam ekonomi maupun dalam politik negara. Penindasan dan pemerasan yang pada masa sekarang ini diderita oleh buruh-buruh Jepang, Amerika, Inggris, dll. tak akan ada lagi. Hubungan sosial antar budak dan majikan akan memberikan tempat pada persamaan dan kemerdekaan. Laba yang berjuta-juta jumlahnya yang sekarang mengalir ke dalam saku-saku lintah darat, yang bertempat tinggal Zorgvliet (Den Haag) akan dapat digunakan untuk memajukan industri Indoenesia (tekstil dan pabrik-pabrik mesin, galangan-galangan kapal dan pekerjaan-pekerjaan tenaga air). Kecuali itu laba itu akan dapat digunakan untuk bantuan keuangan pada petani-petani, pedagang-pedagang kecil, industri-industri kecil dsb. Pendek kata program kita bukan hanya meliputi perburuhan dalam arti kata yang sangat sempit, akan tetapi dalam seluruh rakyat Indonesia.
Kita berani katakan sedemikian itu, bukannya karena kita hendak menjanjikan kepada setiap orang satu surga, akan tetapi untuk kepentingan kemerdekaan sendiri! Kepentingan kemerdekaan itu menyarankan, bahwa orang-orang bukan proletar (petani-petani, pedagang-pedagang kecil, pengusaha-pengusaha kecil dan orang-orang intelek) harus juga diberikan pembagian ekonomi, jika buruh menasionalisi industri-industri besar. Karena kapital nasional sangat kecil adanya yang dapat menyebabkan adanya kekuatiran akan politik nasionalisasi buruh, dan karena lebih dari 90 % dari penduduk berada dalam mendertia dan kemelaratan, maka kerjasama antara proletar dan bukan proletar memang sangat mungkin. Dengan pembangunan industri-industri dan koperasi-koperasi negara lebih banyak, dengan bantuan negara yang nyata kepada orang-orang bukan proletar, maka lambat laun akan lenyap segala sesuatunya yang kecil untuk memberikan tempat kepada perusahaan-perusahaan besar atas dasar teknik yang lebih tinggi; milik bersama dan kerjasama. Perusahaan-perusahaan kecil harus insyaf, bahwa perusahaan negara dapat menghasilkan lebih cepat, lebih baik dan lebih murah daripada mereka.
Bilamana mereka menginsyafi ini, maka mereka akan dengan sukarela menyerahkan diri kepada perusahaan-perusahaan negara dan akan meninggalkan perusahaan kecilnya.
Jika proses ekonomi ini, yaitu peleburan perusahaan-perusahaan kecil ke dalam perusahaan-perusahaan negara yang besar dapat berjalan langsung dengan kesesuaian di Indonesia merdeka, maka politik borjuis kecil lambat laun juga akan lenyap untuk memberikan tempat kepada politik internasional buruh.
Teranglah sudah, bahwa orang-orang bukan proletar di Indonesia pada masa ini, sekalipun revolusioner nampaknya dalam politiknya adalah nasional yang sempit. Mereka hanya menginginkan penghapusan imperialisme, bukannya penghapusan milik. Akan tetapi buruh Indonesia menganggap orang-orang bukan proletar bukan sebagai lawan. Bagi Indonesia ada gejala yang menguntungkan, bahwa orang bukan proletar menyerahkan diri di bawah pimpinan buruh (bertubuh dalam PKI). Kerjasama antara proletar dan bukan proletar telah menunjukkan sebagai tenaga hidup. Di Priangan, di mana kapitalisme tidak meresap begitu dalam, di mana borjuis kecil mempunyai peranan yang menentukan, di sana orang-orang bukan proletar di bawah pimpinan kaum Komunis menunjukan keberanian dan keuletan. Kepada PKI terletak tugas membangkitkan tenaga-tenaga yang sedang tidur yang sangat banyak jumlahnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll. Berangsur-angsur SR harus menjadi organisasi dari semua musuh imperialisme. Jika penduduk di kota-kota besar di Jawa dan penduduk di luar Jawa telah menginsyafi, bahwa program PKI bertujuan mempertinggi kesejahteraan rakyat pada umumnya dan bukan mengabaikan kepentingan orang-orang bukan proletar, maka orang-orang yang tersebut belakangan ini seluruhnya akan menyerahkan diri di bawah pimpinan PKI.
Adalah kemestian sejarah, bahwa PKI harus mengambil pimpinan revolusioner. Dimana tak terdapat adanya kapital nasional, di sana kasta buruh industri – sebagai kasta yang tersusun rapi dan lebih cukup – adalah satu-satunya kasta yang mampu menciptakan organisasi ekonomi dan politik yang kuat dan menunjukkan tujuan yang jelas dan terperinci. Karena orang-orang bukan proletar di Indonesia tidak merupakan suatu pertumbuhan kasta tertentu, bagi mereka sangat sukar menyusun tujuan kasta, apalagi memberikan pimpinan yang teguh kepada rakyat Indonesia. Ini dibuktikan dengan kegagalan-kegagalan partai-partai bukan proletar seperti BU, NIP, dan SI. Jika orang-orang bukan proletar di Indonesia berkehendak berjuang untuk mencapai kemerdekaan nasional, maka mereka harus segera memperoleh bantuan buruh industri yang dengan kesadaran organisasi politik dan sarekat-sarekat sekerjanya akan mampu menghancurleburkan alat-alat politik dan ekonomi imperialis.
Juga sesudah kemerdekaan nasional tercapai kerjasama yang erat antara proletar dan bukan proletar adalah suatu syarat yang mutlak. Jika kerjasama itu terputus, terlebih-lebih jika orang-orang bukan proletar menjadi lawan buruh industri, maka kemerdekaan nasional hanya memberikan satu jalan bagi perbudakan nasional baru. Tak jauh daripada Indonesia terdapat pencuri-pencuri internasional seperti imperialis-imperialis : Inggris, Amerika, Jepang, yang nanti akan melancarkan serangan imperialisme pada tiap-tiap kesempatan yang baik. Selama Indonesia ke dalam tetap bersatu dan solider, selama itu mereka akan menangguhkan usahanya merampas Indonesia. Akan tetapi begitu lekas perpecahan di dalam, mereka akan segera mendapatkan jalan melaksanakan untuk sekian kalinya politik devide et imperanya (memecah belah rakyat dalam golongan-golongan untuk dikuasai) Indonesia terdiri dari pelbagai pulau yang berada pada pelbagai tingkatan kebudayaan, memberikan lapangan baik bagi pencuri-pencuri internasional. Daerah-daerah di luar Jawa yang bersifat sangat borjuis kecil akan mudah dapat diperalat melawan Jawa yang sangat Proletaris. Suatu keadaan seperti di Tiongkok, Mexico, dan negara-negara Amerika Selatan akan dialamai orang di Indonesia, yaitu adu domba imperialis dan perang saudara yang kronis (yang tumbuh terus-menerus pada waktu-waktu tertentu).
Hal demikian itu baru kita jaga jangan sampai terjadi! Tetapi bukannya dengan wajangan kebijaksanaan yang kosong. Hanya suatu program yang benar-benar bertujuan memperjuangkan kepentingan-kepentingan materiil seluruh rakyat dan dilaksanakan dengan jujur dapat menciptakan satu setia-kawan, satu setia kawan yang akan mampu menghancurkan imperialisme, bukan hanya demikian, akan tetapi juga menjauhkannya buat selama-lamanya dan akhirnya merintis jalan untuk komunisme internasional.
Pertanyaan, apakah kita mempunyai hak melaksanakan program serupa itu, kita hanya dapat menjawab dengan beberapa perkataan; lebih dari 300 tahun Indonesia diinjak-injak dan diperah habis-habisan, dan ribuan jiwa manusia telah dikorbankan untuk imperialisme Belanda! Ratusan juta gulden telah mengalir ke dalam saku pengguntingan-pengguntingan kupon Belanda. Dan Kapital Belanda, sebagaimana tersebut dalam program kita hendak kita nasionalisi, hanya merupakan satu bagian dari apa yang telah tercuri dari Indonesia selama 300 tahun. Demikian itu masih belum dapat juga mengganti jiwa-jiwa petani-petani dan buruh-buruh Indonesia, yang di Aceh, Jawa, Jambi dan lain-lain telah memprotes adanya rampasan dan pembunuhan.
Pertanyaan yang terakhir, ialah apakah kita akan mampu merebut kemerdekaan nasional dan mempertahankan, kita juga dapat menjawab dengan beberapa perkataan. Jika kita akan mampu menarik 50.000.000 penduduk Indonesia, untuk program kita dan jika selanjutnya PKI dan SR memiliki cukup kesadaran, disiplin dan politik, maka daya gerak rakyat yang tertindas selama 300 tahun tak akan diabaikan begitu saja..
Kecuali benarnya suatu program, sukses kita dalam perjuangan revolusioner tergantung pada benarnya taktik dan strategi kita. Dua perkataan terakhir ini tak dapat dipisahkan hubungannya satu sama lain. Kita dapat katakan, bahwa taktik adalah satu bagian daripada strategi. Taktik ada hubungannya dengan operasi revolusioner kita pada suatu tempat tertentu dan suatu waktu tertentu. Tetapi strategi adalah jumlah operasi revolusioner kita selama seluruh periode revolusioner. Pukulan taktis adalah menggunakan sebagian kekuatan kita atau suatu tujuan yang terbatas. Pukulan strategis adalah pukulan terakhir, dimana kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mendapatkan kemenangan strategis, yaitu mematahkan hubungan organisatoris musuh dan kemudian menghancurkannya.
Suatu contoh pukulan taktis adalah pemogokan VSTP pada tahun 1923 dan rapat-rapat protes di Priangan. Akan tetapi dalam kejadian-kejadian di atas kita bertindak masih agak kurang sadar. Suatu pukulan taktis yang tulen harus dilakukan dengan kesadaran yang lebih banyak dan persiapan yang lebih baik. Kecuali itu, pukulan itu bukannya dipandang sebagai pukulan yang berdiri sendiri, akan tetapi sebagai satu persiapan atau suatu bagian dari pada pukulan stategis. Pukulan-pukulan taktis di Indonesia harus banyak mendahului pukulan strategis sebelum pukulan ini dimulai.
Pukulan strategis yang menentukan dapat menjamin harapan-harapan lebih baik, jika kita dalam melancarkan pukulan-pukulan taktis dapat menunjukkan keberanian, kecakapan dan keuletan. Demikian itu tidak berarti, bahwa dalam suatu perjuangan kita harus berjuang terus sampai habis-habisan. Akan tetapi kita harus tahu melangkah kembali, di mana ternyata lawan kuat dan tahu mempergunakan kemenangan, dimana lawan pada satu bagian dari barisan-barisan terpukul. Semestinya organisasi-organisasi politik kita seperti PKI, SR dan Sarekat Sekerja kita harus masih banyak melakukan perjuangan, sebelum Staf Umum PKI dapat merencanakan pukulan strategis. Jika organisasi-organisasi politik dan ekonomi kita tersebut telah dapat menunjukkan cukup kecakapan, disiplin, kesadaran, kemauan dan kegairahan maka kemudian tiap-tiap perjuangan taktis pada tiap waktu dapat diubah menjadi perjuangan strategis.
Jika kita dapat mulai melancarkan pukulan stategis, demikian itu tidak hanya tergantung pada kualitas organisasi kita, akan tetapi juga pada keadaan ekonomi politik, baik pun di dalam maupun di luar negeri. Akan tetapi pukulan strategis itu akan mempunyai harapan lebih besar akan berhasil, jika tiap-tiap aksi politik atau ekonomi dapat kita lancarkan dengan sukses. Ini berarti, bahwa kita, seandainya kita tak mendapatkan kemenangan yang lengkap, kita sedapat mungkin dapat menghindarkan kekalahan, yang dapat melemahkan organisasi-organisasi kita buat waktu yang lama tetapi bukannya menghindarkan perjuangan dan pada buruh ditanamkan khayalan seolah-olah dalam masyarakat kapitalis perjuangan dapat dihindarkan, akan tetapi karena kegiatan persiapan dan kecakapan revolusioner. Memang benar kemenangan politik atau ekonomi dalam masyarakat kapitalis adalah relatif, akan tetapi jika kekalahan salah satu organisasi kita membikinnya tak berdaya buat waktu yang cukup lama, maka dengan sendirinya waktu untuk melancarkan pukulan strategis diperlambat. Sebaliknya jika salah satu dari organisasi politik atau ekonomi kita mendapat kemenangan taktis, maka bukan hanya organisasi yang menang itu saja yang akan mengalami akibat-akibat yang menguntungkan, akan tetapi seluruh barisan revolusioner di Indonesia. Sekarang dengan itu kepercayaan atas pimpinan, keyakinan atas kemenangan terakhir, dan kegairahan dalam perjuangan akan meningkat.
Suatu strategi perang biasa tidak sama dengan strategi revolusioner. Dalam perang biasa, baik kualitas (jenis), maupun kuantitas (jumlah) pasukan selalu hampir constant (tetap). Bagaimanapun halnya lebih sedikit mengalami perubahan-perubahan daripada pasukan revolusioner. Pada yang tersebut belakangan ini, baik jumlah maupun jenis dari pengumpulan lebih cepat mengalami pasang surut. Pasang surut ini ditentukan oleh keadaan ekonomi politik negeri. Jika seluruh rakyat hidup dalam penderitaan yang sangat sebagaimana halnya di Indonesia sekarang ini, reaksi bertindak kejam dan berpandangan sempit, maka gelombang semangat revolusioner sekonyong-konyong meningkat di seluruh negeri sedemikian rupa, sehingga staf umum revolusioner dengan mendadak mendapatkan pasukan yang besar jumlahnya, yang tak pernah dialami olehnya. Jika PKI sekarang umpamanya bisa mendapatkan 50.000-an, maka sesudah dilaksanakan Inlansche Verponding (pajak tanah bagi anak bumi) atau suatu tekanan ekonomi lainnya, akan bisa terjadi, bahwa seluruh rakyat akan bernaung di bawah bendera komunis. Lebih daripada itu, jika kita tahu mempropagandakan dan mempertahankan program dan pendirian kita dengan bijaksana dan kegiatan.
Karena pasukan revolusioner lebih banyak mengalami pasang surut daripada pasukan biasa, maka karena itu staf umum sesuatu organisasi revolusioner dapat melihat lebih jauh ke depan daripada staf umum pasukan biasa.
Pada permulaan mereka harus telah dapat memperhitungkan seberapa besar jumlah pasukannya sendiri dan pasukan lawannya yang akan bisa terdapat apda esok harinya. Selaras dengan itu taktisnya harus lebih banyak disesuaikan dengan perubahan pasang surut dan justru harus lebih plastis (jelas dan nyata). Ia harus lebih memperhitungkan moral daripada staf umum pasukan biasa, karena hal itu lebih merupakan suatu faktor yang menentukan dalam perjuangan revolusioner daripada dalam perang biasa.
Sekalipun perang biasa mempunyai banyak perbedaan dengan perjuangan revolusioner, keduanya pun mempunyai titik-titik persamaan, keduanya pun mempunyai titik perbedaan yang nyata. Hukum-hukum berikut, yang mewujudkan dasar strategis perang berlaku juga bagi strategi revolusioner.
1.    Nilai offensif dan inisiatif.
2.    Pemusatan kekuatan pada tempat yang menguntungkan dan waktu yang tepat bagi kita.

NILAI OFENSIF DAN INISIATIF
Dalam tiap-tiap macam perjuangan inisiatif mempunyai nilai besar. Mereka yang lebih dulu mengambil inisiatif, mempunyai keuntungan besar yang tak terduga atas lawannya. Sebab ia lebih dahulu melancarkan aksi dan dengan demikian dapat menimbulkan keadaan yang sama sekali baru di pihak lawannya. Karenanya lawan tak dapat memikirkan rencana baru yang tersendiri, akan tetapi terikat apda keadaan yang baru tercipta. Dengan cara sederhana itu rencana mereka yang menunggu dihancurkan oleh pengambil inisiatif. Yang tersebut belakangan ini menguasai kemauan dan perbuatan yang tersebut duluan yang terpaksa pasif dan menunggu serangan-serangan pengambil inisiatif.
Jika kita dalam perjuangan revolusioner tidak mengambil inisiatif duluan, maka lawan mendapatkan keuntungan menguasai kemauan dan perbuatan ktia sehingga kita dipaksa dalam keadaan pasif melumpuhkan. Jika umpamanya reaksi bermaksud hendak menghancurkan salah satu dari sarekat-sarekat sekerja atau perkumpulan-perkumpulan politik kita, dan ia telah mengambil inisiatif lebih dahulu maka kita akan merasakan tekanan dan tak berkententuan, karena kita tak dapat mengetahui bagaimana dan bilamana ia akan melakukan itu. Akan tetapi jika kita hendak menangkis itu dengan mengambil inisiatif lebih dahulu, maka kita akan mendapatkannya kecuali keuntungan moril, juga keuntungan, bahwa kita dapat menguasai rencana lawan yang permulaan, mungkin juga dapat menghancurkannya.
Ujud perjuangan yang dilakukan inisiatif ialah offensif. Mereka yang menyerang duluan, mempunyai inisiatif dan menguasai kemauan dan perbuatan lawannya. Tetapi bentuk offensif yang baik ialah offensif yang dilakukan secara defensif. Politik revolusioner kita di Indonesia dilakukan secara defensif. Sekalipun tujuan kita tak kurang daripada penghapusan imperialisme dan kapitalisme, kita terpaksa oleh keadaan melancarkan serangan-serangan kita dalam bentuk pertahanan-pertahanan. Kita mempersiapkan serangan setelah kita terancam dan terserang. Atas tindakan-tindakan revolusioner lawan, kita mendasarkan agitasi, protes atau tindakan-tindakan kita yang lebih mendekatkan kita pada tujuan kita terakhir.
Pada pukulan terakhir yang menentukan, kita hanya bisa mendapat kemenangan, jika kita juga mengambil inisiatif bertahan. Agar supaya pukulan terakhir yang menentukan itu dapat mewujudkan tujuan kita. Sarekat-sarekat sekerja dan organisasi-organisasi politik kita mulai sekarang harus memiliki jiwa offensif.

PEMUSATAN KEKUATAN-KEKUATAN PADA TEMPAT DAN WAKTU YANG MENGUNTUNGKAN BAGI KITA
Tujuan tiap-tiap offensif ialah menyerang pertahanan lawan yang terlemah dengan cepat, mendadak dan dengan pasukan yang terbesar, dengan maksud mematahkan hubungan-hubungan organisasinya dan akhirnya menghancurkannya buat selama-lamanya.
Organisasi-organisasi perjuangan kita yang terutama sarekat sekerja dan politik – jika telah pada waktunya, harus dengan cepat dibimbing ke tempat dimana kita dapat membikin musuh menderita kerugian yang terbesar, yaitu dimana menempatkan induk pasukannya.
Jika kita menghadap Indonesia sebagai gelanggang perjuangan, maka kita mengetahui bahwa kekuatan imperialis Belanda (militer, politik dan ekonomi) tidak terpusat pada satu tempat. Kekuatan militer dipusatkan di Priangan. Kekuatan politik yang sekarang berpusat di Batavia, kemudian mungkin dipindahkan ke Priangan. Akan tetapi Batavia, maupun Priangan sesungguhnya tidak mempunyai pusat ekonomi. Kita mendapatkan itu terutama di lembah Bengawan Solo (Yogya, Solo, Madiun, Kediri, dan Surabaya) dimana terletak bertimbun-timbun industri-industri, perusahaan-perusahaan, badan-badan angkutan lalu lintas dan bank-bank.
Dimana suatu offensif revolusioner yang telah disiapsiagakan akan mendapat sukses sebanyak-banyaknya. Jika kekuatan militer, politik dan ekonomi dipusatkan pada suatu kota sebagaimana sering terjadi di negeri-negeri Eropa, maka menjadi kewajiban kita memasukkan kota-kota itu lebih dulu dan rencana organisasi revolusioner ktia, untuk nanti serangan revolusioner pertama-tama dilancarkan. Jika kita di sana mendapatkan sukses, maka sukses di bagian-bagian negara lainnya sedikit atau banyak akan terjadi dengan sendirinya.
Akan tetapi karena kekuasaan imperialis Belanda terbagi dalam pelbagai pusat, sesuai dengan itu kita harus juga membagi kekuatan revolusioner kita, untuk nanti kita kerahkan pasukan induk kita ke sana, di mana sukses sebanyak-banyaknya dapat tercapai.
Jika kita pelajari tempat mana yang sangat menguntungkan bagi kita untuk digempur, maka pilihan kita akan jatuh pada lembah Bengawan solo. Memang di sini kita mempunyai harapan lebih besar dapat merampas kekuasaan ekonomi dan politik dan bertahan daripada di Batavia dan di Priangan. Di lembah Bengawan solo bertimbun-timbun buruh industri dan petani melarat, yang akan mewujudkan tenaga-tenaga, bukan saja untuk perampasan, akan tetapi juga sebagai syarat teknis dan ekonomi mempertahankan perampasan itu. Di Batavia atau Priangan kemenangan politik atau militer akan sukar didapat dan dipertahankan daripada di lembah Bengawan Solo, karena sedikit adanya syarat-syarat teknis dan ekonomis untuk mempertahankan perampasan itu. Kemenangan politik atau militer di Batavia atau Priangan lebih sukar bisa didapat dan dipertahankan dari pada lembah Bengawan Solo, karena faktor-faktor teknis dan ekonomi sedikit adanya disana. Kemenangan politik dan militer yang modern hanya dapat dipertahankan, jika kita memiliki syarat-syarat kekuasaan ekonomi (pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, badan-badan angkutan lalu lintas, bank-bank dll).
Dari apa yang tersebut diatas, kita bisa menarik kesimpulan, bahwa kita nanti harus mengerahkan induk pasukan kita ke lembah Bengawan Solo, agar offensif revolusioner kita dapat menentukan strategi seluruhnya. Jika kita nanti dapat bertahan di lembah Bengawan Solo, sedang di pusat ekonomi lainnya (Sumatera Timur, Palembang, Kalimantan Timur) dan pusat ekonomi dan militer (Batavia, Bandung, Magelang, Malang, Aceh) dapat kita serang dan berhasil kita pertahankan maka lembah Bengawan Solo selanjutnya dapat kita pergunakan sebagai basis bagi Republik Indonesia. Terlebih-lebih jika suara dan pengaruh kita dapat menerobos juga ke dalam angkatan darat dan angkatan laut. Maka bagi imperialis Belanda tak akan begitu mudah mempergunakan kekuasaan militernya. Suara-suara buruh yang bergelora dari lembah Bengawan Solo, akan pasti didengar juga oleh buruh-buruh di Asia, Eropa dan Amerika. Imperialis-imperialis luar negeri akan tak begitu mudah mengerahkan buruhnya untuk membunuh habis-habisan buruh-buruh Indonesia. Kecuali daripada itu adalah Internasionale III yang akan berusaha menyerukan pemberhentian pekerjaan pembunuhan imperialis-imperialis itu.
Sekali pun lembah Bengawan Solo bagi kemenangan kita adalah satu hal yang menentukan akan tetapi bagi offensif. Offensif penyesatan, tempat-tempat seperti Priangan, terutama Aceh dan Ternate adalah sangat penting. Jika kita di sana dapat menyerang dengan berhasil, maka musuh akan terpaksa membagi-bagi kekuatan yang terpusat di Jawa, dan mengirimkan sebagian daripadanya ke daerah-daerah yang jauh. Bagi pergerakan revolusioner hal sedemikian itu setidak-tidaknya masih sangat penting. Kecuali itu bagi imperialisme Belanda, jika itu diteruskan penindasan perlawanan revolusioner dengan kekerasan akan sangat bertambah besar biayanya. Akibatnya ia akan menarik pajak lebih besar dari rakyat yang menderita. Hal ini akan meningkatkan lagi rasa tak puas dan oleh karenanya meningkat pula hasrat revolusionernya.
Satu kemenangan di Priangan, Aceh, Ternate ditilik dari sudut taktik adalah sangat penting dan dapat merintis jalan bagi kemenangan strategis. Pukulan strategis yang akan kita lancarkan kemudian di lembah Bengawan Solo, akan merupakan satu pedang Domaclas di atas kepala imperialis Belanda.
Berhubung dengan besarnya arti yang ada di lembah Bengawan Solo bagi kemerdekaan Indonesia sekarang adalah kewajiban revolusioner kita lebih banyak memberikan perhatian pada pusat ekonomi itu daripada yang sudah-sudah. Adalah kewajiban revolusioner kita, mengorganisir dan mengkoordinir massa buruh-buruh industri dan pertanian dan pada akhirnya melatih mereka untuk massa aksi yang langsung buat perampasan kekuasaan.

NILAI KESADARAN, HASRAT DAN DISIPLIN
Dalam tiap-tiap pergerakan, kesadaran memegang peranan yang sangat penting. Kesadaran revolusioner kita, kita ambil dari materialisme dialektika Marx. Mengikuti Marx, kita dapat memutuskan, bahwa sekarang hampir seluruh rakyat Indonesia bersemangat revolusioner. Tetapi ada perbedaan besar antara kerevolusioneran buruh-buruh industri dan kerevolusioneran pemilik-pemilik kecil (petani-petani, pedagang-pedagang dan pengusaha-pengusaha kecil). Yang tersebut duluan subjektif adalah revolusioner, yaitu mereka tidak hanya berkehendak menghapuskan kekuasaan politik saja, tapi juga kekuasaan ekonomi, ialah dengan penghapusan tanah milik perseorangan dan sistem produksi yang kapitalis. Tapi pemilik kecil subjektif tidak revolusioner sebab mereka tidak berkehendak menghapuskan hak milik perseorangan dan sistem produksi kapitalistis. Sebaliknya mereka menginginkan milik yang lebih besar. Akan tetapi terhadap imperialisme mereka bersikap revolusioner. Mereka mengharapkan adanya pemerintah nasional dan kemerdekaan nasional. Justru karena itu mereka objektif adalah revolusioner.
Dalam usaha kita bertalian dengan organisasi, taktik dan strategi, kita tak dapat mencampur-adukan satu dengan lainnya unsur-unsur buruh industri dan bukan proletar. Mencampur adukan itu tidak akan membawa kekuatan, akan tetapi hanya membawa kelemahan belaka. Sekalipun unsur-unsur tersebut diatas kedua-duanya berjuang melawan imperialisme. Alasan dan tujuan perjuangan melawan imperialisme, alasan dan tujuan perjuangan mereka adalah berbeda. Akan tetapi perbedaan itu orang tak boleh melupakan kemestian kerjasama, sebab baik tujuan bukan proletar, maupun tujuan terakhir buruh industri hanya terlaksana sesudah hancurnya imperialisme. Taktik PKI terhadap orang-orang bukan proletar – dengan mengingat kepentingan materilnya – supaya sangat plastis (sangat membimbing). Ia harus mampu membangkitkan tenaga-tenaga potensi revolusioner, yang ada pada orang-orang bukan proletar. Ia harus mampu juga mengkoordinir tenaga-tenaga ini dengan tenaga-tenaga proletar. Jika ini berhasil, maka kemerdekaan Indonesia boleh dikata telah dapat ditentukan.
Keadaan revolusioner harus dilengkapi dengan hasrat revolusioner. Kesadaran saja tidak cukup sudah sewajarnya bahwa rakyat Indonesia telah diperbudak selama 300 tahun dan harus berjuang melawan imperialisme yang mungkin dibantu oleh imperialisme-imperialisme lainnya tak akan dapat menang dalam satu hari. Di beberapa tempat PKI mungkin mengalami pukulan. Ada kemungkinan, bahwa ia di hari kemudian akan terpaksa melanjutkan eksis lebih banyak di bawah tanah. Akan tetapi, dalam semua kemungkinan-kemungkinan ini ia tak akan dan tak boleh kehilangan keberanian dan pikiran. Sebaliknya kita yakin bahwa ia akan lebih giat, lebih berpengalaman dan lebih berani. Sebab kepercayaan PKI akan jatuhnya imperialisme Belanda dan tenaga revolusioner rakyat Indonesia bukan disandarkan pada Joyoboyo atau pedagang jamu lainnya, akan tetapi kepercayaan itu disandarkan atas analisa ekonomi-sosial masyarakat Indonesia. Pertentangan yang pantang, damai antara yang berkuasa dan yang dikuasai di Indonesia akan memperkuat yang tersebut belakangan ini dalam perjuangannya.
Kesadaran dan hasrat dapat dilakukan pada tempatnya, jika PKI memiliki disipilin baja. Semua anggota, seksi-seksi dan organisasi PKI harus melaksanakan putusan-putusan pusat dengan jujur dan giat. Suatu seksi harus membantu seksi lainnya yang menderikta pukulan. Ia harus melangkah maju, jika pimpinan memandang perlu, dan melangkah mundur jika perjuangan menyuruhnya. Suatu strategi hanya bisa mendapatkan sukses, jika staf umum dapat percaya sepenuhnya ats seluruhnya tentaranya.

PUKULAN STRATEGI
Pukulan strategi yang penghabisan akan berhasil jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut ini :
1.    Partai memiliki disiplin baja.
2.    Rakyat Indonesia berada di bawah pimpinan PKI.
3.    Musuh-musuh, baik di dalam maupun di luar negeri terpecah-pecah.
Jika syarat pertama belum terpenuhi, kita tak perlu dan tak boleh menyembunyikan. Sering terjadi, bahwa seorang anggota yang bertanggung jawab, mengikuti pendapatnya sendiri, tanpa menunggu keputusan dari pusat. Atau ia melaksanakan pendapatnya, sedang ia mengetahui, bahwa itu bertentangan dengan pendapat pusat. Sikap atau watak yang tidak disipliner semacam itu dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya bukan hanya akan membahayakan diri pimpinan yang bersangkutan dan seksinya, akan tetapi juga pergerakan seluruhnya.
Disiplin revolusioner mempunyai persamaan dengan disiplin militer pada titik ini : bahwa putusan harus dilaksankaan. Akan tetapi semua berbeda satu sama lain dalam hal ini : bahwa disiplin revolusioner bukannya hasrat menyerah (semuhun dawuh). Sedangkan Staf Umum Militer tidak mengharapkan dari serdadu-serdadunya bahwa mereka harus mengerti perintah yang diberikan, bagi Staf Umum Revolusioner syarat yang pertama-tama ialah : bahwa anggota-anggota harus mengerti bukan hanya arti putusan saja, akan tetapi setiap anggota harus juga mengerti kemutlakan ketaatan  pelaksanaan putusan, sekalipun jiwa putusan itu bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Suatu putusan revolusioner justru didapat sesudah suatu acara dirundingkan dengan masak-masak. Dalam perundingan tiap-tiap anggota mempunyai hak penuh mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya dan menentang atau menyokong pendapat orang lain. Pada pemungutan suara yang terakhir ia mempunyai hak mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin, sehingga ia dapat melakukan seluruh pengaruh rohaniahnya atas putusan partai. Tetapi jika suara yang terbanyak mengambil keputusan juga yang bertentangan dengan pendapatnya, sekalipun ia tak menyetujuinya, maka harus tunduk pada putusan itu dan sebagai anggota atau pemimpin ia harus melaksanakannya dengan taat dan giat. Jika tidak sedemikian halnya, tidak mungkin daya kekuatan revolusioner partai dapat bertindak keluar secara masal dan bersatu-padu. Suatu partai yang tiap-tiap anggotanya berpegang teguh pada pendapatnya masing-masing dan menyabotir putusan partai tak akan berdaya adanya.
Demikianpun syarat kedua belum terpenuhi. Sangat pasti PKI pada masa sekarang ini adalah partai satu-satunya yang dapat dikatakan partai rakyat Indonesia. BU, Pasundan, Perserikatan Minahasa dan partai-partai kecil lainnya, dengan sukar dapat mempertahankan diri, dalam batas-batasnya yang sempit, kecuali jika partai-partai itu dengan penuh tenaga dapat melampaui batas-batas yang sempit itu untuk menjadi satu partai rakyat nasional.
Hanya PKI pada masa ini mampu membentuk afdeeling-afdeeling dimana-mana di pelbagai pulau. Akan tetapi masih belum dapat dikatakan bahwa ia telah dapat mengorganisir semua lapisan masyarakat dan membawanya di bawah pimpinannya. Masih belum cukup, jika semua orang Indonesia yang tertindas menaruh simpati pada PKI, akan tetapi jika waktunya telah datang rakyat yang tertindas yang berjuta-juta orang jumlahnya itu setiap waktu akan mengikuti juga seruan PKI. Bukan hanya dalam kemenangan, tapi juga dalam kekalahan kepercayaan dan ketaatan pada PKI sebagai partai rakyat revolusioner harus tetap tak berubah.
Kita harus akui, bahwa propaganda dan agitasi kita di daerah-daerah luar Jawa juga di Jawa sendiri masih belum konkrit dan cukup kuat dan karenanya masih belum cukup dalam meresapnya. Kekurangan tenaga dan alat, kekurangan pengetahuan dan pengalaman tentang keadaan daerah-daerah di luar Jawa adalah sebab yang terutama mengapa tenaga-tenaga revolusioner kita sementara masih tertimbun di Jawa dan aksi-aksi kita tetap terbatas di Jawa. Sekalipun di sana-sini tenaga komunistis telah berkembang (Ternate, Aceh dan lain sebagainya) sebagian besar dari daerah luar Jawa bagi kita masih merupakan hutan remaja. Orang-orang Jambi dan Palembang yang memang tak dapat digolongkan pada orang-orang Indonesia yang berperasaan puas dan berjiwa budak bagi kita masih gelap adanya. Tambang-tambang besar seperti tambang emas, timah, minyak,  arang batu dan industri-industri pertanian seperti teh dan karet masih belum mengalami perubahan. Banjarmasin dan Aceh, di mana peperangan-peperangan fanatik dilakukan orang di bawah bendera Islam, bagi kita masih asing adanya. Di daerah-daerah tersebut di atas kita masih belum mempunyai pengaruh di antara petani-petani. Bukan hanya di sana pekerjaan bagi kita masih sangat kurang dapat menerobos ke dalam kesukaran-kesukaran hidup nasionalnya dan cara berpikirnya.
Jika kita di daerah-daerah jawa, juga di Jawa hendak meningkatkan tenaga-tenaga potensi kepada tenaga-tenaga penggerak revolusioner, maka propaganda dan agitasi harus kita sesuaikan dengan keadaan lokal yang berbeda-beda adanya di Indonesia, lebih dari pada apa yang sebegitu jauh telah kita lalukan. Kita harus dapat mempengaruhi orang-orang Jambi, Banjar, dan Aceh yang sedikit atau banyak tekun pada agamanya. Jika kita masih belum dapat menggabungkan diri dengan merka, maka kita sudah barang tentu tak dapat berbicara tentang pimpinan revolusioner. Kita selanjutnya harus dapat menunjukkan, bahwa program kita bertujuan meningkatkan hidup materialnya. Kita harus mampu menjelaskan bahwa semua rintangan, yang dialamai pedagang-pedagang kecil, petani-petani dan pengusaha-pengusaha kecil di daerah luar Jawa pada masa ini nanti akan lenyap sesudah hapusnya imperialisme. Kecuali jika orang-orang bukan proletar yang sebagian besar terdiri dari penduduk daerah luar Jawa menginsyafi, bahwa dalam kemerdekaan nasional, bukan hanya buruh-buruh industri saja, akan tetapi juga mereka akan menggabungkan diri disana-sini bersama-sama proletar dalam perjuangan melawan imperialisme. Jika kota Roma tidak dapat dibangun dalam satu hari, demikian-pun mendidik dan mengorganisir rakyat yang 100 juta orang jumlahnya, dan yang telah tertindas ratusan tahun lamanya, juga membutuhkan waktu. Akan tetaip justru penindasan dan reaksi yang meningkat-ningkat adalah pembantu-pembantu PKI yang baik.
Jika nanti partai telah dapat didisiplinkan dan sebagian besar dari penduduk telah dapat di bawah pimpinan kita, kita terlebih dahulu harus mengetahui keadaan di kubu lawan baik yang ada di dalam, maupun yang ada di luar negeri, sebelum kita melancarkan pukulan yang menentukan. Lebih terpecah-pecah keadaan lawan, lebih menguntungkan bagi kita. Kita boleh mengatakan, bahwa lawan dalam negeri, yaitu imperialisme Belanda bersatu menghadapi rakyat Indonesia. Tidak demikian halnya di Eropa. Kaum borjuis yang bertubuh dalam partai-partai konservatif, liberal, dan partai-partai radikal lainnya, dalam menghadapi buruh-buruh revolusioner umpamanya nampak solider, akan tetapi di antara mereka sering juga nampak adanya perpecahan yang mendalam. Orang-orang sosial demokrat mondar-mandir kian kemari antara borjuasi dan buruh-buruh. Perpecahan antara borjuasi Eropa di Indonesia, justru karena mereka tergolong pada bangsa lain daripada buruh-buruh, tak sedemikian besarnya, sehingga penduduk Indonesia akan bisa mendapatkan keuntungan yang agak berarti dalam perpecahan itu. Tetapi sekalipun borjuasi Belanda sementara solider menghadapi penduduk Indonesia, kesolideran 100.000 orang akan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kesolideran 50.000.000 orang. Akan tetapi musuh-musuh luar negeri (imperialisme Inggris, Amerika, dan Jepang) menghadapi Indonesia sangat terpecah belah. Antara imperialisme Amerika dan Jepang tak terdapat unsur persatuan dan kesolideran,. Besok atau lusa kedua imperialisme itu harus menentukan kekuasaannya atas lautan pasifik dengan pedang. Akan tetapi bila waktunya perang Jepang-Amerika tak seorang dapat meramalkan.
Pertentangan-pertentangan ekonomi dan politik antara Jepang dan Amerika yang pantang damai di Timur Jauh telah berulang-ulang kita tunjukkan, dan di sini tak perlu kita uraikan lagi. Memang dapat dipastikan, bahwa Inggris akan berdiri di pihak Amerika, sehingga armada Jepang dibanding dengan armada Amerika akan merupakan imbangan sebagai 3 : 10. Satu pertanyaan yang sama pentingnya, ialah apakah ketiga imperialisme tersebut memiliki situasi internasional sekarang akan mendatangkan perang dunia baru ?
Menang adalah satu kenyataan, bahwa Amerika dalam melaksanakan politiknya “Penetration Pacific”  (penerobosan Pasifik) dimana-mana mendapat kemenangan dalam persaingan ekonomi. Satu perang dunia baru bukan hanya satu keharusan bagi perjuangan daerah pengaruh Amerika. Akan tetapi soal itu akan dapat membawah bahaya, bahwa buruh internasional nanti di bawah pimpinan Moskow akan merubah perang dunia itu menjadi perang saudara.
Dalam kerajaan Jepang sendiri terdapat anasir-anasir yang menentang perang Jepang-Amerika dengan segera. Bencana alam yang disebabkan karena goncangan bumi pada tahun 1923 mengakibatkan kerusakan-kerusakan hebat pada kehidupan ekonomi Jepang daripada apa yang dapat kita lihat dari luar. Bencana itu bagi Jepang membutuhkan tenaga besar dan waktu panjang sebelum ia dapat memperbaiki kembali kehidupan ekonominya atas tingkat yang sama sebagaimana adanya sebelum terjadi bencana alam itu. Pergerakan untuk mendemokrasikan Jepang dari pemerintahan “otokrasi” yang dipimpin oleh kasta pertengahan dan disokong oleh seluruh kaum buruh masih berjalan langsung. Pergerakan ini diperkuat karena dalam negeri sekarang timbul pengangguran yang luas (menurut berita yang terakhir lebih dari 3.000.000 orang), di antaranya terdapat juga banyak korban-korban dari kasta pertengahan. Pergerakan untuk “mendemokrasikan” ini semakin mewujudkan satu bentuk yang berbahaya sedemikian rupa, sehingga kaum militeris yang di Jepang memegang kekuasaan atas alat-alat poltik dan militer seluruhnya, terpaksa memberi konsesi politik banyak. Menurut berita awal tahun ini sistem parlementer di Jepang dimodernisir dan dilaksanakan hak pilih umum, sehingga sekarang jumlah pemilih meningkat dari tiga sampai dua belas juta orang. Untuk mewujudkan, bahwa kaum militeris tidak menginginkan adanya perang baru (dalam hal ini kaum militeris dapat mempertahankan kedudukan otokrasi-nya terhadap kasta pertengahan liberal) Jepang pada akhir tahun yang lalu telah mengadakan perjanjian dengan Soviet Uni. Sekalipun perjanjian ini ditujukan juga terhadap persekutuan Anglo-Amerika, sekali ketika dipergunakan juga untuk meninabobokan kaum buruh dan kasta pertengahan yang membenci dan ketakutan adanya suatu perang baru, dengan alasan, bahwa Jepang “ingin damai dengan siapa pun”. Fakta-fakta ekonomis dan politis tersebut di atas menunjukkan bahwa Jepang ke dalam masih belum memiliki tenaga dan persatuan yang diinginkan untuk memberanikan diri melawan kekuasaan dunia seperti Amerika dan Inggris pada masa sekarang ini.
Adalah senantiasa tak mudah memperoleh kemerdekaan pada waktu ada sekarang. Pada perang dunia yang lalu kita mengetahui bahwa tak ada satu dari negeri-negeri jajahan (Indo China – Perancis, India – Inggris dan Mesir) berkehandak mengorbankan perjuangan kemerdekaan. Bagi Indonesia juga masih belum dapat dikatakan dengan segera, bahwa dalam suatu perang Pasifik orang mendapatkan kesempatan yang baik untuk menuntut kemerdekaan. Justru hal ini tergantung juga pada persoalan, siapa yang akan menang dan berapa lama perang akan berlangsung. Tapi teranglah, jika nanti di lautan sekeliling Indonesia armada-armada Inggris, Amerika, Belanda telah bersiap-siaga. Bagi Indonesia bukan lagi satu persoalan yang mudah untuk berbicara tentang kemerdekaan, apalagi untuk merebut kemerdekaan. Anglo-Amerika yang juga tentu akan mengharapkan ketenangan dan keamanan yang mutlak di Indonesia akan dengan segera mengecap tiap-tiap gangguan ketenangan itu sebagai satu permusuhan terang-terangan, lebih-lebih karena Inggris hendak mempertahankan hubungan antara Singapura dan Australia-Inggris dan akan mendapatkan kesempatan yang baik menduduki Indonesia jika imperialisme Belanda terlempar jauh.
Kesukaran yang sama akan dihadapi oleh Indonesia, jika sesuatu kurang lebih sepuluh tahun pangkalan armada Singapura dan armada Belanda telah selesai dibangun. Perhubungan antara Singapura dan Australia akan menjadi kenyataan pertahanan tata-tertib di Indonesia bagi imperialisme Anglo-Amerika akan dipercayakan kepada armada Belanda.
Sudah tentu, perpecahan antara imperialisme-imperialisme luar negeri bagi kita adalah satu keuntungan. Akan tetapi persoalannya ialah: apakah kita harus menunggu dulu adanya perang, maukah sekarang menuntut kemerdekaan nasional dan mempergunakan semua alat untuk mendapatkannya.
Karena ktia telah mengetahui, bahwa perang Pasifik yang mungkin datang bagi kita masih belum berarti satu kemerdekaan dan kita tak dapat menunggu sampai armada Belanda dan pangkalan armada Singapura selesai dibangun, maka bagi Indonesia sangat mungkin sekarang ini adalah kesempatan yang baik untuk menuntut kemerdekaan nasional. Pendapat ini juga diperkuat dengan alasan-alasan sebagai berikut :
Pertama. Kita tak dapat menggantungkan taktik revolusioner kita seluruhnya pada perang Jepang-Amerika. Taktik semacam itu juga bersifat oportunistis dan berbahaya. Tak ada suatu rakyat yang dapat bertahan lama dalam ketegangan dengan ancaman yang tak dirasakan dengan langsung. Terlebih-lebih jika ancaman itu dalam dua atau tiga tahun masih belum menjadi kenyataan, maka ketegangan psikologis dengan sendirinya akan menjadi buyar. Ketegangan revolusioner akan mempunyai daya hidup, jika ia didasarkan atas syarat-syarat materiil yang langsung dapat dirasakan oleh rakyat. Hanya jika agitasi revolusioner kita didasarkan atas penderitaan-penderitaan yang nyata yang dirasakan oleh rakyat di bawah kekuasaan imperialisme Belanda dewasa ini dan kecuali daripada itu kita dengan serentak mampu meyakinkan rakyat akan propaganda kita, maka tak kepuasan massa akan berubah menjadi suatu kemauan massa dan perbuatan massa. Selanjutnya kita sekarang harus juga bekerja untuk tujuan yang langsung dan menerima akibat agitasi revolsuioner kita.
Kedua. Ada kemungkinan, bahwa perang Jepang-Amerika lama tak kunjung datang dan bahwa periode pasifistis (masa tenang) harus lebih dahulu mendahului revolusi sosial di seluruh dunia. Jika kita menggantungkan aksi-aksi kita seluruhnya pada perang dunia dan revolusi dunia, maka ada kemungkinan bahwa kita akan kehilangan peranan pimpinan kita atas rakyat Indonesia. Karenanya partai kita akan berada di dalam dogma sedang massa akan mencari jalan sendiri-sendiri. Jalan itu akan dapat mengakibatkan pemberontakan-pemberontakan lokal atau perbuatan-perbuatann individual (anarkistis). Memang rakyat Indonesia yang merasa tak puas akan mengikuti pimpinan revolusioner kita sekian lama, selama pimpinan ini sungguh-sungguh merupakan pertumbuhan daripada tujuan revolusionernya. Belum pernah kita pikirkan, bahwa kemerdekaan Indonesia pada masa ini justru akan bisa membahayakan perdamaian di Pasifik. Kemerdekaan ini akan dapat memecahkan perang Pasifik. Akan tetapi tak dikatakan, bahwa kekuasaan-kekuasaan dunia (karena takut akan adanya revolusi sosial) menunda perang itu sebegitu lama. Justru inilah bukannya merugikan, tetapi menguntungkan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun yang lalu kita telah lihat di Tiongkok, bahwa tak satu dari negara-negara imperialis besar yang memberanikan diri membagi-bagi Tiongkok dan mendudukinya, sekalipun mereka mempunyai kesempatan untuk itu. Justru pada waktu itu di Tiongkok berkobar perang saudara, sehingga perusahaan-perusahaan luar negeri di Tiongkok menderita kerugian. Ketakutan akan adanya perang antara imperialis-imperialis satu sama lain adalah sebab mengapa mereka semua melihatnya dengan terang. Tiap-tiap orang tentu berkehendak menduduki bagian Tiongkok yang baik, dan justru itu ia akan dimusuhi oleh yang lain dalam pilihannya. Karena tiap imperialis ingin mempunyai Tiongkok yang baik, karena itu tak seorang mendapatkan sesuatu.
Ditilik dari sudut perdagangan dan strategi kedudukan Indonesia di Pasifik sebegitu penting, sehingga tak ada seorang imperialis membiarkan diambilnya oleh sesuatu negara yang kuat. Tiap-tiap usaha untuk membaginya akan mudah menyebabkan pertikaian dan perang. Terlebih-lebih jika Indonesia sendiri tak berdiam diri akan tetapi menggunakan perpecahan musuh-musuh. Jika Indonesia nanti menjadi jajahan Anglo-Amerika maka harapan Jepang untuk melebarkan pengaruhnya ke Aisa Selatan dan Barat akan gagal buat selama-lamanya. Cita-cita Jepang “Asia untuk orang Asia”, yaitu Asia di bawah telapak kaki Jepang, akan sia-sia. Jepang yang telah dilarang memasuki Amerika dan Australia, kemudian akan terasing buat selama-lamanya di Timur Jauh. Dibalik itu Anglo Amerika tak akan mengizinkan Jepang menduduki suatu titik di Indonesia. Yuseboru Takekoshi, terompet kaum militeris Jepang, selama berlangsungnya perang besar telah membikin goncang dunia imperialis, ketika ia menunjukkan betapa pentingnya Selat Sunda dan Malaka bagi pelebaran pengaruh Jepang. Akan tetapi kedua selat itu salah satu dalam titik strategi di Indonesia, jika diduduki oleh Jepang berarti juga satu pistol di dada kerajaan Inggris.
Jika keadaan dalam buku musuh kita simpulkan, baik yang ada di luar negeri, maka kita dapat berkata “kubu Belanda yaitu dalam arti kata krisis ekonomi dan politik”. Ia berada dalam permusuhan terang-terangan dengan rakyat revolusioner. Jika yang tersebut belakangan ini sekarang tak menang, maka ia besok akan dipukul. Imperialis-imperialis luar negeri berada dalam keadaan cerai berai yang sangat mengkhawatirkan dan dalam tahun-tahun yang akan datang tak mungkin dapat campur dalam persoalan Indonesia tanpa menimbulkan bahaya meletusnya perang dunia. Pertanyaan bila waktu yang baik bagi aksi kemerdekaan politik yang tak terbatas dan lengkap kita kira harus menjawab “sekarang dan bukan nanti”. Jika tidak demikian akan datang masanya bagi kita, dimana kita harus berkata : “kita dulu telah membiarkan kesempatan itu berlalu”.
Sekarang adalah waktunya bagi PKI dalam dan dengan perjuangan untuk menciptakan organisasi-organisasi sendiri yang memiliki keberanian dan kekuatan untuk menerima pertanggungjawaban merebut dan mempertahankan kemerdekaan nasional. Jika nanti setelah banyak perkelahian kecil dan besar di sana-sini, sekarang dengan menggunakan organisasi politik kemudian dengan menggunakan organisasi serikat-serikat sekerja, kita telah dapat menunjukkan kesadaran, hasrat, kebijaksanaan dan kegairahan, maka kita pada akhirnya akan menjatuhkan godam revolusioner kita sedemikian rupa sehingga pukulan itu akan terdengar oleh negara-negara takluk lainnya di Asia dan oleh buruh-buruh yang terbelenggu di Eropa.

MAJELIS PERMUSYAWARATAN NASIONAL INDONESIA
Bertentangan dengan pesimisme yang beralasan dan peringatan-peringatan yang sungguh oleh penulis-penulis Prancis seperti, D’Alembert Roxssesu, dan lain-lainnya. Bangsawan-bangsawan Prancis didahului oleh rajanya yang boros dan permasuri yang lebih boros, melangsungkan cara hidupnya yang sangat mewah. Nampaknya tak ada pandangan hidup lainnya yang dianut daripada “sesudah kami bahaya banjir”.
Cara hidup bangsawan dan raja yang mahal biayanya yang ditumpahkan kepada rakyat yang melarat yang diciptakan di dunia seolah-olah bukan untuk sesuatu lainnya, akan tetapi hanya untuk membayar “pajak”. Kemelaratan, penyakit dan kelaparan terdapat dimana-mana. Oleh karenanya meningkatlah tak kepuasan massa.
Petani, buruh dan borjuis, di bawah pimpinan yang tersebut belakangan, kemudian menggabungkan diri menjadi satu dan menuntut perubahan-perubahan politik yang radikal. “Majelis Permusyawaratan Nasional” dan mewakili seluruh rakyat yang harus berbicara tentang keadaan nasional dan yang dapat dipandang sebagai hasil dari perjuangan politik yang ulet, kemudian dipanggil berkumpul. Akan tetapi bangsawan-bangsawan dan pendeta-pendeta yang merasa kekuasaan dan hak-hak istimewa terancam, menghasut raja agar membubarkan wakil-wakil yang datang berkumpul. Perkataan Mirabeau yang bersejarah yang bertindak tepat pada waktunya,”jangan buyar, kecuali dengan kekuatan bayonet”, benar-benar membawa titik balik dalam sejarah Prancis dan sejarah dunia. Dari Majelis Permusyawaratan Nasional lahirlah kemerdekaan Prancis dan cita-cita republik.
Kita tidak mau pastikan, bahwa ada satu persamaan yang nyata antara Prancis sebelum revolusi besar dan Indonesia dewasa ini. Sungguh benar keduanya mempunyai perpaduan banyak yang bersifat ekoomi dan politik yang prinsipil.
Tetapi di Indonesia bukannya bangsawan-bangsawan Indonesia yang menghisap, hidup mewah dan tak membayar pajak, akan tetapi lintah-lintah darat Belanda. Karenanya disini keadaannya melebihi, sebab uang yang dihambur-hamburkan di Versaille sekali-sekali di sana sini masih ada yang jatuh pada rakyat Prancis dalam wujud eceran, sedangkan uang yang dihambur-hamburkan di Zandveert dan Scheveningon tak sesen pun tercecer ke saku kromo.
Ketika Gubenur Jendral Dirk Fock ini, oleh kapitalis-kapitalis Belanda ditempatkan di Bogor, ketika itu Indonesia menghadapi bankroot finansiil. Uang negara dalam tahun 1923 meningkat sampai jauh di atas F. 1.000.000.000. Anggaran Belanja tahun 1921 menunjukkan defisit sejumlah F. 285.500.000. Dalam arti kata, pengeluaran uang dalam tahun 1921 terdapat F. 285.000.000. lebih tinggi daripada pemasukkan uang. Sebagaimana Neckar dipanggil oleh Lodewijk ke XVI untuk memperbaiki finansial negara, demikian Dirk Fock muncul di Indonesia untuk menolong negara daripada bankfoot finansiil. Nocker tak mampu berbuat sesuatu apa, karena bangsawan-bangsawan Prancis dan pendeta-pendeta sampai pada detik yang terakhir tetap berkepala batu berpegang pada hak-haknya luar biasa atas ekonomi dan politik. Dalam kata-kata Belanda kampungan, mereka mempersetan pembayaran pajak dan membiarkan rakyat mampus kelaparan.
Apakah Dirk Fock akan mendapatkan satu “kasta lintah darat” yang luhur budi dan bijaksana terhadap manusia-manusia berkulit sawo matang di Indonesia?
Rencananya dahulu untuk mewajibkan pengusaha-pengusaha gula menjamin syarat-syarat hidup dan kerja yang lebih baik atas biaya kapital gula ia batalkan tak lama sesudah ia datang di Indonesia. Ketika ia hendak membebankan pajak atas minyak, datanglah ancaman yang terkenal dari Colijn: “Lepas tangan dalam urusan itu, jika tidak kita tutup lumbung-lumbung minyak”.
Dokter Fock yang harus menyehatkan finansial negara yang sedang sakit, kemudian beralih menggunakan alat lain yang sedang Nocker tak berani menggunakannya.
Pada bagian satunya memperbesar pasukan Armada dan polisi dan menaikkan gaji ambtennar-ambtenaar tinggi. Pada bagian lainnya melepaskan kaum buruh dan menurunkan gajirnya, menarik lebih banyak dari rakyat yang melarat dan mengurangi pengeluaran untuk sekolah-sekolah rakyat dan kesehatan.
Dengan demikian ia mengira neraca pengeluaran dan pemasukan dapat diperbaiki kembali. Demikian itu adalah satu tindakan seorang negarawan yang berani, satu tindakan terpaksa, yang biasa dilakukan oleh keledai-keledai politik dan penjual-penjual jamu pada waktu kehilangan pencaharian. Bagaimana pun halnya pengguntingan-pengguntingan upah di Zergvilet dan Den Haag akan puas adanya. Gula, teh, korek, api, minyak tanah dan bahan-bahan tekstil untuk masuk dan keluar negeri ditarik pajak, akan tetapi kapital dapat mengambil kembali semua itu dengan aman atas beban pemakai-pemakai, yaitu dengan mudah menaikkan harga-harga kebutuhan hidup rakyat, yang penting rumah-rumah gadai pemerintah dan monopoli garam menambah berat tekanan ekonomi di atas bahu si Kromo sampai pada luar batas kemampuannya. Tidak dilebih-dilebihkan, jika orang berkata, bahwa seorang Jawa dewasa ini dibandingkan dengan kemampuannya membayar pajak yang tertinggi di dunia, tidak memiliki suatu apa, kecuali “hawa untuk dihirup”.
Apakah ada harapan krisis ekonomi itu akan diatasi ? Tentu tidak, selama hampir setiap tahun ratusan juta rupiah sebagai deviden mengalir ke saku-saku kapitalis Belanda di negeri Belanda.
Tak satu tanah jajahan lainnya, yang dikeringkan sedemikian rupa seperti Indonesia, sebab negara-negara setengah jajahan seperti Persia dan Tiongkok, setidak-tidaknya sebagian dari pada keuntungan itu tinggal di saku borjuasi pribumi yang bagaimanapun akan dipergunakan untuk dalam negeri sendiri.
Sekalipun nanti jika Amerika atau siapa saja bersedia memberikan pinjaman kepada Indonesia jutaan rupiah atau menanam kapital di Indonesia krisis ekonomi karenanya masih belum dapat diperbaiki. Sebab jutaan rupiah setahunnya yang harus diperoleh dengan memeras kaum buruh Indonesia untuk dikirim ke negeri asing. Lebih gelap adanya hari depan ekonomi bagi rakyat Indonesia daripada rakyat Prancis sebelum tahun 1789. Tiap-tiap orang Gubenur Jendral yang dikirim ke Bogor oleh lintah-lintah darat Belanda, sebagaimana halnya dengan Dirk Fock ini, akan tak mampu menciptakan sesuatunya yang baru kecuali “pajak” baru. Tak seorang GG. akan mampu menghapuskan pengeringan itu, selama lintah-lintah darat negeri Belanda senantiasa menginginkan deviden.
Karenanya kita sangat cepat menuju ke krisis politik. Objektif semua syarat-syarat telah ada. Kemampuan berorganisasi, moral politik dan kesadaran dengan mutlak ada pada kita sendiri. Tetapi langkah kita tidak melalui parlemen. Demikian itu justru terjadi di India-Inggris, Mesir dan Filipina dimana terdapat borjuasi pribumi yang kuat, yang kepentingan-kepentingan ekonominya bersatu dengan kepentingan-kepentingan ekonomi imperialis dan karenanya kepadanya dapat dipercayakan kekuasaan politik berturut-turut dengan aman. Demikianlah (tapi dipastikan) kemerdekaan nansional di India, Mesir, dan Filipina sedikit banyak dengan dukungan massa melalui “dominion” dan “Parlemen Nasional”. Jalan kita terletak di luar Parlemen. Jalan kita melalui politik dan sarekat-sarekat sekerja.
Majelis musyawarah Nasional Indonesia harus dipanggil berkumpul oleh kita sendiri, dengan atau tanpa persetujuan lawan-lawan kita. Majelis Permusyawaratan Nasional sangat mungkin akan tercipta pada waktu bentrokan fisik, ekonomi atau politik yang hebat seperti pemberontakan setempat, pemogokan umum dan demonstrasi massa. Hal itu akan merupakan puncak semua kegiatan kerja kita.
Soal Majelis Permusyawaratan Nasional adalah soal hidup atau mati kita sebagai manusia-manusia merdeka? Untuk itu juga “to be or not to be” bagi lawan kita sebagai pemegang kekuasaan lintah-lintah darat.
Hal ini akan kita persoalkan, jika kita telah yakin, bahwa tindakan pembelaan lawan-lawan kita yang mungkin terjadi dapat kita tangkis dan hancurkan dengan sukses. Soal itu tidak kita kemukakan lebih dahulu, sebab memanggil berkumpul Majelis Permusyawaratan Nasional berarti menyampaikan ultimatum kepada pemegang-pemegang kekuasaan dewasa ini.
Panggilan berkumpul, Majelis Permusyawaratan Nasional Indonesia berisikan pengakuan, bahwa pemegang-pemegang kekuasaan dewasa ini tidak mampu mengatur persoalan-persoalan kita; bahwa kita merasa kuat memegang kekuasaan sendiri dan menjawab tindakan-tindakan pembalasan lawan-lawan kita dengan sukses, bahwa kita karenanya ingin mengatur sendiri persoalan dalam dan luar negeri menurut pendapat kita sendiri tanpa perantaraan orang lain ; bahwa atas dasar alasan-alasan tersebut pemegang-pemegang kekuasaan dewasa ini harus memberikan tempat kepada kita. (pegawai-pegawai administratif dan teknis Belanda, bahkan pejabat militer dan polisi bisa tinggal di Indonesia dengan syarat-syarat tertentu, jika mereka mau bekerja dengan patuh di bawah pemerintah Indonesia yang baru).
Sudah tentu kita tak dapat mengambil keputusan yang penting ini, jika kita tidak didukung oleh seluruh penduduk Indonesia. Pengaruh PKI dan SR lebih dahulu harus sedemikian besarnya, sehingga semua seksi dan sarekat-sarekat sekerja, benar-benar merupakan divisi-divisi pasukan yang harus siap siaga pada seruan kita pertama, sekalipun mereka harus menghadapi ancaman senapan mesin dan kapal-kapal udara.
Ketika Mirabeau mengucapkan kata-kata yang mengandung penuh keberanian, dia mengetahui benar, bahwa kata-katanya akan bergema di antara buruh-buruh yang sangat aktif di kota-kota muka Paris. Jika Lodewijk ke XVI sungguh menggunakan bayonet, tentu akan segera dijawab dengan pemberontakan umum.
Dengan penderitaan rakyat Indonesia yang semakin meningkat ini setiap waktu akan bisa meletus kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dari Massa. Jika organisasi-organisasi politik dan ekonomi kita telah mencapai kualitas yang diharapkan, jika petani, buruh, pedagang dan mahasiswa sungguh-sungguh menginginkan kehidupan berjuang lebih baik dan juga untuk itu berani terang-terangan mengemukakan diri, maka barulah kita dapat memanggil berkumpul Majelis Permusyawaratan Nasional Indonesia. Kita harus yakin, jika perlu, dapat mengulangi “Jangan buyar, kecuali dengan ujung bayonet”.

HALILINTAR MEMBERSIHKAN UDARA
Pada waktu kita menulis brosur ini, datanglah laporan bahwa partai kita diancam oleh “anjing-anjing liar”. Petani-petani dan penganggur-penganggur diorganisir dan dikirim pada anggota-anggota kita untuk meyakinkan mereka dengan tongkat. Pejabat-pejabat yang telah melakukan pembunuhan beberapa kali dibayar dan dikirimkan kepada pemimpin-pemimpin kita yang bertanggung jawab untuk mencoba mengambil jiwanya. Demonstrasi-demonstrasi dari sampah masyarakat Indonesia diorganisir untuk menakut-nakuti, menghina dan memprovokasi anggota-anggota kita. Sarekat ijo adalah nama fasisme Indonesia ini.
Mussolini, seorang makhluk jahat yang reaksioner menciptakan alat reaksionernya setidak-tidaknya menurut suatu prinsip, dan prinsip untuk suatu tujuan politik. Akan tetapi prinsip-prinsip apakah yang dimiliki Sarekat Ijo ini kecuali putus asa dan kerendahan budi? Demikianlah adanya satu periode fasisme.
Kamu pemerintah, pencipta, pengilham perancang intelek perbuatan suram ini! Kamu kira, bahwa ciptaanmu ini dapat menghancurkan kita? Sebagaimana halnya dengan penjara-penjara, pembuangan-pembuangan, pukulan-pukulan tongkat, peluru-peluru dan alat-alat lain dari alam gelap, demikian pun fasisme-mu akan lenyap sebagai timbunan salju di bawah sinar matahari.
Tetapi kita tidak mengharapkan satu khayalan, seolah-olah jalan kita pendek dan rata. Tanah gelap, sukar dan penuh dengan racun adalah jalan menuju kemerdekaan. Dari kiri dan kanan kita telah mendengar bisikan kawan-kawan yang ragu-ragu. Apakah kita akan meneruskan itu?
Berat adanya pekerjaan pendidikan di antara massa, yang berabad-abad mengalami tidak lain daripada hinaan dan pukulan tongkat, baik dari pemerintah bangsa sendiri, maupun dari pemerintah bangsa asing, massa yang dibikin merangkak-rangkak dan meminta-minta sebagai kebiasaan dan pemecahan persoalan penghidupan pada khalayak tak percaya dan pikiran-pikiran budak.
Berat rasanya melaksanakan pekerjaan pendidikan di bawah kekuasaan yang tak segan-segan berdusta, memperkosa undang-undang yang dibikin sendiri, menginjak-injak hak-hak rakyat dan mempergunakan alat-alat perkosaan secara kurang ajar, satu kekuasaan yang memiliki hak luar biasa menggunakan alat-alat penindas yang modern atas rakyat Timur yang menurut.
Berat rasanya melakukan pekerjaan perjuangan dengan suatu pasukan tak bersenjata, kehabisan dan dikelilingi oleh pengkhianat-pengkhianat, melawan suatu pasukan yang mempergunakan emas, orang-orang sewaan dan semua alat-alat lainnya.
Tetapi kebenaran adalah kuasa, kebenaran kita. Pertentangan antara yang berkuasa dan yang dikuasai, ialah dialektik perkembangan kapitalisme, adalah tenaga pendorong dalam perjuangan revolusioner kita, tenaga yang membangkitkan dan mengilhami kembali yang sedang runtuh dan memberikan kemenangan kepada yang kuat.
Penderitaan yang sedang mendalam, reaksi yang semakin kurang ajar akan memperkuat barisan kita dalam waktu yang pendek dan merongrong barisan musuh.
Kepada kaum intelek kita serukan!
Juga golonganmu tak akan lepas dari penderitaan akan datang satu masa, bahwa kapitalisme kolonial yang sekarang masih dapat mempergunakan tenagamu, akan membuat kaum-mu seperti sepah yang habis manisnya. Penyakit kapitalis ialah krisis akan tak mampu memelihara, juga kamu buat selama-lamanya. Juga kamu akan terdesak seperti ribuan saudara-saudaramu di Jepang dan India-Inggris kepada “Kasta Proletar Intelek”.
Tak terdengarkah olehmu, teriakan massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin keras? Tak terlihat olehmu, bahwa mereka pelan-pelan melangkah maju dalam perjuangan yang berat?
Apakah kamu akan menunggu sekian lama, sampai nanti kemerdekaan direbut oleh mereka sendiri sedang kamu pasti akan ikut menikmati buah kemenangan mereka yang nyaman? Tidak, sebegitu lesu dan sebegitu rendah tentu akan ada padamu. Karenanya bergabunglah kamu pada barisan kita! Tetapi segera, tinggalkan kasta-mu kelak juga dapat berkata dengan bangga : “ saya ikut membantu merebut kemerdekaan”.
Dalam taufan revolusioner yang memandang kamu akan belajar mengenai massa Indonesia dalam kemampuan dan kekurangannya, dalam kekuatan dan kelemahannya. Di sana kamu akan mendapatkan kesempatan menggunakan kemampuan moral dan intelek-mu untuk memperlancar jalan revolusi. Di sana kamu akan menginsyafi bagaimana nyamannya melaksanakan pekerjaan sosial dan berjuang untuk dan dengan massa. Di sana kamu akan merasa bagaimana sunyinya hidup secara individual dalam masyarakat kapitalistis.
Jika nanti kita mengharapkan, juga bantuanmu, kota-kota dan desa-desa di pantai-pantai dan gunung-gunung Indonesia yang luas berkobar-kobar untuk menuntut hak dan kemerdekaan, maka tak seorang musuh di dunia yang mampu menahan gelombang taufan revolusioner.
Dalam suasana Republik Indonesia merdeka, tenaga-tenaga intelek dan sosial akan berkembang lebih cepat dan lebih baik. Kekayaan yang maha besar yang diperoleh dengan pekerjaan Indonesia akan tinggal di negeri sendiri. Ilmu pengetahuan yang dikendalikan dan diperkosa yang sekarang dipergunakan untuk keuntungan lintah-lintah darat Belanda, nanti akan dapat berkembang dan akan dapat dipergunakan bagi kepentingan masyarakat Indonesia. Kesenian dan perpustakaan akan baru mendapatkan tanah untuk bertumbuh. Lebih pasti dan lebih cepat Indonesia akan bangkit di lapangan ekonomi, sosial, intelek dan kebudayaan.
Akan lampau adanya abad-abad kelaparan dan penderitaan, perbudakan dan ke-paria-an (kasta yang paling terhina di India) yang gelap.
Akan lampau adanya abad-abad dimana berlangsung adanya hak yang tak tentu dan tak adanya hak bagi passivitas-passivitas rohani, kepalsuan dan kegelapan.
Akan lampau adanya abad-abad yang mengerikan karena ketakutan akan kelaparan, penyakit menular dan ketakutan menghadapi penarik pajak, polisi dan penjara.
Akan lampau adanya perbudakan dan pemerasan satu bangsa oleh bangsa lainnya, dan satu manusia oleh masa lainnya.
Dan jaman baru menyingsing, dimana obor komunis selanjutnya akan membimbing rakyat Indonesia yang muda ke arah tujuan yang paling akhir : KEMERDEKAAN, KEBUDAYAAN DAN KEBAHAGIAN BAGI SEMUA RAKYAT DI DUNIA.
Tiongkok, April 1925

Muslihat

Oktober 28, 2008

Tan Malaka (1945)
PENGANTAR
TIGA MINGGU yang lampau Inggris-Nica dengan alasan yang dicari-cari dan berputar-putar dari tempo ke tempo, memajukan tuntutan pada kota Surabaya: supaya rakyat dan tentara dilucuti senjatanya. Maksudnya ialah supaya sesudah rakyat dan tentara dilucuti senjatanya, barulah Nica mau berunding dengan para pemimpin rakyat.
Tuntutan itu cuma satu artinya: Rakyat Indonesia lebih dahulu mesti dilucuti senjatanya. Kemudian akan dijajah kembali oleh Belanda, dengan Inggris sebagai pembantunya.
Rakyat Surabaya tak mau dilucuti senjatanya dan tak mau dijajah kembali. Tak mau pula ia berunding dengan senjata musuh di depan dadanya. Ini cocok dengan kemauan Rakyat Indonesia seluruhnya. Cocok pula dengan anjuran para pemimpin terkemuka di zaman Jepang. Cocok pula dengan semangat kemerdekaan yang sudah didengungkan selama 40 tahun. Cocok dengan hak dan kehormatan suatu Negara Merdeka.
Inggris-Nica dalam hakikatnya mau menjajah. Tuntutannya di atas tadi yang ditolak oleh rakyat Surabaya, dilaksanakannya dengan serangan gabungan dari laut, darat, dan udara.
Serangan yang sedahsyat-dahsyatnya selama ini.
Tiga minggu lamanya rakyat Surabaya sudah menahan serangan ini.
Hampir berbarengan dengan serangan Suarabaya, dengan maksud begitu juga dan alasan sejenis itu juga —yakni alasan “macan mau memakan anak kambing” menurut cerita terkenal— dengan alasan pura-pura itu sedang terjadi pertarungan hebat di Semarang, Ambarawa, Magelang, Jakarta, Bandung, dan Sumatera. Di mana-mana rakyat menang kalau cuma menjumpai perlawanan pasukan melawan pasukan. Tak ada pasukan Inggris-Nica yang bersenjata lengkap yang bisa menahan serangan pasukan Indonesia bersenjata serba kurang. Inggris bisa menang cuma dengan senjata luar biasa, yang membuat “orangnya” Inggris-Nica tak kelihatan lagi. Makin dekat ke pantai makin besar keuntungan dan kekuatan Inggris. Makin jauh dari pantai makin besar pula keuntungan dan kekuatan Indonesia. Dari Magelang Inggris-Nica sudah terusir sama sekali! Selalu saja Inggris, Belanda, Gurkha … ataupun Jepang lari tunggang langgang kalau berhadapan pasukan melawan pasukan, orang melawan orang!
Rakyat Indonesia sudah menyambut “PERANG” yang tiada dinyatakan dengan “PERANG”. Rakyat kita sudah benar sikapnya! Rakyat sedang berjuang mati-matian membela sikapnya yang benar itu. Rakyat Indonesia sedang membikin sejarah buat Negara Indonesia dan dunia lain. Rakyat Indonesia ada di bawah pengobaran dunia. Kalah atau menangnya kelak Rakyat Indonesia tiadalah terletak pada kalah atau menangnya berjuang dalam peperangan yang tak sama persenjataan itu!
Kalah atau menangnya itu terletak pada “salah atau benarnya”. Ia mengambil “sikap” terhadap kecerobohan. Dan juga pada lemah atau kuat imannya memegang sikap yang sudah diambilnya. Seandainya pada tanggal 10-11 November itu rakyat Surabaya bertekuk lutut terhadap tuntutan yang melanggar hak dan kehormatannya sebagai bangsa merdeka, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia sekarang akan mengutuki sikap bertekuk lutut itu.
Seandainya kelak Rakyat Indonesia karena kalah sementara pada satu tempat saja sudah patah hatinya dan kemudian mengubah sikapnya, berkhianat kepada sikapnya bermula, maka dunia luar dan anak cucu Rakyat Indonesia tiada akan memandang Rakyat Indonesia masak buat merdeka. Tetapi jika sikap yang benar itu tiada bisa menang dalam perjuangan ini, maka di hari depan sikap itu akan diteruskan dipakai pada perjuangan yang akan datang sampai maksud itu tercapai.
Rakyat Indonesia pendeknya sedang berjuang buat kebenaran dan keadilan! Apakah muslihat yang mesti dijalankan dalam peperangan yang tidak sama persenjataan ini?
Di tengah-tengah dentuman mortir dan bom, sambil memperhatikan sikap tegak-tenang di pihak rakyat dan prajurit Surabaya, saya di masa ini lebih yakin lagi akan kebenaran MUSLIHAT yang mesti dijalankan, MUSLIHAT mana sudah lama terkandung dalam pikiran.
MUSLIHAT dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya itulah yang saya coba bentangkan di sini!
Mudah-mudahan brosur ini akan memberi faedah pada para pemimpin perjuangan Indonesia yang maha dahsyat dan paling modern ini. MERDEKA !!!
****

I. Suasana
A. IKLIM PERJUANGAN
Republik Indonesia yang didirikan pada tanggal 17 Agustus 1945 berada dalam perjuangan yang hebat dahsyat. Percakapan yang berhubungan dengan Indonesia Merdeka diteruskan oleh MR. APAL, TOKE, DENMAS, PACUL, dan GODAM. Dalam hal merundingkan muslihat yang patut dijalankan ini pun nyata bahwa masing-masing pembicara terkungkung oleh sifat golongan sendiri-sendiri.
SI PACUL : Merdeka!
BERSAMA : Merdeka, Cul! Perubahan besar, Cul, buat engkau dari ucapan selamat pagi, apa kabar sampai merdeka! Kami kira engkau akan menyerbu dengan Kyai Kebal ke Surabaya! Sudahkah engkau terima jimat dan berkahnya Kyai Kebal. Mukamu berseri seperti baja saja, penuh kepercayaan.
SI PACUL : Betul saya percaya tetapi tidak atas kekebalan diriku sendiri. Saya percaya atas kekebalan 70 juta rakyat Indonesia. Asal saja semua syarat perjuangan dipahamkan dan MUSLIHAT dijalankan 70.000.000 manusia takkan dapat dijajah kembali.
SI TOKE : Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan kita sekarang?
SI PACUL : Saya juga bukan ahli, Kek! Saya juga mendapat pertanyaan dari surat kabar dan radio. Tetapi semalam kebetulan berjumpa beberapa teman yang baru kembali dari semua medan pertempuran kecuali dari seberang.
SI TOKE : Kabarkan, Cul, bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Bermula marilah kita sebentar mengheningkan cipta buat ribuan rakyat dan prajurit perwira Indonesia yang tewas dalam medan pertempuran. Kedua, marilah kita peringatkan pula bahwa kini tiga setengah bulan Republik Indonesia berdiri. Bandingkanlah perubahan jiwa Rakyat Indonesia, di masa 3½ abad di bawah telapak imperialisme Belanda dan 3½ tahun di bawah telapak imperialisme Jepang dengan 3½ bulan di bawah iklim kemerdekaan.
SI TOKE : Berbeda Cul, seperti siang dan malam. Jiwa berserah sekarang menjadi jiwa dinamis berontak. Semangat takluk dan percaya pada pimpinan asing, sekarang bertukar menjadi semangat melawan dan percaya pada pimpinan negara sendiri, sama diri sendiri, bahkan sama tombak bambu dan golok sendiri. Siapa sangka Cul, penjelmaan yang begitu besar bisa terjadi dalam tempo sependek itu.
MR. APAL : Baru saja saya kembali dari perjalanan dari Anyar ke Surabaya. Terlampau melebihi kalau saya katakan bahwa sepanjang jalan tiap-tiap km diperhentikan. Oleh siapa? Bukan oleh musuh polisi Belanda atau kempei Jepang. Melainkan oleh rakyat jelata Indonesia atas dorongan kalbunya sendiri. Siang malam mereka berjaga-jaga mengawasi mata-mata musuh yang memang berkeliaran mencari-cari kelemahan.
DENMAS : Di masa Diponogoro cuma rakyat Jawa Tengah saja yang berjuang, tak pula seluruhnya. Di masa Imam Bonjol cuma sebagian kecil rakyat Minangkabau yang bertempur dengan Belanda. Di masa Teuku Umar, cuma rakyat Aceh saja yang berperang. Tetapi sekarang seluruh Jawa sudah bertempur. Seluruh Sulawesi, seluruh Kalimantan, dan seluruh Sumatera sedang bangun serentak mengikuti jejaknya Jawa.
MR. APAL : Perjuangan sekarang ialah perjuangan nasional yang sebenarnya! Inilah yang diimpikan oleh kaum nasionalis semenjak 40 tahun ini.
SI TOKE : Perjuangan Indonesia sudah betul-betul menjadi perjuangan internasional. Dewan Selong menyatakan simpatinya terus terang berpihak Indonesia. Buruh Australia memergoki kapal Belanda yang mengirimkan senjatanya ke Indonesia buat memukul Republik Indonesia. Tentara Australia membantu pemberontak Indonesia di Kalimantan. Rusia dan Tiongkok mengakui Republik Indonesia. Dari Amerika pun terdengar suara simpati dari sebagian penduduk di sana. Begitu pula dari sebagian kaum buruh Inggris. Tetapi Cul, apa jawabnya pertanyaan saya yang bermula? Apa kabar yang paling akhir? Bagaimana keadaan pertempuran kita?
SI PACUL : Semuanya yang direntangkan di atas memang berhubungan rapat dengan keadaan kita sekarang. Tentang keadaan pertempuran lebih kurang amat menyenangkan. Kabar radio dan kabar temanku yang baru kembali dari Surabaya mengatakan bahwa Surabaya yang hampir rusak binasa itu sudah digenangi air. Inggris dan Gurkha-nya boleh terus menduduki Surabaya tetapi tank, truk, dan meriam besarnya baiklah mereka angkut saja ke tempat yang kering. Sebagian besar dari rakyat yang tak ikut bertempur sudah menyingkirkan diri. Biarlah Inggris-Nica dan seluruhnya insyaf bahwa rakyat Indonesia selain jiwa raganya juga siap sedia mengorbankan semua. Katanya buat membela kemerdekaan negaranya. Rakyat Indonesia juga insyaf bahwa di luar kota “mesinnya” tentara Inggris yang modern itu sudah kalah, mustahil berjalan terus!
SI TOKE : Bagaimana keadaan di lain tempat?
SI PACUL : Magelang, bekas benteng Belanda yang dahulu amat kuat itu sudah kita rebut kembali. Tentara Inggris sekarang terkepung dalam rawa, juga benteng Belanda, yang dahulu dianggap kuat. Di Jakarta dan sekitarnya pertempuran hebat terus menerus berlaku. Di Bandung dan sekitarnya, rakyat mendesak ke dalam kota. Di mana-mana gedung besar-besar dipertahankan oleh pemuda dengan gagah berani, di luar dugaan bermula. Di Bandung pemuda-pemuda pun tak ketinggalan. Seringkali Jepang dipakai oleh Inggris melawan Indonesia. Begitu keadaan di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera. Umumnya tentara Indonesia lebih ulung dan lebih berani dari tentara Inggris-Belanda. Tetapi kekuatan senjata tak berbanding. Tank Inggris bermaharajalela di jalan raya, meriam besar mereka tak ada lawannya. Kapal terbang dan kapal perang amat leluasa. Walaupun begitu tak sedikit tank yang ditangkap, kapal perang ditenggelamkan, dan kapal terbang ditembak jatuh oleh prajurit kita. Bermacam-macam senjata, seperti pistol, senapan mitraliur, meriam dll dirampas oleh rakyat jelata dengan bambu runcing, golok dan tinju saja.
SI TOKE : Jadi rupanya rakyat Indonesia dengan tombak bambu, golok dan tinju melawan Inggris-Nica-Jepang yang bersenjata modern buat tentara darat, laut dan udaranya!
SI PACUL : Tetapi ada senjata yang tak ada pada mereka dan ada di pihak kita.
SI TOKE : Apa Cul?
SI PACUL : Kebenaran! Keadilan! Akhirnya, Rakyat Murba!
B. DIPLOMASI dan DIPLOMASI
SI PACUL : Aku yakin bahwa kita dalam kebenaran dan keadilan. Aku juga percaya bahwa rasa kebenaran dan keadilan yang ada bersarang dalam hati sanubari rakyat di negara luar, akhirnya kan menyambut teriak kebenaran dan keadilan dari pihak kita. Lagipula kita sudah yakin bahwa Rakyat Murba kita tak menghitung laba rugi lagi dalam melaksanakan perasaan kebenaran dan keadilan itu. Tetapi diplomasi apa yang mesti kita jalankan supaya perjuangan rakyat sekarang ini berhasil, inilah yang saya ingin dengar dari Tuan sekalian yang hadir di sini.
SI TOKE : Memang diplomasi itu penting sekali. Denmas memang beradik berkakak dengan diplomasi. Cobalah bentangkan paham Denmas perkara diplomasi itu lebih dahulu.
DENMAS : Yang menjadi dasar diplomasi itu buat saya ialah kekuatan kita sendiri. Diplomasi itu mesti kita jalankan menurut kekuasaan kita sendiri, berbanding dengan kekuatan musuh. Kekuatan kita seperti sudah dijelaskan tadi, di udara, di laut, di darat adalah kurang sekali daripada musuh.
SI TOKE : Jadinya kita mesti bertekuk lutut lebih dahulu? Kemudian tunggu saja apa yang dihadiahkan oleh Sekutu kepada kita?
DENMAS : Oh, tidak…. tidak persis begitu!
SI PACUL : Jadi bagaimana persisnya Denmas?
DENMAS : Sebab dengan kekerasan kita agak susah mendapatkan pengakuan dari negara luar, maka diplomasi kita juga mesti disandarkan atas simpati luar negeri.
SI GODAM : Pengakuan luar negeri itu bukanlah syarat hidupnya Republik Indonesia.
SI PACUL : Diam dulu, Dam! Aku sudah maklum mau ke mana engkau pergi.
SI TOKE : Memang kita mau mendapatkan simpati dari semua negara lain di dunia. Kalau kita tidak bisa mendapatkan simpati dari semua negara lain, cukuplah sudah dari Sekutu saja. Tetapi bagaimana jalan mendapatkan simpati Sekutu itu?
DENMAS : Tuhan membentuk manusia serupa dengan bentuknya sendiri. Sekutu juga akan lebih menyetujui bentuk negaranya sendiri. Sekutu sudah berperang menghancurkan fasisme. Sekarang bentuklah negara yang tiada bercorak fasisme! Tentu akhirnya Sekutu akan akui.
MR. APAL : Memang bentuk Republik dan isi demokrasilah yang cocok dengan perasaan Sekutu. Maka dari itu marilah kita adakan tata negara yang demokratis, pemerintah yang dipilih menurut kehendak rakyat. Akhirnya perlakukanlah rakyat asing di negara kita ini menurut Undang-Undang Internasional dan akuilah kehendaknya Sekutu! Dengan begitu kita akan mendapat simpati, persetujuan, dan pengakuan dari Sekutu.
SI TOKE : Tetapi bagaimana kalau Inggris mau memakai Belanda- Nica sebagai perisai? Bagaimana kalau Inggris seperti imperialismenya di Afrika, Asia, dan Indonesia, membikin perjanjian buat diinjak-injak dan menipu saja? Di mana imperialisme Inggris pernah berlaku jujur terhadap bangsa berwarna? Apakah kita sendiri tidak akan dianggap berkhianat terhadap Negara Indonesia, jika kita sandarkan sikap kita atas kepercayaan pada kejujuran satu imperialisme yang belum pernah berlaku jujur, dalam sejarahnya yang sudah kita kenal?
SI PACUL : Inggris katanya diserahi oleh Sekutu pekerjaan buat melucuti senjata Jepang. Tetapi di mana-mana Inggris mengadu Jepang dengan Indonesia. Di Magelang dan Semarang Jepang dibohongi oleh Inggris. Katanya orang Indonesia sudah membunuh para pembesar Jepang. Di Bandung Jepang tiba-tiba menyerang rakyat atas persetujuan Inggris. Di Pesing, dekat Jakarta, serdadu Jepang diperintah oleh Inggris menembak orang Indonesia. Begitu pula di Palembang dan semua tempat lain. Berapa ribu rakyat Indonesia mati karena politik Inggris mengadudomba Jepang dengan rakyat Indonesia.
SI TOKE : Sebenarnya Republik Indonesia bisa, wajib, dan berhak melucuti senjata Jepang. Itu mulanya dilakukan oleh rakyat Indonesia di Surabaya, Yogyakarta, Magelang, Bandung, dan Malang. Semuanya bisa berjalan baik, kalau di belakangnya Inggris tidak memerintahkan Jepang menggempur rakyat Indonesia.
SI PACUL : Lagipula Inggris katanya cuma mau melayani orang tawanan Eropa! Tetapi apa yang dikerjakannya? Inggris memasukkan Nica bersenjata lengkap dari luar negeri buat menghancurkan Republik Indonesia. Dia memakai organisasi damai seperti Palang Merah dan RAPWI buat mempersenjatai dan mengerahkan tawanan Belanda buat menyerang rakyat Indonesia di mana-mana.
SI TOKE : Satu kali Inggris duduk di satu tempat, di sana Nica keluar, memperkosa merampas harta dan menembaki rakyat Indonesia. Apalagi tempat itu kacau, karena rakyat Indonesia melawan, maka Inggris adakan pemerintah militer. Ini artinya membatalkan pemerintah Republik.
SI PACUL : Jadi teranglah sudah maksud Inggris yang sebenarnya ialah: Duduki satu kota Indonesia, keluarkan Nica buat mengacau dan adakan pemerintah militer. Kalau semua tempat penting sudah diduduki tentara Inggris, ketentraman tercapai, maka dari kantongnya imperialisme Inggris akan dikeluarkan bonekanya, yakni Nica. Sesudah beres maka kapitalis kebun, minyak, dan pabrik Inggris akan kembali ke Indonesia menguasai arah-arahnya hasil Indonesia dan menguasai hasil itu sendiri, lebih dari sebelum masa perang. Bersama dengan jagoannya Belanda maka rakyat Indonesia akan diperas, ditelanjangi, dan ditendangtendang buat membangunkan negeri Belanda dan Inggris yang jatuh ke lembah kemiskinan dan kemelaratan itu.
SI GODAM : Bajing itu bisa hilang bulunya, tetapi tak akan hilang nafsunya buat mencuri kelapa. Selama giginya ada, tak ada kelapa yang boleh dipercayakan kepadanya. Muslihat yang benar ialah mencabut giginya atau memotong lehernya sama sekali.
SI PACUL : Perumpamaan lagi. Pastikan saja!
SI GODAM : Selama peraturan ekonomi, politik, dan sosial Inggris masih seperti sekarang, yaitu kapitalis, selama itulah pula nafsunya buat menjajah negara lain bergelora. Imperialisme Inggris bisa pura-pura jujur kalau ada “pelor” di depan dadanya. Persis seperti kucing patuh jinak selama ada tongkat di depannya. Begitu juga Belanda.
SI PACUL : Betul sekali ususnya prajurit Inggris dan Belanda tak kuat menghadapi pelor Jepang pada peperangan di Malaka dan Indonesia. Sekarang pun ususnya kendor kalau bertemu muka dengan prajurit Indonesia. Golok atau bambu runcing saja sudah membikin serdadu Inggris atau Nica gementar seperti tikus melihat kucing. Belum pernah tentara Inggris atau Nica dalam perjuangan seorang lawan seorang. Tetapi dalam tank baja dan kapal udara yang terbang tinggi mereka amat berani.
SI GODAM : Tetapi muslihat kita tak bersandarkan senjata lahir semata-mata.
SI PACUL : Apa senjata muslihat kita?
SI GODAM : Pertama keyakinan dan konsekuensi. Syarat adanya Republik Indonesia terletak semata-mata atas kemauan rakyat Indonesia saja. Pengakuan negara lain tiadalah menjadi syarat adanya republik kita. Melainkan syarat buat berhubungan baik dengan negara lain. Berhubung dengan sahnya Republik Indonesia menurut keyakinan kita, maka diplomasi kita mesti dipusatkan pada daya-upaya lahir dan batin memberi keyakinan pada dunia lain, bahwa kita mau dan bisa berlaku sebagai satu Negara Merdeka yang mempunyai “kehormatan atas diri sendiri”.
SI PACUL : Jadi dengan berpikir, berkata, dan berlaku seperti orang merdeka, kita bisa merebut hati, simpati, persetujuan, dan pengakuan Rakyat Merdeka atau Rakyat yang mau Merdeka di dunia luar.
SI GODAM : Tepat Cul! Bukan dengan sikap masa bodoh dengan tipuan dan kecerobohan negeri asing “Kalau sudah ditipu terus percaya. Sudah ditendang terus minta terima kasih”. Sikap budak semacam itu tidak akan mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka, melainkan sebagai budak, lagipula persetan sama putusan Sekutu, yang tidak diketahui apalagi disetujui oleh rakyat Indonesia, nyata pula negara besar seperti Rusia, Tiongkok, dan Amerika tiada menyetujui tindakan Inggris, perfide Albion itu. Diplomasi Indonesia Merdeka bukanlah diplomasi mengemis dan menerima! Diplomasi berjuang dan merebut, itulah diplomasi kita.
II. Kemungkinan
SI GODAM : Laba rugi dalam suatu perjuangan itu memang mesti diakui lebih dulu sebelum perjuangan itu dilakukan.
SI PACUL : Bagaimana kemungkinan itu buat kita, Dam?
SI GODAM : Kemungkinan itu mesti dihubungkan dengan beberapa perkara yaitu: 1. perkara bumi iklim (geografi) 2. keadaan internasional 3. cacah jiwa (man power) 4. kebatinan (moral) 5. kemiliteran 6. kecerdasan 7. disiplin 8. persatuan 9. organisasi
SI TOKE : Jadi semuanya ada 9 (sembilan) perkara yang mesti kita periksa.
SI GODAM : Sebenarnya lebih! Tetapi buat sementara cukuplah yang 9 itu. Maksud kita dalam brosur ini juga bukan mengadakan penyelidikan yang sempurna. Melainkan buat memberi petunjuk sekadarnya saja. Penyelidikan yang lebih dalam dan lebih luas boleh diadakan di lain tempat dan di lain tempo.
SI PACUL : Cobalah periksa perkara itu satu persatunya.
SI GODAM : Dalam garis besarnya boleh dikatakan bahwa empat perkara yang bermula menguntungkan kita. Tetapi dalam 5 perkara di belakang kita banyak mempunyai kelemahan. Untunglah pula kelemahan itu bisa dilenyapkan sama sekali, asal saja kita mengerti dan mau.
SI TOKE : Mulailah memeriksa!
SI GODAM : Tidak perlu diperpanjang lagi bahwa bumi iklim membantu kita dalam perjuangan. Bumi iklim kita membiarkan padi, ubi, sayur tumbuh 12 bulan dalam setahun. Jadi terus-menerus. Sedangkan di hawa dingin, gandum, sayur itu dibiarkan tumbuh dalam enam bulan saja. Jadinya tak perlu mengadakan persiapan selama enam bulan bumi beristirahat. Sambil berjuang, pertanian bisa diteruskan. Pakaian boleh disusutkan kepada sarung dan celana pendek saja. Tak ada musim dingin yang akan mengirim kita ke liang kubur kalau tak berpakaian tebal dari bulu domba. Dalam hal menyesuaikan badan ke hawa kita, sudahlah tentu kita di pihak yang beruntung pula. Sebaliknya musuh yang dari iklim dingin mesti mengadakan persediaan-persediaan makanan, pakaian dll lebih dari kita. Lebih susah pula mereka menyesuaikan dirinya dengan bumi iklim kita yang umumnya panas itu.
SI TOKE : Pendeknya bumi iklim itu, apalagi jendral hujan di bulan duabelas dan satu berada di pihak kita!
SI GODAM : Keadaan Internasional! Walaupun belum begitu terang, karena kabar amat sedikit yang kita terima, tetapi keadaan internasional makin lama makin menguntungkan kita. Dalam garis besarnya dunia sekarang boleh dibelah dua. Pada satu pihak, ialah imperialisme Inggris-Amerika dengan punakawan yang diangkatnya kembali yakni Perancis dan Belanda yang sudah kapok tadi. Pada pihak lain ialah Soviet-Rusia di samping beberapa negara kecil di Eropa yang merasa tertindas dan seluruh bangsa berwarna yang dijajah di Asia dan Afrika. Tetapi imperialisme Anglo- Amerika itu bukanlah kekuatan bulat dan tetap. Dalam badannya sendiri kapitalisme Inggris-Amerika itu terbagi atas dua golongan bertentangan, yakni kaum proletar dan kaum hartawan (borjuis).
SI PACUL : Jadi salahlah pengiraan orang yang membulatkan saja kekuatan kapitalisme Inggris dan Amerika itu.
SI GODAM : Memang salah! Orang yang berpikir secara mesin memang tidak atau kurang sekali memperhatikan pertentangan. Pertentangan itu sehari demi sehari bertambah tajam. Perjuangan Republik Indonesia bukan “tiada” mempengaruhi pertentangan di dunia luar itu. Percayalah bahwa kelanjutan perjuangan Indonesia Merdeka akan memperdalam dan memperluas pertentangan itu. Pertentangan itu mungkin menguntungkan Indonesia.
SI PACUL : Perkara ketiga, cacah jiwa, bagaimana?
SI GODAM : Praktis 70 juta rakyat Indonesia bisa menggerakkan 14 juta orang. Yang paling kuat buat penyerbuan saja ada 7 juta orang. Andaikan musuh bisa memasukkan 200.000 serdadunya ke Indonesia, jadi satu musuh mesti menghadapi 35 orang Indonesia, bulatkan 36 orang. Apa artinya kelebihan bilangan itu?
SI TOKE : Ya, apa artinya man power, kekuatan orang itu?
SI GODAM : Andaikan (buat memudahkan berpikir saja) satu orang Gurkha bersenjata tommy-gun dikepung oleh 35 orang bergolok dan bambu runcing (andaikan orang Indonesia tak mempunyai granat tangan, bom pembakar mitraliur, ataupun bedil atau meriam). Yang punya 35 bambu runcing, yang mengepung satu Gurkha itu bergiliran menurut tiga rombongan. Tiap-tiap hari selama 24 jam perkelahian terus menerus. Apa akibatnya? Prajurit Indonesia bisa tidur dan beristirahat, si Gurkha mesti terus menerus berjaga- jaga. Tiap-tiap rombongan Indonesia yang terdiri dari 12 orang itu bisa bergiliran tiga kali sehari untuk menjaga satu orang Gurkha. Satu giliran 12 orang cuma selama 6 jam. Jadi tiap-tiap giliran, maka 12 orang Indonesia cuma perlu bertempur 8 jam saja dan kelak bisa 16 jam sehari mengaso atau tidur. Sedangkan satu Gurkha satu Inggris atau satu Nica mesti terus menerus 24 jam sehari menjaga 12 golok! Satu hari bisa berjalan dengan beres. Tetapi jika sampai dua atau tiga hari si Gurkha, Ingggris atau Nica terus menerus menjaga 12 tombak atau golok, maka mereka bisa mati, karena momok golok saja.
SI PACUL : Memang begitu dalam teori! Dan teori itu penting!
SI GODAM : Kalau teori itu dijalankan dengan kecerdasan mesti ada akibatnya yang baik. Perkara keempat, kebatinan tak perlu dituturkan panjang lebar. Laki perempuan, tua muda, orang Indonesia sekarang tak kalah lagi dengan rakyat yang serevolusinya di dunia ini di zaman manapun juga. Jadi empat perkara di atas yang amat penting sekali berada di pihak kita! Memang empat perkara itu lebih susah merombaknya, seandainya empat perkara itu tidak berada di pihak kita. Karena keempat perkara itu, terlebih tiga perkara pertama, adalah di luar kekuasaan kita (lebih obyektif).
SI PACUL : Apa artinya di luar kekuasaan kita?
MR. APAL : Memang tak bisa kita mengubah bumi iklim, keadaan internasional, dan cacah jiwa itu, yaitu secara lekas dan langsung.
DENMAS : Memang syukurlah semuanya itu ada di pihak kita. Perkara keempat itu, kebatinan, kalau buat seorang saja memang bisa diubah. Tetapi kalau untuk 70 juta manusia tentulah mustahil bisa diubah dalam sehari, sebulan, ataupun setahun. Kini kebatinan itu pun ada di pihak kita.
SI PACUL : Sekarang cobalah selidiki 5 perkara yang tiada di pihak kita itu!
SI GODAM : Bukan sama sekali di pihak kita. Jangan kau salah mengerti, Cul. Sebagian ada di pihak kita. Tetapi memang kurang! Jadi perkara kelima, kemiliteran: kurang menyenangkan. Pertama, opsir yang sungguh menerima ilmu kemiliteran amat kurang sekali. Tetapi nyata di mana ada, opsir itu bisa dipakai. Walaupun “dai-dancho” cap Jepang cuma mendapat latihan beberapa bulan saja, tetapi sudah terbukti bisa dipakai dengan hasil memuaskan. Opsir rendahan latihan Jepang juga amat memuaskan. Apalagi prajurit biasa! Beberapa prajurit biasa yang sudah pecah sebagai ratna! Sungguh menggembirakan dan memberi harapan besar buat tentara Republik Indonesia di hari depan.
SI TOKE : Aku pikir begitu juga. Sudah 22 hari sampai sekarang kita bisa tahan serangan serentak dari darat, laut dan udara Inggris. Dengan pompa air saja dulu Belanda bisa mengacau- balaukan rakyat berkumpul. Teruskan Dam!
SI GODAM : Latihan juga amat pendek. Tetapi juga memuaskan. Yang tidak memuaskan tentulah persenjataan. Di laut kita tak berdaya. Di udara kita tak bisa bikin apa-apa. Terhadap mortir, tank, dan kereta baja kita dengan keberanian luar biasa saja bisa mendapat satu dua kemenangan. Pabrik senjata kita tak punya. Kita belum bisa bikin tank, meriam, kapal perang, dan kapal terbang.Walaupun ada barang kita buat dijual kita tak punya hubungan dengan dunia luar buat jual beli.
DENMAS : Memang semua itu masih terlampau kurang! Tetapi senjata penting buat rakyat, yang sudah mulai kita bikin sendiri.
SI TOKE : Perkara keenam, kecerdikan, bagaimana?
SI GODAM : Bukti saja! Ketika Nica bersarang dan menyerang di Kebayoran, maka berduyun-duyun rakyat Banten datang menyerbu. Mereka datang dalam rombongan, biasanya dikepalai oleh seorang Kyai. Tetapi satu rombongan sampai di Kebayoran menyerbu menang dan usir musuh dari bentengnya. Rombongan menang tadi kembali ke desanya dan tinggalkan benteng begitu saja. Kemudian Nica itu masuk kembali. Pasukan lain dari Banten datang pula menyerbu, menang…… kembali ke desa. Nica kembali! Demikianlah seterusnya, tak ada pergabungan (koordinasi) di antara pasukan dan pasukan kita. Tak pula ada “rencana” yang mesti pasti dijalankan dengan tanggung jawab yang pasti dan serempak.
MR. APAL : Sungguh banyak contoh yang membuktikan kekurangan kita dalam hal “kecerdikan” menyusun dan mengerahkan tenaga dan senjata peperangan itu. Di sini kita bisa mengadakan perubahan besar.
SI GODAM : Disiplin! Tentulah ini jiwanya suatu organisasi dan perjuangan. Tak perlu kita panjangkan uraian ini. Disiplin itu mesti berupa hubungan bapak dan anak, kakak dan adik. Tetapi bagaimana juga sifat disiplin itu mesti ada! Perintah dari pimpinan itu mesti dijalankan dengan baik. Kalau tidak mesti timbul kekacauan. Tiap orang akan bertindak sendiri-sendiri menurut tempo, tempat, dan cara yang ditentukan masing-masing. Perkara tata tanggung jawab, perkara memberi dan menerima perintah, perkara menjatuhkan dan menerima hukuman (disiplin) masih banyak sekali yang mesti diperhatikan. Tetapi dengan kelemahan disiplin kita itu, heran juga kita melihat hasil perjuangan yang begitu mengagumkan. Apalagi pula kalau disiplin itu dipererat. Perlukah sekarang saya rundingkan perkara kedelapan, persatuan?
SI TOKE : Dalam garis besarnya perlu juga! Persatuan yang rapi antara pulau dan pulau amat terganggu. Itu tak mengherankan. Kita tak mempunyai armada yang kuat menjaga persatuan itu. Alangkah kuatnya Indonesia kalau armada buat memelihara persatuan itu ada! Sekarang persatuan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku cuma dalam batin saja. Seberang yang sana jiwa hasratnya dengan Jawa dengar dari jauh bagaimana Jawa bertindak dan ambil pula tindakan semacam itu. Rencana bersama dibikin bersama dan dijalankan bersama serentak tak bisa dilakukan sekarang! Jangankan persatuan antara seberang dan Jawa! Antara provinsi dan provinsi saja di Jawa ini, malah antar daerah dan daerah (keresidenan) masih banyak kekurangan. Yang tak kurang menyedihkan pula ialah persatuan berembuk dan bertindak antara jabatan Negara. Kurang adanya persatuan Pemerintah Pusat dan Rakyat. Kurang persatuan Pemerintah Pusat dan Provinsi atau Daerah. Kurang persatuan antara Jabatan Politik. Jabatan Pertahanan Perekonomian di pusat, di provinsi ataupun kota.
SI PACUL : Sesudah kau sebut semuanya itu menjadi kusut hatiku, Dam. Akupun bisa tambah dengan beberapa contoh. Betapa tipisnya semangat kerja sama di antara awak sama awak. Belakangan ini ada penyakit baru: curiga mencurigai, tuduh menuduh, dan tangkap menangkap, culik menculik.
SI TOKE : Memang itu kemenangan musuh sampai sekarang! Daerah yang diduduki hampir tak ada artinya selama kita bersatu. Tetapi kalau racun perpecahan itu terus bermaharajalela di dalam barisan kita, maka akan berlaku kebenaran pepatah: “Bersatu kita kokoh berpecah kita roboh.”
MR. APAL : Mata-mata musuh itu memang satu bahaya yang mesti dibasmi. Tetapi janganlah “kecurigaan semata-mata” (kecurigaan melulu) yang menjadi dasar penyelidikan. Dasar kecurigaan melulu itu dari seseorang ke orang lain, tentulah menimbulkan kecurigaan si lain itu terhadap seseorang tadi pula, begitulah tak akan ada lagi orang yang percaya pada yang lain malah pada dirinya sendiri. Dalam hal itu kecurigaan menjadi penyakit yang tak terbasmi lagi dan memudahkan pekerjaan musuh yang selalu mengintai-intai saja, buat mengadudomba awak sama awak. Akhirnya kita sama kita akan bertempur seperti di zaman lampau.
SI TOKE : Bagaimana membasmi penyakit curiga mencurigai itu?
MR. APAL : Beranikanlah hati melihat tiap-tiap warga itu sebagai teman seperjuangan. Tenangkan pikiran menghadapi “bukti” yang dituduhkan terhadap seseorang Indonesia, apalagi kalau ia seorang yang pernah atau sedang bertempur di garis depan atau seorang pemimpin. Pisahkanlah tuduhan seseorang yang maksudnya cuma menaikkan diri sendiri dengan jalan menurunkan orang lain! Periksalah semua tuduhan dengan teliti. Baru kalau sah buktinya, jatuhkan hukuman yang sepadan dengan kesalahannya. Cuma kalau seorang Indonesia dalam suatu pertarungan mengerjakan pekerjaan penghianat maka dia dilayani secara kita melayani pengkhianat dengan tangkas dan hebat. Jika masih ada tempo mesti diadakan pemeriksaan yang seksama, sekali-kali kehormatan si tertuduh tak boleh diganggu.
DENMAS : Memang kita bertarung buat kehormatan Indonesia sebagai bangsa dan negara. Marilah lebih dahulu kita menghormati tiap-tiap warga negara republik, malah tiaptiap manusia!
SI PACUL : Delapan perkara sudah kau ajukan Dam! Kurasa betul bahwa empat perkara yang amat menguntungkan kita ialah: perkara bumi iklim, keadaan internasional, cacah jiwa, dan kebatinan. Benarlah pula bahwa lima perkara di belakangan, yakni perkara “kemiliteran, kecerdasan, dan organisasi” masih belum memuaskan sama sekali.
SI TOKE : Tetapi Godam, belum lagi engkau menguraikan organisasi.
SI GODAM : Sebenarnya perkara organisasi berseluk beluk juga dengan kemiliteran kita, kecerdasan, disiplin, dan persatuan. Berhubung dengan itu, maka kelemahan yang masuk dalam empat perkara tersebut masuk juga ke dalam kelemahan organisasi. Lagipula organisasi itu mengandung banyak perkara lain-lain yang amat penting artinya buat perjuangan. Sebab itu baiklah berikan pemandangan teristimewa tentang organisasi itu.
III. Organisasi
SI PACUL : Organisasi juga kita sebut susunan, bukan? Apa bentuknya organisasi kita itu dan apa isinya, Dam?
SI GODAM : Kita sekarang dalam masa perperangan yang tidak dipermaklumkan! Tetapi tetap peperangan tulen, peperangan modern. Jadi bentuk yang cocok dengan keadaan ialah “Organisasi Rakyat Berjuang”. Isi susunan kita ialah “tuntutan perjuangan” kita pertama: MERDEKA 100%. Terus sesudah merdeka 100% mendirikan masyarakat sosialistis berdasarkan industri berat nasional.
SI TOKE : Jadi dua tingkat itu mesti dipisahkan? Dalam tingkat pertama, seperti sekarang berada dalam perjuangan merebut MERDEKA 100 % begitukah?
SI GODAM : Benar, mesti dipisahkan, tetapi tak bisa diceraikan. Apa yang dimaksudkan pada tingkat kedua itu, sebagiannya sudah boleh malah mesti dijalankan pada tingkat pertama.
SI PACUL : Apakah Organisasi Rakyat Berjuang menghadapi tiga negara itu, sesudah maksud kita tercapai akan terus berdiri, atau akan ditukar dengan susunan lain?
SI GODAM : Cul, jauh benar perginya pertanyaanmu itu. Boleh kujawab bahwa dalam tingkat berjuang buat MERDEKA 100% itu “seluruh” Rakyat Pemberontak patut disusun dalam satu “KALANGAN” (platform). Dalam masa MERDEKA 100% boleh jadi tak semua anggota patut mau atau bisa dalam Organisasi Rakyat Berjuang tadi. Barangkali, bahkan mestinya ada anggota yang tak cocok sama sosialisme, atau tak cukup kuat iman buat mendirikan Industri Berat Nasional. Dalam hal itu, kalau perlu dan tak merugikan Indonesia Merdeka, biarlah sebagian itu keluar dari Organisasi Rakyat Berjuang dan mendirikan partai baru. Tetapi begitu perkara nanti. Saya pikir dalam pancaroba sekarang dan sepuluh tahun atau lebih sesudah Indonesia Merdeka 100%, maka paling baik kalau di Indonesia cuma ada satu “Partai Murba” saja. Putusan bisa lekas diambil dan kesalahan bisa lekas diperbaiki, percekcokan satu partai dengan partai lain seperti dalam negara berparlemen bisa dihindarkan. Semakin kurang percekcokan, semakin lekas mengambil keputusan dan semakin cepat menjalankan suatu putusan dan memperbaiki sesuatu kesalahan, semakin lekas sampainya Indonesia Merdeka ke zaman KEAMANAN. Seperti sudah saya bilang di tempat lain, “Keamanan” itu baru mungkin ada sesudah Indonesia Merdeka memiliki dan menyelenggarakan sendiri Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Terlampau panjang kau bicara ini kali, Dam. Tunggu dulu! Kuulang sekali lagi.
SI TOKE : Ya, ulang lagi, Cul. Aku juga bingung!
SI PACUL : Pertama sekali rupanya Dam, masa (periode) perjuangan kita kau bagi dalam dua tingkat besar! Pertama menuju ke arah MERDEKA 100%. Kedua menuju ke arah keamanan, ialah ber-Industri Berat Nasional.
SI GODAM : Benar, Cul itu sudah kusebut lebih dahulu! Mendirikan Industri Berat Nasioal itu masih kuhitung sama berjuang.
SI PACUL : Memang sudah kau sebut Dam. Tetapi perlu diulangi lagi buat titik melompat. Jadi Dam, kedua engkau bedakan pula arti “Kalangan” dan Partai. Rupanya “Kalangan” itu ialah medan perjuangan beberapa golongan masyarakat yang dalam arti khusus mempunyai berlain-lain hasrat, tetapi dalam arti umum mempunyai satu hasrat saja, ialah Indonesia Merdeka 100%.
SI GODAM : Seperti biasa engkau jitu Cul! Boleh juga dibilang engkau itu ahli mamah! Gampang sekali engkau mengartikan dan melaksanakan sesuatu paham.
SI PACUL : Lu, Dam! Aku bukannya lembu atau kambing Dam! Buat meneruskan golongan tadi, bukanlah Denmas masuk golongan Ningrat? Sekarang Denmas ingin Merdeka 100%, tetapi sesudah Merdeka 100% itu bukanlah Denmas mengidamkan suatu “Kerajaan”?
DENMAS : Jangan begitu Cul! Aku juga akan menyokong pemerintah proletar! Malah aku akan ikhlas memulangkan semua tanahku kepada proletar tanah.
SI PACUL : Kupegang perkataan itu Denmas! Aku tahu engkau jujur. Tetapi bagaimana golonganmu, golongan ningrat umumnya? Kuteruskan pula! Mr.Apal tentu keberatan atas konfiskasi (penyitaan) Perusahaan Bangsa Asing yang sudah memerangi kita yang membunuh perempuan dan anak-anak kita yang tak berdosa itu?
MR. APAL : Asal jangan membahayakan kedudukan kita sebagai negara merdeka, akupun tak keberatan menyita perusahaan asing yang ceroboh memerangi rakyat Indonesia!
SI PACUL : Kupegang pula perkataan itu, Mr. Apal. Kuharap semua golongan tuan akan menyetujui politik sitaan itu. Walaupun begitu, bukanlah mungkin banyak di antara kaum cerdas (intelek) dan borjuis umumnya yang ngeri menghadapi politik “sitaan” itu?
MR. APAL : M u n g k i n !
SI PACUL : Toke, sekarang buat engkau! Bukankah ada di antara golongan tengah yang tak akan cocok dengan diktator proletar? Artinya itu kalau perlu kaum proletar mesin dan tanah sementara tempo mengadakan pemerintahan berdasarkan “kediktatoran” dari kelas proletar mesin dan tanah. Saya bilang kalau perlu.
SI TOKE : Kalau buat saya Cul, apa saja pemerintahan kuterima. Asal cocok dengan keamauan golongan rakyat yang bertambah dalam negeri dan bisa membawa kita ke arah Merdeka 100% dan Indonesia Merdeka ber-Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Percaya aku akan perkataanmu, Kek! Tetapi tak semua golongan kaum tengah berpaham seperti kau. Mungkin banyak yang tak setuju dengan pahammu itu.
SI TOKE : M u n g k i n !
SI PACUL : Mungkin juga setelahnya Indonesia Merdeka 100%, engkau Kek, malah bersama Mr. Apal dan Denmas, tak mengucapkan merdeka lagi kepadaku dan kepada Godam… dan terus jalan perpisahan atau….. (Denmas, Mr. Apal, Toke serentak memprotes!).
SI GODAM : Cul, gara-garamu itu baik jangan diteruskan. Bisa mendatangkan salah paham. Kembalilah kau pada pembicaraan bermula.
SI PACUL : Aku tahu Toke, Denmas, dan Mr. Apal orang jujur. Sebab itu pula kuberani bergara-gara. Pendeknya dengan mereka seperti yang hadir sekaranglah kita membikin satu Kalangan. Jadi Kalangan itu mengikat golongan ningrat, borjuis proletar mesin dan tanah yang berhasrat Indonesia Merdeka 100%. Bukanlah begitu maksudmu, Dam? Hasrat “Kalangan” ini ialah HASRAT PERSAMAAN di antara beberapa golongan rakyat. Berbeda dengan hasratnya satu partai yang biasanya mengenai hasratnya satu golongan saja. Saya bilang biasanya, umpamanya kelas proletar saja atau kelas borjuis saja. Bukan begitu, Dam?
SI GODAM : Tepat, Cul, benar pak!
SI TOKE : Jadi kita perlu satu “Kalangan” di masa berperang ini dan “mungkin” memakai satu partai saja di zaman pembangunan Industri Berat Nasional.
SI PACUL : Sekarang bagi kita yang berada dalam peperangan melawan tiga negara ini (2 Desember 1945), seandainya “sudah mempunyai satu Kalangan Rakyat Berjuang”, apalagi yang penting, Dam?
SI GODAM : Yang paling penting tentulah kontak, yakni ikatan erat di antara kalangan tadi dengan Rakyat Murba. Kalau ikatan itu tak ada atau kalau ada tetapi tidak erat, maka pada suatu perjuangan mungkin kalangan tadi berada jauh di depan rakyat. Atau jauh di belakang rakyat. Itu berbahaya sekali. Hal ini mesti disingkiri.
SI PACUL : Tentu begitu! Kalau Rakyat Murba terlampau ke muka, karena kalangan berada terlalu di belakang, atau sebaliknya kalau Rakyat Murba terlampau di belakang karena kalangan terlampau di depan, maka itu berarti Rakyat Murba tak mempunyai pimpinan yang dibutuhkan. Rakyat Murba dalam hal itu gampang terjerumus!
SI TOKE : Bagaimana mengadakan ikatan yang erat itu?
SI GODAM : Carikan besi berani yang menarik dan mengikat dirinya dengan besi lain!
SI PACUL : Perumpamaan lagi, Dam. Bilangkan yang pasti nyata saja!
SI GODAM : Carilah sesuatu tuntutan yang bisa mengikat pikiran perasaan dan kemauan, pendeknya yang mengikat juga Rakyat Murba.
SI PACUL : Di desaku, Pak Kyai memajukan perang sabil!
SI TOKE : Kaum pedagang ingin berparlemen!
MR. APAL : Memang Badan Perwakilan Rakyat itu dirasakan betul oleh Rakyat.
SI GODAM : Ada tuntutan lahir yang tarikannya kuat seperti besi berani. Buat proletar tani, apa tuntutan yang lebih menarik daripada “tanah”?
SI PACUL : Tanah buat yang tak punya tanah, tentulah nasi buat yang lapar.
SI GODAM : Kita percaya kepada idealisme. Tetapi idealisme itu mesti berdasarkan materi, yakni benda dan kenyataan. Nasi itu adalah benda yang nyata. Bisakah orang berpikir kalau perut lapar? Apakah tuntutan berupa hak lahir yang nyata?
SI PACUL : Benar pikiranmu, Dam. Tetapi apa tuntutan yang nyata buat golongan proletar mesin yang mengambil bagian besar dalam perjuangan kita ini?
SI GODAM : Di masa damai tuntutan proletar pada masyarakat kapitalistis tentulah: naik gaji, kurang lama kerja, perbaikan rumah dll, berkumpul bersidang, dan sebagainya. Tetapi sekarang semua perusahaan besar di daerah Republik sudah dimiliki oleh Republik, oleh kaum proletar sendiri. Tuntutan proletar cuma campur mengurus produksi dan distribusi. Kalau kelak Negara Republik Indoensia itu berdasarkan proletaris sudahlah tentu kaum proletar yang akan menguasai produksi dan distribusi. Negara Republik Indonesia niscaya akan berdasarkan proletaris, kalau kaum proletarlah yang menjadi pelopor pergerakan kemerdekaan ini. Di Surabaya memang proletar mesinlah yang paling terkemuka dan paling tahan dalam semua perjuangan yang seru sengit.
SI PACUL : Jadi apakah tuntutan proletar di masa perang ini?
SI GODAM : Tuntutannya yang langsung tentulah terutama politik. Yaitu menuntut dicabutnya kembali tentara asing manapun juga. Baru tuntutan yang lain-lain bisa dijalankan. Baru kota dan pabrik yang sekarang di tangan musuh itu bisa dimiliki dan diselenggarakan oleh kaum proletar.
SI TOKE : Tuntutan “menyuruh mencabut kembali Tentara asing manapun juga” tentulah dirasa oleh semua golongan rakyat Indonesia. Jadi tuntutan ini boleh jadi tuntutan “kalangan”. Artinya dirasakan oleh semua golongan dalam kalangan.
SI GODAM : Ada beberapa tuntutan lain dan akan dirasa, yang bisa mengikat kemauan pikiran dan jiwa semua golongan rakyat yang memberontak.
MR. APAL : Baik susun saja nanti semua tuntutan itu sebagai Program Kalangan Rakyat Berjuang, dalam bagian teristimewa.
SI PACUL : Betul begitu. Cuma terangkanlah Dam, apa lagi yang kau rasa penting buat organisasi.
SI GODAM : Banyak lagi Cul! Cuma saya takut, kalau pembicaraan ini akan terlampau panjang dan membosankan.
SI PACUL : Kalau perlu diperpanjangkan, apa boleh buat, kita mesti cukup mengerti semua perkara yang berhubungan dengan organisasi itu.
SI GODAM : Sekarang “kalangan” sudah ada, tuntutan nyata sebagai “tali pengikat” sudah diketahui juga. Bagaimana pula sekarang mengikat rakyat Murba dan di mana ditaruh “tampuk murba”, yang memperhubungkan kalangan dan Rakyat Murba itu?
SI PACUL : Yang kau maksudkan dengan tampuk itu tentulah “sel” bukan?
SI GODAM : Betul Cul! Saya sebut tampuk buat menggambarkan bahwa Murba itu seolah-olah buah dan tampuk itu adalah sangkutan. Di situlah tali ikatan yang dibentangkan dari kalangan tadi disangkutkan.
SI PACUL : Bagus perumpamaanmu Dam, tetapi kurang nyata bagi saya.
SI GODAM : Begini Cul! Kalangan tak perlu dan tak mungkin bisa berhubungan langsung dengan rakyat Murba seluruhnya. Dia bisa cari beberapa orang jujur aktif pada tiap-tiap golongan Murba. Umpamanya di golongan pekerja beberapa orang itu bisa didapat dalam pabrik besi atau bengkel, di tambang arang atau minyak. Dua tiga orang jujur aktif itulah yang sel, yang tampuk. Dengan perantaraan dua tiga orang sebagai tampuk di kota Surabaya itu umpamanya bisa dimajukan tuntutan nyata. Dengan begitu seluruh perusahaan besi bisa bergerak, maju menyerang. Dengan dua tiga orang pada tampuk bisa perusahaan besi di Surabaya dikerahkan. Boleh jadi perusahaan besi mempelopori seluruh buruh Surabaya, pekerja minyak, listrik, kereta, dll. Baiklah pula tampuk itu dibikin di perusahaan lain di kota Surabaya itu, seperti di perusahaan minyak dan lain-lain tadi.
SI PACUL : Kalau begitu di golongan kaum tani perlu pula diadakan tampuk menurut tingkatan milik proletar tani (proletar tulen, setengah proletar, tani kecil [melarat] tani tengah dan besar).
SI TOKE : Di antara golongan kecil dan menengah majikan kecil dan tengah (besar tak ada atau tak berarti di Indonesia) mestinya ada pula tampuk!
SI GODAM : Jadi kalau sudah ada tampuk dalam golongan proletar mesin, proletar tanah, dan perusahaan kecil dan menengah maka dengan tuntutan nyata sewaktu-waktu Kalangan Rakyat Berjuang itu bisa memanggil dan mengerahkan rakyat Murba.
SI PACUL : Jadinya ikatan itu cuma dalam tempo menyerang musuh saja.
SI GODAM : Tepat pertanyaanmu, Cul! Tentulah tidak dalam waktu berjuang saja mesti ikatan itu ada. Dalam masa persiapan pun itu mesti ada.
SI PACUL : Apa ikatan itu di masa persiapan, di masa damai?
SI GODAM : Di waktu persiapan mesti ada selalu hubungan langsung antara Pusat Kalangan dengan Cabang dan tampuk di pabrik, bengkel, kebun, atau desa. Yang menghubungkan ialah “putusan” yang diambil oleh pusat yang mesti dilakukan oleh Cabang dan Tampuk. Sebaliknya pula mesti ada kritik dan usul dari pihak Tampuk dan Cabang ke Pusat. Kritik dan usul pun adalah perkara yang memperhubungkan Cabang atau Tampuk dengan Pusat. Putusan di atas mesti diambil sesudah mendengarkan kritik dan usul dari bawah dan dari para teman pengurus pusat. Apabila suatu putusan yang diambil secara demokratis, dalam hal berunding dan mengkritik, dimajukan ke Bagian Dalam Pusat ataupun ke Cabang dan Tampuk, maka wajiblah putusan itu dilakukan dengan jujur, teliti, dan rajin.Walaupun putusan yang sah demokratis itu tidak disetujui oleh suara terkecil (minority), maka wajiblah suara terkecil itu menjalankan putusan yang sendirinya tiada disetujui itu.
MR. APAL : Memang putusan dari suara terbanyak atas perundingan yang demokratis itu wajib dijalankan oleh seluruh anggotanya. Atas yang tiada menjalankan atau menyabot putusan itu mesti dijalankan disiplin. Kalau seorang dalam suatu perkumpulan cuma menjalankan suatu putusan yang dicocokinya sendiri saja maka kumpulan semacam itu tak mempunyai kekuasaan apa-apa.
SI PACUL : Mengertilah saya maksudnya disiplin dalam Kalangan Rakyat Berjuang itu. Apakah sudah habis perkara penting yang mesti dikemukakan?
SI GODAM : Mesti nyata, dirasa oleh pendengar. Dengan begitu siaran itu bisa membangunkan pikiran dan seluruh jiwa pendengar. Buat tani, kehidupan tani yang berhubungan dengan tanah, ternak, pekerjaan, dan kewajibannya terhadap negaralah siaran (propaganda) yang nyata bisa dirasa. Buat proletar mesin kehidupannya sebagai pekerja di samping mesinlah yang mengikat hati dan pekerjaannya. Begitu pula siaran di golongan kaum tengah, kehidupan yang mengikat perhatian dan pikiran sehari-harinyalah pula yang mesti dijadikan syarat-syarat siaran itu.
SI PACUL : Pendeknya terhadap Murba siaran yang nyata terasalah yang mesti kita lakukan. Tetapi apa isinya program buat Kalangan Rakyat Berjuang yang kau majukan tadi Dam?
SI GODAM : Baiklah diperundingkan program itu di waktu lain bersama-sama dengan susunan yang cocok dengan Kalangan Rakyat Berjuang itu.
IV. Program dan Susunan Kalangan Rakyat Berjuang
A. PROGRAM
SI PACUL : Bolehkah kita pastikan, bahwa program itu ialah sarinya hasrat kita?
MR. APAL : Tak salah begitu, Cul.
SI TOKE : Cobalah susun sarinya program kita itu Dam!
SI GODAM : PROGRAM KALANGAN RAKYAT BERJUANG itu lebih kurang:
1.    Mendirikan Pemerintah Berjuang oleh rakyat berjuang
2.    Mendirikan Laskar Rakyat
3.    Membagikan tanah pada tani melarat
4.    Melaksanakan hak pekerja mengatur produksi
5.    Melaksanakan Ekonomi Berjuang
6.    Membersihkan Indonesia dari tentara asing
7.    Melucuti senjata Jepang.
SI PACUL : Sedikit penerangan Dam! Baik juga kau batasi Pemerintah itu. Sungguh benar kalau kau sebut Pemerintah Berjuang. Pemerintah yang tiada berjuang bersama-sama dengan rakyat yang sedang berjuang itu adalah pemerintah yang mengharapkan hadiah dari atau kompromis dengan imperialisme ceroboh! Pemerintah berjuang itu mesti dipilih oleh rakyat berjuang pula. Mereka yang menunggu-nunggu kemenangan Inggris-Nica tiada berhak memilih Pemerintah Berjuang itu.
SI GODAM : Sebetulnya begitu Cul!
SI TOKE : Jadi Laskar Rakyat itu maksudnya ialah Laskar Rakyat Berjuang yang dipimpin oleh Pemerintah Rakyat Berjuang tadi. Laskar Rakyat itu mestinya lepas sama sekali dari pimpinan atau pengaruh semangat yang ingin “kompromis” atau takluk bertekuk lutut.
SI GODAM : Begitulah, Kek.
SI PACUL : Pembagian tanah itu ada sedikit sulit, Dam. Kepada siapa terutama dibagikan tanah itu? Apakah tanahnya ningrat juga sekarang mesti dibagi-bagikan?
SI GODAM : Dasar pembagian itu dalam garis besarnya yang berpunya kelebihan dikurangkan sampai cukup buat dirinya sendiri, buat dikerjakan sendiri. Yang kekurangan ditambah sampai cukup buat dikerjakan sendiri. Di mana ada satu golongan yang mau memiliki tanah itu bersama dan menyelenggarakan bersama, kemauan golongan itu harus dibantu.
SI PACUL : Jadi yang pertama mesti dikasih tanah ialah proletar tani, ialah tani yang tak punya tanah sama sekali. Kedua yang punya setengah cukup. Ketiga yang cukup, tetapi sederhana saja. Tapi tanah siapa yang mesti dibagibagikan itu?
SI TOKE : Sekarang engkau dapat bagian, Denmas.
DENMAS : Aku? Aku tidak keberatan!!
SI GODAM : Tanah Ningrat biasanya tak luas!
SI PACUL : Seandainya ada yang luas?
SI GODAM : Kalau Ningrat yang bertanah luas itu menentang Republik dan seorang kaki tanganya Nica, baiklah tanahnya dibagi-bagi.
SI TOKE : Semuanya tanah kapitalis asing dibagi-bagi pulakah?
MR. APAL : Memang patut kebunnya Inggris-Belanda yang sudah memerangi rakyat Indonesia itu disita saja. Mereka sudah memerangi kita dan mengambil puluh ribuan jiwa rakyat kita.
SI PACUL : Jadi kalau kita mengambil harta bendanya kapitalis ceroboh itu, yang sebenarnya tanah kita sendiri dan diusahakan oleh tenaga kita sendiri, pekerjaan kita itu tidak berlawanan dengan aturan internasional. Bukankah satu negara yang memerangi negara lain hartanya disita oleh negara lain itu?
SI GODAM : Siasat pembagian tanah itu mengandung dua maksud. Pertama, sebagai siasat kemakmuran. Ialah satu siasat yang dijalankan dengan maksud menambah kemakmuran. Dalam masa berjuang inipun hasil itu tak boleh dikurangkan. Kedua sebagai siasat memberontak. Apabila tanah itu diterima dan dikerjakan oleh seorang penentang imperialisme ceroboh maka pada ketika itulah pula dia menjadi seorang prajurit perjuangan yang taat setia pada kemerdekaan. Buat dia kemerdekaan itu berarti harta benda yang diperolehnya itu, yang mesti dipertahankan mati-matian. Kehilangan Kemerdekaan Indonesia buat dia berarti kehilangan mata pencaharian, yang sudah dipegangnya dan diselenggarakannya buat dia dan anak istrinya.
SI PACUL : Ringkasnya siasat pembagian tanah itu berwujud kemakmuran dan semangat perjuangan.
MR. APAL : Pabrik, bengkel, tambang, kereta dan lain-lain perindustrian sudah dimiliki oleh Republik. Apakah lagi tindakan yang sekarang mesti diambil?
SI GODAM : Selekas mungkin mereka mesti diberi hak mengatur produksi dan distribusi. Lagipula mereka mesti ditarik ke dalam badan politik, di kota daerah dan negara. Dengan begitu mereka betul-betul menjalankan hak mereka mengatur produksi, distribusi, dan politik. Dengan begitu mereka betul-betul merasakan hak mereka lahir-batin.
SI PACUL : Cuma dalam masa perjuangan ini mesti dipelajari lebih dahulu apa industri yang mesti diteruskan atau ditambah. Perdagangan dengan luar negeri sudah putus. Sebagian besar perindustrian Indonesia sekarang terhenti dengan terhentinya perdagangan dengan luar negeri itu. Perindustrian Indonesia di bawah Belanda didasarkan barang bahan dan barang yang diperniagakan ke luar negeri.
SI TOKE : Jadi perindustrian sekarang mesti dicocokkan dengan keperluan perjuangan saja.
SI GODAM : Tepat Kek. Ini menuntut pemeriksaan yang pertama, serta perundingan dan tindakan yang cepat tepat. Ini berhubungan dengan “Rencana Ekonomi” yang akan dibrosurkan pula. Dengan begitu maka Titik 6, yakni perkara melaksanakan Rencana Ekonomi Berjuang kita tunda ke lain waktu dan lain perundingan.
SI PACUL : Perkara 6, dan 7, yakni membersihkan Indonesia dari tentara asing dan melucuti senjata Jepang adalah akibat yang terdasar pertama oleh timbulnya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus dan kedua, oleh perebutan “agresif ” (ceroboh) dari pihak Inggris dan bonekanya Nica sendiri.
SI GODAM : Hak membalas “perang” dengan “perang” itu adalah cocok dengan hak mutlak dan kehormatan Negara Merdeka. Manusia Merdeka dan Berkehormatan itu juga berhak dan terus balas “jotos” dengan “jotos”. Di dunia hewan cuma anjing yang merangkak kembali kepada tuannya sesudah dipukul. Dalam masyarakat manusia cuma budak yang menerima pukulan dengan tidak melawan. Republik Indonesia Merdeka akan sendirinya terlempar ke jenis “anjing atau budak”, kalau “perang” tidak dibalas dengan “perang” pula. Tak ada pengakuan yang kita, Indonesia Muda, akan rebut dari hati sanubari Negara Merdeka dan Rakyat Merdeka di luar Indonesia.
SI PACUL : Benar! Negara dan Rakyat Merdeka di dunia ini akan jijik melihat sikap kita. Dalam hatinya mereka akan berkata: “Republik” Budak di Indonesia itu sudah sepantasnya “diakui”, tetapi bukan sebagai Negara Merdeka, melainkan sebagai Dominion, Gemennebest atau corak jajahan lain-lain buat diinjak-injak oleh Inggris atau Belanda selama dunia berkembang.
MR. APAL : Memang akibatnya pengakuan kita atas kemerdekaan kita sendiri itu mengandung pengakuan dan kewajiban: “kita sendiri melucuti Jepang”.
SI PACUL : Itu sudah logis dan semestinya.
B. SUSUNAN
SI GODAM : Yang dimaksudkan di sini bukanlah susunan pemerintah, tetapi susunan “Kalangan Rakyat Berjuang”. Maksudnya terutama memang berjuang. Perkara yang lain-lain seperti pendidikan, kesehatan, dll dalam arti yang dalam dan luas sepatutnyalah kalau diserahkan kepada pemerintah saja.
SI PACUL : Tepat Dam! Maksud “kalangan” itu yang pertama dan terakhir ialah “MEMANG BERJUANG”. Pada “kalah menangnya” rakyat kita dalam perjuangan inilah tergantung “tumbang atau tumbuhnya” Republik kita dan hidup matinya Rakyat Indonesia.
SI GODAM : Buat susunan perjuangan itu, saya pikir ada tiga bagian yang penting sekali, pertama Bagian Politik, kedua Bagian Pertahanan, ketiga Bagian Ekonomi.
DENMAS : Manakah bagian yang terpenting?
MR. APAL : Dalam Negara Republik berdasarkan Kedaulatan Rakyat dan Sosialisme, sudahlah tentu Bagian Politik itu yang terpenting. Bagian Politik itulah yang menentukan arah jalannya Negara, seperti seorang nahkoda menentukan arah kapalnya berlayar. Jadi dalam hal putus memutus Bagian Politik-lah yang menjatuhkan kata terakhir.
SI PACUL : Memang kalau putusan terakhir itu jatuh di tangan Bagian Pertahanan, maka mungkin negara kita akan bersifat militeristis. Keadaan sifat begitu mesti kita singkirkan dari sekarang.
MR. APAL : Akibat pemerintahan militeristis yang terdiri dari ratusan pulau ini akan memberi jalan kepada perpecahan. Satu diktator militer di Jawa umpamanya akan mengundang adanya diktator militer di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, mungkin pula di Ambon atau Maluku. Republik kita dan kemerdekaan kita jatuh atau berdiri dengan “kata mufakat”. Kalau kepulauan Indonesia tak bisa mengadakan pemerintahan yang didirikan atas “kata mufakat” maka besarlah bahaya kita atas perpecahan.
SI GODAM : Pendeknya putusan penghabisan dalam pimpinan politik negara mesti terletak di tangan Bagian Politik. Apabila arah politik sudah ditentukan dan diputuskan oleh kalangan buat berjuang maka kepada Bagian Pertahananlah diserahkan menetukan siasat dan pimpinan perjuangan.
SI PACUL : Sudahlah tentu Bagian Politik tidak akan berdiam diri saja.
SI GODAM : Tentu tidak! Siasat berjuang dan pimpinan berjuang itu senantiasa mesti diketahui dan diawasi oleh Bagian Politik. Pun Bagian Ekonomi bukanlah satu bagian yang terpisah dan menonton saja. Pada Bagian Ekonomilah terletak kewajiban menjaga keekonomian. Makan minum, pemondokan, perawatan, pengangkutan dll dari tentara yang sedang berjuang mati-matian itu membutuhkan perhatian pikiran dan kemauan para pengurus sepenuh-penuhnya.
MR. APAL : Ringkasnya mesti ada kerja tolong-menolong antara Bagian Ekonomi, Bagian Pertahanan, dan Bagian Politik. Tetapi putusan tertinggi dan bertangngung jawab terhadap Rayat Berjuang mestinya berada di tangan Bagian Politik.
SI PACUL : Memang kekuasaan dan tanggung jawab itu mesti ditentukan lebih dahulu. Kalau tidak akan timbul kekacauan kiri-kanan seperti sekarang. Apalagi kalau tentara kita di medan perang sedikit mendapat kemunduran, maka kekacauan dalam Badan Pimpinan itu bisa memasukkan biji “devide et empera”, pecah dan kalahkan dari pihak musuh yang mengintai-intai itu.
SI GODAM : Tiap-tiap tiga bagian itu mempunyai cabang (pembagian) pula. Bagian Politik saya pikir terutama dibagi empat cabang besar pula, ialah : 1. Urusan garisan politik Kalangan 2. Usaha menyelidik semua hal yang mengenai politik 3. Urusan penerangan 4. Urusan susunan.
SI TOKE : Memang pembagian pekerjaan dan tanggung jawab itu perlu sekali. Semua cabang di atas saya anggap penting. Garis politik mesti dipegang betul supaya kita jangan menyimpang dari garis yang sudah ditetapkan oleh Sidang Kalangan. Barangsiapa yang menyimpang dari garis itu mesti dikenai disiplin, ialah sesudah diperoleh bukti yang sah. Urusan penyelidik mestilah selalu siap sedia menjaga supaya jangan masuk orang atau paham yang merugikan perjuangan kita. Sudahlah terang bahwa penerangan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan siaran itu penting sekali. Keyakinan dan semangat rakyat bisa dipegang dan diperhebat dengan jalan penerangan dan siaran. Bahaya mata-mata musuh itu tak ada selamanya bisa didapat dengan jalan penerangan dan penyiaran. Rakyat yang serba gelap gampang dimasuki setan pemecah belah. Akhirnya susunan di pusat, cabang, dan tampuk mesti dicocokkan buat seluruh negara, pulau, provinsi, daerah, kota, dan desa. Itulah perlunya cabang urusan susunan di atas.
SI GODAM : Kupikir baiklah Bagian Pertahanan itu kita bagi pula atas empat urusan : 1. Urusan Tentara Rakyat 2. Urusan Kepolisian 3. Urusan pemuda berjuang 4. Urusan porewa (milisi)
SI PACUL : Urusan tentara itu sudah tentu berhubungan dengan latihan kemiliteran pimpinan tentara berupa opsir dan persenjataan. Begitu juga urusan kepolisian. Urusan pemuda yang berkenan dengan pertahanan itu sesungguhnya pula perlu mendapat perhatian teristimewa. Boleh dikatakan bahwa di bahu pemudalah sebagian besar terletaknya pertahanan Negara Republik. Yang mestinya tak kurang mendapat perhatian ialah urusan perang. Dalam masa Imperialisme Belanda ada satu golongan orang Indonesia yang berdarah merdeka dan bersifat pemimpin, mereka tak mau terikat oleh aturan yang ditimbulkan oleh Imperialisme Belanda, baikpun aturan yang berhubungan dengan ekonomi ataupun politik. Mereka mempunyai para pengikut, tiap-tiap pemimpin sampai 500-1.000 orang, yang ikut pemerintah pemimpinnya dengan tak menghitung laba rugi, hidup mati. Di masa imperialisme Belanda mereka dianggap musuh ketentraman masyarakat yang memang bobrok itu. Sekarang mereka sendiri tak menginginkan masyarakat jajahan itu dikembalikan. Di mana-mana mereka mengadakan tindakan sendiri menghadapi musuh yang ceroboh bersenjata lengkap. Di mana mereka menerima kepercayaan Murba dan tanggung jawab, di sana mereka mengadakan perubahan yang baik. Mereka yang dibentuk oleh masyarakat jajahan dahulu itu, kaum porewa, yang semangat berontak dan senantiasa serempak serentak berontak dan mesti ditaruh di bawah perhatian dan pimpinan yang sehat. Kalau tidak, mereka akan bertindak sendiri dan mungkin merugikan perjuangan.
SI GODAM : Memang kita mesti urus dan perhatikan semua golongan manusia yang kita warisi dari masyarakat jajahan yang busuk itu. Memang gampang melamunkan “prajurit suci” yang beridaman “suci”. Tetapi dalam dunia perjuangan ini, kita tiada mengelamun. Kita mesti praktis! Kita mesti berjuang dengan alat berupa barang, dan manusia yang ada pada kita. Akhirnya Bagian Ekonomi mesti mempunyai cabang pula buat: 1. Urusan pekerja, 2. Pertanian, 3. Perusahaan, dan 4. Pasar. Prajurit pekerja dan proletar tani tentulah mesti mendapat perhatian luar biasa. Buat proletar muda mesti diadakan latihan dan kursus, supaya mereka disiapkan buat memimpin perusahaan, pertanian, politik, dan pertahanan negara. Perhatian kita mesti memusatkan kepada ini, karena merekalah yang paling aktif dan sudi berkorban dalam perjuangan yang paling hebat dahsyat ini. Seboleh- bolehnya kaum pedagang dan perusahaan kecil dan tenaga itu disusun pula dalam satu organisasi seperti koperasi. Semangat perorangan yang mengendali perhatian dan aksi mereka mesti dibelokkan pada semangat kolektif, gotong-royong buat membantu republik yang dalam marabahaya ini. Kaum dagang di pasar pun termasuk pada golongan ini juga. Begitulah susunan “Kalangan” itu dalam garis besarnya.
SI PACUL : Memang kalau susunan semacam itu bisa dilaksanakan di pusat, di pulau, di provinsi, di daerah kota, 70 juta rakyat Indonesia ini tak akan bisa lagi digertak atau ditipu pembujuk ataupun bajak perampok dari arah manapun juga datangnya. Siaran si perampok ataupun siaran pelor-bom akan melayang tersia-sia saja!
V. SYARAT SERTA TAKTIK BERJUANG
SI PACUL : Sekarang (2 Desember 1945), “seandainya” kita sudah mempunyai Kalangan Rakyat Berjuang seperti sudah kita uraikan di atas. “Kalangan” itu seandainya pula sudah berdisiplin yang kuat kokoh. Semuanya rakyat yang berontak sudah terikat di bawah pimpinan atau pengaruhnya. Janganlah pula dilupakan beberapa perkara di bawah ini: Musuh kita Inggris-Belanda hakikatnya amat bertentangan. Dalam tentara Inggris dan Nica tak kurang adanya pertentangan. Sekutupun terbagi atas pro dan anti Indonesia Merdeka. Seluruh Asia dan Afrika yang dijajah memihak pada Republik Indonesia. Dunia proletar Internasioal tak menyukai Perang Dunia Ketiga. Akhirnya Soviet Rusia dan Tiongkok memperamati dan 100% menyetujui Republik Indonesia. Apakah syarat dan taktik strategi atau TIPU MUSLIHAT berjuang?
SI GODAM : Seperti dalam perjuangan, maka di atas segala-gala yang terpenting tentulah “keyakinan” dan kekuasaan menang.
DENMAS : Memang keyakinan dan kehendak itu adalah uap kereta dan listrik buat mesin, ialah satu kodrat pendorong. Tetapi di luar Rakyat Murba apalagi di antara kaum intelek masih banyak yang sangsi atas kemenangan. Alasan mereka tentulah sebab kekurangan senjata. Kekurangan ini, kekurangan itu!
SI PACUL : Yang sangsi itu mestinya ada di dalam semua perjuangan. Tetapi Rakyat Murba tidak main hitung semacam itu. Ada atau tak ada pimpinan, mereka terus gempur Inggris-Nica yang ceroboh dan yang mulai bertindak melucuti senjata prajurit Indonesia.
SI TOKE : Memang maksud Inggris-Belanda sekarang sudah lebih terang! Keterangan dari Perdana Menteri Inggris bahwa Pemerintah Inggris cuma mengakui Hindia-Belanda sudah cukup terang.
SI PACUL : Semua tindakan Inggris-Nica sendiri sudah lebih terang buat mereka yang “mau” mengerti. Tetapi buat mereka yang tak mau mengerti karena dalam hati sanubarinya sudah terpendam “kemauan buat kompromi”, apapun juga bukti tentang maksud Inggris-Belanda yang sebenarnya tak akan dimengerti oleh mereka. Mereka mau kompromi dengan Inggris-Belanda, bermusyawarah dengan Inggris-Belanda, sedangkan “musuh” masih dalam negara kita. Barangkali nanti debat mendebat dalam permusyawaratan, pilih memilih wakil buat Dewan ini dan itu, pendeknya rebut merebut kursi, pangkat, dan gaji. Sedangkan musuh masih “dalam” Negara!
SI GODAM : Asal kalangan berjuang selalu berdiri di tengah-tengah Rakyat Murba dan memimpin Rakyat Murba dengan keyakinan dan kemauan menang dan perhatikan semua syarat dan taktik berjuang, kita bisa dengan tenang menyerahkan hari depan Republik Indonesia kepada Sang Waktu.
SI TOKE : Apakah pula syarat itu, Dam?
SI GODAM : Banyak juga. Tetapi terutama yang mesti dilakukan: 1. Pegang ini tiap-tiap menyerang. Artinya siasat menyeranglah yang kita utamakan. 2. Cari gelang rantai pertahanan musuh yang lemah. Putuskan rantai itu. Kepunglah masing-masing putusan itu dan hancurleburkan. 3. Selalu hitung lebih dahulu: kekuatan pertahanan musuh dan kekuatan kita menyerbu. 4. Selalu bisa memilih mana yang baik: menjalankan muslihat menyerang dari depan atau dari samping atau mengepung. Gempurlah rombongan kecil-kecil! Seranglah sekonyong-konyong. 5. Selalu ada persiapan menggempur mata-mata musuh (tetapi jangan berlaku tidak adil atau kejam karena terburu nafsu). Periksalah dengan seksama.
SI TOKE : Apa yang “jangan” dilakukan? Engkau sudah bilang apa yang “mesti” dilakukan?
SI GODAM :
1. Jangan lupa bahwa kita bukan melawan tentara. Senjata kita terutama politik, ekonomi dan gerilya.
2. Jangan lupa mendengungkan ke dalam dan ke luar negeri bahwa Republik Merdeka adalah 100% hak kita dan Inggris-Belanda tak berhak mencampuri urusan rakyat Indonesia. Satu persen pun tidak!
3. Jangan lupa bahwa walaupun dunia internasional membiarkan kota Indonesia dibom atom, desa dan gunung Indonesia cukup banyak buat perlindungan kita. Bumi cukup kaya buat hidup tak dengan kota. Tetapi Inggris-Belanda dengan tentara modern tergantung sebagian besar pada kota modern di Indonesia.
4. Jangan lupa bahwa Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang selalu kalah kalau berada jauh dari armada yang membantu dengan meriam dan kapal terbangnya. Jangan lupa contoh Magelang. Jangan putus asa kalau kalah di pantai. Di gunung pasti menang, kalau mau menang. Jadi jangan hilang akal kalau sebentar terpaksa meninggalkan kota. Jangan lupa menggempur kembali ke kota, apalagi dalam gelap dan hujan. Sekarang Jendral hujan sudah memanggil.
5. Jangan lupa bahwa Inggris-Nica dan pengkhianat di sampingnya tak bisa hidup tak dengan air, makanan, sayur, daging, dan pertolongan rakyat Indonesia. Jangan lupa bahwa setiap jam setiap hari tentara Inggris- Amerika terhalang maksudnya, jutaan rupiah ongkos yang mesti dipakainya dan dipikulkannya ke bahu rakyat yang sudah miskin melarat itu.
6. Jangan lupa bahwa kesabaran rakyat Inggris, Belanda, dan rakyat dunia lain yang ingin damai, ingin barang bahan Indonesia itu, ingin karet, minyak tanah, timah, gula, kina itu ada batasnya. Rakyat dunia itu tidak bisa selamanya membiarkan Inggris dan Belanda mengacau di Indonesia, bagian bumi yang penting buat perdagangan dan lalu lintas itu.
7. Dalam menjalankan taktik greliya dan kalau perlu taktik bumi hangus dan terendam, janganlah menyerang dari depan kalau musuh terkumpul dan bersenjata lengkap. Singkirkanlah peperangan tentara menghadapi tentara. Janganlah lupa bahwa Rakyat Murba mendapat senjata baru yang cocok buat taktik gerilya, ialah GRANAT TANGAN yang sekarang ada bertimbuntimbun. Jangan lupa bahwa granat tangan dan bambu runcing berkali-kali mengacau-balaukan dan mempontang- pantingkan gabungan Inggris, Nica, Gurkha, dan Jepang. Jangan lupa bahwa Bukit Barisan Indonesia dari Aceh ke Lampung, dari Banten ke Banyuwangi terus ke Timor, di Malaka, Kalimantan dan Sulawesi selama ini menunggu-nunggu putera Indonesia yang pahlawan-perwira buat bersembunyi sebagai pahlawan hutan Indonesia. Sang macan…. menghancurleburkan penjahat manapun juga di abad ke 20 ini.
SI PACUL : Tepat Dam…… Bukit Barisan yang sebagai macan, dengan taktik macan menunggu-nunggu penjajah buat diterkam dirobek-robek. Naik semangatnya Dam!
SI TOKE : Aku pun begitu Dam! Tadi sesudah mendengar kabar kekalahan kita di Surabaya terharu betul hatiku. Hampir percaya kepada kaum pengeluh. Ah, kita kekurangan ini, kekurangan itu, kita akan kalah! “Kasihan sama Rakyat”. Tetapi sekarang aku yakin Bukit Barisan kitalah benteng kita yang terakhir.
MR. APAL : Ingat sama Fabius, ahli mundur! Dia adalah seorang pahlawan Romawi melawan tentara Punisia yang kuat, di bawah pimpinan Jendral Punisia yang gagah perwira yang cerdik sekali. Tetapi akhirnya dengan taktik teratur Romawi menang juga.
DENMAS : Memang mesti dicamkan juga pada rakyat, bahwa tentara yang berperang itu tidak semestinya maju saja. Ingatkan pula bahwa senjata kita bukanlah senjata api semata- mata. Senjata kita juga berada dalam ekonomi dan politik. Malah Jendral Hujanpun satu senjata kita.
SI PACUL : Ya! Sebenarnya kita sedikit salah di Surabaya terhadap rakyat kita.
SI TOKE : Apa salahnya Cul ?
SI PACUL : Sebenarnya kita mesti bagikan kain kepada rakyat ketika kita sudah sita kain bertimbun-timbun. Rakyat kita butuh kain! Kain itu adalah hasil kemenangan rakyat Surabaya yang berjuang merebut kembali hak miliknya. Pada saat itu juga mestinya rakyat yang ditelanjangi Jepang itu ditutupi badannya. Satu muslihat buat melaksanakan siasat kemakmuran dan mempertinggi semangat pemberontak!
SI TOKE : Baiklah hal itu menjadi pelajaran di hari depan. Lekas PENUHI KEBUTUHAN RAKYAT di mana saja. Jangan ditunggu-tunggu lagi! Rakyat sudah kebosanan JANJI!!
MR. APAL : Sekarang rasanya sudah cukup kita rundingkan apa siasat dan taktik yang perlunya dijalankan berjuang. Tentu masih ada ketinggalan di sana-sini. Tetapi saya pikir baiklah Godam membikin satu pidato di depan kami, satu pidato sebagai contoh buat seorang propagandis di depan umum. Kami mau pakai sendiri.
SI GODAM : Saudara sekalian tahu, bahwa sesungguhnya aku bukan ahli pidato.
SI TOKE : Tak perlu kita caranya melaksanakan pidato itu, cara itu tidak penting buat Rakyat Murba yang sedang berjuang mati-matian. Yang penting ialah “ISI” pidato itu.
SI PACUL : Silakan Godam!
DENMAS : Aku seorang ningrat, Dam. Engkau berasal dari kelas benggolan, bekas stoker, bekas masinis. Tetapi dalam semua perundingan kita engkau perlihatkan kecerdasan, keberanian, dan kejujuran. Kuangkat pecisku di depan kecakapanmu, Dam. Aku mengaku muridmu, Dam.
MR. APAL : Aku seorang bertitel meester, Dam. Dunia intelek di zaman Belanda mengakui tingginya pengetahuanku, Dam. Mr. ialah pengakuan yang tertinggi tentang pengetahuan dalam hal undang-undang. Engkau seorang keluaran sekolah rendah saja. Tetapi engkau seorang “self-made-man” yang jaya. Contoh di segenap sejarah manusia cukup banyak kau ketahui! Contoh yang membuktikan bahwa “genie” itu tak selamanya keluaran sekolah tinggi. Aku tak malu, Dam, mengakui ketangkasanmu dalam berpikir dan bersoal jawab. Aku sudah mendapat pengakuan atas pengetahuanku. Tetapi sekarang aku insaf bahwa dalam masa pancaroba ini aku tak sanggup menyelami jiwa Rakyat Murba, menyusun menggerakkan tenaga Murba, yang diserahkannya pada pimpinan perjuangan itu. Berdirilah Dam, buat kami, buat contoh, buat MURBA, yang bergelora semangatnya, sesudahnya kami sendiri bertahun-tahun sudah membangunkannya ialah semangat MERDEKA. Apabila sekarang mereka melaksanakan apa yang kami kaum intelek sendiri, bangunkan dan muliakan itu, kami kaum intelek terutama saya sendiri sebagai intelek tidak berdiri di tengah rakyat, memimpin atau membantu, maka saya sendiri rasa bahwa kaum intelek tidak jujur terhadap rakyat dan dirinya sendiri. Dan kalau rakyat Murba sekarang sebagai akibatnya propaganda puluhan tahun di mana-mana tiada “dipimpin” dan dibiarkan dirobek-robek oleh pelornya Inggris- Nica-Gurkha-Jepang, maka hal itu, aku Mr. Apal, anggap sebagai satu pengkhianatan si sejarah Indonesia yang terpenting.
SI PACUL : Silakan Dam!
SI GODAM : Saudara dan saudara! Tiga minggu yang lampau Inggris menuduh kita rakyat Surabaya membunuh seorang opsirnya. Dia tidak mau mengadakan pemeriksaan atas benar tidaknya pembunuhan itu. Dia tidak mau tahu apakah matinya opsir itu disebabkan tembakan dalam pertempuran kacau balau atau oleh pelor serdadunya sendiri yang menembak rakyat Indonesia. Bahkan dia tiada mau tahu apakah opsir itu benar mati apa tidak. Pihak Indonesia tiada mendapatkan opsir itu hidup, luka, atau mati di tempat pertempuran itu dilakukan. Pihak Indonesia siap sedia mau mengadakan pemeriksaan yang seksama. Tetapi tidak sekali ini saja Inggris pintar mencari alasan. Sudah kita ketahui bahwa pada hari itu Inggris sudah mempunyai rencana yang pasti dan beres. Rencana itu ialah menduduki Surabaya bersama serdadu Nica yang sudah tiba dari luar negeri. Ada atau tidaknya kesalahan Indonesia tuduhan mesti dikemukakan. Benar tidaknya tuduhan itu tuntutan mesti dilakukan. Inggris, Saudara, menuntut supaya rakyat dan tentara Republik Indonesia dilucuti senjatanya. Rakyat dan tentara Republik Merdeka mesti bertekuk lutut menyerahkan semua senjata. Cuma rakyat satu negara yang mau melepaskan hak kemerdekaannya, yang mau dihina dan diperlakukan sebagai budak belian, yang sanggup memenuhi tuntutan Inggris itu. Inggris bukannya diserahi oleh Sekutu melucuti senjata rakyat Indonesia, melainkan melucuti tentara Jepang. Seandainya diserahi perlucutan itu, Indonesia tak perlu dan hina sekali kalau ia membenarkan tuntutan Inggris itu. Tuntutan itu berlawanan dengan kedaulatan Rakyat Merdeka. Rakyat Indonesia sejak tanggal 17 Agustus ialah suatu negara merdeka. 70 juta rakyat Indonesia menyetujui dan ternyata menyokong kemerdekaan itu dengan harta benda serta jiwa raganya. Patutkah rakyat suatu negara merdeka dilucuti senjatanya? Satu syarat pertama negara merdeka ialah kemerdekaan kemauan dan kesanggupan negara itu mempertahankan kemerdekaannya. Hilanglah kemerdekaannya kalau rakyat itu tiada bersenjata lagi. Maksud Inggris bukanlah melucuti senjata Jepang, melainkan melucuti senjata rakyat Indonesia. Rakyat yang tiada bersenjata itu akan mudah digertak, diinjak-injak, atau disembelih oleh Nica yang disiapkan oleh imperialisme Inggris sebagai penjajah Indonesia. Apabila pemerintah Nica sudah teguh tegap kembali menjajah Indonesia ini, maka Inggris berharap akan mendapat kembali kebun, tambang, pabrik, dan tokonya. Inilah maksud Inggris yang sebenarnya. Betapapun Inggris menyangkal tuduhan kita dan dunia lain bahwa bermaksud mengembalikan Indonesia ke derajat suatu jajahan, semua bukti menyaksikan hasrat Inggris itu. Lagipula semua Inggris di Asia dan Afrika menyaksikan kebohongan, kelicikan, dan kebuasan Inggris dalam hal jajah menjajah. Suara imperialisme Inggris adalah suara perempuan lacur. Perkataannya tak boleh dipercaya. Musnahlah kemerdekaan Indonesia kalau alasannya atau anjurannya didengarkan. Selama tentara Inggris berada di Indonesia janjinya mesti dianggap sebagai tipu muslihat belaka. Tetapi rakyat Surabaya tiada mendengarkan tujuan dan alasan wakil imperialisme Inggris itu. Rakyat Surabaya yang bukan juris itu mengerti sungguh akan haknya satu Rakyat Merdeka. Rakyat Surabaya pegang senjata di tangannya. Dengan senjata di tangannya dia akan pertahankan kemerdekaannya. Itulah sifat jantan! Itulah sifat yang cerdik berdasarkan keinsyafan akan hak sendiri, kewajiban sendiri, dan kehormatan akan diri sendiri. Barangsiapa yang tak menjalankan sifat itu dia tidak mau merdeka, dia tidak mempunyai kehormatan atas dirinya sendiri. Dia itu adalah orang budak, atau agen Nica yang bersembunyi. Dalam hakikatnya dia adalah seorang pengkhianat. Ada yang mengeluh, kita tiada bisa melawan tank raksasa, melawan kapal perang dan kapal terbang Inggris. Saya jawab, bukankah sudah tiga minggu kita menahan hujan pelor? Berapakah kerugian yang diperoleh musuh dalam tiga minggu itu? Apakah kemenangan yang diperolehnya dalam tiga minggu itu? Bisakah Inggris-Belanda mengurusi pabrik, toko, atau kebun di tempat yang didudukinya? Selama dia tidak bisa mencari untung dengan menghisap keringat dan darah rakyat Indonesia, selama itulah perampasan sejengkal atau dua jengkal tanah itu satu kesulitan bagi dirinya sendiri. Tanah yang dirampas itu mesti dipertahankan siang dan malam terhadap serangan rakyat dan tentara Indonesia. Ongkos mempertahankan sehari demi sehari bertimbun-timbun. Sehari demi sehari Inggris-Nica akan merasai tajamnya senjata rakyat Indonesia yang tak kurang tajam dari senjata biasa. Senjata ekonomi, di samping penyerbuan secara gerilya yang tak putus-putusnya, bukanlah senjata yang bisa diabaikan begitu saja, walaupun Inggris lengkap bersenjata. Seandainya Inggris-Nica bisa merebut semua kota-kota di pesisir ini belum berarti mereka menang! Masih jauh jalan yang mesti mereka tempuh. Selama rakyat Indonesia bersatu, berdisiplin, dan insyaf akan muslihat yang harus dijalankan serta yakin akan kebenaran sendiri serta kesalahan musuh, selamanya Inggris-Nica masih dalam tingkat permulaan. Di Magelang di mana kekuatan armada tak berlaku, di sana Inggris dikalahkan. Dikalahkan, Saudara! Apakah artinya kalau tentara yang paling modern di dunia, tentara yang sudah mendapat ujian di medan perang modern, dikalahkan, diusir, atau dimusnahkan oleh rakyat dan tentara Indonesia yang tak beropsir, tak bersenjata, dan tak berlatih cukup? Kepada prajurit Indonesia aku tak perlu insyafkan atau tanyakan kejadian Magelang yang maha penting buat sejarah Indonesia ini! Kepada pengeluh, pengesah, pengecut, kepada yang sangsi akan kekuatan rakyat Indonesia, sangsi dengan segala yang berhubungan dan berbau Indonesia, saya mau tanyakan sekali lagi artinya kemenangan Magelang itu. Saya tambah pula tidak di Magelang saja rakyat Indonesia dan tentara Indonesia menang berperang dengan tentara Inggris-Nica. Di semua tempat, di mana pasukan berhadapan dengan pasukan, di sana Indonesia yang menang. Tak ada kecualinya. Orang Inggris-Nica belum pernah menang sama orang Indonesia. Yang menang cuma senjata luar biasa seperti meriam kapal perang yang menembak dari jauh di tengah laut, atau kapal terbang yang tinggi sekali terbangnya. Apalagi kelak di benteng kita yang paling akhir, yakni di pegunungan yang membujur di semua kepulauan Indonesia, di sana Inggris-Nica akan berjumpa perjuangan yang sesungguhnya. Di sana meriam armada takkan berdaya. Di pegunungan itu bom kapal terbangnya takkan berarti. Di pegunungan tentara Indonesia akan menunggu, seperti harimau menunggu musuh di tempat dan tempat yang menguntungkan bagi dirinya sendiri dan mencelakakan musuhnya. Dari gunung gerilya Indonesia dengan tak putus-putusnya akan menyerbu ke kota-kota, seandainya semua kota bisa diduduki Inggris-Nica, yakni kalau Inggris- Nica bisa menduduki kota yang hangus dan dikeringkan air minum dan makanannya. Di kota hangus Inggris-Nica menderita serangan gerilya di hari malam dan kekuarangan makan di hari siang. Siapakah di antara Saudara yang percaya Inggris-Nica bisa satu tahun saja duduk di kota neraka semacam itu? Duduk siang malam dalam bahaya dan kekurangan makan, tidur, dan ke plesiran? Di telinganya terdengar pula ocehan dan sumpah dunia? Saudara-saudara! Diplomasi kita bukan diplomasi bertekuk lutut. Diplomasi yang patah hati, diplomasi setengah atau tiga perempat jalan. Diplomasi kita menghendaki kemerdekaan 100% sempurna. Kita tidak akan berhenti selama kemerdekaan sempurna itu belum tercapai. Kita bisa tahan karena sudah bisa melarat, karena bumi, iklim, memihak pula pada kita. Kita percaya kita bisa mencapai kemerdekaan sempurna itu kalau kita cukup sabar, cukup tahan! Cukup percaya akan hak dan kebenaran diri sendiri. Percaya akan kesalahan Inggris-Nica. Akhirnya percaya akan keadilan manusia di dunia ini. Dunia sedang mengamati kita! Dunia ikut menimbang siapa yang benar siapa yang salah. Dunia ikut menimbang dan memperhatikan Indonesia kacau dan dikacaukan. Suara umum di dunia besok atau lusa akan memihak kepada yang berhak dan menuduh serta menghukum mereka yang mengcaukan serta berdosa. Kita menunggu sambil berjuang sampai si penjajah itu musnah atau berangkat meninggalkan pesisir kita. Sampai suara umum di dunia menyalahkan si penjajah. Saudara jangan lupa bahwa Indonesia selain penting buat lalu-lintas, penting pula buat pembangunan ekonomi di dunia yang rusak ini. Bahan dari Indonesia dibutuhkan buat semua negara beradab di dunia. Kemauan dunia beradab buat perdamaian, kebencian proletar Indonesia, kebencian rakyat jajahan terhadap imperialisme dan persetujuannya dengan kemerdekaan, inilah semua perkara yang memihak kepada Rakyat Indonesia Berjuang. Inilah diplomasi kita! Diplomasi berjuang! Dengan begitu membangunkan rasa kebenaran dan keadilan di dunia dalam dan luar Indonesia. Dengan begitu membelah dua kaum imperialisme dengan kaum pendamai. Bukan diplomasi kompromis, diplomasi bertekuk lutut. Karena diplomasi bertekuk lutut itu membimbangkan proletar dunia dan rakyat jajahan. Diplomasi bertekuk lutut itu membencikan rakyat beradab di dunia, yang insyaf akan hak kemerdekaan suatu bangsa dan hormat kepada rakyat lain yang membela kehormatannya sendiri. Si lemah, si sangsi, si pesimis, seperti si pengkhianat memang banyak alasannya. “Oh,” katanya, “kasihan sama rakyat, yang mesti berkorban!” Bukankah Inggris-Nica yang menyebabkan korban itu? Bukankah imperialisme yang selalu siap sedia mengorbankan puluhan juta manusia buat menjalankan politiknya? Di zaman manakah, di negara manakah “kemerdekaan” itu diperoleh dan dipertahankan dengan berdiplomasi dari gedung besar, bukan dengan pengorbanan puluhan malah sering jutaan manusia? Lagipula apa artinya “senjata” Indonesia sekarang mengorbankan 2 atau 3 juta rakyatnya buat kemerdekaan 68 juta sisanya? Bukankah keamanan (!) dan ketentraman di bawah Jepang saja sudah menuntut korban 3 sampai 4 juta jiwa manusia? Jika Indonesia sekarang takut mengorbankan 1 atau 2 juta rakyatnya (“seandainya” perlu pengorbanan begitu banyak dalam perjuangan, yang tidak dikehendaki oleh rakyat Indonesia sendiri itu), kelak 70 juta orang Indonesia akan dikorbankan selama-lamanya buat budak dalam kebun, pabrik, dan tambang bangsa asing. Bukan Indonesia saja yang berkorban dalam perjuangannya mempertahankan kemerdekaan sebagai hak mutlak dan hak alamnya itu, juga si pemerkosa kemerdekaan kita itu mesti berkorban! Juga mereka perlu mengorbankan harta bendanya, jiwanya, dan waktunya. Akhirnya yang tak boleh Saudara lupakan adalah bahwa Inggris-Belanda sehari demi sehari mengorbankan namanya sebagai negara beradab. Sekali dunia beradab mengutuki tindakan mereka terhadap satu bangsa yang salahnya cuma karena ia mempertahankan haknya, pada saat itulah kemenangan berada di tangan Indonesia. Indonesia akan terus berjuang sampai saat itu tiba. Sampai si ceroboh, si penjajah bertekuk lutut. Muslihat Rakyat Indonesia ialah berjuang lama, menyingkiri semua yang bersifat terburu nafsu, bersifat tergesa-gesa, bersifat fanatik, dan bersifat perjudian. Dengan hati tenang-tegap seperti baja, otak teduh berputar, dan akhirnya dengan kemauan dan keyakinan kokoh-kuat, Rakyat Indonesia menunggu sampai fajar kemerdekaan itu menyingsing! Kalau kita para prajurit kemerdekaan ini gagal dalam perjuangannya, maka ini tidak berarti kita gagal karena salah dasar atau salah muslihat. Kalau kita kelak gagal maka kegagalan itu mesti dicari pada kurang teguhnya organisasi, lemahnya disiplin, serta kurangnya kecerdasan, kecerdikan, dan kecakapan. Semua kekurangan bisa dan mesti kita singkirkan dari sekarang juga! Tetapi di atas segala-galanya yang tiada boleh kurang, yang mesti diperkokoh sekarang ini dan terus diperkokoh di hari depan ialah persatuan. Jauhilah curiga mencurigai dan tuduh menuduh dengan tak ada alasan cukup. PERSATUAN DAN DISIPLIN! DISIPLIN DAN PERSATUAN! SEKIANLAH!!

Manifesto Jakarta

Oktober 28, 2008

Tan Malaka (1945)
Kata Pengantar
Lebih dari dua bulan lamanya MANIFESTO PARI  JAKARTA, (adalah Manifesto kedua, yang pertama dibentuk di Bangkok pada bulan Juni 1927), disebarkan ke seluruh Indonesia. Sambutan yang sangat menggembirakan terjadi disemua tempat yang menurut susunan masyarakatnya harus mempunyai satu Partai yang berdasarkan Kelas Pekerja.
Penyebaran MANIFESTO JAKARTA tidak sedikit mendapatkan para Pejuang baru. Terutama pula penyebaran itu seolah-olah memanggil keluar Kawan seperjuangan lama yang-tersembunyi dan tidak dikenal oleh pembentuk Manifesto ini, sejak Manifesto Bangkok. Kejadian ini amat mengharukan hati-nya sang pembentuk, seperti seorang Bapak yang terharu hatinya setelah berjumpa dengan anak-nya sendiri, yang ditinggalkan ketika masih dalam kandungan ibunya.
Sekarang si pembentuk-nya sendiri sudah berada ditengah-tengah gelombang Pemberontakan seluruh Rakyat Indonesia, yang sudah lama diperkirakan, diharapkan dan ditunggu-tunggu datangnya. Rakyat Indonesia sekarang membuktikan Kesadaran Politik yang tidak akan bisa lagi dikaburkan atau diombang-ambingkan oleh segala tipu dan daya penjajah manapun juga diatas muka bumi ini. Dan Rakyat Indonesia dalam berlusin-lusin perjuangan di Jakarta dan sekitarnya, Semarang dan sekitarnya, sekarang di Surabaya dan sekitarnya, seperti juga di Sumatra, membuktikan kemauan dan kesungguhan yang tidak mungkin dapat dipatahkan begitu saja. Keberanian dan ketabahan yang disertai kecerdikan berjuang, sekarang baru mulai menggemparkan dunia Internasional yang menganga tercengang, Musuh yang Angkuh, Sombong dan Rendah.
Pula si-pembentuk Manifesto ini merasa berbahagia yang tidak terhingga, berada ditengah-tengah Kawan Seperjuangan dan berada juga ditengah-tengah para anak-anaknya Kawan seperjuangan – Maafkan perasaan seorang Veteran Revolusioner yang sebagai manusia tidak luput dari pengaruh perasaan !!! – Para anak-anak yang baru dijumpai, yang sedang mengambil bagian terbesar dalam usaha mendirikan dan mempertahankan Republik ini.
Lebih dari 18 tahun yang lalu. Manifesto sebagai satu penafsiran tentang gerakan Ekonomi—Sosial—Politik dunia dan Indonesia diuraikan di Bangkok, sesudah gerakan Rakyat mendapat pukulan hebat ditahun 1926.
Lebih dari dua bulan pula penafsiran tentang gerakan Ekonomi—Sosial—Politik luar dan dalam Indonesia diuraikan dalam Manifesto Jakarta ini. Diuraikan dalam masa perobahan dan segala kebimbangan. Pada satu pihak Imperialisme Jepang kalah dan menyerah serta siap kembali kenegaranya. Pada pihak lain Imperialis Inggris–Belanda sembunyi dibelakang kedok yang dinamai Sekutu ( United Nation ) belum siap untuk menyerbu masuk melakukan segala tipu muslihatnya, seperti sudah dikenal seluruh dunia. Pada saat itulah para pemimpin Indonesia, yang selamanya menjadi pembantu “sehidup semati” TENNO HEIKA ( Tuhannya Jepang )……………. Rezim Otokratis—Militeristik – Para Pemimpin Indonesia tadi, tidak mengherankan kalau dalam keadaan bimbang, karena dugaannya pasti memang itu dan “Politik Persatuan Jepang—Indonesia berdasarkan HAKKO ITJIU” itu gagal sama sekali. Kepada para Pemuda-lah Indonesia dikemudian hari akan berterima kasih karena mereka yang sebenarnya membangun Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 itu. Apabila Para Pemimpin Besar masih mengharapkan “Komando dari Tokyo” yang sudah bertekuk lutut sebelumnya “Pecah sebagai Ratna”. Maka golongan Pemuda mendorong dalam arti  yang sebenar-benar dan sepahit-pahitnya Para Pemimpin Besar menyatakan Kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan Republik Indonesia yang berdaulat.
Sangat terharulah Pembentuk Manifesto ini, apabila sekarang mengetahui bahwa sebagian besar, boleh dikatakan semuanya para pemuda pendorong yang insyaf dan bertindak sebagai seorang Jantan itu sudah bertahun-tahun bergerak dengan Manifesto Bangkok sebagai Obor. Kegembiraan suci tak terharu itu bertambah pula ketika mendapat kepastian bahwa pelopor pemberontakan Surabaya  yang sedang berlaku sekarang ini, sebagian besar terdiri dari Pengikut Partai Republik Indonesia ( PARI ) pula.
Berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 itu dan pembelaan yang gagah perkasa dan terus menerus dilakukan dimana-mana oleh para Pemuda dan pengikut PARI, membuktikan senyata-nyatanya, bahwa tafsiran Nasional dan Internasional dalam Manifesto Bangkok tidak berapa jauh dari kebenaran.
Komentar yang panjang, tidak perlu dan belum pada waktunya untuk diberikan.
Mudah-mudahan penafsiran gerakan Ekonomi—Sosial—Politik Indonesia dan Dunia sekitarnya yang diuraikan dalam MANIFESTO  JAKARTA ini tidak seberapa pula jauhnya daripada kebenaran.
Tetapi tidak-lah bisa disimpan dalam hati saja, bahwa kita sekarang merasa sangat malang ( tidak beruntung ), karena sampai sekarang belum juga mendapat keterangan yang cukup dan syah tentang keadaan yang sebenarnya terhadap gerakan Ekonomi—Sosial—Politik tadi.
Tetapi akan lebih malang-lah kita jika “tafsiran” tiada dijalankan sama sekali. Lebih baik mempunyai Tafsiran yang berdasarkan bukti kurang sempurna, daripada tidak mempunyai tafsiran sama sekali.
Bukan-kah sesuatu “sikap” harus didasarkan atas suatu Tafsiran? Bukankah pula sikap yang pasti dan dijalankan dengan serempak walaupun berdasarkan bukti yang kurang cukup, lebih baik daripada sikap laksana “Pucuk Pohon Aur” yang terkenal ditiup angin kian-kemari, walaupun sikap tadi berdasarkan bukti yang sempurna.
Tentulah sikap yang sempurna itu adalah sikap yang yang berdasarkan bukti yang syah serta cukup dan dijalankan serempak-serentak dengan teguh-tetap, kebenaran ini-pun tidak perlu diberi komentar.
Ada pula para penerima MANIFESTO JAKARTA yang sangsi akan syahnya “sumber” MANIFESTO JAKARTA itu, karena katanya memakai perkataan baru; ialah “ASLIA”. Kalau kelak waktu dan tempat mengijinkan, maka akan dibuktikan senyata-nyatanya, bahwa istilah ASLIA itu mengandung satu tambahan yang bukan berarti  satu “pemalsu” dari salah seorang penyamar yang menamakan dirinya Tan Malaka. Kalau waktu, tempat dan teman membenarkan tidak akan lama lagi akan dikeluarkan satu buku lagi yang dinamakan “GABUNGAN ASLIA”. Malah boleh jadi pengarangnya sendiri akan keluar dari goa persembunyiannya selama hampir dua lusin tahun.
Sudah nasibnya Tan Malaka sendiri menjadi bola sepakkan para tukang kabar angin yang mempunyai kepentingan sendiri. Empat kali kabar, bahwa ia masuk dengan kapal terbang jepang sebagai pembesar. Pada waktu menulis kata pengantar ini di Surabaya telah ditangkap beberapa penyamar musuh yang mengakui dirinya Tan Malaka. Pembaca dan pengikut PARI tentulah cukup mengerti akan maksud kaum Provokator dan Penghianat
Tan Malaka akan keluar menurut keadaan dan kekuatan Rakyat, dan dia sudah berada disini semenjak Jepang masuk. Tetapi dia masuk sendiri tidak dengan pertolongan dan perlindungan kapal perang atau kapal terbangnya Jepang. Dia memang bekerja pada salah satu perusahaan dibawah pengawasan Jepang. Tetapi dia menjadi Buruh dan tidak sedikit-pun mencampuri politik Imperialisme Jepang. Lagi pula belum pernah sepatah kata pun membenarkan apalagi memuji politik Jepang dimuka umum. Malah sebaliknya, dua atau tiga kali perkataan yang diucapkan didepan umum, yang membela Kemerdekaan dan Kaum Pekerja amat membahayakan dirinya. Cuma perkataan itu tidak diucapkan sebagai wakil dari salah satu badan yang mengandung politik dan bukan pula oleh seorang yang bernama Tan Malaka. Pendek kata Tan Malaka ada di Jawa semenjak kira –kira pertengahan tahun 1942. Dia mengabdi seikhlas-ikhlasnya kepada Kaum Buruh,  Made in Jepang yaitu ROMUSHA dengan segala kegembiraan, hasil dari suatu pemerintahan yang semunafik-munafiknya, sekejam-kejamnya, serakus-rakusnya, dan sebinatang-binatangnya di kolong langit.
Dengan Amerika-pun pengalamannya cukup pahit! Penangkapan di Manila bulan Agustus tahun 1927, walaupun diprotes oleh seluruh rakyat Philiphina, tipu-muslihat kaki tangan Imperialis Amerika selalu digagalkan oleh Rakyat Philipina, akhirnya pembuangan dari Philipina serta percobaan dari Konsul Amerika dibantu oleh Konsul Inggris, Perancis dan Belanda di Amoy untuk “menculik” Tan Malaka di pelabuhan Amoy , tetapi gagal karena tindakan sendiri dan teman-teman, semua itu adalah pengalaman Tan Malaka berhubungan dengan Demokrasi Made in Amerika itu. Dengan Inggris-pun mengalami pengalaman yang tidak kurang pahitnya dengan Demokrasi Belanda dan Amerika. Juga Demokrasi Inggris dalam satu perkara pun tidak menjalankan Demokrasi yang dianggapnya sakti itu terhadap massa yang terpisah dari Negara dan Rakyatnya! Satu undang-undang Internasional yang dianggap sakti untuk dirinya sendiri dan untuk semua kulit putih diperbolehkan dilakukan terhadap Tan Malaka – Pengasingannya didalam Bui ( penjara ) Hongkong lebih kurang dua bulan lamanya ditahun 1932, desakkan dari semua Imperialisme dunia didalam Bui, pemindahan dari sel ke sel, dari sel kulit putih ke sel orang hukuman Tionghoa, penolakan semua negara Imperialis dengan negara jajahannya buat menerima Tan Malaka sebagai pelarian politik ( Political Refugee ), pengusirannya dari Hongkong dengan tidak menetapkan negara yang aman untuknya terlebih dahulu, menurut undang-undang bangsa “Sopan” didunia ini, ancaman dari Belanda yang berusaha keras untuk menculik, berbagai bahaya dijalani pada masa pembuangan ketiga kalinya itu dan sebagainya – semuanya adalah Pengalaman hidup seorang Pemimpin Indonesia yang pada masa saat itu amat pula terganggu kesehatannya. Semuanya berserah dengan darah diatas kulitnya Tan Malaka.
Cukup sebab maka Tan Malaka memilih Waktu, Tempat dan Teman untuk menyaksikan dirinya sendiri kedepan mata Rakyat Indonesia…………………………….

MERDEKA 100%
PEMBENTUK MANIFESTO JAKARTA
TAN MALAKA
****

PARI dahulu : PARTAI REPUBLIK INDONESIA
( Sekarang menjadi terbuka )
Sekarang kependekan : PROLETARIS ASLIA REPUBLIK INTERNASIONAL
( Arti nama tertutup )
PARI yang didirikan oleh almarhum Subakat, Jamaludin Tamim dan Tan Malaka di Bangkok pada bulan Juni 1927, dalam keadaan dan penderitaan yang bagaimanapun juga, tidak menghentikan usaha untuk melaksanakan hasrat selama 18 tahun itu, perlu kini kita memperbaharui hasratnya itu. Suasana dan keadaan dunia akan berhubungan dengan perubahan itulah namanya PARI, sekarang yang mengandung arti yang lebih luas dan lebih dalam.
PARI yang asli adalah kependekan dari Partai Republik Indonesia, PARI sebagai nama akan terus dipakai, kalau Cuma untuk menghormati almarhum Subakat yang memilih nama itu, dan meninggal dalam Bui Belanda karena mempertahankan PARI. Lagipula PARI sudah cukup dikenal sebagai Partai Bawah Tanah ( Illegal ) di jaman Belanda, yang mana tidak sedikit pemimpinnya yang dibuang ke Digul atau dipenjara didalam atau diluar negara.
Akhirnya, tetapi tidak kurang pentingnya nama itu sesuai dengan suasana dan keadaan baru. Berhubung dengan ini, maka PARI mengandung arti yang lebih dalam, ialah PROLETARIS ASLIA REPUBLIK INTERNASIONAL.
Jadi wataknya PARI tetap Proletaris seperti sediakala dan daerahnya tetap pula Internasional seperti dahulu, tetapi daerahnya sudah bertambah luas, daerahnya sekarang adalah daerah yang cocok dengan penyelidikan para ahli yang bersandarkan atas Ilmu Bumi dan Ilmu Bangsa ( Ethnology, Science of ……….), serta akhirnya cocok pula dengan kepentingan Perekonomian.
ASLIA ialah perkataan buatan kita sendiri sebagai gabungan dari suku kata perkataan ASIA dan AUSTRALIA. Yang digabungkan ialah permulaan kata ASIA dan suku akhirnya AUSTRALIA.
Syahdan ASLIA itu meliputi daerah Birma, Thai, Annam, Philipina, Semenanjung Malaya, seterusnya Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Sunda kecil dan akhirnya Australia Panas. Bagian Australia yang kita maksudkan itu luasnya kira-kira 1/3 dari keseluruhan wilayah Australia.
Adapun Australia putih itu sekarang diduduki oleh bangsa Eropa yang adalah keturunan orang-orang hukuman yang dipindahkan oleh kerajaan Inggris diwaktu lampau. Bangsa Pindahan ini seperti juga di Amerika membinasakan, lebih kurang memusnahkan bangsa Australia Asli dan peperangan lahir dan batin yang tiada henti-hentinya, diseluruh Australia Putih yang luasnya lebih kurang 1/3 pula dari seluruh dataran Australia yang luasnya 3 juta miles persegi itu. Dijaman gelap gulita ( Primitive ), lama sebelum sejarah tertulis dimulai, maka menurut penyelidikan Ilmu Pasti Asia, Indonesia dan Australia memang bersatu. Begitu-lah pula daerahnya bangsa Australia Asli, yang beberapa puluh ribu itu masih mengembara disana-sini, banyak masih mengalir kedalam badan Indonesia kita. Di Australia Panas, bangsa kulit putih tidak dapat tidak bisa hidup berkembang turun-menurun. Tetapi di Australia Sejuk bagian selatan, mereka bisa berkembang turun-menurun, selain itu persamaan antara Indonesia dengan Australia seperti yang sudah disebut diatas, maka ada lagi persamaan penting, persamaan penting ini meliputi pula Birma, Thai, Annam, Semenanjung Malaka, Kalimantan Utara serta akhirnya Philipina.
Seluruh ASLIA amat rapat dipengaruhi oleh iklim yang sama ialah panas dan dikendalikan oleh gerakan angin yang tetap teratur tiap-tiap tahun adalah angin moeson yang termahsyur itu, dipengaruhi musim yang berkuasa diseluruh ASLIA yang hawanya terus panas itu., dari tahun-ketahun dan dari abad-keabad, maka bangsa Indonesia sebagai paduan dari beberapa bangsa di ASLIA itu dalam hakekatnya beralat-perkakas, berekonomi, bersosial, berpolitik dan berjiwa ( paham keamanan dan perasaan ) dan berhasrat ataupun berimpian yang tidak berbeda satu sama lainnya. Pendek kata seluruh ASLIA kini dalam segala cara penghidupan berada dalam keadaan yang ber-samaan dan suasana serta keadaan dunia setelah perang dunia II ini membutuhkan pergabungan dan kerjasama. ( Bacalah nanti buku “ASLIA BERGABUNG” oleh Tan Malaka ).

HASRAT, IDAMAN, CITA
Hasrat PARI dari dahulu sampai sekarang tidaklah berubah, maksudnya adalah mendirikan Republik yang berdaulat kepada Rakyat Pekerja, Murba Kerja, yakni yang bekerja dengan tangan atau-pun otak, seperti yang bekerja didalam perusahaan yang berada didarat dan dilaut. Tambang, Pabrik, Bengkel, Kebun, Sawah, Kereta, Telphone, Listrik, Kantor, Kapal dan sebagainya. Dalam semua hal yang penting mengenai negara, maka pekerja tangan dan otak itulah yang kelak memberi keputusan dengan suaranya. Untuk mindring ( ? ), Kaum uang (Kapitalis) yang menganggur, juga buat pengemis tidaklah ada kesempatan untuk mengeluarkan suaranya dalam hal pilih-memilih—wakil atau pegawai negara, ataupun membenarkan atau membatalkan sesuatu undang-undang yang dibentuk oleh wakil Rakyat yang syah. Warga negara yang “bekerjalah” kelak dengan perantaraan wakilnya dalam Dewan Perwakilan akan mengatur Hak milik, Produksi, Upah, dan Hidup Sosial semuanya berdasarkan tolong menolong dan sama- rata. Tolong menolong dan Sama-Rata dalam semua cabang itulah, yang menjadi hasrat dari PARI. Dasar tolong-menolong ( gotong-royong ) dan sama-rata itulah yang menjadi dasar hidup yang dahulu kita laksanakan di Desa Jawa, Kampung Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain Itulah dasar yang pasti diundangkan, diterjemahkan dan dijalankan oleh seluruh masyarakat Minangkabau ketika masih satu negara yang merdeka.

SUASANA DAN KEADAAN BARU
Hasrat tadi selangkah demi selangkah akan kita laksanakan untuk seluruhnya di ASLIA. Ber-awal dari Indonesia Sempit, itulah Indonesia kita. Ditambah dengan Semenanjung Malaka dan Kalimantan Utara yang berarti hidup atau mati untuk kita karena penting daerah itu untuk siasat Perang dan Perekonomian kita selain dari persamaan 100% dengan kita lahir dan batin.
Dengan cara sukarela dari kedua belah pihak, Indonesia Sempit akan mencoba mengadakan penggabungan ataupun kerja bersama dengan Philipina adalah daerah yang paling dekat dengan Indonesia Sempit dalam segala-galanya.
Empat atau lima ratus tahun yang lampau Philipina memang langsung menjadi bagian politik dari Indonesia kita ini. ( Sriwijaya, Majapahit, dan Kerajaan Kalimantan Utara ). Lambat laun dan dengan cara yang tulus dan ikhlas pula serta dengan cara saling pengertian, penggabungan ASLIA akan dilaksanakan kedalam daerah yang disebut Jembatan untuk Asia dan Australia, diantara Samudra Hindia dan Lautan Teduh. Diantara seluruh bangsa yang oleh para ahli dinamakan “Indonesians”   ( C.R. Logan dan Bastian ) atau juga disebut “Ocenia Mongols” adalah Tartaria Samudra ( oleh Hadion dan Smith ). Atau bangsa-bangsa yang menderita akibat Bumi, Iklim dan sejarah yang sama dan menunjukkan banyak persamaan pula dan akhirnya dalam hal perekonomian berhadapan dengan dunia luar sehingga membutuhkan satu perhubungan yang erat pula.
Dengan GABUNGAN ASLIA, yang sekarang diluar lautannya mempunyai daerah dataran kira-kira 3 juta miles-persegi dengan kira-kira berpenduduk 150 juta jiwa, bangsa Indonesia telah bisa memasuki badan Internasional yang hendaknya bisa meningkat menjadi 8-10 GABUNGAN RAKSASA dunia yang kita harapkan akan terbentuk. Dalam garis besarnya GABUNGAN RAKSASA itu lebih kurang yaitu:
Amerika Serikat dan Kanada kira-kira mempunyai wilayah 8 juta miles-persegi dengan jumlah penduduk kira-kira 160 juta jiwa. Tiongkok dengan luas wilayah 4,5 juta miles-persegi dengan jumlah penduduk 400 juta jiwa, Sovyet Rusia mempunyai wilayah lebih kurang 9 juta miles-persegi dengan jumlah penduduk 200 juta jiwa, Penduduk Eropa Barat dengan luas wilayah 3,75 juta miles-persegi dengan jumlah penduduk 350 juta jiwa,dan selanjutnya Hindustan dan Iran ( Indo-Iran ), Afrika dalam satu atau dua gabungan, Amerika Selatan jika ingin berdiri sendiri. Dengan 8-10 GABUNGAN RAKSASA didunia itu yang masing-masing dapat berdiri sendiri dalam hal Ekonomi, yang boleh diharapkan satu sama lain akan saling menghormati, karena Jago atau Anjing-besar jarang sekali berkelahi dengan lawannya yang sama besar, yang satu akan berdamai dengan yang lainnya untuk kebutuhan masing-masing, behubungan pula karena tiap-tiap anggota Gabungan akan mendapat bahan baku yang lebih kurang cukup untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Keamanan, Kemakmuran dan akhirnya Persatuan Dunia akan bisa terjamin.
PARI memang tidak percaya, bahwa perdamaian dunia itu akan bisa kekal, kalau dipegang oleh tiga atau empat negara besar saja, selama disampingnya masih ada negara-negara yang dijajah secara langsung maupun tidak langsung dan banyak pula negara kecil yang diluar Gabungan, Jajahan, Dominion, Mandat dan lain-lain bentuk penjajahan Cuma menimbulkan dendam-kemarahan dipihak yang dijajah dan timbul rasa Cemburu, Iri Hati kepada negara besar yang tidak mempunyai pasar yang dapat dimonopoli oleh negara Ibu ( Induk / negara Besar ) itu. Negara kecil yang tidak bisa berdiri sendiri dalam politik dan ekonomi itu akan terpaksa mencari kawan-kawan kesana dan kemari dan dijadikan “Kawan” oleh negara besar ini atau itu. Semua akan menimbulkan Kecurigaan, Kecemburuan, Permusuhan dan akhirnya Peperangan Dunia lagi.
Cuma badan Internasional yang terdiri dari GABUNGAN RAKSASA seperti diatas yang berdasarkan Kemerdekaan, Persamaaan, Self-Effisieny ( bisa berdri sendiri dalam perekonomian ) yang bisa menjamin perdamaian sebaik-baiknya dan selama-lamanya kalau dibandingkan dengan macam badan Internasional yang berbeda corak mana-pun juga.
Perhubungan yang semakin hari akan semakin rapat antara Manusia dan Manusia, Bangsa dan Bangsa juga dalam Politik, Ekonomi dan Kebudayaan kelak selangkah demi selangkah akan mengadakan Internasionalisme yang berdasarkan keaneka ragaman yang Bersatu-Padu ( Homogen ). Lihat “PARI dan Internasionalisme”.

CARA BERJUANG
Cara berjuang untuk mencapai kemerdekaan nasional itu ditentukan oleh susunan Sosial dan Politik ( Social Political Structure ). Dimana susunan itu mempunyai rasa saling tolong menolong karena ada persamaan kepentingan diantara banyak bangsa terjajah dan bangsa yang menjajah, jadinya ada perhubungan yang menguntungkan kedua belah pihak maka cara merebut kamerdekaan itu dilakukan dengan jalan damai, atau jalan PARLEMENTER. Si Penjajah selangkah demi langkah dengan Ikhlas atau Terpaksa bisa menambah kekuatan si Terjajah dengan mengadakan ½ Parlemen, 2/3 Parlemen , ¾ Parlemen………….999/100 Parlemen………. Dan seterusnya ad infinitum……..tidak henti-hentinya, karena terikat oleh persamaan keperluan pula diantara Modal Penjajah dengan Modal Borjuis terjajah   ( Hindustan dan Philipina ). Tetapi kalau bangsa penjajah dengan bangsa terjajah itu kepentingannya sama sekali atau hampir sama sekali bertentangan, maka jalan Parlementer tidak dapat dilaksanakan. Dalam hal seperti ini maka Perjuangan Kemerdekaan itu akan berlaku Revolusioner. Di Indonesia Sempit kita ini pertentangan antara si Penjajah dengan si Terjajah itu sangat menyolok. Si Penjajah adalah Bangsa Kulit Putih yang ber-Modal besar, sedang diterjajah itu adalah Bangsa Kulit Berwarna yang tidak ber-Modal berupa uang dan mesin. Hisapan dan Tindasan Kapitalisme diperhebat pula oleh perbedaan Kebangsaan, Tabiat, Bahasa dan Adat-Istiadat. Dalam hal ini Parlementarisme tidak bisa jalan dan mustahil sekali Si Kapitalis Putih akan mempercayakan urusan negara kepada wakilnya Si Buruh Kulit Berwarna. Si Kapitalis Putih akan terus tetap berusaha memegang suara lebih ( Mayority ) dalam tiap-tiap badan pemerintahan. Jangan sampai terjadi Si Terjajah memperoleh suara lebih dalam Badan Perwakilan Pusat, sehingga wakil Si Terjajah berwarna bisa membuat undang-undang yang merugikan Si Penjajah Kulit Putih. Penjajah Belanda lebih susah mendapatkan wakil didalam Volksraad yang membela kepentingan Modal Jajahan dari pada mendapatkan wakil yang mementingkan kepentingan rakyat Indonesia. Sampai terbenamnya Volksraad, kekuasaaanya Cuma memberi nasehat belaka dan jumlah anggotanya boleh disebut Nasionalis belum lagi sampai 20 % dari jumlah seluruhnya.
Di Indonesia kemerdekaan nasional itu harus direbut oleh seluruh Rakyat dengan gerakan Murba teratur (Organized Mass Action) . Dalam Perjuangan itu Para Pekerja perusahaan besarlah yang seharusnya menduduki barisan terdepan. Mereka-lah yang sewaktu-waktu dengan jalan pemogokan bisa memberi Pukulan yang sehebat-hebatnya tehadap Modal Asing. Kalau pemogokan yang kuat dan teratur itu didukung dengan keras pula dengan pemogokan membayar Belasting (pajak) dari pihak Tani, dan Penduduk Kota memperkeras pula dengan melakukan Demonstrasi teratur yang mengemukakan tuntutan yang langsung terasa oleh umum, maka Imperialisme Belanda yang terdiri dari Kepintaran BB Ambtenaar Indonesia, Polisi, Lasykar yang sebagian besar orang Indonesia pula, tidak akan bertahan lama. Kodrat Pelopor Indonesia dalam merebut Kemerdekaan dan Pembangunan negara adalah Para Pekerja perusahaan penting, sebab merekalah yang belajar  dalam hal Tehnik, Administrasi, dan Organisasi secara Barat. Pada satu pihak mereka pula-lah yang di Hisap dan di Tindas serta sudah dibangun kedisiplinan oleh para Pemodal sendiri, serta lebih gampang disusun, didisiplinkan dan dikerahkan untuk merebut kemerdekaan nasional dan social daripada tani dan pedagang yang biasa hidup atas dasar perseorangan dan terpisah-pisah.

SEJARAH GERAKAN KITA
Gerakan modern di Indonesia dalam lebih kurang 40 tahun ini adalah berupa pimpinan yang teratur, tetapi telepas dari Murba ( Pekerja ) atau Partai Pekerja yang kurang teratur. Pada golongan Pertama temasuk didalamnya Budi-Utomo, Perhimpunan Indonesia, PNI, dan PARINDRA, pada golongan yang Kedua termasuk didalamnya Syarikat Islam, PKI dan barangkali juga GERINDO. Yang pertama barangkali takut dengan sifat kata yang mau terus dengan lekas penuh, sempurna dan jitu dengan Titel dan Intelek yang tidak mengerti sama sekali keinginan Rakyat Djelata. Yang kedua penuh dengan semangat perjuangan tetapi Sunyi akan Filsafat Kelas, Taktik dan Strategi Kelas, Kesabaran dan Disiplinnya Kelas. Baik-pun Syarikat Islam atau PKI terdorong kelorong “PUTCH” ( Merebut Kemerdekaan / Kemenangan secara Militer belaka ). — ( Untuk kesempurnaan lihatlah “Menuju Republik Indonesia”, “ Semangat Muda”, dan “Massa Aksi” oleh Tan Malaka ).
KEADAAN KINI ( AGUSTUS 1945 )
NIPPON akan meninggalkan Indonesia, dalam tiga tahun dibawah pimpinan Tentara Nippon, Indonesia mendapat perubahan yang Maha Hebat. Sejarah Indonesia belum pernah memperlihatkan perubahaan semacam itu. Ekonomi yang dahulu berdasarkan Imperialisme pada waktu damai ( mendapatkan bahan-bahan di Indonesia untuk negara Ibu / Belanda, menjualkan barang-barang pabrik yang didatangkan dari negara Ibu ke Indonesia, menamkan Modal di Indonesia ) sekarang dibelokkan menjadi Ekonomi Perang. Perusahaan barang untuk dikirim keluar negeri ( Gula, Getah, Tea, Kina, Kopi, Arang, Minyak Tanah, Timah dll ) sekarang dipakai untuk keperluan perang. Banyak perusahaan-perusahaan dikurangi karena hasilnya tidak bisa dikirim keluar ( Tea, Kopi, Getah dll ) tetapi perusahaan-perusahaan lainnya diperluas ( Besi, Baja, Mesin, Obat-obatan dan sebagainya serta perusahaan-perusahaan baru didirikan ( Perkapalan ).
Keadaan social mendapat kegoncangan yang luar biasa, berjuta-juta Petani dijadikan Romusha ( Prajurit – Pekerja ) yang dikirim keseberang lautan atau dikerahkan diseluruh pulau Jawa. Hampir tidak ada lagi Pemuda atau Orang Tua kuat yang terlepas dari ikatan atau disiplin perusahaan industri atau pun pertahanan negara ( Seinendan, Heiho, Peta, Kaigoenheiho ). Banyak pula saudagar kecil atau pun bekas juru tulis dan Studen yang menjadi majikan, saudagar, atau “tukang catut”. Dalam jabatan negara banyak sekali posisi pekerjaan yang tinggi yang dahulu dipegang oleh Belanda sekarang dipindahkan begitu saja ketangan orang Indonesia. Jadi dalam tiga tahun saja Petani menjelma menjadi Prajurit Perang dan Pekerja, juru Tulis dan Studen menjadi Pedagang. Bekas Pemimpin Pergerakan dijaman “Hindia Belanda” menjadi pegawai negara tinggi ataupun rendah. Perlu puluhan tahun untuk membuat penjelmaan yang besar itu di masa damai, tetapi hal itu sekarang cuma tiga tahun saja. Inilah panen panca-roba social yang sehebat-hebatnya didalam sejarah Indonesia.
Dalam keadaan begini, maka pada tanggal 17 bulan 8 tahun 1945 Indonesia menyatakan Kemerdekaannya kesekalian Umat Manusia ke dalam dan ke luar Indonesia. Negara Indonesia yang Merdeka itu adalah sebuah Republik kesatuan dan kedaulatannya terletak ditangan Rakyat.

SEKUTU DAN REPUBLIK INDONESIA
Republik Indonesia tadi tiadaklah barang yang direbut dari tangan siapapun juga. Dia didirikan pada saat yang istimewa. Saat yang seolah-olah jatuh dari langit, yakni: Pemegang kekuasaan yang lama akan berangkat ( NIPPON ) tetapi belum lagi rakyat Indonesia mengambil hak yang memang hak-nya sendiri pada saat yang istimewa . Dia ambil haknya, hak tiap-tiap bangsa ketika diambil, maka hak itu terlantar saja, belum direbut oleh yang tidak berhak ( Sekutu yang akan mengambil oper kekuasaan )
Hak itu adalah kemerdekaan yang oleh Filsafat Politik modern sudah diakui sebagai hak mutlaknya, sebagai “Geboorteres” ( Birt-Right ) sesuatu negara, dia ini hak hidup, tidak lebih dan tidak kurang. Selama bangsa Indonesia berada Di tanah Indonesia ini maka menurut hukum Ia berhak sepenuhnya atas tanah dan kemerdekaannya. Bangsa Indonesia  Hidup dan Mati bersama dengan Tanah dan kemerdekaan tadi. Hak atas Tanah dan Kemerdekaan tadi tidaklah bisa dipindahkan ketangan bangsa asing atau dibagi-bagikan dengan bangsa asing. Hal ini akan bisa menimbulkan salah satu dari dua akibat:
Pertama:  Bangsa Indonesia lambat laun akan musnah seperti bangsa Australia Asli atau bangsa Amerika Asli atau mati kutu, merana dan terdesak seperti bangsa Indonesia di Semenanjung Malaka dan Kalimantan Utara, atau
Kedua:    Bangsa Indonesia akan bisa terus bertambah atau berkurang tetapi bercerai berai hidupnya diseluruh pelosok dunia, memang untuk mengambil hak hidupnya kembali, bangsa Indonesia tidak perlu malu atau minta maaf kepada siapapun juga.
Tetapi apakah sekutu akan mengakui Kemerdekaan itu? Apakah Atlantic Charter akan memperdulikan bangsa Indonesia? Inilah pertanyaan yang akan dijawab oleh sejarah dihari depan. Jawabannya itu Cuma sebagian saja terletak di tangan Sekutu tetapi sebagian lagi ada ditangan Rakyat Indonesia sendiri!!!
SUSUNAN SEKUTU
Amat sedikit sebenarnya kita mengetahui keadaan dalam kalangan sekutu adalah Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Sovyet Rusia. Sampai seberapa erat-kah persekutuan mereka itu? Apakah pertentangan atau bibit pertentangan dalam kalangan mereka itu?
Penerangan tentang sekutu itu amat sedikit sekali yang kita peroleh sejak Indonesia berada dibawah pemerintahan Bala-Tentara Dai NIPPON dalam 3  tahun setengah ini. Penyelidikan yang teliti tidak bisa kita jalankan.
Tetapi percobaan menurut jejak garis besar benang merah tidak ada salahnya kita jalankan. Apakah Inggris itu dari negara pemberi hutang sudah bertukar menjadi negara yang berhutang. Inilah yang belum kita bisa jawab dengan pasti tetapi selama Perang yang berlangsung lebih dari 5 tahun itu semua Export dan Import  boleh dikatakan berhenti. Dan pada Export dan Import itulah terutama sumber hidup utama dari Kerajaan Inggris. Daya upaya Inggris dimasa damai pada hari depan tentulah merebut kembali pasar yang hilang. Pasar itu untuk Inggris dalam Perindustrian, Perdagangan, dan dalm hal makanan amat bergantung sekali pada pihak luar negeri. Pabrik di Inggris tidak akan jalan kalau bahan seperti minyak tanah, getah dan kapastidak datang dari luar negeri. Kalau jalan pun, Barang pabrik seperti Kain, Baja, Mesin, Barang obat-obatan dan sebagainya, akan bertumpuk-tumpuk saja kalau pasar diluar negeri tertutup. Uang kontan dari para hartawan Inggris akan tersimpan mati dalam petinya kalau tidak ada negara luar yang mau diterimanya untuk ditanam dan dikembangkan. Perkapalan Inggris yang besar itu akan berhenti kalau tidak ada barang yang diangkut kedalam dan luar negeri dengan jatuhnya perindustrian dan perdagangan Inggris, maka akan merosotlah pula kekuatan membeli bahan dan makanan ( Daging, Gandum, Gula, Tea, Kopi dan lain-lain ). Dari luar negara Eropa yang sekarang dalam keadaan kurus kering itubukanlan satu daerah yang yang memberi pengharapan amat besar sebagai pasar pabriknya seperti sedia-kala. Afrika boleh jadi pula tidak akan memberi harapan kalau Afrika Selatan memajukan perindustriannya sendiri, seperti juga Mesir. Hindustan masih dalam persoalan yang besar. Apakah Hindustan akan Merdeka dan menolak semua atau sebagian besar Modal Inggris ? Inilah beberapa persoalan yang akan menentuka terus atau berhentinya Inggris sebagai negara besar.
Tiongkok yang sudah jemu akan akibat masuknya modal Inggris tentu tidak akan menerima masuknya modal Inggris itu secara leluasa seperti di masa lampau. Australia, Afrika Selatan dan Kanada tentu lebih daripada sebelum perang dunia ke dua ini akan menolak masuknya barang pabrik Inggris yang sudah dihasilkan oleh Kanada sendiri pada masa perang dunia kedua ini. Amerika Selatan yang dalam Perang ini terpaksa lebih rapat kepada Amerika daripada dengan Inggris, barangkali kelak diwaktu damai lebih anti asing daripada lagi daripada yang sudah-sudah.
Memang Indonesia-lah salah satu daerah yang harusnya menjadi kenang-kenangan untuk Inggris. Semenanjung Malaka tentu akan tetap menjadi bulan-bulanannya Imperialisme Inggris itu. Lebih daripada sebelum Perang dunia kedua ini Inggris mengharapkan barang penting dari Indonesia seperti Minyak Tanah, Getah dan lain-lain. Untuk mencoba akan berdirinya kembali sebagai negara kelas satu Inggris akan mencoba mamasuki daerah yang dianggapnya cukup lemah, seperti Indonesia kita.
Partai Pekerja yang memegang tampuk Pemerintahan di Inggris sekarang harusnya berada dalam keadaan kebingungan dan kebimbangan. Dahulu walaupun Sosialisme Inggris sudah dua kali memegang kekuasaan negara. Tidak sanggup ia mengadakan Sosialisme. Sosialisme? Tetapi belum sekarang lagi, demikian kata mereka. “Sosialism but not in our time”. Apakah kelak Sovyet Rusia dan Sosialisme di Eropa Barat, Partai Pekerja di Inggris berani menjalankan Sosialisme di Inggris? Apakah Partai Pekerja di Inggris kelak cukup kuat mencegah perbuatan Imperialisme bangsanya sendiri terhadap Indonesia Merdeka?
Apakah Pekerja Inggris akan membantu Imperialisme negara? Atau mencegah dengan kodrat Murba ( Massa Aksi ) perbuatannya itu? Berdiam diri atau berpura-pura memprotes akan kita dianggap seperti membantu Imperialisme bangsanya. Bagaimana-pun juga hanya waktu saja kelak yang bisa memberi jawaban yang pasti.
Terjerumusnya Amerika kedalam Peperangan dunia yang kedua ini adalah karena gagal dalam usaha menegakkan kembali Kapitalisme yang sudah mau condong dalam negara ibu itu. Old-Dealnya presiden Hoover, atau pun New-Dealnya Presiden Roosevelt tidak bisa mengembalikan lebih kurang 10.000.000 orang penganggur Amerika kedalam perusahaannya. Kekuatan produksi Amerika yang sudah melewati kekuatan daya beli rakyat Amerika sendiri. Lapangan untuk memberi jalan baru kepada modal Amerika yang sudah bertumpuk-tumpuk itu dalam negara Amerika sendiri sudah bertambah sempit. Amerika membutuhkan pasar diluar negaranya sendiri.
Karena Amerika-lah diantara 4 negara bersekutu itu yang sama sekali tidak mendapat kerusakan dalam negaranya, maka pembangunan negara itu kelak untuk Amerika sesudah damai tidaklah berarti mendirikan Rumah, Gedung, Jembatan dan Pabrik seperti Inggris, Eropa Barat, Sovyet Rusia, Tiongkok dan Nippon. Barangkali pada tingkat pertama modal Amerika akan mendapat kesempatan untuk berkembang di beberapa daerah yang sudah disebutkan diatas. Tentu pula ribuan juta dolar perlu dipakai untuk pembangunan didaerah-daerah tersebut. Barang berupa Mesin, Alat Perkakas, Pakaian, Makanan dan lain-lain, perlu didatangkan dari Amerika yang masih segar-bugar itu kalau dibandingkan dengan negara lain. Dalam hal itu pabrik Amerika akan bisa berjalan terus dengan pesat dan denga begitu akan menghisap jutaan Buruh, walaupun dalam waktu yang sementara saja.
Tetapi bagaimanapun juga Minyak Tanah, Getah dan Timah Indonesia bukanlah barang yang tidak diperdulikan oleh Amerika. Inilah bahan yang senantiasa menarik perhatian Amerika ke Indonesia dan inilah pula bahan mentah yang memaksa Indonesia menaruh perhatian terhadap Amerika.
Persoalan Indonesia-Amerika, pendeknya Apakah kelak Amerika akan bersikap keras ingin memiliki dan mengurus sumber Minyak dan kebun Getah di Indonesia? Apakah Amerika akan senang dengan hasil “Minyak” yang dimiliki, diusahakan dan dipekerjakan oleh rakyat Indonesia saja dan mempertukarkan bahan mentah Indonesia dengan hasil pabrik Amerika?
Sovyet Rusia, negara setengah Feodal dalam seper-empat abad saja meningkat menjadi negara industri, dimana kaum Pekerja yang mengurus dan menyelenggarakan segala apa yang berhubungan dengan negara. Sebenarnya Proletar Rusia-lah yang dalam Perang dunia ke II ini yang menahan pukulan Jerman Nazi yang maha dahsyat itu, ketika pukulan dijatuhkan dengan sekuat-kuatnya dan segiat-giatnya ( 1941-1944 ). Tiga tahun inilah yang sebenarnya memeberi keputusan apakah Jerman Nazi  ataukah persekutuan Demokrasi-Komunisme yang akan menguasai dunia.
Dengan kekuatan Sovyet Rusia, maka kolektivisme kerja-tolong menolong untuk pertama kalinya menyatakan kepada dunia Kapitalis dan perseorangan di abad ke 20 ini. Boleh jadi kelak para ahli sejarah akan menandai abad ke 20 ini sebagai abad Kolektivisme.
Seberapa jauh sekarang kekuatan produksi Sovyet Rusia, belumlah dapat kita pastikan. Apakah produksi itu Cuma cukup untuk rakyat Sovyet Rusia sendiri saja apakah sudah berlimpah, belumlah kita dapat menjawab karena kekurangan Informasi. Apakah pemakaian dalam negara bisa dipertinggi dan sampai dimana kesanggupannya atau sudah memuncak pula-kah kekuatan produksi itu, sampai rakyat Rusia mendapat daerah yang aman untuk menerima produknya itu? Pertanyaan ini pun tidak bisa dijawab disini begitu saja dengan tiada menunggu pemeriksaan para ahli terlebih dahulu.
Tetapi Republik Indonesia tidak bisa dan perlu untuk menggantungkan dirinya kepada beberapa kemungkinan Sovyet Rusia. Rusia mempunyai kepentingannya sendiri yang Cuma bisa diselesaikan oleh Rusia sendiri. Begitu pula Indonesia mempunyai kepentingan sendiri yang Cuma bisa diselesaikan oleh Indonesia sendiri. Seandainya Indonesia begitu lemah dan menggantungkan dirinya kepada Rusia, maka sikap ini, seandainya Rusia mau menerima pasti tidak akan memberi hasil yang memuaskan untuk Indonesia. Pertama kali:, jarak Indonesia dan Rusia terlalu jauh, Kedua: Diantara Rusia dan Indonesia  terletak pula daerah Asia yang bukan menjadi bagian Sovyet Rusia adalah Tiongkok dan Hindustan. Ketiga: Rusia sekarang dan waktu yang lama di depan tidak akan bisa mengadakan armada yang akan menandingi armada Inggris-Amerika yang sekarang menguasai dunia, apalagi Lautan Hindia dan Lautan Teduh. Serta mereka mempunyai banyak sekali  pengalaman disemua Lautan dan Samudra. Percobaan Rusia yang sebenarnya menyokong satu pemerintahan Indonesia yang dipimpin dari Moskow tentulah negara akan membawa akibat yang tidak diingini oleh rakyat Indonesia sendiri. Inggris dan Amerika tentulah akan tampil kemuka dengan armadanya untuk “membela” Indonesia yang begitu penting untuk strategi Perang dan untuk segala bahan mentah. Inggris dan Amerika dengan bersitumpu pada golongan Borjuis dan Feodal Indonesia akan memakai Indonesia sebagai medan peperangan untuk memepertahankan kekuasaaanya di Lautan Teduh dan Samudra Hindia. Indonesia pada akhirnya akan menjadi atau jatuh dibawah pengaruh salah satu pihak yang menang.
Ditilik dari padangan ini maka dalam suasana seperti sekarang sedikit sekali kemungkinan Rusia akan mencoba mendirikan atau membantu dengan sebenarnya satu pemerintahan Indonesia yang langsung didipimpin dari Moskow. Apalagi kalau dipikirkan bahwa sebagai negara serikat dari Inggris-Amerika dalam perang dunia ke II, Rusia tentu terikat dengan beberapa perjanjian berhubungan dengan bantuan uang atau mesin yang diberikan oleh Amerika kepada Rusia, ketika Rusia diserang oleh Jerman. Sebaliknya Rusia akan lebih merdeka sikapnya terhadap Indonesia yang berdasarkan kekuatan nasional, yakni terhadap Indonesia yang mendirikan suatu pemerintahan yang berdasarkan kemauan rakyat. Indonesia sendiri dan tidak dibantu oleh negara manapun juga diluar Indonesia. Rusia yang mempusakai dasar Komunisme yang akan membantu kemerdekaan suatu daerah jajahan, sekarang bisa melaksanakan dasarnya itu dengan jalan yang tidak kurang arti dan akibatnya ialah dengan jalan diplomasi. Pengakuan Republik Indonesia dalam suasana Internasional seperti sekarang ini adalah suatu bantuan yang sebesar-besarnya. Bantuan yang lebih daripada itu tidak akan menguntungkan Rusia dan akan mencelakakan Republik Indonesia Merdeka sendiri.
Marilah kita sebentar menoleh ke Tiongkok yang banyak sekali menderita akibat politik Imperialisme dan akibat perang dunia ke II ini. Negara yang begitu luas dengan penduduk yang begitu banyak jumlahnya, pintar dan rajin yang lama sebelum perang dunia kedua ini dalam kekacauan yang disebabkan oleh perang saudara yang berulang-ulang sangat membutuhkan modal dan mesin. Dalam keadaan begini, maka modal Tiongkok yang ada diseluruh ASLIA adalah satu factor yang besar untuk kemajuan Tiongkok. Di Birma, Thailand, Annam, Philipina, Semenanjung Malaka, dan Indonesia Sempit cukup banyak modal Tiongkok untuk langkah pertama dalam daya-upaya memajukan Tiongkok menjadi negara perindustrian, menurut rencana Dr Sun Yat Sen.
Tetapi apakah Tiongkok akan bisa lekas dan langsung memakai modal Tionghoa yang di ASLIA itu tergantung pada beberapa hal modal Tiongkok diseberang lautan ( Overseas Chinese ) tentulah ingin menunggu sampai negara Tiongkok betul-betul aman untuk menanmkan modal dimana-mana. Dimasa lampau sewaktu timbul perang saudara, modal Tionghoa diseberang lautan sangat takut sekali masuk kenegara bapaknya ( Tomsoa ). Sebelum pertikaian Komunis dan Nasionalis belum selesai dan berhubung perang saudara masih mengancam, maka modal Tionghoa diseberang tentu masih akan tinggal mengintip dari jauh saja.
Modal Tionghoa yang ada di Indonesia adalah satu perkara yang bisa mempertemukan Republik Tiongkok Merdeka dengan Republik Indonesia Merdeka. Tiongkok butuh modal orang Tionghoa yang ada di Indonesia dan Indonesia akan mendapatkan mendapat bahagia kalau modal Tionghoa itu dipindahkan dari Indonesia bersama dengan sebagia besar Tionghoa yang berpengalaman yang dibutuhkan oleh Tiongkok Baru. Dengan premufakatan Tiongkok-Indonesia dan bantuan dari kedua belah pihak bisa diadakan tindakan yang akan amat menguntungkan Indonesia dan Tiongkok keduanya.
Selain daripada kepentingan bersama seperti yang sudah disebutkan diatas, keduanya sedang mempertahankan diri terhadap Imperialisme asing. Kalau dipikirkan pula bahwa Tiongkok dan Indonesia mempunyai bentuk negara yang bersamaan yaitu Republik yang berdasarkan kedaulatan rakyat, maka sepantasnyalah kedua negara itu bermufakat dan bersekutu menghadapi musuh bersama.
Akhirnya dalam perhubungan Tiongkok dan Indonesia harus diperhatikan Perasaan Tionghoa terpelajar di Tiongkok  terhadap Indonesia tidaklah sama dengan perasaan Hoa Kiau ( Tionghoa – Seberang ), umumnya terhadap Indonesia. Mereka di Tiongkok mempunyai pemandangan yang lebih jauh dan hati yang lebih lapang. Dalam dunia diplomasi satu negara dengan diplomat lain negara, karena banyak persamaan Paham, Adat Istiadat dan Tingkah laku tidak sedikit artinya dalam daya upaya merapatkan negara yang merdeka masing-masing wakil.
Sekian sekedar penyelidikan yang jauh daripada sempurna tentang Sekutu yang akan berhadapan dengan kita.
Sebagai kesimpulan dari penyelidikan diatas yang jauh dari sempurna itu, maka mungkin sekali Inggris dengan bantuan “mulut” dari Pihak Belanda, yang akan mengambil tindakan agresifnya (Ceroboh )  terhadap Indonesia, Untuk Kapitalis dan Imperialis Inggris. Republik Indonesia Merdeka apalagi Semenanjung Malaka dan Kalimantan Utara adalah satu perkara penting untuk pembangunan British Empire dan mempertahankan diri  dan “muka” sebagai First Class Power ( Negara Kelas Satu ).
Amerika berada dalam kebimbangan,tetapi tidak mustahil Amerika akan mengakui Republik Indonesia Merdeka kalau Indonesia Sempit bekerja sama serapat-rapatnya dengan Philipina yang oleh Uncle Sam dianggap sebagai Foster Childnya (Anak Angkat ).
Akhir kesimpulan yang barangkali tidak akan jauh dari kebenaran adalah dari pihak Tiongkok dan Rusia, Republik Indonesia boleh mengharapkan bantuan diplomasi yang tetap tegak. Kalau Amerika bisa dihilangkan kebimbangannya, maka semua rencana Inggris-Belanda yang berdasarkan kecerobohan akan berhadapan dengan Rusia, Tiongkok dan Amerika. Diplomasi Republik Indonesia terutama harus dipusatkan pada upaya menarik Amerika kepada kemauan Rusia-Tiongkok.
Indonesia sesudah Perang dunia ke II ini, amat kekurangan benda berupa Mesin, Perkakas, Emas-Intan, Pakaian dan lain-lain. Tetapi masih kaya dalam bahan tersimpan hasil bumi yang keluar selama bumi-nya ada, iklim dengan sungai dan danaunya ada, selama itulah rakyat Indonesia masih satu rakyat yang terkaya dimuka bumi ini, walaupun kekayaan itu masih terpendam saja.
Semiskin-miskinnya Indonesia dalam hal mesin dimasa depan, dengan kepandaian dan pengalaman yang sudah diperoleh ia akan bisa mengadakan hasil yang tiada ternilai harganya dipasar dunia seperti Minyak Tanah, Emas, Arang, Timah, Gula, Tea, Getah, Kina, Kopi, Kopra dan sebagainya. Dengan menjual barang tersebut diluar negeri, Republik Indonesia dengan aman dan sentosa akan bisa mendapatkan mesin yang dibutuhkan. Dengan rencana 3,4,5……………tahun, Indonesia lambat laun bisa menimbulkan Industri berat sebagai jaminan yang pasti untuk kemerdekaannya. Kemerdekaan modern itu terutama berdasarkan industri berat ( Pembuatan Baja, Mesin Auto, Kereta, Kapal Laut, Pesawat, Listrik, Minyak dll ). Sebaliknya Industri berat berdasarkan kemerdekaan pula. Tidak bisa diadakan Industri berat  kalau Indonesia Merdeka dihambat-hambat untuk menimbulkan industri yang dirasanya penting untuk kehidupan dan pertahanannya. Kalau Indonesia Merdeka tidak dibolehkan mendirikan “Tarrif-Wall”        (Proteksi) untuk melindungi “Infant-Industri” ( Industri Bayi ), seperti bayi manusia atau pohon kecil yang harus dilindungi dari angin dan panas terik, begitu pula industri harus dilindungi dari pemasukan barang-barang luar negeri yang bisa menjadi saingan yang galak. Sesudah industri bayi tadi teguh-tegap karena pengalaman Indonesia sudah cukup, maka perlindungan itu bisa dilenyapkan. Indonesia mempunyai bahan yang banyak sifat dan bilangannya, lalu lintas yang paling bagus ( lautan dan sungai ) disamping pekerja yang dilatih dari jaman Pajajaran ( Pandai ) sampai kejaman Majapahit dan akhirnya Jaman Penjajahan Belanda. Kalau sudah beberapa tahun sudah cukup pengalaman, tidak perlu takut akan persaingan dengan negara manapun juga dimuka bumi ini, baru Kemerdekaan itu aman sentosa. Barulah “Tarrif Wall” bisa dirubuhkan.

PERTAHANAN INDONESIA MERDEKA
Ada Tiga Perkara yang terpenting untuk mempertahankan Republik Indonesia dihari depan:
1)     Persatuan yang teguh tegap diantara semua golongan rakyat. Persatuan itu harus tahan uji terhadap serangan dari dalam maupun dari luar negara. Persatuan itu bisa diselenggaraka oleh satu Partai saja, apalagi dimasa Pancaroba yang istimewa, Pemerintah negara yang berdasarkan satu Partai itu lebih cepat mengambil tindakan yang perlu ataupun mengadakan koreksi ( pembetulan ) yang amat perlu. Persatuan rakyat itu juga bisa diselenggarakan oleh gabungan lebih dari satu Partai asal jangan terlalu banyak. Tetapi penggabungan Partai lebih berdasarkan Kerakyatan, lebih sukar pula dikendalikan karena berlainan aliran didalamnya. Memang dimasa Pancaroba yang maha hebat “Diktator Murba” -lah system yang sebaik-baiknya, tetapi harus diambil tindakan supaya Diktator satu Partai terhadap rakyat Murba jangan beralih menjadi Diktator seorang atas Partai. Didalam Partai, diantara anggota dengan anggota mestinya mempunyai kesempatan yang sama untuk mengadakan “Kata Mufakat” yang berdasarkan Kemerdekaan untuk berfikir dan mengusulkan serta disiplin dalam hal mengambil suatu keputusan dan menjalankan keputusan itu.
2)     Kemerdekaan yang penuh dan kini juga. Ini sama artinya dengan Persatuan. Kemerdekaan itu bisa diumpamakan satu besi berani yang menggetarkan jiwa rakyat Murba yang tidur lelap itu. Tetapi supaya getar-geraknya itu terus tetap, kemerdekaan itu seperti persatuan tadi, mesti didasarkan keperluan rakyat Murba sehari-hari. Jiwa Murba akan terus tetap menggetar dan bergelora kalau saja jasmani Murba terpelihara ( Makanan, Pakaian dan Perumahan ). Untuk memenuhi keperluan Murba yang memang dalam kekurangan itu, negara Indonesia harus menjalankan ekonomi teratur dengan Rencana, Kebulatan Hati, Tekad dan kegiatan kebulatan tenaga serta akhirnya dengan segera. Kemerdekaan penuh yang bisa menjalankan rencana ekonomi teratur itulah yang bisa menjamin kekokohan Republik Indonesia Merdeka.
3)     Jangan dibolehkan modal asing mengganggu kemajuan perusahaan Indonesia. Hal ini pasti akan terjadi kalau modal asing diperbolehkan lagi menyewa tanah dan menguasai bahan Indonesia. Berapapun bagusnya rencana berapapun giat dijalankan selama negara asing dengan perantaraan modal di Indonesia bisa mempengaruhi jalannya produksi dan distribusi kita, maka rencana yang bagus itupun akan kandas juga. Dengan suka cita kita akan menukar hasil perusahaan kita dengan mesin luar negeri, tetapi Tanah-Produksi-Distribusi harus dikuasai oleh negara Indonesia.
4)     Ekonomi harus dikendalikan ( diatur ) dan negara harus menjalankan ekonomi terencana. Produksi dan distribusi liar, sesuka masing-masing orang dengan tidak memakai perhitungan lebih dahulu, dengan tidak menyesuaikan kekuatan menghasilkan dengan keperluan memakai lebih dahulu harus ditolak dengan keras. Kalau produksi dan distribusi dilepaskan kedalam satu atau dua orang Kapitalis Indonesia yang kurang pengalaman dan pemandangan Internasional, yang tidak pula memperdulikan keperluan rakyat Murba, maka tidak akan lama perekonomian dan akhirnya politik Indonesia akan terlepas lagi ketangan asing. Lebih lagi dari Amerika Selatan dan Tiongkok sebelum perang ini, modal Indonesia yang dipercayakan kepada si-Kapitalis Indonesia itu akan segera menjadi bola-sepak dan sepak-bola Imperialisme Asing. Bolehlah dikatakan satu kebahagiaan untuk Indonesia sekarang yang rakyatnya tidak mempunyai golongan Kapitalis yang kuat dan bisa mempengaruhi jalan politiknya negara. Tidaklah susah untuk Indonesia Merdeka untuk memimpin majikan Bumiputera kearah Kolektivisme dan ekonomi terencana, yang mengatur Hak Milik, Penghasilan, Pembagian Hasil, Upah dan Hidup Sederhana.
SIFAT PROLETARIS
Kaum Buruh perusahaan besarlah kelak yang penting sekali diantara beberapa golongan rakyat, dalam upaya membangunkan Republik Indonesia dengan industri beratnya, maka Buruh itulah pula yang harus disadarkan dan dibangun dari sekarang. Mereka yang menduduki cabang perindustrian yang penting, sendirinya pula kelak akan menjadi golongan yang penting dalam satu masyarakat berdasarkan semata-mata keadilan. Keinsyafan mereka akan kedudukan yang penting, dalam masyarakat dihari depan itu pula kelak akan menimbulkan Tekad, Keberanian dan Kegiatan yang menyala-nyala dihati mereka menentang usaha dan tindakan Imperialisme asing menurunkan Indonesia Merdeka kembali ke derajat jajahan. Maka kaum pekerja yang dengan kulit dan tulangnya merasakan perekonomian Imperialis, tentulah tidak ingin dihisap dan ditindas kembali. Mereka inilah pelopor rakyat yang giat mempertahankan Republik Indonesia itu dengan kemakmuran dan keadilan.

PENGERAHAN MURBA
Siasat mengerahkan Murba untuk merebut kekuasaan negara sudah diterangkan dalam “Menuju Republik Indonesia” ( 1924 ), “Semangat Muda” ( 1925 ), “Massa-Aksi” ( 1926 ). Semuanya oleh Tan Malaka.
Siasat berdasarkan Murba itu masih amat sedikit dimengerti di Indonesia. Gerakan di Indonesia pada umumnya menganggap perebutan kekuasaan itu sebagai usaha Militer semata-mata ( PUTCH ). Persiapan susunan tertutup hampir sama-sekali dipusatkan pada bentukan satu pasukan yang kelak tiba-tiba akan menyerbu keluar untuk merebut kekuasan Politik dengan cara Militer.
Gerakan semacam itu terhadap satu susunan negara yang diatur oleh Imperialisme Modern Niscaya akan kandas sama sekali. Gerakan itu bisa berhasil, kalau benar seluruh atau sebagian terbesar rakyat jelata sudah memiliki kesadaran politik yang sedalam-dalamnya, Ikhlas berkorban mencapai idamannya serta tahan uji dalam aksi yang Sukar, Berbahaya dan Lama.
Kesadaran yang dalam serta kemauan laksana baja itu tidaklah diperoleh dengan jalan Propaganda secara ngomong saja, melainkan dengan Agitasi yang berisi bukti yang senyata-nyatanya dan dengan pengalaman Murba dalam aksi politik ( Demonstrasi ) dan Ekonomi        ( Pemogokkan ). Pengalaman Murba itu perlu sekali dan bisa diperoleh dalam aksi memperbaiki kehidupan sehari-hari ( Minta Kenaikkan Upah, Minta Pengurangan Pajak dan sebagainya ).
Dalam masa berkerja tersembunyi suatu Partai mestinya mempunyai hubungan dengan perhubungan dengan rakyat Murba. Perhubungan terbuka itu ialah laksana kaleidoskopnya sebuah kapal selam, yang mesinnya bergerak dibawah permukaaan air. Dengan perantaraan susunan terbuka ( Pakbon atau Partai berupa jinak ), Partai tersembunyi jadi bisa mengukur kemauan rakyat Murba dan berapa luasnya kemauan itu sudah menjalar diseluruh negeri.
Ringkasnya, sesuatu Partai tersembunyi mesti selalu mempunyai susunan terbuka sebagai badan politik dan pengukur. Susunan terbuka juga harus mempunyai Partai tertutup sebagai benteng perjuangan terakhir.
Tiadalah bisa diharapkan selalu bahwa seluruh Murba akan bergerak serentak dan serempak. Sejarah dunia akan acapkali menunjukkan, bahwa gerakan Murba itu melalui beberapa tingkat. Pimpinan yang mengerti, Cerdik, Berpandangan jauh mesti mengerti watak dan sifatnya tiap-tiap tindakan yang sudah dan akan dijalani Murba tadi.
Buat mengertikan watak dan sifatnya tiap-tiap tingkat yang harus dilalui oleh Murba itu perlu diketahui Hasrat, Idaman kemauan dan Impian tiap-tiap golongan Murba itu. Murba tani berlainan hasrat dan kemauan dengan pedagang dan juru tulis kantor. Dalam kaum Pekerja sendiri ada pula bermacam hasrat, paham dan kemauan menurut bagian pekerjaan, didikan dan suasana hidup masing-masing. Begitu pula dalam golongan Tani dan Pedagang, semua itu bisa diketahui denagan memakai cara berpikir yang berdasarkan Materialisme Dialektika Logika ( Lihat Kitab “Madilog” oleh Tan Malaka, Tahun 1942 ).
Kalau satu pimpinan Murba mengerti betul akan hasrat dan kemauan tiap-tiap golongan Murba yang bergerak itu, maka pimpinan tadi bisa pula mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkatan aksi yang sudah tercapai.
Seandainya seluruh rakyat Indonesia bisa dikerahkan sampai tercapai kemerdekaan nasional, maka pada titik ini rakyat Murba akan terpecah menjadi dua. Golongan Borjuis tidak akan mau terus lagi, karena kemauan mereka Cuma buat memajukan modal kebangsaan saja. Kalau dalam Indonesia merdeka modal itu sudah jatuh ketangan mereka, maka mereka sudah sampai kepada hasratnya. Mereka tidak akan mau ditarik terus buat mendirikan masyarakat berdasarkan Kolektivisme. Kalau mereka ditarik juga maka  boleh jadi sekali akan berbalik melawan Murba. Dari sifat Revolusioner mencapai kemerdekaan nasional mereka akan bertukar menjadi Kontra-Revolusioner ( melawan kaum Pekerja – yang berdasarkan Kolektivisme ). Kalau mereka merasa lemah dengan berhadapan bangsa sendiri, maka mereka tidak akan segan-segan menerima atau memanggil pertolongan dari luar negeri ialah kaum Borjuis pula. Dalam batinnya, Kapaitalis nasional itu bersifat internasional juga. Seperti dalam hakikatnya Pekerja dalam suatu negara itu bersifat internasional pula. Tetapi disebabkan oleh batasan negara yang ditentukan oleh politik dan sejarah masing-masing diperdalam pula oleh perbedaan bangsa, bahasa dan kebudayaan masung-masing, maka Borjuis dan Pekerja masing-masing negara terikat pada paham negara dan pandangan kenegaraan masing-masing.
Pada tingkat mencapai kemedekaan nasional, maka golongan Borjuis bersitumpu pada rakyat Murba. Tetapi kalau kemerdekaan nasional sudah tercapai dan Pekerja mau terus ketingkat Kolektivisme, maka golongan Borjuis akan bersitumpu pada golongan Tani Besar, Pedagang Tengah dan besar, sebagian golongan Intelektual serta pekerja yang belum insyaf. Kalau terdesak, maka mereka akan menerima pertolongan Imperialis.
Walaupun demikian sifat dan hasratnya Borjuis tengah dan kecil itu, Partai pekerja seperti PARI tidak boleh dan tidak bisa mengabaikan mereka dalam tiap-tiap tingkat perjuangan. Mereka harus ditarik kedalam medan perjuangan. Dalam perjuangan mencapai kemerdekaan nasional itu akan ternyata kegiatan dan keberanian Tani Kecil, Pedagang Kecil dan sebagian Intelek Borjuis itu. Sebaliknya kalau mereka diabaikan apalagi kalau dimusuhi maka boleh dikatakan mustahil bisa merebut kemerdekaan nasional. Lebih mustahil pula membangun negara berdasarkan Kolektivisme . Dengan sadar atau tidak mereka dalam perjuangan nasional itu akan bisa dijadikan perkakas oleh Imperialisme asing dan dengan pertolongan Borjuis nasional membasmi semua gerakan kaum Pekerja yang Revolusioner, berdasarkan Kolektivisme.

IKHTISAR PENGERAHAN MURBA
1)     Karena rakyat Murba terdiri atas berjenis-jenis golongan, maka hasrat dan kemauan dalam Murba juga berlain-lainan. Makin dekat tiap-tiap golongan itu kepada tujuan perjuangannya, makin susut kegiatannya bertarung. Kalau hasrat ( keinginan/kemauan ) sesuatu golongan itu sudah tercapai dan dipaksa meneruskan perjuangannya maka golongan itu boleh jadi sekali akan membalik melawan bangsanya sendiri dan menerima pertolongan asing.
2)     Pengerahan Murba seluruhnya untuk buat mencapai tingkatan kemerdekaan nasional sampai ketingkat Kolektivisme adalah perkara yang perlu sekali dijalankan. Tetapi harus diadakan segala persiapan buat meneruskan Murba bergerak, sesudah tingkat kemerdekaan nasional tercapai. Pun tidak bisa diabaikan tindakan cepat-cepat terhadap Borjuis nasional dan konconya yang terbuka atau tersembunyi dalam dan luar negara.
3)     Tipu-Muslihat Klas ( Taktik dan Strategi Klas ) Amat sulit dan berseluk-beluk. Ia selalu berubah menurut tempoh dan tempat. Dalam kalangan Murba itu kawan sekarang bisa menjadi musuh dikeesokan harinya. Dalam perjuangan itu tingkat pemogokan ekonomi dihari ini, besok boleh bertukar menjadi pemogokan ekonomi yang mengandung politik. Demonstrasi damai hari ini besok bisa bertukar menjadi demonstrasi yang diperkeras dengan pemogokan. Mogok dan demonstrasi damai bisa berubah menjadi mogok demonstrasi, sabot, gerilya terus menerus sampai kemerdekaan nasional dan social tercapai. Partai Pekerja yang menuju kepada Kolektivisme harus mengetahui sifat tiap-tiap golongan yang berjuang, sifatnya tingkat perjuangan yang sudah dicapai serta tindakan yang mesti diadakan pada tiap-tiap tingkat itu.
4)     Keulungan satu Partai Pimpinan Murba tidalah terletak pada keberanian semata-mata. Keberanian Partai saja yang tidak disertai oleh perhubungan yang rapat dengan golongan Murba dan pengetahuan yang dalam atas jiwanya Murba, adalah salah satu rombongan kecil yang sanggup berkorban, tetapi kalau sudah berkorban tidak akan mendapatkan hasil yang sepatutnya dan secukupnya. Mereka karena terburu oleh nafsunya sendiri saja tiada disertai oleh nafsunya Murba, boleh jadi mudah dihancurkan oleh musuh. Partai Murba yang tulen, Jatuh dan Berdiri dalam dan dengan Murba. Akan bergerak serentak daan serempak dengan Murba dan di dalam Murba (Pekerja).
5)     Memimpin Tentara Perang membutuhkan satu kader opsir serta pengetahuan terkhusus tentang siasat perang. Lagipula pengetahuan teristimewa tentang pimpinan, latihan dan persenjataan sesuatu tentara perang.
Memimpin Murba membutuhkan satu kader pemimpin ialah Partai dan pengetahuan terkhusus tentang siasat Revolusi yakni siasat Klas. Lagipula pengetahuan istimewa  tentangan Pimpinan, Latihan dan Persenjataan Murba.
Menaklukan dan merebut satu negara dengan memakai Tentara perang sebagai alat perkakas, berlainan sekali sifatnya dengan menaklukan dan merebut kekuatan politik dengan memakai Murba sebagai alat perkakas. Pada sesuatu peperangan, tehniknya yang memberi keputusan terakhir, tetapi pada suatu Revolusi baik nasional maupun social jiwa Murba-lah ( Mass-Phsycology  ) yang memberi putusan terakhir. Buat mempelajari jiwa Murba itu Ilmu Materialisme dan Dialektika-lah yang memberi pertolongan.
6)     Dalam keadaan persenjataan Tentara Republik Indonesia seperti sekarang yang dalam keadaan serba kurang itu, maka senjata kita harus dipusatkan pada: senjata Diplomasi terhadap luar negeri dan pergerakan Murba didalam negara. Perjuangan senjata ialah sekedar untuk memperkuat  perjuangan ekonomi-politik dan diplomasi. Semboyan kita: 75 % senjata batin dan 25 % senjata lahir.
7)     Kecerdikan dan ketetapan hati ialah perkara yang terpenting buat pimpinan Murba. “Persatuan dan Disiplin adalah kunci kekuatan Murba”.

USAHA KITA
###  Dengan Murba, Dalam Murba, Untuk Murba menuju Republik Indonesia yang Sosialistis, terus ke Proletaris ASLIA Republik, akhirnya ke PENGGABUNGAN BEBERAPA NEGARA YANG ( HAMPIR ) SAMA BESAR SAMA RATA DUNIA.
### Menolak semua percobaan mendirikan Republik Indonesia yang Kapitalis dan membatalkan semua daya upaya dari luar menjajah Indonesia dengan cara dan memakai bentuk dan corak jajahan apapun juga.
###  Menambah anggota PARI atas dasar 30 % Pekerja perusahaan penting, 20 % Tani Melarat, 20 % Kaum Intelektual, Penduduk Kota, Pedagang, Pekerja Kantor dan lain-lain

SERUAN KITA
HIDUP PEKERJA TANGAN DAN OTAK !!!
TAMPILLAH PEMUDA SOSIALISTIS !!!
BANGUNLAH PROLETARIS REPUBLIK INDONESIA !!!
BERDIRILAH DAN BANGUNLAH ASLIA !!!
SOKONGLAH GABUNGAN DUNIA YANG ADIL !!!

Disetujui oleh
PUCUK PIMPINAN
JAKARTA, 7 September 1945

PROGRAM PARI
1)     Menuju Republik Proletaris di ASLIA ( ASIA–AUSTRALIA )
2)     Kedaulatan atas rakyat yang Kerja.
3)     Tanah, bahan dan Perusahaan penting ( vital ) dimiliki negara.
4)     Produksi dan Distribusi secara SOSIALISTIK.
5)     Menjalankan Ekonomi Teratur.
6)     Milisia dan Lasykar tetap berdasarkan pekerjaan buat kehidupan.
7)     Didikan yang Praktis-Teoritis.
8)     Menuju kehakiman rakyat ( Juri sebagai Hakim ).
9)     Pertukaran Internasional dengan perentaraan biro internasional.
10)      Menuju Federasi Dunia.

TAKSIRAN KASAR TENTANG GABUNGAN DUNIA
1)     Amerika Utara ( Amerika dan Kanada).
Luas wilayah 8 juta mile-persegi, dengan penduduk lebih kurang 160.000.000 jiwa
2)     Amerika Selatan
Luas wilayah 7 juta mile-persegi dengan penduduk 100 juta.
3)     Tiongkok
Luas wilayah lebih kurang 4,5 juta mile-persegi dengan penduduk 400.000.000 jiwa
4)     Indo-Iran ( Hindustan dan Asia Muka ).
Luas wilayah lebih kurang 3 juta mile-persegi dengan jumlah penduduk lebih kurang 450.000.000. Boleh juga dua gabungan besar.
5)     ASLIA
Luas wilayah lebih kurang 3 juta mile-persegi ( Daratan saja ) dengan jumlah penduduk lebih kurang 150.000.000 jiwa
6)     Afrika
Luas wilayah lebih kurang 11,5 juta mile-persegi dengan jumlah penduduk lebih kurang 100.000.000 jiwa. Boleh juga 2 Gabungan besar.
7)     Eropa Barat
Luas wilayah lebih kurang 3,75 juta mile-persegi dengan jumlah penduduk lebih kurang 350.000.000 jiwa
8)     Sovyet Rusia
Luas wilayah lebih kurang 9 juta mile-persegi dengan jumlah penduduk lebih kurang 200.000.000 jiwa
( Pembagiaan dunia ini diambil menurut persamaan atau berdekatan daerah, Kebangsaan. Kebudayaan, Sejarah dan Keperluan hidup. Australia Putih tidak ada salahnya kalau mau bergabung dengan kulit putih pula ).

USAHA LANGSUNG ( WERK PROGRAM )
1)     Menyusun PARI di tempat penting.
2)     Menyusun Serikat Sekerja.
3)     Menyusun Tani.
4)     Menyusun Pembelaan.
5)     Menyusun Pemuda ( termasuk Pekerja ).
6)     Menyusun Wanita ( termasuk Pekerja ).
7)     Membasmi Penjilat dan Penghianat.
8)     Bersiap menentang Imperialisme Modern.
9)     Menyusun Perhubungan ASLIA
10)      Propaganda luar ASLIA.

Catatan : Arti kata Murba pada tulisan diatas adalah kelas Pekerja/Buruh atau Proletariat di Eropa

Konfrontasi Peristiwa Madiun 1948, Peristiwa Sumatera 1956

Oktober 28, 2008

D.N. Aidit (1957)
Tulisan ini adalah pidato Kawan D.N. Aidit di dalam Sidang DPR tanggal 11 Februari 1957 menjawab keterangan anggota DPR Udin Sjamsudin (Masyumi) yang mencoba menutupi maksud-maksud kontra-revolusioner dari “dewan-dewan partikelir” di Sumatera dengan menyinggung-nyinggung soal Peristiwa Madiun.
Dengan pidato Kawan D.N. Aidit ini masyarakat dapat mengetahui dengan lebih jelas lagi hakekat Peristiwa Madiun, suatu provokasi reaksi yang dilancarkan oleh Hatta dan arti pemberontakan kontra-revolusioner gerombolan Simbolon dan Ahmad Husein yang satu tahun kemudian mencapai puncaknya dengan diproklamasikannya “Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia” di Padang oleh gembong-gembong Masyumi-PSI seperti Syafruddin Prawiranegara dan Sumitro Jojohadikusumo.
Dengan tulisan ini Rakyat Indonesia sampai sekarang mempunyai tiga dokumen penting tentang Peristiwa Madiun yaitu : Buku Putih tentang Peristiwa Madiun yang diterbitkan oleh Departemen Agitprop CC PKI, Menggugat Peristiwa Madiun dan Konfrontasi Peristiwa Madiun 1948 — Peristiwa Sumatera (1956)
Komisi Pilihan Tulisan
D.N. Aidit dari CC PKI.
Terlebih dulu saya ingin menyatakan bahwa Pemerintah Ali-ldham dalam keterangannya pada tanggal 21 Januari dan dalam jawabannya pada pandangan umum babak pertama pada tanggal 4 Februari jl. bisa membatasi diri pada persoalannya, yaitu tentang kejadian-kejadian di Sumatera dalam bulan Desember 1956. Hal ini dapat saya hargai dan tentang ini kawan-kawan sefraksi saya sudah menyatakan pendapat Fraksi PKI.
Pada pokoknya pendapat kami mengenai kejadian-kejadian di Sumatera dalam bulan Desember tahun jl. Adalah sbb. :
Pertama : Kejadian-kejadian di Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan adalah rentetan kejadian yang sengaja ditimbulkan oleh sebuah partai kecil yang kalah dalam pemilihan umum jl. yang berhasil mendalangi sebuah partai besar dan oknum-oknum liar, yang tidak melihat kemungkinan dengan jalan demokratis dapat duduk kembali dalam kekuasaan sentral, dan yang hanya melihat kemungkinan dengan jalan menggunakan saluran partai-partai lain, dengan jalan mempertajam pertentangan antara partai-partai agama dengan PKI dan PNI, dengan bikin-bikinan menimbulkan kemarahan Rakyat di daerah-daerah supaya memberontak terhadap Pemerintah Pusat, dengan jalan mengadudomba suku satu dengan suku lainnya dan dengan jalan menghasut orang-orang militer supaya memberontak kepada atasannya.
Kedua : Kejadian-kejadian tersebut terang sejalan dan berhubungan dengan rencana kaum imperialis, yang dipelopori oleh Amerika Serikat untuk menarik Indonesia kedalam pakt militer SEATO. Rencana-rencana dari pemberontak di Sumatera untuk memisahkan Sumatera dan Kalimantan dari Pemerintah Pusat dan untuk mendirikan negara sendiri yang mempunyai peralatan sipil dan militer sendiri, yang mempunyai hubungan luar negeri sendiri, adalah sepenuhnya sejalan dengan rencana Amerika Serikat yang diatur oleh Pentagon (Kementerian Pertahanan) dan State Department (Kementerian Luar Negeri) Amerika Serikat, oleh “jendral-jendral” DI-TII dan oleh aparat-aparat serta kakitangan-kakitangan Amerika Serikat yang ada di Indonesia.
Jadi, persoalannya adalah jelas, yaitu kepentingan vital Rakyat Indonesia di satu pihak berhadapan langsung dengan kepentingan kaum imperialis asing di pihak lain. Dalam hal ini Pemerintah Ali-Idham menyatukan diri dengan kepentingan Rakyat Indonesia, dan oleh karena itu PKI tidak ragu-ragu berdiri di pihak Pemerintah dan melawan kaum pemberontak serta aktor-aktor intelektualisnya.
Demikianlah, kalau mengenai persoalannya. Jelas dimana kami berdiri, dan jelas pula dimana pihak lain berdiri. Tetapi, disamping pemerintah dapat membatasi diri pada persoalan yang sedang dihadapi, anggota yang terhormat Udin Syamsudin telah membawa-bawa Peristiwa Madiun, dengan maksud mengaburkan persoalan.
Dalam Soal Peristiwa Madiun Kaum Komunis Adalah Pendakwa
Anggota tersebut telah menyebut-nyebut Peristiwa Madiun dalam hubungan dengan Peristiwa Sumatera, antara lain dikatakannya “pelopor pemberontakan di Indonesia ini setelah Indonesia Merdeka adalah Partai Komunis Indonesia”, selanjutnya “kaum Komunislah yang menjadi mahaguru pemberontakan” dan “bibitnya sudah menular ke seluruh Indonesia”. Maksud pembicara tersebut jelas, yaitu supaya dalam soal pemberontakan Kolonel Simbolon dan Letnan Kolonel Ahmad Husein juga PKI yang disalahkan. Lihatlah, betapa tidak tahu malunya orang mencari kambing hitamnya, sama dengan tidak tahu malunya mereka menyalahkan PKI dalam hubungan dengan Peristiwa Madiun.
Saya tidak membantah, bahwa baik Peristiwa Madiun maupun Peristiwa Sumatera mempunyai satu sumber dan satu tujuan, yaitu bersumber pada imperialisme Amerika dan Belanda dan bertujuan untuk meletakkan Indonesia sepenuhnya di bawah telapak kaki mereka.
Berhubung dengan sebuah statement Politbiro CC PKI tanggal 13 September 1953 saya pernah dihadapkan kemuka pengadilan. Dalam sidang pengadilan tanggal 27 Januari 1955, dengan berpegang pada ayat 3 pasal 310 KUHP yang ditimpakan pada saya, sudah saya nyatakan kesediaan saya kepada pengadilan untuk membuktikan dengan saksi-saksi bahwa Peristiwa Madiun memang provokasi dan bahwa dalam Peristiwa Madiun tersebut tangan Hatta-Sukiman-Natsir cs. memang berlumuran darah. Dengan ini berarti bahwa Hatta, ketika itu masih wakil Presiden, harus tampil sebagai saksi berhadapan dengan saya. Kesediaan saya ini, yang juga diperkuat oleh advokat saya, Sdr. Mr. Suprapto, tidak mendapat persetujuan pengadilan. Jaksa menyatakan keberatannya akan pembuktian yang mau saya ajukan dengan saksi-saksi. Oleh karena jaksa menolak pembuktian yang mau saya ajukan, maka jaksa terpaksa mencabut tuduhan melanggar pasal 310 dan 311 KUHP. Jelaslah, bahwa ada orang-orang yang kuatir kalau Peristiwa Madiun ini menjadi terang bagi Rakyat.
Jadi, mengenai Peristiwa Madiun kami sudah lama siap berhadapan di muka pengadilan dengan arsiteknya Moh. Hatta. Ini saya nyatakan tidak hanya sesudah Hatta berhenti sebagai wakil Presiden, tetapi seperti di atas sudah saya katakan, juga ketika Hatta masih Wakil Presiden. Saya tidak ingin menantang siapa-siapa, tetapi kapan saja Hatta ingin Peristiwa Madiun dibawa ke pengadilan, kami dari PKI selarnanya bersedia menghadapinya. Kami yakin, bahwa jika soal ini dibawa ke pengadilan bukanlah kami yang akan menjadi terdakwa, tetapi kamilah pendakwa. Kamilah yang akan tampil ke depan sebagai pendakwa atas nama Amir Syarifuddin, putera utama bangsa Indonesia yang berasal dari tanah Batak, atas nama Suripno, Maruto Darusman, Dr. Wiroreno, Dr. Rustam, Harjono, Jokosujono, Sukarno, Sutrisno, Sarjono dan beribu-ribu lagi putera Indonesia yang terbaik dari suku Jawa yang menjadi korban keganasan satu pemerintah yang dipimpin oleh borjuis Minangkabau, Mohammad Hatta. Demikian kalau kita mau berbicara dalam istilah kesukuan, sebagaimana sekarang banyak digunakan oleh pembela-pembela kaum pemberontak di Sumatera, hal yang sedapat mungkin ingin kami hindari. Ya, kami juga akan berbicara atas nama perwira-perwira, bintara-bintara, dan prajurit-prajurit TNI yang tewas dalam “membasmi Komunis” atas perintah Hatta, karena mereka juga tidak bersalah dan mereka juga adalah korban perang-saudara yang dikobarkan oleh Hatta.
Dalam pembelaan saya di muka pengadilan tanggal 24 Februari 1955 telah saya katakan “bahwa di antara orang-orang yang karena tidak mengertinya telah ikut dalam pengejaran ‘terhadap kaum Komunis’, tidak sedikit sekarang sudah tidak mempunjai purbasangka lagi terhadap PKI dan sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menjadi alat perang-saudara dari kaum imperialis dan kakitangannya”. Alat-alat negara sipil maupun militer sudah mengerti bahwa dalam Peristiwa Madiun mereka telah disuruh memerangi saudara-saudara dan teman-temannya sendiri.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa dalam pemiiihan umum untuk Parlemen maupun untuk Konstituante lebih 80% daripada anggota-anggota Angkatan Perang memberikan suaranya kepada partai-partai demokratis, dan 30% daripada suara yang diberikan anggota Angkatan Perang adalah diberikan kepada PKI. PSI dan Masyumi hanya mendapat kurang dari 20%, jadi kurang dari suara yang didapat oleh PKI sendiri atau PNI sendiri. PSI yang mempunyai pengaruh di sejumlah opsir tinggi adalah partai kelima di dalam Angkatan Perang, sedangkan Masyumi, karena politik pro DI-nya, adalah partai keenam. Dengan ini, saya hanya hendak membuktikan bahwa memukul PKI dengan menyembar-nyemburkan Peristiwa Madiun adalah tidak merugikan PKI, malahan memberi alasan pada kami untuk berbicara dan menjelas-jelaskan tentang Peristiwa Madiun.
Apalagi sekarang, sesudah terjadi pemberontakan kolonel Simbolon di Sumatera Utara dan pemberontakan “Dewan Banteng” di Sumatera Barat, menggunakan Peristiwa Madiun untuk memukul PKI adalah seperti menepuk air didulang, bukan muka PKI yang kena, tetapi muka Masyumi dan PSI sendiri yang sekarang membela pemberontak-pemberontak di Sumatera itu dengan mati-matian.
Hatta Bertanggungjawab Atas Penculikan, Pembunuhan Dan Perang-Saudara Tahun 1948
Mari, dalam menilai kebijaksanaan pemerintah Ali-Idham sekarang, kita perbandingkan antara kebijaksanaan pemerintah Hatta tahun 1948 mengenai Peristiwa Madiun dengan kebijaksanaan pemerintah Ali-ldham sekarang. Dari hasil penilaian ini saya akan rnenentukan sikap saya terhadap kebijaksanaan pemerintah sekarang.
Peristiwa Madiun didahului oleh kejadian-kejadian di Solo, mula-mula dengan pembunuhan atas diri kolonel Sutarto, Komandan TNI Divisi IV, dan kemudian pada permulaan September 1948 dengan penculikan dan pembunuhan terhadap 5 orang perwira TNI, yaitu major Esmara Sugeng, kapten Sutarto, kapten Sapardi, kapten Suradi dan letnan Muljono. Juga diculik 2 orang anggota PKI, Slamet Wijaja dan Pardijo. Kenyataan bahwa saudara yang diculik ini pada tanggal 24 September dimasukkan ke dalam kamp resmi di Danurejan, Jokjakarta, membuktikan bahwa pemerintah Hatta langsung campurtangan dalam soal penculikan-penculikan dan pembunuhan-pembunuhan di atas. Ini tidak bisa diragukan lagi !
Dalam pidatonya tanggal 19 September 1948 Presiden Sukarno mengatakan bahwa Peristiwa Solo dan Peristiwa Madiun tidak berdiri sendiri. Ini sepenuhnya benar! Sesudah penculikan-penculikan dan pembunuhan-pembunuhan di Solo yang diatur dari Yogya, keadaan di Madiun menjadi sangat tegang sehingga terjadilah pertempuran antara pasukan-pasukan dalam Angkatan Darat yang pro dan yang anti penculikan-penculikan serta pembunuhan-pembunuhan di Solo, yaitu pertempuran pada tanggal 18 September 1948 malam. Dalam keadaan kacau balau demikian ini Residen Kepala Daerah tidak ada di Madiun, Wakil Residen tidak mengambil tindakan apa-apa sedangkan Walikota sedang sakit. Untuk mengatasi keadaan ini maka Front Demokrasi Rakyat, dimana PKI termasuk di dalamnya, mendesak supaya Kawan Supardi, Wakil Walikota Madiun bertindak untuk sementara sebagai penjabat Residen selama Residen Madiun belum kembali. Wakil Walikota Supardi berani mengambil tanggung jawab ini. Pengangkatan Kawan Supardi sebagai Residen sementara ternyata juga disetujui oleh pembesar-pembesar militer dan pembesar-pembesar sipil lainnya. Tindakan ini segera dilaporkan ke pemerintah pusat dan dimintakan instruksi dari pemerintah pusat tentang apa yang harus dikerjakan selanjutnya.
Nah, tindakan inilah, tindakan mengangkat Wakil Walikota menjadi Residen sementara inilah yang dinamakan oleh pemerintah Hatta tindakan “merobohkan pemerintah Republik Indonesia”, tindakan “mengadakan kudeta” dan tindakan “mendirikan pemerintah Soviet”.
Kalau dengan mengangkat seorang Wakil Walikota menjadi Residen sementara bisa dinamakan merobohkan pemerintah Republik Indonesia, bisa dinamakan kudeta dan bisa dinamakan mendirikan pemerintah Soviet, nama apakah lagi yang bisa diberikan kepada tindakan komplotan Simbolon dan “Dewan Banteng” di Sumatera? Selain daripada itu, jika memang demikian halnya, alangkah mudahnya merobohkan pemerintah Republik Indonesia, alangkah mudahnya mengadakan kudeta dan alangkah mudahnya mendirikan pemerintah Soviet! Jika memang demikian mudahnya, saya kira sekarang sudah tidak ada lagi Republik kita, karena nafsu merobohkan Republik sekarang, begitu dikobar-kobarkan dan begitu besarnya di sementara golongan, terutama di kalangan sebuah partai kecil yang kalah dalam pemilihan umum yang lalu. Tetapi saya kira, merobohkan Republik Indonesia tidaklah begitu mudah sebagaimana sudah dibuktikan oleh kegagalan Simbolon dan oleh makin merosotnya pamor “Dewan Banteng”, disamping Republik Indonesia tetap berdiri tegak. Apalagi mendirikan pemerintah Soviet, tidaklah semudah mengangkat seorang Wakil Walikota menjadi Residen sementara. Rakyat Tiongkok dan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok yang sudah berjuang mati-matian selama berpuluh-puluh tahun di bawah pimpinan Partai Komunis Tiongkok hingga sekarang belum sampai ke taraf mendirikan pemerintah Soviet, artinya pemerintah sosialis di Tiongkok. Jadi, alangkah bebalnya, atau alangkah mencari-carinya orang-orang yang menuduh PKI merobohkan Republik dan mendirikan pemerintah Soviet di Madiun dengan mengangkat Wakil Walikota Supardi menjadi Residen sementara.
Berdasarkan kejadian pengangkatan Wakil Walikota Supardi menjadi Residen sementara dan atas tanggung jawab sepenuhnya dari pemerintah Hatta, maka pada tanggal 19 September 1948 oleh Presiden Sukarno dadakan pidato yang berisi seruan kepada seluruh Rakyat bersama-sama membasmi “kaum pengacau”, maksudnya membasmi kaum Komunis dan kaum progresif lainnya secara jasmaniah. Saya katakan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah Hatta, karena Hattalah yang menjadi Perdana Menteri ketika itu. Tapi karena Hatta tahu bahwa pengaruhnya sangat kecil di kalangan Angkatan Perang dan alat-alat negara lainnya, apalagi di kalangan masyarakat, maka Hatta menggunakan mulut Sukarno dan meminjam kewibawaan Sukarno untuk membasmi Amir Syarifuddin dan beribu-ribu putera Indonesia asal suku Jawa. Ini, sekali lagi, kalau kita mau berbicara dalam istilah kesukuan yang sekarang banyak dilakukan oleh pembela-pembela kaum pemberontak di Sumatera, sesuatu yang sedapat mungkin ingin kami hindari.
Demikianlah, “kebijaksanaan” Hatta sebagai Perdana Menteri dalam menghadapi persoalan-persoalan masyarakat dan persoalan politik yang kongkrit. Karena kepicikannya dari kesombongannya sebagai borjuis Minang yang ingin melonjak cepat sampai ke angkasa, karena kehausannya akan kekuasaan, karena kepala batunya, karena ketakutannya yang keterlaluan kepada Komunisme, maka Hatta sebagai Perdana Menteri dengan secara gegabah mengerahkan alat-alat kekuasaan negara untuk menculik, membunuh dan mengobarkan perang saudara. Orang sering salah kira dengan menyamakan sifat kepala batu Hatta dengan “kemauan keras” atau sikap yang “konsekwen”. Tetapi saya yang juga mengenal Hatta dari dekat berpendapat, bahwa sifat kepala batu Hatta adalah disebabkan karena sempit pikirannya, dan karena sempit pikirannya ia tidak bisa bertukar pikiran secara sehat, tidak pandai bermusyawarah dan tahunya hanya main “ngotot”, “mutung”, “basmi” dan “tangan besi”. Dan apa akibatnya permainan “basmi” dan “tangan besi” Hatta? Beribu-ribu pemuda dan Rakyat dari kedua belah pihak yang berperang mati karenanya. Seluruh Rakyat sudah mengetahui dari pengalamannya sendiri bahwa semua ini dilakukan hanya untuk melapangkan jalan bagi Hatta buat pelaksanaan Konferensi Meja Bundar dengan Belanda yang langsung diawasi oleh Amerika Serikat, untuk membikin perjanjian KMB yang khianat dan yang sudah kita batalkan itu.
Sifat gegabah dari tindakan Hatta lebih nampak lagi ketika ia meminta kekuasaan penuh dari BPKNIP, dimana di dalam pidatonya dinyatakan bahwa “Tersiar pula berita — entah benar entah tidak — bahwa Musso akan menjadi Presiden Republik rampasan itu dan Mr. Amir Syarifuddin Perdana Menteri”. Lihatlah betapa tidak bertanggungjawabnya tindakan Hatta. la bertindak atas dasar berita yang sifatnya “entah benar entah tidak” bahwa sesuatu “akan” terjadi. Ya, Hatta bertindak atas berita yang masih diragukan tentang akan terjadinya sesuatu. Tetapi, adalah tidak diragukan lagi bahwa tindakan Hatta sudah berakibat dibunuhnya ribuan orang yang tidak berdosa tanpa proses.
Hatta lngin Berkuasa Sewenang-wenang Lagi
Berdasarkan pengalaman dengan Peristiwa Madiun, dimana Hatta menelanjangi dirinya sebagai manusia yang tidak berperikemanusiaan, maka saya seujung rambutpun tidak ragu bahwa Hatta, seperti belum lama berselang dimuat dalam koran-koran pemah mengucapkan kepada Firdaus A. N., hanya bersedia berkuasa jika tidak bisa dijatuhkan oleh Parlemen. Kalau mau tahu tentang Hatta, inilah dia! lnilah politiknya, inilah moralnya, inilah segala-galanya! Yaitu, seorang yang mau berkuasa secara sewenang-wenang.
Hatta sama sekali tidak menghargai jerih payah Rakyat yang kepanasan dan kehujanan antri untuk memberikan suaranya untuk Parlemen kita sekarang. Lebih daripada itu, ia juga tidak menghargai suaranya sendiri yang diberikannya ketika memilih Parlemen ini. Orang yang tidak menghargai orang lain sering kita temukan di dunia ini. Tetapi orang yang tidak menghargai suaranya sendiri, ini keterlaluan.
Hatta ingin berkuasa kembali tanpa bisa dijatuhkan oleh Parlemen, ia memimpikan masa keemasannya di tahun 1948. Kali ini yang mau dijadikannya mangsa bukan hanya putera-putera Indonesia asal suku Jawa dan Batak, tetapi juga putera-putera suku lain, termasuk putera-putera suku Minangkabau, karena PKI sekarang sudah tersebar di seluruh Indonesia dan di semua suku. Tetapi, sebelum Hatta sampai ke situ, perlu saya peringatkan bahwa dalam tahun 1948 ia hanya berhadapan dengan 10.000 Komunis yang hanya tersebar secara sangat tidak merata di pulau Jawa dan Sumatera, karena PKI ketika itu dilarang berdiri di daerah pendudukan Belanda. Tetapi sekarang, Hatta harus berhadapan dengan lebih satu juta Komunis yang tersebar di semua pulau dan di semua suku. Saya perlu menyatakan ini, hanya untuk menerangkan betapa besar akibatnya kalau Hatta bermain “tangan besi” lagi. Dan …. besipun bisa patah !
Saya yakin, bahwa tiap-tiap orang yang mempunyai peran tanggung jawab tidak ingin terulang kembali tragedi nasional seperti Peristiwa Madiun itu. Dari pihak Partai Komunis Indonesia, seperti sudah berulang-ulang kami nyatakan, dan sudah menjadi pelajaran di dalam Sekolah-Sekolah Kursus-Kursus Partai kami, kami ingin dan kami yakin bisa mencapai tujuan-tujuan politik kami secara parlementer. Kami akan menghindari tiap-tiap perang-saudara selama kepada kami dijamin hak-hak politik untuk memperjuangkan cita-cita kami. Tetapi, kalau kepada kami disodorkan bayonet dan didesingkan peluru seperti dalam peristiwa Madiun, juga seperti selama peristiwa itu, kami tidak akan memberikan dada kami untuk ditembus bayonet dan ditembus peluru kaum kontra-revolusioner.
Kami kaum Komunis tidak ingin menggangu siapa-siapa selama kami tidak diganggu. Kami ingin bersahabat dengan semua orang, semua golongan dan semua partai yang mau bersahabat dan bekerja sama dengan kami untuk hari depan yang lebih baik bagi tanah air dan Rakyat Indonesia. Walaupun di hadapan kantor pusat Masyumi di Kramat Raja 45, Jakarta, terpancang dengan jelas papan “Front Anti-Komunis”, jadi anti kami, anti saya dan anti kawan-kawan saya, tetapi kami kaum Komunis tidak akan ikut gila untuk juga memancangkan papan “Front Anti-Masyumi”‘, apalagi “Front Anti-lslam”. Kami tidak akan membiarkan diri kami terprovokasi oleh pemimpin Masyumi ini. Saya pribadi tidak mau diprovokasi oleh kenalan lama saya, Sdr. Mohamad Isa Anshari, pemimpin akbar “Front Anti-Komunis”.
Berangsur-angsur Rakyat Indonesia berdasarkan pengalamannya sendiri menjadi makin yakin bahwa bukanlah kaum Komunis yang anti-agama, tetapi sebaliknya, sejumlah pemimpin partai-partai agamalah yang anti-Komunis dan menghasut anggota-anggotanya supaya anti-Komunis.
Rakyat Indonesa sudah mengetahui bahwa dalam soal pemerintahan kami menginginkan terbentuknya pemerintah persatuan nasional dimana didalamnya duduk 4-Besar, jadi termasuk PKI dan Masyumi, bersama-sama dengan partai-partai lain. Ini akan kami perjuangkan terus walaupun sampai ini hari saya kira Masyumi belum mau, karena masih mengikuti apa yang dikatakan oleh pemimpin Masyumi Sdr. Moh. Natsir dalam muktamar Masyumi di Bandung bulan Desember 1956. Dalam muktamar tersebut Sdr. Moh. Natsir mengatakan antara lain bahwa pimpinan partai Masyumi “meletakkan strateginya menghadapi pembentukan kabinet kepada dua pokok pikiran yaitu (a) Memulihkan kerjasama antara partai-partai Islam (b) Menggabungkan tenaga-tenaga non-Komunis dalam kabinet, Parlemen dan masyarakat serta mengisolir PKI atau para crypto-Koi-ntinis dari kabinet”. (Halaman 22 “Laporan Beleid Politik Pimpinan Partai Masyumi”). Cobalah renungkan, bukan persatuan nasional yang mereka ajarkan dan amalkan, tetapi perpecahan nasional. Mengisolasi PKI adalah identik dengan mengisolasi berjuta-juta Rakyat Indonesia. Bagaimana persatuan nasional akan bisa tercapai dengan sikap yang a-priori semacam ini. Sikap semacam ini hanya mempertegas keadaan politik di negeri kita, dan yang untung bukan bangsa Indonesia, tetapi kaum imperialis asing, yang memang menginginkan peruncingan keadaan dan perpecahan di dalam tubuh bangsa kita.
Jadi, kapankah semua pemuka bangsa kita akan belajar dari pengalaman Peristiwa Madiun yang tragis itu, supaya tidak lagi mengulangi kesalahan tindakan dan kebijaksanaan agar persatuan bangsa kita terpelihara baik, supaya kita tidak gegabah dalam mengambil tindakan-tindakan, apalagi tindakan-tindakan yang bisa berakibat luas? Saya berusaha dan terus akan berusaha untuk menarik pelajaran sebanyak-banjyaknya dari pengalaman sejarah itu.
Kabinet Ali-ldham Ber-puluh2 Kali Lebih Bijaksana Daripada Kabinet Hatta
Dibanding dengan kebijaksanaan pemerintah Hatta dalam menghadapi kejadian di Madiun dalam bulan September 1948, kabinet Ali-ldham sekarang berpuluh-puluh kali lebih bijaksana. Padahal kalau melihat kejadiannya, pengangkatan seorang Wakil Walikota menjadi Residen sementara karena dipaksa oleh keadaan, belumlah apa-apa kalau dibanding dengan pengoperan pimpinan pemerintah daerah Sumatera Tengah oleh orang-orang “Dewan Banteng”, yang terang-terangan direncanakan terlebih dulu dalam reuni ex-divisi Banteng bulan November 1956, dan yang terang-terangan sudah pernah menolak dan menghina perutusan pemerintah pusat yang datang untuk berunding. Apalagi kalau dibanding dengan perbuatan komplotan kolonel Simbolon pada tanggal 22 Desember 1956, yang terang-terangan menyatakan tidak lagi mengakui pemerintah yang sah sekarang. Apalagi, kalau kita ingat bahwa maksud yang sesungguhnya dari semua tindakan itu ialah untuk memisahkan Sumatera dan Kalimantan dari Pemerintah Pusat, mendirikan negara Sumatera dan Kalimantan serta mengadakan hubungan luar negeri sendiri. Apalagi kalau diingat bahwa ada maksud-maksud untuk menyerahkan pulau We di Utara Sumatera kepada negara besar tertentu untuk dijadikan pangkalan-perang. Apalagi kalau diingat bahwa semua rencana itu sesuai sepenuhnya dengan apa yang direncanakan oleh Pentagon dan State Department Amerika Serikat, oleh “jendral-jendral” DI-TII dan aparat-aparat serta kakitangan-kakitangan Amerika lainnya yang ada di Indonesia. Jika diingat semuanya ini, maka pengangkatan Wakil Walikota Supardi menjadi Residen sementara Madiun adalah hanya “kinderspel” (permainan kanak-kanak).
Tetapi penamaan apa yang diberikan oleh Hatta kepada kejadian-kejadian di Madiun bulan September 1948 dan penamaan apa pula yang, diberikan orang kepada perbuatan-perbuatan kaum pemberontak di Sumatera pada bulan Desember 1956? Peristiwa Madiun dinamakan “merobohkan Republik Indonesia”, dinamakan “kudeta”, tetapi pemberontakan di Sumatera yang sepenuhnya dan secara terang-terangan disokong oleh kaum imperialis asing, terutama kaum imperialis Amerika dan Belanda, mereka namakan “tindakan konstruktif” demi “kepentingan daerah”. Saya bertanya : Konstruktif untuk siapa? Untuk kepentingan daerah mana? Memang konstruktif sekali tindakan kaum pemberontak di Sumatera, konstruktif dalam rangka membangun pangkalan-pangkalan perang SEATO! Memang untuk kepentingan daerah, kepentingan perluasan daerah SEATO! Jadi, sama sekali tidak konstruktif untuk Rakyat Indonesia dan sama sekali bukan untuk kepentingan daerah Indonesia !
Demikianlah, apa sebabnya saya katakan bahwa mengemukakan Peristiwa Madiun dalam keadaan sekarang untuk memukul PKI adalah seperti menepuk air didulang. Bukannya PKI yang kecipratan, tetapi justru si penepuk air yang sial itu. Mengemukakan soal Peristiwa Madiun dalam menghadapi Peristiwa Sumatera sekarang berarti memberi alasan yang kuat untuk mengkonfrontasikan kebijaksanaan yang memang bijaksana dari kabinet Ali-ldham sekarang dengan kebijaksanaan yang tidak bijaksana dari Kabinet Hatta dalam tahun 1948. Jika sudah dikonfrontasikan, maka akan merasa berdosalah orang-rang yang berteriak-teriak ingin melihat naiknya Hatta kembali, kecuali kalau orang-orang itu memang ingin melihat Hatta sekali lagi mempermainkan nyawa umat Indonesia sebagai mempermainkan nyawa anak ayam.
Kebijaksanaan kabinet Ali-ldham dalam menghadapi Peristiwa Sumatera sekarang tidak disebabkan terutama karena Ali Sastroamijojo seorang Indonesia dari suku Jawa yang toleran, tidak, tetapi karena pimpinan kabinet sekarang terdiri dari orang-orang yang mempunyai perasaan tanggung jawab yang besar. Syukurlah, bahwa ketika terjadi Peristiwa Sumatera Hatta tidak memegang fungsi dalam pimpinan negara, walaupun saya tidak ragu adanya sangkut paut Hatta dengan kejadian-kejadian itu. Kalau Hatta memegang fungsi penting, apalagi kalau Hatta memegang tampuk pemerintahan, entah berapa banyak lagi korban yang dibikinnya.
Dalam usaha menyelesaikan Peristiwa Sumatera ada orang-orang yang ingin supaya soal kolonel Simbolon “diselesaikan secara adat”, supaya soal “Dewan Banteng” diselesaikan “secara musyawarah”, secara “potong kerbau” dan dengan “menggunakan pepatah dan petitih”. Pendeknya, adat, kerbau serta pepatah dan petitih mau dimobilisasi untuk menyelesaikan soal kolonel Simbolon dan soal “Dewan Banteng”. Sampai-sampai orang-orang, yang tidak beradat juga berbicara tentang “penyelesaian secara adat”.
Tetapi, orang-orang ini pada bungkam semua ketika Amir Syarifuddin dengan tanpa proses ditembus oleh peluru atas perintah Hatta. Ketika Amir Syarifuddin masih ditahan di penjara Yogya sebelum dibawa ke Solo dan digiring ke desa Ngalian untuk ditembak, tidak ada seorang Batak atau siapapun yang tampil ke depan, dan mengatakan: “Mari soal Amir Syarifuddin kita selesaikan secara adat tanah Batak”, atau “Mari soal Amir Syarifuddin kita selesaikan secara Kristen”.
Saya hanya ingin bertanya: Apakah Amir Sjarifuddin yang bermarga Harahap itu kurang Bataknya daripada kolonel Simbolon sehingga adat Batak menjadi tidak berlaku bagi dirinya? Saya kira Amir Syarifuddin tidak kalah Bataknya daripada orang Batak yang mana jua pun, malahan ia tidak kalah Kristennya dari pada kebanyakan orang Kristen. Amir Syarifuddin meninggal sesudah ia menyanyikan lagu Internasionale, lagu Partainya, lagu kesayangannya, dan ia meninggal dengan Kitab Injil di tangannya. Amir Syarifuddin adalah putera Batak yang baik, yang patriotik, dan karena itu juga ia adalah seorang putera Indonesia yang baik. Jadi tidak sepantasnya adat tanah Batak tidak berlaku baginya.
Bagaimana pula halnya ribuan orang Jawa yang didrel tanpa proses atas perintah Hatta itu? Apakah suku Jawa yang menderita dari abad ke abad tidak mengenal musyawarah dan tidak mengenal pepatah dan petitih sehingga ketika dilancarkan kampanye pembunuhan terhadap orang-orang Jawa selama Peristiwa Madiun tidak ada orang Jawa yang beradat dan tidak ada cerdik-pandai Jawa yang tampil ke depan untuk menyelesaikan persoalan ketika itu secara rembugan (musyawarah), secara adat, dan dengan berbicara menggunakan banyak paribasan (peribahasa), dengan potong sapi, potong kerbau, dan dengan mbeleh wedus (potong kambing)? Ataukah karena pulau Jawa sudah kepadatan penduduk maka pembunuhan atas orang-orang Jawa oleh tangan besi borjuis Minang Mohammad Hatta boleh dibiarkan? PKI tampil ke depan untuk kepentingan, “de zwijgende Javanen” (“Orang2 Jawa Yang Berdiam Diri”) ini, baik mereka Komunis atau pun bukan-Komunis. Ya, jika soal ini dibawa ke pengadilan, PKI juga akan berbicara atas nama prajurit-prajurit, bintara-bintara dan perwira-perwira dari suku Jawa yang mati karena melakukan tugas “membasmi Komunis” yang diperintahkan oleh Hatta. Prajurit-prajurit, bintara-bintara dan perwira-perwira yang mati dalam pertempuran melawan Komunis ketika itu adalah tidak bersalah, sama tidak bersalahnya dengan Komunis-Komunis yang mereka tembak. Mereka semuanya adalah korban permainan politik perang-saudara Hatta. Tidak hanya kami, sebagai pewaris-pewaris dari pahlawan-pahlawan Komunis dalam Peristiwa Madiun, tetapi juga keluarga para prajurit, bintara dan perwira TNI yang disuruh “membasmi Komunis” berhak untuk mendakwa Hatta sebagai pembunuh sanak-saudara mereka, jika soal ini dibawa ke pengadilan.
Mari sekarang kita lihat bagaimana sikap pemerintah Hatta terhadap perwira yang belum tentu bersalah dalam Peristiwa Madiun, dan bagaimana sikap pemerintah Ali-ldham sekarang terhadap opsir-opsir yang sudah terang bersalah dalarn pemberontakan-pemberontakan di Sumatera.
Pemerintah Hatta dengan tanpa memeriksa lebih dulu kesalahan mereka terus saja memecat perwira-perwira, antara lain yang masih hidup sekarang bekas Jenderal Major Ir. Sakirman, bekas Letnan Kolonel Martono, bekas Major Pramuji, dan banyak lagi. Padahal perwira-perwira ini belum pernah dipanggil untuk menghadap, apalagi diperiksa; jadi sama sekali tidak ada dasar untuk memecat mereka. Para perwira yang belum tentu bersalah tidak hanya dipecat, tetapi banyak juga yang disiksa di luar perikemanusiaan dan dibunuh tanpa dibuktikan kesalahannya terlebih dahulu.
Sekedar untuk mengetahui bagaimana pembunuhan-pembunuhan kejam oleh alat-alat resmi ketika itu, bersama ini, saya lampirkan 3 buah turunan laporan resmi dan pengakuan resmi tentang pembunuhan terhadap diri Sidik Aslan dkk. dan terhadap letnan kolonel Dakhlan dan major Mustoffa. Untuk menghemat waktu tidak saya bacakan lampiran-lampiran ini. Lampiran-lampiran ini, saya sampaikan lepas dari penilaian siapa dan bagaimana major Sabarudin, pembuat pengakuan-pengakuan tersebut. Yang sudah terang major Sabarudin bukan simpatisan PKI, apalagi anggota PKI.
Kekejaman pemerintah Hatta selama Peristiwa Madiun adalah berpuluh-puluh kali lebih kejam dari pada pemerintah kolonial Belanda ketika menghadapi pemberontakan Rakyat tahun 1926. Pemerintah kolonial Belanda masih memakai alasan-alasan hukum untuk membunuh, memenjarakan dan mengasingkan kaum pemberontak, tetapi Hatta sepenuhnya mempraktekkan hukum rimba. Semuanya ini mengingatkan saya kembali pada tulisan Hatta yang berkepala “14 Juli”, dimuat dalam harian “Pemandangan” pada 14 Juli 1941 dimana antara lain ia menulis tentang Petain, seorang Prancis boneka Hitler, sebagai “seorang serdadu yang berhati lurus dan jujur”. Hanya serigala mengagumi serigala, hanya fasis mengagumi fasis !
Bandingkanlah sikap pemerintah Hatta terhadap kejadian di Madiun dengan sikap pemerintah sekarang terhadap kolonel Simbolon yang sudah terang bersalah karena merebut kekuasaan di sebagian wilajah Republik Indonesia, yang sudah terang melanggar disiplin militer atau yang oleh Presiden Sukarno/Panglima Tertinggi dalam amanatnya tanggal 25 Desember 1956 dirumuskan telah berbuat yang “menggoncangkan sendi-sendi ketentaraan dan kenegaraan kita, dan yang membahayakan keutuhan tentara dan negara kita pula”. Kolonel Simbolon hanya diberhentikan sementara sebagai Panglima Tentara dan Teritorium I. Sedangkan terhadap pemimpin-pemimpin pemberontakan militer di Sumatera Tengah sampai sekarang belum diambil tindakan apa-apa.
Tentu ada orang-orang yang mengatakan: ya, karena Panglima Tertinggi, Pemerintah dan Gabungan Kepala Staf Angkatan Perang sekarang tidak mempunyai kewibawaan, maka mereka tidak menghukum perwira-perwira tersebut seperti Hatta dulu menghukum perwira-perwira yang disangka tersangkut dalam Peristiwa Madiun.
Istilah “wibawa” pada waktu belakangan ini banyak dipergunakan orang dengan masing-masing mempunyai interpretasinya sendiri-sendiri. Kalau dengan istilah “wibawa” yang dimaksudkan ialah kemampuan pemerintah untuk bertindak, maka terang bahwa pemerintah sekarang sanggup bertindak, sanggup memerintah, artinya mempunyai kewibawaan. Apakah bukan tanda wibawa dari pemerintah sekarang dengan dapatnya digulingkan kerajaan sehari komplotan kolonel Simbolon dalam waktu yang sangat singkat?
Tanggal 22 Desember 1956 pemerintah memutuskan dan mengumumkan pemberhentian sementara kolonel Simbolon sebagai Panglima TT I dan menyerahkan tanggung jawab TT I kepada letnan-kolonel Jamin Gintings atau letnan-kolonel A. Wahab Macmour. Dalam waktu hanya empat hari, yaitu pada tanggal 27 Desember 1956 komplotan kolonel Simbolon sudah dapat diturunkan dari kerajaan seharinya. Ini artinya bahwa seruan pemerintah dipatuhi, ini artinya pemerintah mempunjai kewibawaan.
Tentu ada orang-orang yang berkata lagi: ya, tetapi itu mengenai Sumatera Utara. Mengenai Sumatera Tengah pemerintah tidak mempunyai kewibawaan. Mengenai ini saya jawab sbb. : Tiap-tiap orang yang tahu imbangan kekuatan di dalam negeri tidak sukar memahamkan, bahwa kalau pemerintah pusat sekarang mau bertindak, apalagi kalau mau bertindak serampangan seperti Hatta, maka dengan pengerahan serentak seluruh kekuatan Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dengan dibantu oleh massa Rakyat, maka kerajaan “Dewan Banteng” juga hanya akan merupakan kerajaan sehari.
Soalnya bukanlah hanya menunjukkan kemampuan menggunakan kekuatan seperti yang pernah dilakukan oleh Hatta, tetapi juga kebijaksanaan. Pada pokoknya kami setuju bahwa pemerintah sekarang mengkombinasi kekuatan riilnya dengan kebijaksanaan. Sikap ini merupakan dasar yang kuat bagi pemerintah, jika pada satu waktu pemerintah harus bertindak keras, karena jalan perundingan sudah tidak mempan lagi.
Walaupun kami kaum Komunis pernah diperlakukan secara kejam oleh pemerintah Hatta selama Peristiwa Madiun, tetapi kami tidak menyetujui jika pemerintah sekarang mencontoh perbuatan Hatta yang gegabah dan tidak bertanggungjawab itu. Kita semua mengetahui bahwa politik “tangan besi” Hatta sepenuhnya menguntungkan kepentingan kaum imperialis asing. Ya, walaupun banyak perwira penganut cita-cita PKI yang dibasmi secara jasmaniah dalam Peristiwa Madiun, tetapi kami tidak menuntut supaya kolonel Simbolon, letnan kolonel Abmad Husein dll. dibasmi secara jasmaniah. Apalagi kami tahu bahwa banyak opsir-opsir yang tersangkut dalam pemberontakan-pemberontakan di Sumatera adalah karena hasutan-hasutan sebuah partai kecil yang keok dalam pemilihan umun, jl. Kami tidak menghendaki penumpahan darah yang disebabkan oleh kehampaan kebijaksanaan.
Jadi apakah yang kami inginkan ?
Kami hanya ingin, supaya disiplin militer berjalan sebagaimana mestinya, supaya hirarki ketentaraan ditaati dengan patuh, supaya Angkatan Perang tetap setia kepada cita-cita Revolusi Agustus 1945, karena hanya dengan demikian kita dapat membangun Angkatan Perang yang mampu membantu menyelesaikan semua tuntutan Revolusi Agustus 1945. Hanya dengan penegakan tata tertib hukum dalam ketentaraan yang berjiwa Revolusi Agustus 1945 Angkatan Perang kita akan setia kepada sumbernya, yaitu Revolusi dan Rakyat.
Sebagaimana sudah saya katakan di atas, ada sementara orang berteriak supaya diadakan penyelesaian “secara adat”, “dengan potong kerbau” dan “dengan menggunakan pepatah dan petitih”. Tetapi, jika kita tidak waspada, apakah yang tersembunyi di belakang kata-kata ini semuanya? Tidak lain ialah untuk mencairkan disiplin dalam Angkatan Perang kita, untuk mengacau-balaukan hirarki dan tata tertib hukum di dalam ketentaraan kita. Saya tidak berkeberatan jika juga ditempuh jalan secara adat, kerbau-kerbau dipotongi dan segala macam pepatah dan petitih nenek moyang digali dan dipakai, karena semuanya ini memang warisan dan milik kita sendiri. Tetapi jangan lupa, bahwa semuanya ini hanyalah faktor tambahan. Yang primer bagi orang-orang militer ialah tata tertib hukum di dalam ketentaraan. Kalau tidak demikian lebih baik perwira-perwira yang bersangkutan menanggalkan epoletnya dan kembali ke kampung untuk duduk dalam lembaga-lembaga adat dikampung. Disanalah barangkali mereka akan menemukan ketenteraman jiwanya.
Sesudah mengkonfrontasikan Peristiwa Madiun 1948 dengan Peristiwa Sumatera 1956, maka sampailah saya pada kesimpulan, bahwa pemerintah Ali-ldham sekarang berpuluh-puluh kali lebih bijaksana daripada pemerintah Hatta ketika menghadapi kejadian-kejadian di Madiun dalam bulan September 1948. Ini dilihat dari sudut kebijaksanaan. Dilihat dari sudut kewibawaan pemerintah Ali-Idham mempunyai kewibawaan, dibuktikan oleh ketaatan alat-alatnya pada umumnya. Yang tidak mentaati pemerintah sekarang hanya minoritas yang sangat kecil yang sudah diracuni oleh sebuah partai kecil dan oknum-oknum liar yang tidak melihat hari depannya dalam demokrasi, tetapi dalam sesuatu kekuasaan militeris-fasis. Adalah janggal dan tidak bertanggungjawab jika pemerintah Ali-Idham menyerah kepada ambisi partai kecil dan oknum-oknum liar ini.
Selanjutnya dapat pula ditarik kesimpulan, bahwa adalah perbuatan yang tidak bertanggungjawab untuk memberi kans sekali lagi kepada Mohamad Hatta, bapak perang-saudara, seorang yang karena haus kekuasaan dan pendek akal telah menewaskan beribu-ribu Rakyat dan pemuda baik orang-orang sipil maupun orang-orang militer kita yang baik-baik.
Dwitunggal Tidak Pernah Ada
Sementara orang tentu akan bertanya: Tetapi bagaimana dengan “dwitunggal”? Pertama-tama perlu saya nyatakan bahwa dwitunggal tidak pernah ada, bahwa dwitunggal hanya ada dalam dunia impian orang-orang yang tidak mengerti seluk-beluk sejarah perjuangan kemerdekaan dan sejarah pencetusan Revolusi Agustus 1945.
Kalau orang mau tenang dan mau mengingat-ingat kembali pada pertentangan pendapat yang sengit antara Sukarno dengan “Partai Indonesia” (Partindo) di satu pihak dan Hatta-Sjahrir dengan apa yang dinamakan “Pendidikan Nasional Indonesia” di pihak lain, maka orang akan sependapat bahwa dwitunggal yang sungguh-sungguh memang tidak pernah ada. Untuk pertama kali, pada kesempatan ini ingin saya nyatakan, bahwa saya sudah lama merasa ikut berdosa karena sudah ambil bagian aktif dalam gerakan memaksa Hatta menandatangani Proklamasi 17 Agustus 1945. Hatta sudah sejak semula secara ngotot menentang pencetusan Revolusi Agustus. la menggantungkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya pada rakhmat Saikoo Sikikan (Panglima Tertinggi Tentara Jepang di Indonesia) yang tidak kunjung tiba itu.
Saya merasa lebih-lebih ikut berdosa lagi ketika membaca pidato Hatta waktu menerima gelar Dr. HC dari Universitas “Gajah Mada” dimana dengan tegas dikatakannya bahwa revolusi harus dibendung. Kalau saya tidak salah Universitas “Gajah Mada” sudah tiga kali memberikan gelar kehormatan, pertama kepada Presiden Sukarno, kedua kepada Hatta dan ketiga kepada Ki Hajar Dewantara. Pemberian yang pertama dan ketiga, menurut pendapat saya, adalah tepat, karena Universitas “Gajah Mada” yang dilahirkan oleh revolusi memberikan gelar kehormatan kepada orang-orang revolusioner, pengabdi-pengabdi revolusi. Tetapi pemberian yang kedua, yaitu pada Hatta, maaf, adalah satu kekeliruan yang mungkln tidak disengaja. Betapa tidak keliru, sebuah universitas yang dilahirkan oleh revolusi memberikan gelar kehormatan kepada seorang yang ingin membendung revolusi, kepada seorang kontra-revolusioner.
Dwitunggal yang terdiri dari seorang revolusioner dan yang seorang lagi kontra-revolusioner sama sekali bukan dwitunggal. Oleh karena itulah saya katakan, dwitunggal tidak pernah ada, kecuali di dalam dongengan dan impian. Dongengan tentang dwitunggal inilah yang antara lain telah membikin revolusi kita menjadi macet, karena dwitunggal yang dibikin-bikin itu, yang heterogen itu, telah membikin kita terjepit di antara dua kutub, kutub revolusi dan kutub kontra-revolusi. Selama lebih sebelas tahun Rakyat Indonesia sudah ditipu dengan apa yang dinamakan dwitunggal.
Revolusi kita berjalan terus, semua kekuatan revolusioner harus dipersatukan dan dimobilisasi untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan kontra-revolusioner.
Demikianlah, penilaian saya mengenai kebijaksanaan pemerintah sekarang, sesudah saya mengkonfrontasikan kebijaksanaan pemerintah sekarang dengan kebijaksanaan pemerintah Hatta ditahun 1948. Saya dipaksa untuk memberikan penilaian secara ini, karena ada salah seorang anggota Parlemen kita yang dalam pemandangan umumnya membawa-bawa Peristiwa Madiun.

KEWAJIBAN FRONT PERSATUAN BURUH

Oktober 28, 2008

KATA PENGANTAR
Sesudah beberapa kali ada diusulkan kepada Yayasan “PEMBARUAN” untuk menerbitkan Resolusi CC PKI: “Kewajiban Front Persatuan Buruh”, sebagai brosur. Pada mulanya kami merasa bimbang untuk menerbitkannya, karena menduga, bahwa Resolusi CC PKI ini tentunya sudah diperbanyak oleh organisasi-organisasi Partai di daerah. Tetapi sekarang ternyata desakan yang keras kepada kami untuk menerbitkannya tidak saja datang dari organisasi-organisasi Partai di daerah, tetapi juga dari kalangan umum di luar PKI.
Disamping itu, pengalaman menunjukkan bahwa kaum buruh biasa yang sudah memahami isi “Kewajiban Front Persatuan Buruh” ini menjadi lebih yakin akan kebenaran tuntutan-tuntutan dan aksi-aksinya selama ini, dan bisa menyangkal keterangan-keterangan yang menyesatkan yang bertujuan memfitnah gerakan klas buruh pada umumnya.
Atas dorongan permintaan dan kesadaran akan pentingnya “Kewajiban Front Persatuan Buruh” ini bagi kaum buruh umumnya, maka kami terbitkan ia sebagai brosur, dengan pengharapan akan betul-betul menjadi senjata bagi setiap buruh di dalam perjuangannya sehari-hari.
Penerbit.
Jakarta, Juli 1952.
I. SEPINTAS LALU TENTANG KEADAAN EKONOMI DAN POLITIK INDONESIA
Untuk menetapkan apakah kewajiban front buruh Indonesia di tengah-tengah perjuangan seluruh Rakyat Indonesia untuk mencapai perbaikan nasib, mencapai kemerdekaan nasional dan untuk menjamin perdamaian dunia yang abadi, tidak bisa dipisahkan daripada meninjau hubungannya dengan keadaan ekonomi dan politik Indonesia dewasa ini.
Di zaman penjajahan Belanda ekonomi Indonesia adalah ekonomi kolonial. Ini berarti bahwa kedudukan ekonomi Indonesia ketika itu ialah: 1) sebagai sumber bahan mentah; 2) sebagai sumber tenaga buruh yang murah; 3) sebagai pasar buat menjual hasil-hasil produksi negeri-negeri kapitalis; 4) sebagai tempat investasi (penanaman) modal asing. Ini berarti bahwa Indonesia tergantung dari export bahan-bahan mentah (timah, bauksit, karet, dll. hasil perkebunan, dsb.) dan import barang keperluan hidup (textil, sepatu, sepeda, dsb.).
Susunan ekonomi kolonial mengakibatkan Indonesia tidak mempunyai industri sendiri yang bisa mengerjakan bahan mentahnya guna memenuhi kebutuhan Indonesia. Ini berarti bahwa di lapangan ekonomi Indonesia tergantung dari luar negeri, dan dengan demikian tidak mungkin ada perkembangan modal nasional dan industri nasional.
Ekonomi kolonial ini dipertahankan oleh imperialis Belanda dengan bantuan penanam modal asing lainnya di Indonesia dengan suatu politik kolonial yang dalam prakteknya bersifat setengah-fasis. Politik kolonial ini ditujukan untuk menindas gerakan Rakyat yang menuntut kemerdekaan sebagai jaminan guna penyusunan ekonomi nasional. Terutama gerakan buruh dan Partai Komunis Indonesia, sebagai partainya klas buruh, mendapat rintangan yang paling besar dari pemerintah kolonial. Bagi pemimpin-pemimpin gerakan melawan imperialis Belanda disediakan rumah penjara dan konsentrasi kamp Digul.
Menurut perhitungan tahun 1930 (statistik Hindia Belanda), penduduk Indonesia yang hidup dari upah berjumlah lebih kurang 6.000.000 (enam juta). Dalam jumlah ini sudah dimasukkan buruh musiman (seizoen arbeiders) yang sangat besar jumlahnya dan bekerja di perkebunan-perkebunan atau di pabrik-pabrik gula. Buruh musiman ini umumnya terdiri dari buruh tani dan tani miskin, yaitu penduduk desa yang sama sekali tidak mempunyai tanah garapan atau mempunyai tanah tetapi sangat sedikit. Di antara 6 juta kaum buruh itu, antara lain terdapat setengah juta buruh modern terdiri dari: 316.200 buruh transport, 153.100 buruh pabrik dan bengkel, 36.400 buruh tambang timah kepunyaan pemerintah dan partikulir, 17.100 buruh tambang batubara kepunyaan pemerintah dan partikulir, 29.000 buruh tambang minyak, 6.000 buruh tambang emas dan perak kepunyaan pemerintah dan partikulir. Selainnya adalah buruh pabrik gula, buruh perkebunan, berbagai golongan pegawai negeri (termasuk polisi dan tentara), buruh industri kecil, buruh lepas dsb. Perlu diterangkan bahwa yang terbesar ialah jumlah buruh industri kecil (2.208.900) dan buruh lepas (2.003.200). Dari angka-angka ini jelaslah bagi kita, bahwa baru bagian yang sangat kecil dari buruh Indonesia (setengah juta) yang sudah berhubungan dengan alat-alat produksi modern, sedangkan bagian terbesar belum berhubungan dengan alat-alat produksi modern dan masih erat hubungannya dengan pertanian.
Pemerintah Hindia Belanda telah sangat menekan perkembangan gerakan buruh. Ini kelihatan antara lain dari kenyataan sbb.: statistik tahun 1940 menunjukkan, bahwa dari berjuta-juta kaum buruh Indonesia hanya 110.370 yang terorganisasi (dalam 77 serikat buruh). Politik memecah dari kaum reaksi ketika itu kelihatan dari kenyataan, bahwa 77 serikat buruh yang ada itu tergabung dalam 11 gabungan serikat buruh. Umumnya serikat buruh dan gabungan serikat buruh ini adalah di bawah pimpinan kaum reformis dan reaksioner. Oleh karena itu tidak mengherankan, bahwa menurut kantor urusan perburuhan Hindia Belanda dalam tahun 1940 hanya terjadi pemogokan di 42 perusahaan (di antaranya 30 perusahaan tekstil di Jawa Barat) dan hanya diikuti oleh 2.115 kaum buruh. Sedangkan jumlah buruh dari 42 perusahaan itu ada 7.949. Pemogokan-pemogokan ini tidak besar akibatnya bagi majikan, ia hanya berakibat hilangnya 32 hari kerja. Tetapi, tidak adanya aksi-aksi kaum buruh secara besar-besaran sama sekali tidak berarti bahwa tindasan terhadap Rakyat dan kaum buruh Indonesia ketika itu kurang kejam. Kekejaman terhadap kaum buruh antara lain kelihatan dari upah buruh yang sangat rendah dan perlakuan sewenang-wenang dari majikan. Menurut statistik tahun 1940 tercatat, bahwa rata-rata upah buruh pabrik gula Rp. 0.28 sehari buat laki-laki dan Rp. 0.23 sehari buat perempuan. Dalam tahun 1940 tercatat 407 pengaduan kaum buruh yang dapat pukulan dari administratur, asisten-asisten dan mandor-mandor perkebunan. Kejengkelan yang sudah tidak tertahan lagi dari buruh perkebunan dinyatakan dengan adanya serangan-serangan buruh perkebunan pada pengawas-pengawas perkebunan. Demikianlah dalam tahun 1940 telah tercatat 51 serangan buruh perkebunan atas pengawas-pengawas perkebunan, dimana 2 pengawas tewas karena serangan tersebut.
Tindasan Belanda terhadap seluruh Rakyat Indonesia, yang kemudian dilakukan dengan lebih kejam lagi oleh fasisme Jepang, telah membangunkan seluruh Rakyat untuk berjuang bersama-sama guna menggulingkan kekuasaan kolonial dan fasis. Salah satu puncak dari perlawanan Rakyat ialah Revolusi Rakyat tahun 1945. Revolusi ini meletus dengan tujuan yang positif dari Rakyat Indonesia, yaitu dengan tujuan agar Indonesia menjadi negara yang benar-benar merdeka, dimana ekonominya tidak tergantung dari luar negeri, dimana industri nasional bisa berkembang sebagai syarat terpenting bagi kemakmuran seluruh Rakyat, dimana nasib Rakyat banyak yang celaka bisa menjadi baik dan dimana kemerdekaan politik dijamin sepenuhnya bagi seluruh Rakyat.
Tujuan positif dari Revolusi Rakyat tahun 1945 menemui jalan buntu setelah oleh pemerintah Indonesia (kabinet Hatta) diadakan persetujuan dengan pemerintah Belanda, yaitu persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB), pada permulaan tahun 1950. Revolusi Rakyat (1945-1948) telah melemparkan beban kolonial dari pundak Rakyat, sebaliknya persetujuan KMB telah merestorasi (menghidupkan kembali) susunan ekonomi kolonial di Indonesia. Memang dengan persetujuan KMB di seluruh Indonesia, kecuali di Irian Barat, sekarang sudah dibentuk suatu pemerintah dan alat-alat negara yang pimpinannya dipegang oleh orang-orang Indonesia, tetapi ini sama sekali tidak berarti bahwa beban kolonial yang lama sudah lepas dari pundak Rakyat Indonesia. Oleh karena itu, persetujuan KMB (atau persetujuan-persetujuan lain yang isinya sama dengan persetujuan KMB) tidak lain daripada kolonialisme dengan baju baru.
Persetujuan KMB telah mewajibkan Rakyat Indonesia membayar hutang yang sangat berat Bulan Januari 1950 hutang tersebut berjumlah lebih dari 4 milyar, dan dalam bulan Januari 1951 jumlah hutang seluruhnya menjadi lebih dari 6 milyar. Jadi dalam satu tahun hutang sudah bertambah dengan 2 milyar.
Persetujuan KMB telah mengembalikan semua pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan, tambang-tambang dan cabang-cabang industri vital lainnya kepada pemiliknya yang lama, yaitu modal besar asing. Ini berarti bahwa sumber-sumber pokok dari kekayaan Indonesia tidak masuk kas negara, tetapi ditumpuk oleh modal besar asing dan diangkut keluar negeri. Sebagai contoh, menurut laporan Mr. Teuku Hassan, Ketua seksi perekonomian parlemen Sementara RI (1951), bukti-bukti menunjukkan bahwa dari pertambangan minyak saja kekayaan Indonesia dikuras, berupa keuntungan yang terang, oleh BPM dan kongsi-kongsi minyak lainnya sejumlah Rp. 4.000.000.000. (empat milyar) saban tahun, yang berarti Indonesia kehilangan kira-kira hampir sama dengan 50 % dari anggaran belanja negara untuk satu tahun. Atau jika kehilangan kekayaan ini kita bagi rata di antara Rakyat Indonesia (75 juta), maka berartilah bahwa oleh pertambangan minyak saja dari semua orang, mulai dari bayi sampai orang-orang tua, telah dicuri kekayan sebesar kira-kira Rp. 53,-. Jika kehilangan kekayaan ini kita bagi rata di antara kaum buruh Indonesia (6 juta), maka berartilah bahwa oleh pertambangan minyak saja dari setiap buruh telah dicuri kekayaan sebesar Rp. 4.000.000.000,- : 6.000.000, atau Rp. 667.-. Menurut peraturan pertambangan kolonial yang hingga sekarang masih berlaku, Indonesia mendapat penghasilan dari hak tetap, bea ekspor, accijns, dan pajak NV atas kongsi-kongsi minyak hanya sebanyak Rp. 315 juta, jadi tidak sampai … 10% dari keuntungan yang terang. Pengembalian kepada modal besar asing ini berlaku juga untuk tanah-tanah yang sudah diduduki oleh kaum tani selama revolusi.
Politik yang dijalankan oleh pemerintah sekarang ialah politik yang mengembalikan kedudukan ekonomi Indonesia sebagai kedudukan di zaman jajahan, yaitu kedudukan sebagai sumber bahan mentah, sebagai sumber tenaga buruh yang murah, sebagai pasar dan sebagai tempat penanaman modal. Dalam keadaan politik sekarang kedudukan ekonomi Indonesia, dibanding dengan zaman penjajahan Belanda, lebih tergantung dari luar negeri. Kedudukan ekonomi Indonesia sekarang begitu tergantungnya sehingga praktis pemerintah Indonesia sekarang diinstruksi oleh kekuasaan asing (Amerika) dari mana Indonesia mesti membeli sesuatu barang dan kemana Indonesia boleh menjual barangnya (misalnya dengan adanya pinjaman Eximbank, adanya Embargo, Frisco, MSA, dsb.). Berangsur-angsur dan makin lama makin nyata, dalam persiapan perang dunia oleh Amerika sekarang, Indonesia dijadikan salah satu sumber ekonomi perang yang terpenting. Keadaan-keadaan ini pula yang membikin Indonesia makin lama makin dalam masuk perangkap politik perang Amerika, yang membikin Indonesia tidak hanya tergantung dalam soal ekonomi, tetapi juga mendapat instruksi-instruksi politik dan militer dari Belanda dan Amerika (Univerband, Irian, Nederlands Militaire Missie, pangkalan-pangkalan perang, Eximbank, Embargo, Frisco, MSA, dsb.).
Akibat dari politik pemerintah yang menggantungkan diri pada luar negeri ini, teranglah bahwa stabilisasi ekonomi tidak mungkin tercapai. Industrialisasi tidak mungkin dijalankan dan modal nasional tidak mungkin dibangun karena ini bertentangan dengan kepentingan modal besar asing. Industrialisasi dan pembangunan modal nasional di Indonesia adalah merupakan saingan bagi industri dan modal dari negeri-negeri penanam modal. Industrialisasi dan pembangunan modal nasional adalah bertentangan dengan kepentingan ekonomi perang dari negeri-negeri imperialis. Kaum buruh dan kaum tani yang merupakan lebih dari 80% Rakyat Indonesia, dan yang merupakan tenaga produktif dan konsumen yang terbesar, praktis tak mengalami perbaikan di dalam hidupnya, artinya tenaga produktifnya maupun kekuatan membelinya tidak bertambah.
Walaupun bagaimana, selama pemerintah Indonesia masih menjalankan politik yang menggantungkan diri pada negeri-negeri penanam modal besar asing seperti Belanda, Amerika dan Inggris, pemerintah Indonesia tetap akan menjalankan ekonomi export dan import yang dulu dilakukan oleh Hindia Belanda, yaitu ekonomi yang terus-menerus diombang-ambingkan oleh konjungtur (turun-naiknya keadaan) dan pasar dunia yang dikuasai oleh dollar dan sterling. Pemerintah yang demikian sudah tentu tidak akan mungkin membangunkan dan menyelamatkan ekonomi nasional yang merdeka, sebagai jaminan pokok untuk kemerdekaan nasional yang sejati.
Untuk memperbaiki nasibnya yang buruk Rakyat Indonesia, terutama kaum buruh dan kaum tani Inlonesia, telah mengadakan tuntutan-tuntutan dan aksi-aksi terhadap majikan modal besar asing dan terhadap pemerintah “nasional”. Aksi-aksi kaum buruh seperti pemogokan-pemogokan buruh perkebunan, buruh kendaraan bermotor, buruh percetakan, buruh minyak, buruh daerah otonomi, dll. telah memberi dorongan dan keberanian pada golongan-golongan lain dari Rakyat untuk juga bangun dan berjuang membela nasibnya. Di berbagai tempat aksi-aksi kaum tani mendapat sukses-sukses yang menimbulkan kegembiraan berjuang pada massa kaum tani. Dimana-mana, tumbuh kekuatan Rakyat dalam melawan ofensif reaksi yang ganas. Kaum buruh senantiasa menjadi pelopor dan pemberi inspirasi dalam tiap-tiap perlawanan. Disinilah pentingnya kedudukan front buruh sebagai bagian yang paling maju dan paling konsekwen daripada seluruh front persatuan nasional Rakyat Indonesia.
II. KETERANGAN KITA TENTANG “PEMBANGUNAN NASIONAL” DAN NASIONALISASI PERUSAHAAN2 VITAL
Dengan adanya persetujuan KMB modal besar asing mendapat bantuan yang sangat besar dari suatu pemerintah “nasional” yang bisa digunakan untuk menutupi eksploitasi atas kekayaan alam dan Rakyat Indonesia dengan semboyan-semboyan “nasional”.
Pemerintah dan majikan modal besar asing berusaha mengabui mata Rakyat dengan omongan-omongan tentang “pembangunan nasional”. Dengan semboyan “pembangunan nasional” mereka mengadakan ofensif ekonomi terhadap klas buruh. Mereka katakan, bahwa kekurangan barang yang diderita Rakyat sekarang, bahwa harga mahal yang mesti dibayar oleh Rakyat dan bahwa bahaya inflasi, adalah karena aksi-aksi kaum buruh. Mereka tuduh kaum buruh a-nasional (tidak bersifat nasional), mereka tuduh massa kaum buruh sebagai “komunis” dan sebagai tukang “main politik”, mereka tuduh kaum buruh sebagai alat “kekuasaan asing”, sebagai alat “Moskow”, alat “RRT”, dan sebagainya. Pemerintah dan majikan modal besar asing mempermainkan sentimen dan belum-mengertinya klas-tengah (kaum pengusaha nasional) dengan, menerangkan, bahwa tindakan-tindakan yang diambil oleh pemerintah terhadap kaum buruh dan Rakyat umumnya, akan mempertinggi prestasi kerja, akan meningkatkan produksi dan mendatangkan kemakmuran. Oleh karena itu pemerintah berseru kepada Rakyat supaya membantu rencana-rencana dan tindakan-tindakan pemerintah.
Kita harus kupas propaganda yang menyesatkan ini. Propaganda ini bertujuan untuk melemparkan beban krisis kepada kaum buruh dan Rakyat Indonesia, supaya untuk kepentingan majikan-majikan imperialis (modal besar asing) kaum buruh suka memperpanjang waktu kerja, kaum buruh suka menerima upah rendah atau lebih rendah, kaum buruh suka bekerja setengah mati guna mempertinggi prestasi kerja, supaya kaum buruh (termasuk pegawai-pegawai negeri) menerima saja kalau dijatuhkan “rasionalisasi” dan massa-ontslag atas dirinya, karena toh semuanya ini untuk “pembangunan nasional”. Kita harus telanjangi tipuan-tipuan dari kaum imperialis dan kaki tangannya ini dengan menerangkan, bahwa produksi merosot sama sekali bukan karena tuntutan-tuntutan dan aksi-aksi kaum buruh, tetapi produksi merosot adalah bersumber pada hak-milik secara kapitalis atas alat-alat produksi vital (perkebunan, pertambangan, transport, dsb.) dan disebabkan oleh adanya krisis kapitalisme yang juga menimpa Indonesia karena Indonesia tidak memisahkan diri dari sistim kapitalisme dunia yang sudah berada dalam krisis umum yang makin mendalam dan yang sedang sekarat. Kita harus terangkan, bahwa satu-satunya jalan untuk mempertinggi produksi hanyalah dengan jalan menasionalisasi alat-alat produksi vital dan dengan membuang tujuan-cari-untung secara kapitalis dari alat-alat produksi tersebut. Kita wajib mengingatkan kepada Rakyat supaya tidak terjebak oleh rencana-rencana pembangunan imperialis, yang pada hakekatnya tidak lain daripada rencana bikin-laba yang tidak terbatas dan sebagai persiapan untuk perang dunia yang baru. Kita tidak mungkin ikut di dalam pembikinan dan pelaksanaan rencana produksi, dimana sistim imperialis masih berkuasa dan sistim bikin-laba yang tidak terbatas masih tidak diganggu-gugat. Kita harus tunjukkan, bahwa justru cara-cara modal besar asing dan pemborosan oleh pemerintah itulah yang sebenarnya membikin prestasi kerja menjadi rendah, membikin produksi menjadi merosot, membikin mahal harga barang dan yang menimbulkan inflasi. Rencana-rencana imperialis tidak bisa lain daripada menuju krisis yang lebih dalam dan menuju kemerosotan produksi yang sangat cepat. Untuk mengatasi krisis yang makin mendalam ini sudah ada tanda-tanda bahwa sistim kerja paksa mau dijalankan lagi di Indonesia. Massa-ontslag di kalangan kaum buruh dan “rasionalisasi” di kalangan tentara telah menimbulkan barisan penganggur yang hebat, dan ini telah membikin lebih merosot harga tenaga buruh, dan ini merupakan syarat untuk adanya kerja paksa. Kaum penganggur yang makin banyak jumlahnya ini bukannya diberi pekerjaan dengan membuka lapangan industri yang luas, dan bukan diberi sokongan untuk sekedar mempertahankan hidupnya selama menunggu mendapat pekerjaan, tetapi sebagian demi sebagian mereka dikirim sebagai kuli biasa atau dalam ikatan tentara ke tempat-tempat di luar Jawa, dimana tidak ada tanda-tanda bahwa nasib mereka akan menjadi baik. Yang terang ialah bahwa di tempat-tempat yang baru itu sama sekali tidak ada pembangunan yang sesungguhnya, disana tidak ada pembukaan industri-industri besar atau pertanian-pertanian negara yang luas. Yang mereka hadapi pada umumnya tidak beda dengan apa yang di zaman penjajahan Belanda dulu dihadapi oleh kuli “kontrak Deli” atau oleh kaum “kolonisasi Lampung”. Pengembalian zaman “kontrak Deli” dan “Kolonisasi Lampung” di zaman “merdeka” sekarang ini dibalut dengan semboyan “untuk pembangunan nasional” atau “untuk pembangunan negara”.
Kita harus jelaskan, bahwa tidak mungkin ada pembangunan nasional dan tidak mungkin ada reorganisasi produksi jika tidak dilakukan nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan vital dan jika tidak dilaksanakan industrialisasi, jika tidak dilikwidasi peraturan-peraturan kolonial, jika tidak dijalankan program Demokrasi Rakyat dan jika tidak diberikan upah serta jaminan yang layak kepada kaum buruh. Orang-orang pemerintah dan majikan-majikan imperialis sering dan terus-menerus mengatakan, bahwa nasionalisasi perusahaan vital adalah rencana yang terlalu umum, yang abstrak, yang tidak praktis dan tidak menguntungkan kepentingan umum, pendeknya, adalah sesuatu yang tidak mungkin dilaksanakan. Ini adalah juga tipuan kaum imperialis dan kaki tangannya yang tidak masuk akal dan harus kita tentang keras, ini adalah propaganda imperialis dan kaki tangannya yang hendak membodohkan kaum buruh dan Rakyat.
Oleh karena itu, menganjurkan kepada kaum buruh untuk bekerja lebih keras dan lebih lama, untuk memproduksi lebih banyak guna rencana-rencana modal besar asing, dimana kaum buruh dan massa pekerja lainnya sedang dalam perjuangan yang pahit untuk mengatasi tingkat hidup yang bertambah buruk, adalah anjuran yang mengorbankan kaum buruh untuk kepentingan-kepentingan imperialis. Mereka yang menganjurkan ini tidak lain daripada imperialis sendiri, kaki tangan imperialis atau orang-orang yang mungkin jujur akan tetapi sudah menjadi korban propaganda imperialis. Kita harus menelanjangi dan membuka kedok rencana-rencana imperialis, kita harus mengadakan perlawanan terhadap semua pukulan-pukulan imperialis dan agen-agennya, dan dengan gagah berjuang terus supaya dijalankan nasionalisasi atas perusahaan-perusahan vital, supaya dijalankan kontrol atas keuntungan-keuntungan, supaya dilaksanakan upah dan jaminan sosial yang layak, supaya dijalankan Undang-undang 40 jam-kerja seminggu, dsb. sebagai ganjaran pada kaum buruh yang ambil bagian penting dalam mengorganisasi produksi. Kita harus tentang dengan keras tiap-tiap pikiran yang mengatakan bahwa nasionalisasi dan lain-lainnya itu adalah tidak kongkrit, tidak praktis dan tidak menguntungkan umum. Nasionalisasi, kontrol atas keuntungan, upah dan jaminan sosial yang layak, 40 jam-kerja seminggu, dsb. itu adalah kongkrit, praktis dan menguntungkan umum. Yang dirugikan oleh semuanya ini hanyalah imperialis dan kaki tangannya yang sudah menjalin kepentingannya menjadi satu dengan kepentingan imperialis (kaum komprador atau kaum agen imperialis).
Orang-orang pemerintah sering menerangkan, bahwa negara tidak mempunyai uang untuk melaksanakan nasionalisasi. Ini adalah keterangan yang sangat lucu dan mentertawakan. Bukankah justru untuk mendapat uang guna mengisi kas negara perlu dilaksanakan nasionalisasi atas perusahaan-perusahan vital, jadi jangan dibalik, seolah-olah nasionalisasi yang membikin kosong kas negara. Dan keterangan ini merupakan selimut untuk menutupi pendirian anti-nasionalisasi serta menunjukkan pengertian nasionalisasi secara kapitalis yang tidak merugikan kapitalis monopoli-monopoli. Keterangan yang menyesatkan ini juga harus ditelanjangi.
Adanya pendapat yang menganggap bahwa mempopulerkan soal nasionalisasi perusahaan vital sebagai sesuatu yang abstrak, yang tidak kongkrit, tidak praktis dan tidak menguntungkan umum, adalah pendapat reformis dan reaksioner. Pendapat demikian itu mesti ditentang. Perjuangan kita untuk mencapai tuntutan bagian-bagian (partial demands, deeleisen) haruslah dipimpin oleh pengertian Marxis yang tepat, yaitu bahwa tidak mungkin hasil tuntutan bagian bisa stabil dalam zaman krisis seperti sekarang ini. Stabilitas hanya mungkin jika kita bisa mengalahkan sama sekali semua ofensif kapitalis. Oleh karena ltu, disamping menerima hasil-hasil tuntutan bagian yang bisa sekedar mengentengkan beban kaum buruh, kita minta kepada kaum buruh supaya senantiasa waspada dan siap untuk menghadapi ofensif-ofensif kapitalis, dan supaya siap untuk terus berjuang guna tuntutan-tuntutan pokok mereka, yaitu tuntutan nasionalisasi perusahaan-perusahaan vital, kontrol atas keuntungan, upah dan jaminan yang layak.
Dan bersamaan dengan tuntutan untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan vital, harus kita jelaskan pada kaum buruh dan seluruh Rakyat, bahwa nasionalisasi akan tidak ada artinya jika ia dilaksanakan oleh suatu negara yang sudah seutuhnya mengabdikan diri pada monopoli-monopoli Belanda dan Amerika, karena dalam keadaan demikian nasionalisasi tidak lain daripada sesuatu yang hanya mengabdi kepentingan kapitalis semata-mata. Jadi, tuntutan nasionalisasi tidak bisa dipisahkan dari perjuangan politik untuk memisahkan negara dari modal monopoli asing. Tetapi selama keadaan politik memungkinkan, tindakan-tindakan nasionalisasi sebagai pelaksanaan tuntutan bagian daripada seluruh bangsa, mempunyai arti yang besar untuk menghidupkan kembali ekonomi yang sudah dirusak oleh restriksi-restriksi (pembatasan-pembatasan) kapitalis monopoli-monopoli dan yang sudah dibinasakan oleh pendudukan fasis Jepang dalam perang dunia kedua.
III. KETERANGAN KITA TENTANG KENAIKAN HARGA BARANG DAN INFLASI
Ada propaganda imperialis dan orang-orang pemerintah yang mengatakan, bahwa aksi-aksi kaum buruh yang menuntut kenaikan upah adalah merugikan kepentingan nasional dan kepentingan umum, karena kenaikan upahlah yang menyebabkan naiknya harga barang dan yang menyebabkan inflasi. Dengan alasan ini pula orang-orang pemerintah dan majikan-majikan imperialis menuduh gerakan kaum buruh untuk kenaikan upah sebagai gerakan a-nasional, a-sosial, dan menuduh bahwa aksi-aksi kaum buruh untuk kenaikan upah sebagai aksi-aksi untuk mencapai tujuan politik “yang tertentu”. Ya, mereka juga menuduh bahwa aksi-aksi kaum buruh menuntut kenaikan upah serupiah atau dua rupiah sehari, atau kenaikan upah sepuluh atau duapuluh rupiah sebulan, sebagai “aksi politik”, sebagai aksi “untuk merobohkan negara”, sebagai aksi untuk mengadakan “coup d’etat”. Tetapi mereka tidak banyak bicara, jika bermilyar-milyar dollar diangkut keluar negeri oleh majikan-majikan imperialis sebagai keuntungan luar biasa dari mengeksploitasi kekayaan alam dan tenaga Rakyat Indonesia. Mereka tidak berteriak-teriak bahwa keuntungan-keuntungan yang bermilyar-milyar inilah yang menyebabkan kenaikan harga barang dan yang menyebabkan inflasi. Tidak, malahan mereka bergiat untuk membikin berbagai Undang-Undang dan Peraturan-Peraturan guna memberi kedudukan lebih kuat pada modal besar asing di Indonesia.
Propaganda yang menyesatkan ini juga harus kita telanjangi dan kuliti. Kita harus terangkan, bahwa justru untuk kepentingan nasional dan kepentingan umum, justru untuk menciptakan syarat-syarat kemakmuran bagi umum, justru untuk itulah kaum buruh menuntut kenaikan upah. Hanya kaum buruh yang upahnya banyak bisa mengeluarkan uang banyak untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya, dan ini berarti menghidupkan sektor-sektor lain dari masyarakat (pemilik warung, pemilik toko), pemilik restoran, tukang pakaian, toko buku, sekolah-sekolah, pemilik bioskop, dokter, advokat, dsb.). Jika upah buruh sangat merosot, maka sektor-sektor lain dari masyarakat juga akan mengalami keambrukan. Maka itu, soal pentingnya kenaikan upah buruh tidak hanya penting untuk kaum buruh, tetapi juga penting untuk seluruh masyarakat.
Apakah kenaikan upah buruh mesti berakibat kenaikan harga barang dan inflasi? Sama sekali tidak. Kita harus terangkan, bahwa kenaikan upah sama sekali tidak mesti berakibat naiknya harga barang dan inflasi. Pokoknya asal pemerintah suka menekan modal besar asing, agar sebagian keuntungan yang bermilyar-milyar itu bisa digunakan untuk menaikkan upah kaum buruh. Seandainya 50% saja dari keuntungan yang bermilyar-milyar itu digunakan untuk kenaikan upah buruh, maka ia pasti akan memperbesar kekuatan-membeli dari kaum buruh dan ini akan membawa kegembiraan bekerja pada kaum buruh. Kegembiraan bekerja ini akan mempertinggi prestasi kerja, yang berarti mempertinggi produksi, dan seluruh masyarakat akan untung olehnya. Masyarakat tidak akan mengalami kenaikan harga dan tidak akan hidup dalam cengkeraman inflasi seperti sekarang. Dengan mengambil 50% dari keuntungan modal besar asing sama sekali tidak menambah jumlah uang yang beredar. Kantor cetak uang kertas tidak perlu kerja ekstra untuk mencetak lebih banyak uang. Dengan demikian uang yang ada tidak perlu mengalami nasib uang Jepang, dimana untuk membeli sedikit barang harus membawa uang ber-kantong-kantong. Singkatnya apa yang dinamakan inflasi, yaitu keadaan dimana uang terlalu banyak beredar, jika dibanding dengan barang yang tersedia, tidak perlu dialami oleh Rakyat Indonesia. Secara sewajarnya, karena ada kegembiraan bekerja kaum buruh akan memperbesar produksi, harga barang akan menjadi turun untuk keuntungan seluruh masyarakat. Negarapun akan mendapat keuntungan, karena 50% dari keuntungan modal besar asing pasti tidak diangkut keluar negeri, tetapi digunakan di dalam negeri sendiri. Ini hanya satu contoh saja yang menunjukkan, bahwa suatu pemerintah yang bukan pemerintah Demokrasi Rakyat, tetapi yang sedikit progresif, bisa meringankan sekedar beban Rakyat yang dengan mengurangi keuntungan modal besar asing. Tetapi ini belum berarti pemecahan yang sempurna untuk perbaikan yang stabil atas nasib rakyat dan untuk melikwidasi sama sekali kekuasaan imperialis di Indonesia.
Jadi jelaslah, bahwa tidak adil sekali, dan jahat sekali, jika soal kenaikan harga barang dan inflasi mau ditimpakan tanggung jawabnya pada kaum buruh yang menuntut kenaikan upah serupiah atau dua rupiah. Kenapa beberapa rupiah di tangan si Amat dan si Ali bisa menyebabkan kenaikan harga barang dan inflasi, sedangkan bermilyar-milyar dividend yang dibagikan oleh modal besar asing tidak dibikin ribut sebagai sumber kenaikan harga barang dan inflasi?
Ada lagi taktik pemerintah dan majikan imperialis untuk tidak membenarkan kaum buruh menuntut kenaikan upah. Mereka seolah-olah dokter yang pintar dan memberikan obat pada kaum buruh berupa: janji penurunan harga. Secara prinsipil kaum buruh menyetujui penurunan harga. Bagi kaum buruh tidak ada bedanya, apakah upah mereka naik 100% atau harga barang turun 50%. Dalam dua hal ini bukankah kaum buruh bisa membeli barang dua kali lebih banyak? Kalau kaum buruh bisa membeli barang lebih banyak dengan upah Rp. 100,- jika dibanding dengan upah Rp. 150,- kaum buruh akan memilih yang Rp. 100,-. Tetapi siapakah yang prinsipil menentang penurunan harga barang? Ialah kaum majikan sendiri, sehingga tiap-tiap janji pemerintah untuk menurunkan harga barang menjadi omong kosong belaka. Oleh karena itu, usaha pemerintah untuk mengadakan rikhtprijs (harga ancer-ancer) terhadap beberapa macam barang tidak akan ada hasilnya, karena harga ancer-ancer itu sendiri berada di luar kemampuan membeli dari Rakyat. Dengan demikian, pada hakekatnya pemerintah membiarkan harga terus membubung, tetapi disamping itu, dan ini tidak adilnya, pemerintah terus-menerus menekan kenaikan upah buruh.
Bagi kaum buruh adalah sama saja, apakah ia mendapat kenaikan upah atau penurunan harga barang, asal saja kedua-duanya ini tidak dibebankan kepada kaum buruh dan Rakyat, tetapi diambilkan dari keuntungan modal besar asing.
Apakah dengan politik mengontrol keuntungan dan menggunakan sebagian keuntungan modal besar asing untuk kenaikan upah buruh akan berakibat “larinya modal besar asing dari Indonesia?” Tidak mesti. Dunia sudah terlalu sempit untuk modal besar bercokol. Sebagian dari dunia dan sebagian dari umat manusia sudah membebaskan diri dari sistim kapitalisme. Tetapi seandainya modal besar asing “lari”, sama sekali tidak ada alasan untuk berkecil hati. Hanya orang-orang yang berpikiran picik dan tidak mempunyai kepercayaan pada kekuatan nasional sendiri, hanya mereka yang sudah menjalin kepentingannya menjadi satu dengan kepentingan imperialis, hanya mereka yang akan merasa kehilangan jika imperialis (modal besar asing) angkat kaki dari Indonesia. Suatu pemerintah yang progresif segera akan mengambil over perusahaan-perusahaan kepunyaan modal besar asing itu, segera akan menasionalisasi perusahaan-perusahaan vital itu guna kemakmuran Rakyat.
Jadi teranglah, bahwa hanya pikiran kapitalis yang membenarkan “teori” bahwa kenaikan upah mesti berakibat kenaikan harga barang dan mesti berakibat inflasi. Memang, kenaikan harga barang yang tidak ada hingganya dan inflasi tidak bisa dipisahkan dengan sistim kapitalis. Biarpun tidak ada aksi-aksi kaum buruh yang menuntut kenaikan upah, selama perusahaan-perusahaan vital belum dinasionalisasi dan tujuan-cari-untung secara kapitalis dari perusahaan-perusahaan vital itu belum dilenyapkan, kenaikan harga barang dan inflasi akan terus menjadi penyakit umum dari masyarakat.
IV. PROGRAM DEMOKRASI RAKYAT DAN PENGUSAHA NASIONAL
Kepada klas tengah (pengusaha-pengusaha nasional) harus kita jelaskan terus terang, bahwa sebagai majikan yang hidupnya tergantung pada mengeksploitasi kaum buruh, memang ada kalanya kaum buruh akan menuntut sekedar perbaikan nasib pada mereka. Tetapi program Demokrasi Rakyat sama sekali tidak bermaksud melikwidasi mereka dengan jalan menasionalisasi perusahaan-perusahaan mereka, malah program Demokrasi Rakyat mau memberi kedudukan yang stabil pada mereka untuk memperbesar tenaga produktif masyarakat, sebagai syarat menuju ke masyarakat sosialis. Justru program Demokrasi Rakyat bertujuan mempertahankan hak-milik perseorangan dari pengusaha-pengusaha nasional. Adalah juga menjadi kewajiban kaum buruh untuk membantu perjuangan pengusaha-pengusaha nasional guna mendapatkan hak-hak mereka yang sewajarnya, guna membantu mereka dalam perlawanannya terhadap monopoli imperialisme dan terhadap penghancuran atas dirinya oleh ekonomi perang. Kaum buruh Indonesia yang yakin, bahwa tujuan sosial, ekonomi dan politiknya hanya bisa dilaksanakan dalam masyarakat yang damai, dengan sekuat tenaga berkewajiban membantu pengusaha-pengusaha nasional dalam mewujudkan ekonomi damai di Indonesia, yaitu ekonomi dimana produksi dan distribusi ditujukan pada barang-barang kebutuhan Rakyat (beras, textile, sepatu, sepeda, dsb.) dan tidak seperti sekarang, dimana produksi dititik-beratkan pada bahan-bahan keperluan perang (timah, karet, bauxiet, dsb.). Hanya dengan adanya perubahan ekonomi perang menjadi ekonomi damai, dapat diadakan perubahan atas tingkat hidup Rakyat yang sekarang makin lama makin merosot. Kaum buruh Indonesia berkewajiban menyokong tiap usaha pengusaha-pengusaha nasional untuk membebaskan diri dari ikatan-ikatan imperialis Belanda dan Amerika, dan membantu perjuangan mereka untuk mencapai adanya perdagangan bebas, terutama perdagangan bebas dengan negeri-negeri Demokrasi Rakyat dan Uni Soviet untuk mendapatkan barang-barang yang lebih murah harganya dan untuk mendapatkan barang-barang-modal (kapitaalgoederen), sebagai syarat permulaan bagi Indonesia untuk bisa memenuhi kebutuhannya akan barang-barang yang diperlukan oleh Rakyat.
Kenyataan-kenyataan diatas adalah bertentangan dengan propaganda majikan-majikan imperialis dan kaki tangannya, dan propaganda ini pada hakekatnya tidak lain daripada usaha kaum majikan imperialis untuk menutupi tujuan mereka yang sesungguhnya. Karena justru imperialismelah yang terus-menerus melikwidasi klas tengah, agar dengan demikian mereka bisa memusatkan atau memonopoli seluruh kehidupan ekonomi di dalam tangan kliknya sendiri. Dan milik imperialis inilah yang telah dan, sedang melikwidasi klas tengah Indonesia. Oleh karena itu pula program revolusi Demokrasi Rakyat menghendaki adanya kerjasama antara seluruh golongan Rakyat, termasuk pengusaha-pengusaha nasional, untuk menghancurkan musuh bersama, yaitu modal besar asing dan sisa-sisa feodalisme, untuk menggagalkan ekonomi perang imperialis dan untuk membangunkan suatu masyarakat Indonesia yang demokratis.
Pengalaman kaum pengusaha nasional Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini menunjukkan, bahwa pemerintah Indonesia yang menjadi komprador modal besar asing tidak mungkin sungguh-sungguh berdiri di pihak pengusaha nasional. Untuk menutupi sifat kompradornya, ada kalanya pemerintah Indonesia terpaksa “membantu” sebagian yang sangat kecil dari pengusaha nasional, tetapi disamping itu modal besar asing diberi keleluasaan sepenuhnya untuk menghancurkan dan menelan perusahaan-perusahaan nasional (seperti industri tenun, rokok, batik, percetakan, perdagangan import-export, perusahaan pelajaran, perkebunan karet Rakyat, perusahaan penangkapan ikan laut, dsb.). Semuanya ini menunjukkan, bahwa kaum pengusaha nasional tidak boleh lagi mempunyai ilusi akan mendapat perlindungan yang sungguh-sungguh dari pemerintah komprador, tetapi mereka harus menentukan sikapnya yang benar, yaitu sikap menentang politik komprador dan memihak perjuangan Rakyat Indonesia yang bertujuan menghancurkan imperialisme dan menegakkan sistim Demokrasi Rakyat, yaitu sistim yang menjamin stabilitas kedudukan pengusaha-pengusaha nasional.
V. SOAL SERIKAT BURUH REAKSIONER DAN ARBITRASI PEMERINTAH
Takut akan kekuatan klas buruh yang makin berkembang, takut akan pemogokan-pemogokan dan yakin bahwa dengan tindakan-tindakan kekerasan serta dengan undang-undang yang berbau fasis tidak akan dapat menghancurkan klas buruh, mereka mendirikan serikat buruh – serikat buruh kuning sebagai persiapan menuju front buruh secara Hitler. Dengan melemparkan tuduhan-tuduhan pada SOBSI yang menjemukan dan sama sekali tidak masuk akal — seperti tuduhan SOBSI a-nasional, SOBSI dikendalikan oleh kekuasaan asing, SOBSI organisasi “komunis” dsb. — mereka memainkan rol anti-mogok, rol memecah-belah, rol anti-komunis, rol anti-sosialisme, rol anti-Demokrasi Rakyat, yang pada hakekatnya tidak lain menunjukkan bahwa mereka menjalankan rol anti-klas-buruh dan anti-Rakyat. Pada hakekatnya, merekalah yang didikte oleh kekuasaan asing, oleh imperialis Belanda, Amerika dan Inggeris. Mereka adalah tengkulak pengacau pemogokan dan gangster-gangster untuk menteror klas buruh. Pemimpin-pemimpin serikat buruh reaksioner (kuning) memegang rol penting dalam tindakan-tindakan kejam seperti dalam Razia Agustus, dan, mereka mengadakan kerjasama yang erat dengan kepolisian dan “tuan-tuan besar” dan mereka bertindak sebagai spion-spionnya.
Kedok serikat buruh kuning harus dibuka di dalam tiap-tiap rapat kaum buruh dan harus dibangkitkan kemarahan kaum buruh terhadap pengacau-pengacau ini. Tiap-tiap aksi mereka menentang pemogokan, tiap-tiap usaha mereka untuk menakut-nakuti kaum buruh, tiap-tiap usaha mereka untuk memecah-belah dan tiap-tiap pengkhianatan mereka harus dibuka kedoknya tepat pada waktunya, agar dengan demikian mereka yang tidak jujur itu tidak mempunyai akar di massa.
Dimana ada serikat buruh kuning yang sedikit-banyak mempunyai pengaruh pada massa, hendaklah pada pusat atau cabang serikat buruh demikian itu ditawarkan untuk mengadakan front bersama menghadapi majikan khusus tentang tuntutan di sekitar upah, syarat-syarat hidup dan nyatakan kesediaan kita untuk membantu mereka dalam perjuangan melawan majikan. Adanya front bersama melawan majikan adalah didikan bagi kaum buruh yang akan menyadarkan mereka akan perlunya hanya ada satu Vaksentral untuk seluruh massa kaum buruh di Indonesia.
Tetapi disamping menawarkan front bersama dengan serikat buruh kuning, jangan dilupakan pentingnya membuka kedok pemimpin-pemimpin serikat buruh-serikat buruh kuning yang tidak jujur. Untuk mendapat pengaruh, ada kalanya pemimpin-pemimpin serikat buruh kuning terpaksa memimpin suatu pemogokan. Tetapi karena tidak didasarkan cinta dan pengabdian yang sepenuh jiwa pada kepentingan klas buruh, pemimpin-pemimpin palsu demikian, akan segera terbuka kedoknya. Dengan adanya pimpinan yang baik dari pemimpin buruh yang jujur, maka kaum buruh akan segera dapat mengetahui, bahwa pemimpin-pemimpin serikat buruh kuning itu memimpin sesuatu pemogokan hanya karena desakan yang makin lama makin keras dari anggota-anggota serikat buruh. Oleh karena itu, kewaspadaan massa kaum buruh terhadap pemimpin-pemimpin yang tidak jujur harus dibangkitkan, dan dimana terbukti pemimpin serikat buruh yang demikian itu sudah menjual diri pada majikan atau pemerintah, hendaklah tepat pada waktunya diterangkan pada massa kaum buruh.
Diatas segala-galanya, sekali-kali jangan ditanamkan pada massa kaum buruh suatu illusi (pikiran yang bukan-bukan) bahwa “Panitia Penyelesaian” (badan arbitrase) yang dibentuk oleh pemerintah burjuis akan berbuat adil kepada kaum buruh. Kita sekali-kali tidak boleh mempunyai illusi, bahwa di zaman krisis ekonomi seperti sekarang ini perjuangan yang sengit antara kapital dan buruh bisa diselesaikan secara adil oleh “Panitia-panitia Penyelesaian” semacam itu. Akan tetapi hendaklah diingat, apa yang bagi kaum Komunis sudah terang tidak beres dan hanya tipuan belaka, seperti “Panitia Penyelesaian” ini, massa kaum buruh masih memerlukan pengalaman untuk mengerti hal-hal ini. Perjuangan sehari-hari dari kaum buruh akan membuktikan, bahwa “Panitia Penyelesaian” bukan untuk kepentingan kaum buruh tetapi untuk kepentingan majikan dan pemerintah.
VI. FRONT BURUH DENGAN KEMERDEKAAN NASIONAL DAN PERDAMAIAN
Dalam “Jalan Baru” (Resolusi CC PKI bulan Agustus 1948) diterangkan: tiap-tiap Komunis harus yakin benar-bnear, bahwa dengan tidak adanya Front Nasional kemenangan tidak akan datang. Oleh karena itu adalah kewajiban Partai Komunis Indonesia dan serikat buruh – serikat buruh untuk ambil bagian yang paling penting, paling besar dan paling sungguh-sungguh dalam perjuangan membela kepentingan-kepentingan kaum buruh. Perjuangan ini harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak hanya kaum buruh saja yang mendapat kemenangan yang gilang-gemilang; tetapi juga supaya bisa memberikan inspirasi kepada klas-klas dan golongan-golongan lain, kepada kaum tani, pengusaha-pengusaha kecil dan sedang, golongan intelektual serta golongan Rakyat lainnya, supaya lebih menaruh kepercayaan akan kemenangan pasti dan kemenangan bersama atas imperialisme, feodalisme dan borjuasi komprador (borjuasi agen imperialis). Perjuangan membela kepentingan kaum buruh harus mempersatukan seluruh kaum buruh di bawah pimpinan organisasi-organisasi buruh, dimana kaum Komunis harus membuktikan pembelaannya yang sungguh-sungguh terhadap kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik dari kaum buruh.
Front buruh harus merupakan front yang terkuat, yang paling bersatu, paling maju dan paling sadar dalam front persatuan masional yang luas. Front buruh dan Front tani harus ambil bagian yang terpenting di dalam perjuangan untuk menggalang front persatuan nasional (front demokrasi atau front pembela tanah air), yaitu persekutuan daripada seluruh Rakyat Indonesia untuk melaksanakan cita-cita politiknya, dimana sumber kekuasaan ada pada Rakyat dengan terbentuknya Republik Demokrasi Rakyat. Dalam front persatuan nasional ini kaum buruh dan kaum tani harus menjadi basisnya.
Front persatuan nasional adalah syarat mutlak untuk mencapai kemerdekaan nasional. Kemerdekaan nasional adalah syarat guna perkembangan sesuatu bangsa. Perdamaian, perbaikan dan kemajuan hanya bisa dicapai oleh bangsa Indonesia dengan melalui kemerdekaan nasional. Perjuangan nasional untuk melepaskan diri dari imperialisme Belanda dan Amerika tidak bisa dipisahkan dengan perjuangan melawan reaksi, perjuangan untuk perdamaian, untuk demokrasi dan untuk sepiring nasi. Jelaslah, bahwa hak-hak dan kebebasan bagi kaum buruh, yaitu: hak mendapat pekerjaan, bebas dari ancaman pengangguran, hak mendapat bayaran penuh, bebas dari perbedaan ras dan jenis, bebas dari penghisapan kapitalis dan hak atas kebudayaan, hanya bisa dicapai apabila didahului oleh adanya kemerdekaan nasional yang sejati. Jadi kaum buruh tidak mungkin merdeka dan mendapat semua hak-haknya jika tidak ada kemerdekaan nasional.
Sekarang ini massa kaum buruh Indonesia belum berada di bawah satu pimpinan. Sebagian besar berada di bawah pimpinan SOBSI, sedangkan bagian-bagian lainnya berada di bawah pimpinan kaum nasionalis (seperti GSBI) dan kaum sosialis (seperti POB). Sebagian yang sangat kecil berada di bawah pimpinan orang-orag trotskis (SOBRI) atau klik-klik lain yang sengaja dibayar oleh imperialis untuk memecah-belah dan mengadu-domba massa kaum buruh serta untuk mengadakan rintangan-rintangan dalam perkembangan gerakan kaum buruh dengan menjalankan kegiatan-kegiatan polisionil dan spionase. Juga ada golongan yang tidak jujur yang menggunakan agama untuk memecah-belah gerakan buruh dengan mendirikan serikat buruh – serikat buruh yang “berdasarkan agama” (seperti SBII, Serikat Buruh Katolik). Keadaan ini tentu menimbulkan kemarahan di kalangan kaum agama yang jujur.
Mengingat kenyataan bahwa kaum buruh Indonesia belum bersatu dengan bulat di bawah satu pimpinan yang jujur dan militant, sedangkan usaha-usaha reaksi semakin keras untuk menghancurkan gerakan buruh, maka lebih-lebih dari waktu yang sudah-sudah, sekarang dibutuhkan adanya kesatuan-kesatuan aksi di dalam tiap-tiap perjuangan kaum buruh. Untuk ini kaum buruh dari berbagai serikat buruh (SOBSI dan non-SOBSI) bisa mengadakan Kongres Upah yang khusus untuk memperbincangkan soal-soal upah, bisa mengadakan Komite Makanan Rakyat, bisa mengadakan Komite Kaum Penganggur, bisa mengadakan Pernyataan Bersama tentang sesuatu atau beberapa soal, bisa mengadakan front buruh di dalam Dewan Perwakilan Rakyat atau perwakilan-perwakilan lainnya, bisa mengadakan Sekretariat Bersama untuk melaksanakan suatu fusi, dsb.
Kesatuan aksi bisa diadakan ketika baru menghadapi perjuangan atau ketika perjuangan itu sedang berjalan. Kesatuan perjuangan seluruh kaum buruh ini pasti bisa dicapai, karena secara objektif perjuangan buruh selanjutnya, dalam melawan akibat-akibat krisis ekonomi yang semakin memuncak, menghendaki adanya persatuan ini. Krisis tidak hanya menimpa segolongan buruh saja, tetapi ia menimpa semua golongan buruh, tidak perduli apakah ia dipimpin oleh kaum Komunis, oleh Nasionalis, oleh Sosialis atau oleh lainnya, tidak perduli apakah ia beragama Islam, Katolik, Protestan atau lain-lainnya. Perjuangan buruh yang makin sengit dalam membela kepentingannya pasti akan membukakan kedok badut-badut dan tengkulak-tengkulak dalam gerakan buruh. pemimpin-pemimpin buruh yang jujur, terutama kaum Komunis, diwajibkan supaya pandai menjalankan taktik yang tepat (correct) dalam menarik tiap golongan ke dalam perjuangan bersama dari kaum buruh untuk menghadapi majikan. Kesatuan perjuangan semacam ini akan memberikan pelajaran yang sangat baik kepada klas buruh tentang rol khianat daripada pemimpin-pemimpin serikat buruh kuning dan tentang kebutuhannya akan serikat buruh – serikat buruh dan akan satu Vaksentral yang revolusioner.
Sebagaimana dikatakan di atas, front buruh diwajibkan ambil bagian yang terpenting, didalam usaha menggalang front persatuan nasional. Dalam hal ini sungguh-sungguh harus diperhatikan agar front buruh tidak terisolasi dari golongan-golongan Rakyat lainnya. Terisolasi berarti bahaya besar bagi seluruh perjuangan buruh. Jika gerakan buruh terisolasi, pemerintah reaksioner dan imperialis akan mudah bertindak untuk menghancurkan gerakan kaum buruh dengan terang-terangan dan dengan kejam, dan ini adalah permulaan dan persiapan untuk menghancurkan seluruh gerakan Rakyat. Dan jika ini terjadi, fasisme merajalela kembali di Indonesia. Jadi, dapat atau tidaknya bahaya fasisme dicegah, adalah tergantung dari perlawanan dan kekuatan front buruh dan tergantung dari hubungan front buruh dengan klas-klas lain (terutama kaum tani) dan dengan front-front lain (front pemuda, front pelajar, front wanita, front kebudayaan, front perdamaian, dsb.). Untuk berhasilnya aksi-aksi kaum buruh dan untuk memperkuat front persatuan nasional, dalam aksi-aksi kaum buruh harus senantiasa diingat tiga syarat-syarat sebagai berikut:
1) supaya tiap-tiap aksi kaum buruh dibenarkan dan masuk akal sebagian besar dari Rakyat sehingga mendapat simpati dan sokongannya;
2) supaya tiap-tiap aksi kaum buruh dimulai dimana keadaan sedang baik untuk massa dan kemungkinan mendapat sukses adalah besar;
3) supaya tiap-tiap aksi kaum buruh dimulai dan diakhiri pada titik yang paling tepat dan saat yang paling baik, ia tidak boleh merupakan perjuangan melawan musuh yang tidak ada ketentuan kapan selesainya.
Dalam usaha memenuhi syarat-syarat ini kaum buruh Indonesia sudah mempunyai berbagai pengalaman dan pelajaran yang baik. Kaum buruh Indonesia sudah mengalami pemogokan dari lebih-kurang 700.000 buruh perkebunan di bawah pimpinan SARBUPRI pada pertengahan tahun 1950. Pemogokan raksasa ini telah berakhir dengan kemenangan disebabkan tepatnya tuntutan, tepatnya memilih waktu pemogokan, mendapat bantuan kaum tani dan tindakan SOBSI yang tepat pada waktunya. Kaum buruh Indonesia sudah mengalami pemogokan buruh kendaraan bermotor dalam aksinya melawan GAPO (Gabungan Perusahaan Otobis) bulan Juli 1951, di bawah pimpinan SBKB. Aksi ini mendapat kemenangan karena tepat tuntutannya, tepat waktu mulainya dan tepat pada waktu mengakhirinya. Pemogokan ini tidak hanya dapat simpati dan sokongan dari golongan buruh lain, tetapi juga dapat simpati dan sokongan pengusaha-pengusaha otobis nasional. Tetapi disamping itu kaum buruh Indonesia juga mempunyai pengalaman-pengalaman yang pahit, seperti pemogokan buruh Cordesius di Jakarta pada permulaan tahun 1950, pemogokan buruh kapal dan pelabuhan di Belawan dalam tahun 1951, dll. Pemogokan-pemogokan ini tidak memenuhi syarat-syarat diatas, oleh karena itu ia gagal dan menyebabkan terisolasinya perjuangan-perjuangan buruh itu dari massa buruh lainnya dan dari Rakyat banyak. Apa yang disebutkan disini hanya beberapa di antara pengalaman buruh Indonesia yang banyak itu. Disamping ini masih ada lagi pengalaman-pengalaman buruh percetakan di bawah pimpinan SBPI, pengalaman-pengalaman buruh minyak kelapa di bawah pimpinan SARBUMIKSI, pengalaman buruh gula di bawah pimpinan SBG, pengalaman buruh angkutan udara di bawah pimpinan SERBAUD, pengalaman buruh minyak di bawah pimpinan PERBUM, dan banyak lagi pengalaman-pengalaman yang baik maupun yang tidak baik, tetapi yang kedua-duanya adalah pelajaran yang berharga bagi kaum buruh Indonesia. Dan tidak boleh dilupakan, bahwa kaum buruh Indonesia mempunyai pengalaman yang baik juga dalam menuntut hadiah lebaran dan gratifikasi.
Dalam mengemukakan dan membela kepentingan-kepentingan kaum buruh dalam perjuangan sehari-hari, kita harus memimpin aksi-aksi sedemikian rupa sehingga klas buruh menjadi bersatu sebagai satu klas, sadar akan tanggung-jawab politiknya dalam perjuangan melawan susunan masyarakat yang kacau sekarang ini dan berjuang untuk negara Demokrasi Rakyat, sadar bahwa ia mesti memimpin perjuangan dalam front persatuan nasional menuju kemenangan yang gemilang sebagai syarat untuk menjamin perdamaian dunia yang abadi.
Untuk memenuhi rencana perangnya kaum imperialis makin lama makin hebat menguras kekayaan alam dan tenaga Rakyat lndonesia. Upah riil dari kaum buruh makin lama makin merosot. Guna menindas perlawanan kaum buruh yang menuntut kenaikan upah, pemerintah RI-KMB melakukan tindakan-tindakan fasis terhadap gerakan klas buruh. Dengan demikian jelaslah bahwa perjuangan untuk perdamaian dunia, untuk sepiring nasi dan untuk kemerdekaan nasional adalah Perjuangan yang saling berbubungan, yang satu dengan lainnya tidak mungkin dipisahkan. Oleh karena itu adalah juga kewajiban klas buruh yang terpenting untuk ambil bagian yang sungguh-sungguh di dalam perjuangan untuk perdamaian dunia yang abadi, dan terutama untuk berjuang guna terlaksananya Pact Perdamaian Lima Besar (Inggris, Perancis, Soviet Uni, Amerika Serikat dan RRT).
Dalam keadaan sekarang, dimana lmperialis Amerika makin lama makin dalam mencampuri soal-soal dalam negeri Indonesia, pertumbuhan demokrasi makin lama makin sangat tertekan. Sampai-sampai kepada demokrasi parlementer tidak terjamin di Indonesia. Tanda-tanda yang terpenting daripada demokrasi parlementer, yaitu mempersoalkan soal-soal umum secara terbuka, makin lama makin tidak nampak. Soal-soal umum banyak dibicarakan hanya diantara dan oleh beberapa gelintir orang-orang pemerintah dengan wakil-wakil Amerika di Jakarta (misalnya “bantuan” senjata Amerika untuk polisi Indonesia, MSA, dll.). Keadaan ini semuanya, dan dibuktikan pula oleh Razia Agustus (1951), menunjukkan bahwa ada usaha yang keras dari pihak reaksi untuk memfasiskan sistim pemerintahan Indonesia. Oleh karena itu, klas buruh, sebagai klas yang paling maju, yang paling teguh organisasinya, yang menempati kedudukan penting dalam produksi, berkewajiban untuk mempelopori perjuangan seluruh Rakyat dalam melawan bahaya fasisme yang mengancam seluruh kehidupan Rakyat Indonesia.
Oleh karena itu adalah kewajiban yang sangat penting untuk mempertahankan dengan sungguh-sungguh dan dengan sengit tiap-tiap hak dan tuntutan kaum buruh dari serangan-serangan reaksi yang makin kurang ajar. Dan senantiasa harus dijaga agar tiap-tiap perjuangan kaum buruh tidak terisolasi dari seksi-seksi lain dari kaum buruh dan dari seluruh Rakyat. Dimana keadaan mengizinkan harus diadakan propaganda besar-besaran tentang hak-hak dan tuntutan-tuntutan kaum buruh, dan tepat pada waktunya mengadakan serangan-serangan kembali pada propaganda-propaganda yang merusak dari pemerintah dan dari kaum imperialis yang bermaksud menarik simpati Rakyat guna memisahkan kaum buruh dari golongan Rakyat lainnya. Jika propaganda-propaganda yang merusak ini tidak segera dibantah dan sebagian Rakyat untuk sementara mempercayainya, maka ini berarti menyerahkan inisiatif pada lawan.
Untuk bisa menunaikan kewajibannya, seksi-seksi yang sudah militant dari klas buruh harus membersihkan diri dari penyakit-penyakit sektarisme dan dari semboyan “kiri” yang kosong. Sektarisme dan slogan-slogan “kiri” yang kosong yang tidak disokong oleh massa luas dari kaum buruh tidak hanya membantu lawan dan pemecah-pemecah klas buruh, tetapi ia juga merupakan rintangan dalam usaha mempersatukan klas buruh. Orang-orang yang sektaris dalam teorinya menerima keperluan untuk bersatu, keperluan guna bekerja untuk itu, sebab mereka mesti menerima kenyataan; tetapi apabila sudah dalam pekerjaan sehari-hari, penerimaan mereka secara teori itu, tidak nampak dalam prakteknya. Oleh karena itulah, sektarisme adalah penyakit yang terus-menerus dan dengan sengit mesti dibasmi. Hanya dengan lenyapnya sektarisme, seksi-seksi yang sudah militant dari klas buruh bisa menarik massa kaum buruh yang masih terbelakang, dan bisa menarik seluruh Rakyat dalam perjuangan untuk perdamaian dan kemerdekaan nasional.
Jelaslah, bahwa sejalan dengan perjuangan membela kepentingan-kepentingan sehari-hari, klas buruh adalah kampiun dalam membela kepentingan seluruh Rakyat, kampiun dalam perjuangan kemerdekaan dan pembela perdarmaian dunia. Kaum buruh mengorganisasi aksi-aksi politik secara besar-besaran untuk melawan tiap-tiap tindakan yang tidak adil terhadap kaum buruh sendiri, terhadap kaum tani, terhadap pemuda, terhadap pelajar, intelektual dan terhadap golongan-golongan lain dari Rakyat. Kaum buruh adalah pemuka dan organisator dalam perjuangan untuk membatalkan persetujuan KMB yang jahat itu, untuk memasukkan Irian barat ke dalam wilayah Republik Indonesia, untuk menentang dijalankannya Embargo terhadap negeri-negeri demokrasi, untuk menentang persetujuan San Francisco dan MSA yang didikte oleh Amerika itu, dsb.
Dengan melalui aksi-aksi solidaritas, melalui pemogokan-pemogokan simpati dan lain-lain bentuk aksi politik yang bisa dipahamkan, yang dapat simpati dan disokong oleh massa yang luas, kaum buruh Indonesia akan membajakan kesatuan berjuang dari massa, dan lambat laun akan tampil ke muka sebagai pembela hak-hak dan kebebasan demokrasi, akan tampil sebagai kampiun perdamaian, sebagai pemimpin, sebagai juru mempersatukan seluruh golongan Rakyat dan sebagai pembangunan front persatuan nasional.
Demikianlah kewajiban front persatuan buruh kita.
Jakarta, 1 Maret 1952.
Central Comite
Partai Komunis Indonesia

Jalan Baru Untuk Republik Indonesia

Oktober 28, 2008

Kata pengantar
Dengan penerbitan ini entah berapa puluh ribu “Jalan Baru” sudah disiarkan. Sejak terbitnya, bulan Agustus 1948, “Jalan Baru” sudah disiarkan dengan segala macam jalan: dicetak, distensil, diketik, dan ditulis. la dicetak di Jawa, ia dicetak di luar negeri oleh Partai sekawan, ia distensil di Sumatera, Sulawesi, dll. Pendeknya, “Jalan Baru” sudah banyak tersiar. Walaupun demikian, mengingat pentingnya isi buku kecil ini, kita berpendapat bahwa “Jalan Baru” belum cukup banyak disiarkan. Oleh karena itu, kali ini kita terbitkan lagi “Jalan Baru”. Kita akan sangat bergembira jika juga diusahakan penerbitan yang banyak dalam bahasa-bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau, Bugis, dll.
“Jalan Baru” tidak hanya penting untuk anggota dan calon-anggota PKI. Tiap-tiap orang revolusioner dan progresif di Indonesia yang mau bekerja baik untuk kemenangan revolusi tanah airnya diwajibkan menguasai isi “Jalan Baru”. Untuk mengerti PKI dan mengerti Revolusi Indonesia, hingga sekarang hanya “Jalan Baru” satu-satunya yang bisa rnemberi penjelasan; isinya padat dan menggambarkan strategi yang jitu dan taktik-taktik yang tepat dalam tingkat perjuangan nasional sekarang. Memang, diakui bahwa ada perkataan-perkataan dan kalimat-kalimat yang rnasih perlu dirubah (misalnya perkataan RIS supaya dibaca RI). Perlunya ada perubahan-perubahan dalam bahasa ini, perubahan mana sama sekali tidak mengubah isinya, adalah tidak mengurangi sedikitpun pentingnya “Jalan Baru”, sebagai pedoman untuk pekerjaan-pekerjaan politik dan organisasi sehari-hari.
“Jalan Baru” adalah dasar dari pikiran Kawan Musso, seorang seniman revolusioner bangsa Indonesia, seorang Kawan yang jujur, ikhlas, tajam dan berani. Musso mempunyai caranya sendiri dalam melawan imperialisme dan melawan musuh-musuh rakyat, yaitu cara yang keras, cara yang tidak kenal ampun atau cara Musso. “Jalan Baru” menggambarkan pada kita apa yang dinamakan cara Musso itu. Secara singkat: “Jalan Baru” adalah perjuangan yang tidak mengenal ampun terhadap oportunisme “Kiri” dan Kanan di dalam dan di luar partai.
Jakarta, 23 Mei 1951. Redaksi “Bintang Merah”
Keterangan Penerbit pada cetakan ke-VI
Sebagaimana diterangkan dalam Kata Pengantar dari Red. “Bintang Merah”, “Jalan Baru” ini telah banyak sekali disiarkan dengan berbagai jalan. Sekalipun demikian, sekarang masih sangat banyak kami terima permintaan akan “Jalan Baru” ini. Karena persediaan dari cetakan ke-V yang diterbitkan oleh “Bintang Merah” telah habis terjual, maka kami lakukan cetakan yang ke-VI ini.
Penerbit
Jakarta, Juli 1952.
Keterangan Penerbit pada cetakan ke-Vll
Cetakan yang ke-VII dari “Jalan Baru” ini sebenarnya sudah hendak dilakukan satu – dua bulan yang lalu karena banyaknya permintaan, sedangkan cetakan yang ke-VI sudah lama habis. Tetapi atas permintaan CC PKI, pencetakan kembali yang ke-Vll ini telah ditunda, karena akan ada kemungkinan perubahan-perubahan.
Demikianlah dalam cetakan ke-VII ini telah diadakan perubahan-perubahan oleh CC PKI atas dasar putusan Sidang Plenonya pada bulan Oktober 1953.
Penerbit
Jakarta, 5 Oktober 1953.
Rapat Polit-Biro CC PKI pada tanggal 13-14 Agustus 1948 di Yogyakarta, setelah mendengar uraian Kawan Musso tentang pekerjaan dan kesalahan Partai dalam dasar-dasar organisasi dan politik serta setelah mengadakan diskusi sedalam-dalamnya memutuskan, mengambil resolusi sebagai berikut :
I
Lapangan organisasi
Untuk dapat memahamkan kesalahan-kesalahan PKI di lapangan organisasi, sebaiknya diuraikan lebih dahulu sedikit riwayat PKI.
Dalam tahun 1935 PKI dibangunkan kembali secara illegal atas inisiatif Kawan Musso. Selanjutnya PKI illegal inilah yang memimpin perjuangan anti-fasis selama pendudukan Jepang. Kesalahan pokok di lapangan organisasi yang dibuat oleh PKI illegal ialah, tidak dimengertinya perubahan-perubahan keadaan politik di dalam negeri sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebenarnya pada saat itulah, PKI harus melepaskan bentuknya yang illegal dan muncul dalam masyarakat Indonesia Merdeka dengan terang-terangan.
Akan tetapi karena pada saat itu dan seterusnya bentuk yang illegal ini masih dipegang teguh, maka dengan demikian PKI telah mendorong orang-orang yang menghendaki adanya PKI, untuk mendirikan PKI legal, dan telah memberi kesempatan kepada anasir-anasir avonturir yang berhaluan Trotskis untuk mendirikan PBI. Dengan berdirinya PKI legal dan PBI ini, maka timbullah keharusan bagi PKI illegal untuk merebut selekas-lekasnya pimpinan atas partai-partai ini, supaya perjuangan klas buruh jangan sampai menyimpang dari rel revolusioner. Dengan sendirinya keharusan ini mengakibatkan terbagi-baginya kader illegal kita, yang sudah tentu melemahkan organisasi.
Oleh sebagian kawan-kawan dari PKI illegal, didirikan Partai Sosialis Indonesia, yang, kemudian membuat kesalahan besar karena mengadakan fusi dengan Partai Rakyat Sosialis dari Sutan Syahrir dan menjelma menjadi Partai Sosialis. Dengan adanya fusi ini, maka terbukalah jalan bagi Sutan Syahrir dan kawan-kawannya untuk memperkuda Partai Sosialis. Kejadian ini dimungkinkan oleh kurang sadar dan kurang waspadanya kawan-kawan dari PKI illegal yang turut mengemudikan Partai Sosialis.
Kemudian tidak sedikit jumlah kader-kader illegal kita yang diperlukan baik di dalam Pemerintahan maupun di dalarn Badan Pekerja KNIP. Sehingga dengan sendirinya tidak mungkin lagi bagi kawan-kawan ini mencurahkan segenap tenaganya kepada pekerjaan dalam ketiga Partai tersebut diatas (PKI legal, PBI, Partai Sosialis). Hal ini lebih melemahkan organisasi.
Berhubung dengan semua ini, maka kedudukan dan rol Partai Komunis Indonesia sebagai partai klas buruh dan pelopor revolusi telah diperkecil. PKI ditempatkan pada tempat yang tidak semestinya, sehingga sebagai partai dan organisasi sama sekali tidak mewujudkan kekuatan yang berarti. Dengan demikian sangat berkuranglah tradisi baik dan popularitas PKI dalam waktu sebelum dan selama perang dunia ke-II. Kesalahan besar dalam lapangan organisasi ini diperbesar lagi, karena kaum Komunis sangat mengecilkan kekuatan klas buruh dan rakyat seluruhnya dan karena kaum Komunis terpengaruh oleh propaganda dan ancaman Amerika. Oleh sebab itu telah menjadi takut dan kurang percaya kepada kekuatan tenaga anti-imperialis yang dipelopori oleh Uni Soviet. Dengan demikian PKI membesar-besarkan kekuatan imperialisme umumnya dan imperialisme Amerika khususnya. Dengan demikian pula PKI memberikan terlampau banyak konsesi kepada imperialisme dan klas borjuis.
Adanya tiga partai klas buruh sampai sekarang (PKI legal, PBI dan Partai Sosialis), yang semuanya dipimpin oleh Partai Komunis illegal, mengakui dasar-dasar Marxisme-Leninisme dan sekarang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat serta menjalankan aksi bersama berdasarkan program bersama, telah mengakibatkan ruwetnya gerakan buruh seumumnya. Hal ini sangat menghalangi kemajuan dan perkembangan kekuatan organisasi klas buruh, juga sangat menghalangi meluas dan mendalamnya ideologi Marxisme-Leninisme yang konsekwen. Dengan demikian telah memberi banyak kesempatan kepada musuh klas buruh untuk menghalangi kemajuan gerakan Komunis dengan jalan mendirikan bermacam-macam partai kiri yang palsu dan yang memakai semboyansemboyan yang semestinya menjadi semboyan PKI (diantaranya : “Perundingan atas dasar Kemerdekaan 100%”).
Oleh karena sikap yang anti-Leninis dalam hal politik organisasi ini, maka di lapangan serikat buruh pun kaum Komunis dengan demikian telah sangat menghalangi tumbuhnya keinsafan politik kaum buruh seumumnya sebagai pemimpin Revolusi Nasional. Kaum Komunis yang memimpin gerakan buruh (serikat buruh) lupa, bahwa menurut Lenin serikat buruh itu adalah sekolahan untuk Komunisme. Melalaikan propaganda Komunisme di kalangan kaum buruh, berarti dengan langsung menghalangi bertambah sadarnya kaum buruh sebagai pemimpin Revolusi Nasional yang anti-imperialisme dan anti-feodalisme. Berarti melupakan arti gerakan kaum buruh sebagai sumber yang terpenting bagi PKI untuk mendapat kader-kadernya.
Pengaruh daripada kesalahan dalam lapangan organisasi yang telah dilakukan oleh kaum Komunis dengan jelas dan terang nampak juga di kalangan perjuangan tani, dimana pengaruh PKI juga sangat lemah. Padahal kaum tani amat besar artinya sebagai sekutu kaum buruh dalam Revolusi Nasional. Dengan tidak adanya bantuan yang aktif dari kaum tani, Revolusi Nasional tentu akan kalah.
Dari sudut organisasi kaum Komunis mempunyai pengaruh yang tidak kecil di kalangan pemuda, terutama dalam Pesindo. Akan tetapi karena gerakan ini tidak langsung terkenal sebagai massa organisasi PKI, sedangkan PKI sebagai Partai tidak terang-terangan memeloporinya, maka ideologi Komunisme di kalangan pemuda terbukti kurang terang dan ruwet, sehingga pendirian pemuda ragu-ragu. Akibat yang langsung dari politik organisasi semacam ini ialah, terhalangnya kemajuan perkembangan propaganda Komunisme di kalangan pemuda.
Pun di kalangan wanita, kaum Komunis tidak mempunyai pengaruh yang agak penting. Terang bahwa kaum Komunis mengecilkan rol kaum wanita dalam Revolusi sekarang.
Di kalangan prajurit, kaum Komunis mempunyai pengaruh yang agak penting juga. Akan tetapi karena adanya tiga Partai kaum buruh, maka kaum proletar dan kaum tani yang bersenjata ini dalam prakteknj\ya tidak bersikap terang terhadap PKI dan dengan demikian simpati golongan prajurit pada Komunisme tidak dapat diperluas.
Di lapangan organisasi, PKI tidak mempunyai akar yang kuat dan dalam di kalangan prajurit.
Semua keruwetan dalam lapangan organisasi juga menyebabkan tidak kuatnya PKI dalam gerakan sosial dan kebudayaan seperti sport, kesenian, dll, baik dalam lapangan organisasi maupun dalam lapangan ideologi.
Berhubung dengan kesalahan-kesalahan yang mengenai azas dalam lapangan organisasi seperti tersebut diatas dan menarik pelajaran dengan sebaik-baiknya dari kejadian di Yugoslavia, maka rapat Polit-Biro PKI memutuskan untuk mengadakan perubahan yang radikal, yang bertujuan supaya :
1. Selekas-lekasnya mengembalikan kedudukan PKI sebagai pelopor klas buruh.
2. Selekas-lekasnya mengembalikan tradisi PKI yang baik pada waktu sebelum dan selama perang dunia ke-II.
3. PKI mendapat HEGEMONI (kekuasaan yang terbesar) dalam pimpinan Revolusi Nasional ini.
Dalam pekerjaan yang maha sukar ini, Polit-Biro yakin, bahwa PKI akan dapat melakukan perubahan radikal tersebut di atas dengan cepat. Waktu akhir-akhir ini, kalangan kaum Komunis sendiri, oleh karena pekerjaan sehari-hari di kalangan rakyat lebih diperhatikan dan bertambah terasanya keruwetan dan kekacauan, telah mulai mencari jalan untuk keluar dari jurang reformisme dengan mengadakan kritik dan self-kritik, terutama di dalam rapat pleno CC PKI tanggal 10-11 Juni 1948 dan dalam rapat Polit-Biro tanggal 2 Juli 1948. Akan tetapi oleh karena kritik dan self-kritik ini belum benar-benar merdeka dan bersifat bolshevik, maka rapat tersebut belum dapat mengetahui kesalahan-kesalahan yang benar-benar mengenai strategi dalam lapangan organisasi maupun politik. Akan tetapi selama pertukaran pikiran dengan Kawan Musso dalam rapat Polit-Biro kritik dan self-kritik dijalankan dengan leluasa. Semua anggota Polit-Biro seiya-sekata mengakui kesalahan-kesalahannya dengan terus terang dan sanggup akan memperbaiki selekas-lekasnya.
Jalan satu-satunya untuk melikwidasi kesalahan pokok itu dengan cara radikal ialah mengadakan hanya SATU Partai yang LEGAL daripada klas buruh. Ini berarti dihapuskannya pimpinan PKI yang illegal. Seperti tersebut diatas, PKI yang dibangunkan kembali oleh Kawan Musso secara illegal pada tahun 1935 itu melanjutkan perjuangannya pada waktu penjajahan Jepang sampai zaman Republik, dan hingga waktu ini masih memimpin gerakan anti-imperialis.
PKI illegal ini hingga sekarang dijadikan sasaran oleh kaum Trotskis yang langsung atau tidak langsung tergabung dalam Pari, dengan maksud untuk mengacaukan gerakan Rakyat dengan mengatakan, bahwa PKI itu adalah PKI yang diperkuda oleh Belanda atau “PKI Van der Plas”, artinya PKI yang didirikan untuk kepentingan Belanda. Tuduhan ini lebih-lebih lagi menunjukkan kecurangan golongan Trotskis untuk membusukkan PKI illegal, yang benar dibangunkan kembali oleh Kawan Musso dengan kawan-kawan yang lain, diantaranya kawan-kawan almarhum Pamuji, Sukajat, Abdul Aziz, Abdul Rakhim dan kawan-kawan jokosujono, Akhmad Sumadi, Ruskak, Marsaid, kemudian diteruskan oleh kawan-kawan Amir Sjarifuddin, Wikana, Sudisman, Sarjono, Subijanto almarhum, Sutrisno, Aidit, dll.
Semua kesalahan-kesalahan di lapangan politik organisasi yang tersebut di atas, pada pokoknya ialah mengecilkan rol Partai Komunis Indonesia sebagai satu-satunya kekuatan yang seharusnjya memegang pimpinan daripada klas buruh dalam menjalankan revolusi. Berdasarkan itu, maka rapat Polit-Biro PKI telah memutuskan, bahwa seterusnya harus hanjya ada satu Partai yang berdasarkan Marxisme-Leninisme dalam kalangan kaum Buruh. Polit-Biro PKI memutuskan mengajukan usul, supaya di antara tiga Partai yang mengakui dasar-dasar Marxisme-Leninisme yang sekarang telah tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat serta telah menjalankan aksi bersama, berdasarkan program bersama, selekas-lekasnya diadakan fusi (peleburan), sehingga menjadi SATU Partai klas buruh dengan memakai nama yang bersejarah, yaitu Partai Komunis Indonesia, disingkat PKI. Hanya Partai sedemikian itulah yang akan dapat memegang rol sebagai pelopor dalam gerakan kemerdekaan sekarang ini.
Revolusi kita adalah Revolusi Nasional atau Revolusi Demokrasi Borjuis dalam zaman imperialisme dan Revolusi Proletar dunia. Menurut kodratnya dan dipandang dari sudut sejarah maka hanya klas buruhlah, sebagai klas yang paling revolusioner dan konsekwen anti-imperialisme, yang semestinya memimpin revolusi ini, dan bukan klas lain.
Adapun cara mewujudkan fusi ini dengan selekas-lekasnya hendaknya sebagai berikut:
1. Membersihkan PKI dari anasir-anasir yang tidak baik.
2. Membentuk Komite Fusi yang berkewajiban:
a. Mendaftar anggota-anggota PBI dan Partai Sosialis yang dapat diusulkan dengan segera menjadi anggota PKI.
b. Menyiapkan masuknya anggota-anggota lainnya yang masih kurang maju dengan memberi kepada mereka, kewajiban untuk mempelajari buku-buku Marxisme-Leninisme, kursus-kursus, pekerjaan yang tertentu, dsb.
3. Setelah semua ini selesai, lalu mengadakan Kongres Fusi daripada ketiga Partai, dimana ketiga Partai dilebur menjadi satu dengan memakai nama Partai Komunis Indonesia dan dipilih Central Comite yang baru secara demokratis.
Dengan adanya hanya satu partai klas buruh yaitu PKI, maka pekerjaan akan menjadi lebih sederhana dan rasional.
Adanya satu PKI yang legal, memudahkan dan menegaskan pekerjaan tiap-tiap Komunis dalam serikat buruh, dalam perjuangan tani, pemuda, wanita, dalam gerakan sosial, dll.
Oleh karena PKI adalah partai klas yang miskin dan yang tertindas, seharusnya susunan pimpinan dan susunan partai seluruhnya sebagian besar terdiri dari elemen-elemen proletar sedangkan kaum intelektual seharusnya menjadi pembantu yang tidak dapat diabaikan dalam semua hal terutama dalam pekerjaan pembentukan kader-kader dan dalam mempertinggi tingkatan teori anggota PKI. Kesalahan-kesalahan pokok hingga sekarang, disebabkan pula oleh karena kurangnya elemen-elemen proletar dalam pimpinan Partai.
Rapat Polit-Biro memperkuat putusan CC PKI untuk membentuk suatu organisasi-massa baru, ialah : “Lembaga Persahabatan Indonesia-Uni Soviet “. Ini perlu sekali, oleh karena di Indonesia terdapat sangat banyak orang yang bersimpati kepada Uni Soviet dan yang masih segan memasuki PKI. Perlu sekali adanya lembaga itu, supaya rakyat jelata mengetahui lebih banyak tentang Uni Soviet, supaya rakyat jelata mempunyai kepercayaan lebih besar kepada gerakan demokrasi rakyat yang dipimpin oleh Uni Soviet. Kekuatan Uni Soviet dan kekuatan-kekuatan anti-imperialis lainnya di seluruh dunia sebenarnya adalah jauh lebih besar daripada kekuatan blok imperialisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat, yang juga berniat menjajah kembali tanah air kita.
II
Lapangan politik
Politik luar negeri
Dalam lapangan politik luar negeri, rapat Polit-Biro berpendapat, bahwa kesalahan-kesalahan besar yang telah dibuat oleh kaum Komunis Indonesia selama tiga tahun ini tidak bersifat kebetulan, melainkan mempunyai akar yang berasal semenjak meletusnya perang dunia II dan pendudukan tanah air kita oleh Jepang dan yang selanjutnya dipengaruhi oleh pendirian yang salah dari partai-partai sekawan, yaitu Partai-partai Komunis Eropa Barat (Perancis, Inggris dan Belanda).
Pendirian politik yang salah dari Partai-Partai Komunis di Eropa Barat ini pada umumnya, ialah karena tidak dimengertinya perubahan-perubahan yang besar di lapangan politik internasional dan perubahan-perubahan keadaan di negerinya masing-masing sesudah perang dunia II berakhir dengan hancurnya negeri-negeri fasis Jerman, Italia dan Jepang. Semenjak perang dunia II meletus, maka gerakan kaum buruh revolusioner di negeri-negeri kapitalis, untuk sementara waktu, harus melakukan politik bekerja sama dengan semua tenaga anti-fasis di negerinya masing-masing termasuk pemerintah Amerika, Inggris, Perancis, Belanda, dsb. Pun juga gerakan revolusioner dari rakyat di negeri-negeri jajahan, untuk sementara harus melakukan politik semacam itu.
Setelah Uni Soviet terlibat dalam perang dunia II karena serangan fasis Jerman, maka bagi Uni Soviet juga timbul keharusan untuk erat bekerja bersama dengan negara-negara besar yang bersekutu melawan negeri-negeri fasis.
Semuanya bermaksud memperhebat perlawanan terhadap penyerang-penyerang fasis, musuh yang paling berbahaya pada waktu itu, bukan saja bagi negeri-negeri kapitalis dan imperialis, tetapi juga bagi Soviet Uni, bagi gerakan buruh revolusioner di negeri-negeri kapitalis dan imperialis dan bagi gerakan revolusioner dari rakyat di negeri jajahan. Setelah perang dunia II berakhir dengan hancurnya ketiga negeri fasis tadi, maka bagi Partai-Partai Komunis di negeri-negeri kapitalis dan imperialis dan bagi perjuangan revolusioner di negeri-negeri jajahan sudah tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan kerjasama dengan pemerintahnya masing-masing. Apalagi sesudah ternyata, bahwa kaum borjuis sudah mulai menggunakan cara-cara untuk menindas gerakan kemerdekaan di negeri jajahannya.
Kesalahan dari Partai-Partai Komunis Perancis dan Inggris dan juga Partai Komunis Belanda yang terpengaruh oleh Partai Komunis Perancis, ialah karena tidak dimengertinya perubahan besar yang telah berlaku dalam lapangan politik internasional sesudah perang dunia, terutama yang mengenai perjuangan kemerdekaan dari rakyat di negeri-negeri jajahan.
Pada saat perang dunia II berakhir dengan hancurnya negeri-negeri fasis, maka perjuangan kemerdekaan di negeri-negeri jajahan harus dikobar-kobarkan lagi dengan sehebat-hebatnya dan Partai-Partai Komunis di negeri-negeri penjajah harus menyokong sekuat-kuatnya. Kerjasama dalam perjuangan kemerdekaan Rakyat yang dijajah dengan negeri-negeri imperialis sudah tidak lagi pada tempatnya!
Akan tetapi, karena tidak paham tentang perubahan keadaan politik ini, maka CPN (Partai Komunis Belanda) beranggapan, bahwa perjuangan Rakyat Indonesia tidak boleh keluar dari batas dominion status dan oleh karenanya semboyan yang paling baik untuk Indonesia menurut pendirian mereka ialah: “Uni-verband”, atau dengan perkataan lain : tetap tinggal dalam lingkungan “Commonwealth” Belanda. Jadi Rakyat Indonesia harus terus-menerus “kerjasama” dengan imperialisme Belanda. Demikian pula pendirian Partai Komunis Perancis terhadap perjuangan kemerdekaan Vietnam.
Hal yang tidak boleh dilupakan ialah, bahwa di Indonesia selama pendudukan Jepang sudah ada komunis-komunis palsu dan komunis-komunis renegat (pengkhianat), yang suka menjalankan kerjasama di lapangan politik dengan fasis Jepang.
Politik yang reformis dari Partai-Partai Komunis di negeri-negeri Eropa Barat, disebabkan karena tidak fahamnya akan perubahan-perubahan keadaan internasional yang penting sesudah perang dunia II berakhir. Oleh kawan-kawan bekas anggota CPN yang tiba di Indonesia, dengan otomatis dengan tidak dipikirkan dalam-dalam, juga dengan tidak dicocokkan dengan keadaan objektif (proklamasi kemerdekaan tanggal 17-8 tahun 1945), politik reformis ini telah dipraktekkan, sehingga akibatnya sangat membahayakan kemajuan Revolusi Nasional kita.
Perlu ditegaskan, bahwa politik reformis yang berasal dari luar negeri ini justru memberi kesempatan berkembangnya aliran reformis yang menguasai politik luar negeri Republik dan yang dipimpin oleh kaum sosialis kanan (Sutan Syahrir). Politik reformis ini dapat dinyatakan dengan dua hal :
1.    Mencari keuntungan dan bantuan dengan kerjasama, bukan dengan golongan anti-imperialis melainkan dengan golongan imperialis. Yaitu dengan menggunakan pertentangan-pertentangan di antara imperialisme Inggris dan Amerika dan di antara imperialisme Inggris dan imperialisme Belanda. Pada permulaannya imperialisme Inggrislah yang diajaknya bermain-mata. Dasar daripada politik reformis ini diletakkan dalam Manifes Politik Pemerintah Republik November 1945.
2.    Menghadapi imperialisme Belanda tidak dengan perjuangan yang konsekwen revolusioner dan anti-imperialis, melainkan dengan politik reaksioner atau politik kompromis yang bersemboyan: “bukan kemenangan militer yang dimaksudkan, melainkan kemenangan politik”. Jadi bukannya perjuangan dengan senjata yang diutamakan, melainkan perjuangan politik, sedangkan, imperialisme Belanda terus-menerus berusaha memperkuat tenaga militernya.
Kaum Komunis yang membiarkan berkembangnya dan merajalelanya politik reaksioner ini, malahan turut serta menyokongnya, telah membuat dua macam kesalahan :
a.    Lupa akan pelajaran teori revolusioner kita, bahwa Revolusi Nasional anti-imperialis di zaman sekarang ini sudah menjadi bagian daripada Revolusi Proletar dunia. Kesimpulan daripada pelajaran ini ialah, bahwa Revolusi Nasional di Indonesia harus berhubungan erat dengan tenaga-tenaga anti-imperialis lainnya di dunia, yaitu perjuangan revolusioner di seluruh dunia, baik di negeri-negeri jajahan atau negeri setengah jajahan, maupun di negeri-negeri kapitalis-imperialis. Sebab semua ini adalah sekutu daripada Revolusi Nasional kita. Negeri Uni Soviet sebagai tenaga anti-imperialis yang terbesar dan terkuat harus dipandang sebagai pangkalan, sebagai benteng yang terkuat, atau sebagai pemimpin dan pelopor daripada semua perjuangan anti-imperialis di seluruh dunia. Sebab hanya ada dua golongan di dunia yang berhadapan dan berlawanan satu sama lainnya, yaitu golongan imperialis dan golongan anti-imperialis. Bagi Revolusi Nasional Indonesia, tidak ada tempat lain selainnya di pihak golongan anti-imperialis! Hanya dari pihak golongan anti-imperialis sebagai sekutu yang sejati, Revolusi Nasional Indonesia dapat memperoleh keuntungan dan bantuan yang diperlukan, dan bukan dari pihak golongan imperialis.
b.    Kesalahan yang kedua ialah, bahwa tidak cukup dimengerti perimbangan kekuatan antara Uni Soviet dan imperialisme Inggris-USA, setelah Uni Soviet berhasil dengan sangat cepatnya menduduki seluruh Tung Pai (Mancuria). Pada waktu itu sudah ternyata kedudukan Uni Soviet yang sangat kuat di benua Asia, yang mengikat banyak tenaga militer daripada imperialisme USA, Inggris dan Australia dan dengan demikian memberi kesempatan baik bagi Rakyat Indonesia untuk memulai revolusinya. Pada saat itu kaum Komunis Indonesia sudah membesar-besarkan kekuatan Belanda dan imperialisme lainnya dan mengecilkan kekuatan Revolusi Indonesia serta golongan anti-imperialis lainnya.
Konsekwensi yang sudah semestinya dari politik kaum sosialis kanan (Sutan Syahrir) yang reaksioner itu, ialah penanda-tanganan truce agreement 1946 dan selanjutnya penanda-tanganan persetujuan Linggajati yang memungkinkan imperialisme Belanda menyiapkan perang kolonial, yang meletus pada tanggal 21 Juli 1947.
Akibat kesalahan pokok dalam lapangan politik tidak habis disitu saja; konsekwensi yang lebih mencelakakan lagi ialah tidak lain daripada penanda-tanganan persetujuan Renville. Persetujuan Renville ini adalah puncak akibat kesalahan-kesalahan yang reaksioner, yang telah membawa Republik pada tepi jurang kolonialisme. Tanggung jawab yang berat ini terletak di pundak kaum Komunis.
Kesalahan selanjutnya yang besar pula ialah bahwa kabinet Amir Syarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan dengan tidak ada perlawanan sama sekali. Kaum Komunis pada waktu itu tidak ingat akan pelajaran Lenin: “Soal pokok daripada tiap revolusi adalah soal kekuasaan negara”. Dengan bubarnya kabinet Amir Syarifuddin terbukalah jalan bagi elemen-elemen borjuis komprador untuk memegang pimpinan pemerintahan dan dengan demikian juga pimpinan Revolusi Nasional kita, sedangkan kaum Komunis mengisolasi dirinya dalam oposisi. Dapat dikatakan, bahwa saat itulah Revolusi Nasional kita benar-benar berada dalam bahaya, yang makin lama makin menjadi besar. Sejak saat itulah Revolusi Nasional kita makin lama makin jelas merosot ke dalam jurang kapitulasi (penyerahan) kepada imperialisme Belanda cs, akibat politik kompromis yang sangat reaksioner daripada elemen-elemen borjuis Indonesia yang memegang pimpinan pemerintahan.
Politik kompromis yang reaksioner ini makin menguntungkan imperialisme Belanda dan makin membesarkan bahaya bagi Republik kita.
Sesudah kaum Komunis tidak lagi duduk di dalam pemerintahan dan setelah mereka, mulai giat bekerja di kalangan Rakyat jelata, maka mereka mulai sedar akan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangannya, di antara lain kelemahan-kelemahan organisasi Partai serta organisasi massa, terutama di kalangan kaum buruh dan tani. Mereka mulai insaf, bahwa terutama harus diusahakan penyelesaian soal agraria dengan selekas-lekasnya, yang dahulunya sangat kurang mendapat perhatian mereka, padahal masaalah tani adalah masalah yang penting bagi Revolusi Nasional Indonesia.
Juga mulai diinsafi, bahwa dengan tidak adanya sokongan, terutama dari Rakyat pekerja (buruh, tani-pekerja dan pekerja lainnja) yang berorganisasi rapi, tidaklah mungkin mewujudkan hegemoni klas buruh dalam Revolusi National kita ini, dan tidak mungkin pula membentuk suatu pemerintahan kerakyatan yang kuat dan stabil (yang berdiri tegak). Oleh karenanya kaum Komunis berdaya-upaya dengan segiat-giatnya mengorganisasi massa rakyat pekerja, agar dalam waktu yang pendek dapat menyusun massa organisasi yang rapi dalam berbagai kalangan Rakyat pekerja, yang berkewajiban menjalankan rol sebagai tulang-punggung Revolusi Nasional kita.
Ternyata bahwa di dalam 6 bulan yang belakangan ini, sejak pimpinan negara dipegang oleh elemen-elemen borjuis komprador, tumbuhnya politik yang reaksioner berjalan dengan cepatnya. Malahan pada beberapa bulan yang belakangan sudah tampak tanda-tanda, bahwa politik pemerintah yang reaksioner itu akan tumbuh ketingkatan kontra-revolusioner.
Hal ini sebagian disebabkan, karena agitasi dan propaganda dari pihak kaum Komunis untuk menyadarkan massa rakyat pekerja tentang kekeliruan-kekeliruan politik pemerintah, disana-sini telah dijalankan dengan cara yang kurang bijaksana, hingga menyinggung perasaan. Akan tetapi sebagian lagi disebabkan, karena tindakan-tindakan yang reaksioner dari pihak pemerintah terhadap hak-hak demokrasi Rakyat pekerja, sedangkan Rakyat pekerja sudah makin sadar akan rol dan kewajibannya serta hak-haknya dalam Revolusi Nasional. Tindakan-tindakan reaksioner yang telah nyata diantaranya ialah :
a.    Penghapusan hak-hak demokrasi yang pokok misalnya hak berdemonstrasi, walaupun buat sementara.
b.    Niat untuk mengekang hak mogok bagi kaum buruh, dengan tidak mengindahkan sama sekali faktor-faktor yang nyata, yaitu yang memaksa kaum buruh menggunakan senjata perjuangannya yang paling tajam itu untuk membela nasibnya dan membela Revolusi Nasional.
c.    Politik dalam lapangan ekonomi yang terang-terangan reaksioner, yang menentang dan memperkosa UUD Republik kita pasal 33 dan yang sangat merugikan penghidupan Rakyat pekerja, serta kedudukan negara dan Revolusi Nasional kita. Ini semua hanya menguntungkan beberapa orang borjuis komprador yang dengan terang-terangan menunjukkan sikap anti-nasional.
d.    Politik di lapangan agraria yang reaksioner dan ancaman terhadap kaum tani yang sudah sadar akan rol dan kewajibannya sebagai tenaga yang penting dalam pelaksanaan Revolusi Nasional dan karenanya telah bergerak menghilangkan segala sisa feodalisme di lapangan agraria.
e.    Perintah untuk mendaftar nama-nama dan mengamat-amati tindakan-tindakan pemimpin-pemimpin Rakyat pekerja.
Teranglah, bahwa tindakan pemerintah yang reaksioner itu, yang bermaksud mempertahankan kedudukannya dan menguntungkan beberapa kelompok kaum borjuis, tidak boleh tidak tentu makin meruncingkan pertentangan antara Rakyat pekerja dan pemerintah. Jadi bukannya kaum buruh yang meruncingkan pertentangan klas, melainkan kaum borjuis sendiri.
Sudah menjadi kewajiban kaum Komunis untuk menyadarkan Rayat pekerja dan kaum progresif terhadap berkembangnya politik reaksioner yang berbahaya dari pemerintah jyang akhirnya pasti akan menjerumuskan Revolusi Nasional kita ke jurang kegagalan dan kemusnahan. Dengan demikian dimaksudkan supaya tenaga massa Rakyat pekerja bersama dengan tenaga progresif lainnya dapat merubah haluan politik pemerintah yang tidak sehat dan berbahaya itu ke arah jurusan yang sehat.
Walaupun kaum Komunis sekarang telah mendapat pengaruh lebih besar daripada di waktu sebelum meninggalkan pemerintah, akan tetapi oleh karena tidak tahu tentang kesalahannya yang pokok dalam lapangan politik, maka sikap sebagian besar daripada Rakyat terhadap Komunisme juga masih belum cukup terang dan tegas.
Berhubung dengan itu, rapat Polit-Biro menetapkan, bahwa PKI dalam susunan yang baru dengan tegas harus membatalkan persetujuan Linggarjati dan Renville, yang dalam prakteknya telah menjadi sumber daripada bermacam-macam keruwetan di antara pemimpin-pemimpin dan Rakyat jelata. Hapusnya persetujuan Linggarjati dan Renville berarti bahwa Republik Indonesia merdeka sepenuhnya dan Rakyat tidak terikat lagi oleh persetujuan-persetujuan yang mengikat dan memperbudak. Dengan demikian Rakyat di daerah pendudukan akan mendapat kemerdekaan luas untuk beraksi terhadap Belanda. Hapusnya persetujuan Linggarjati dan Renville berarti juga, bahwa orang Indonesia boleh menganggap adanya kekuasaan Belanda di Indonesia sebagai pelanggaran kedaulatan Republik yang merdeka, dan oleh karena itu tentara Belanda harus diusir selekas-lekasnya. Hapusnya persetujuan Linggajati dan Renville menghilangkan segala kebimbangan di kalangan beberapa partai lain untuk memperluas dan meneguhkan hubungan Republik dengan negeri-negeri asing. Dengan demikian Republik juga mendapat kesempatan untuk menerobos blokade Belanda yang mengisolasi Republik dari negeri-negeri luar dalam lapangan ekonomi dan politik.
Kaum Komunis menolak persetujuan Linggajati dan Renville, bukannya karena Belanda terbukti tidak setia dan telah menginjak-injak persetujuan itu. Tidak! Sekali-kali tidak! Komunis prinsipil menolak persetujuan Linggajati dan Renville, oleh karena persetujuan-persetujuan itu jikalau dipraktekkan, akan mewujudkan negara yang pada hakekatnya sama saja dengan jajahan, yang berbeda dengan India, Birma, Filipina dan jajahan lain-lain hanyalah kulitnya saja. Sebab itu PKI tetap bersemboyan: “Merdeka sepenuh-penuhnya”.
Penolakan persetujuan Linggajati dan Renville berarti juga self kritik yang keras di kalangan PKI. Dan pengakuan salah ini harus dipopulerkan juga kepada rakyat-banyak.
PKI menolak perundingan dengan Belanda yang tidak didasarkan atas hak yang sama. Komunis prinsipil tidak menolak perundingan, akan tetapi harus didasarkan atas hak-hak yang sungguh-sungguh sama. Dalam perundingan sekali-kali tidak boleh disinggung soal kedaulatan Republik atas seluruh Indonesia.
Dalam perundingan-perundingan ini PKI sanggup memberikan sekedar kondisi di lapangan ekonomi dan kebudayaan kepada orang-orang Belanda yang tidak menentang Revolusi kita, lebih daripada yang sekarang biasa diberikan di negeri-negeri kapitalis.
Dalam politiknya terhadap Uni Soviet PKI menganjurkan sebulat-bulatnya supaya diadakan perhubungan langsung antara Republik Indonesia dengan Soviet Uni dalam segala lapangan. Uni Soviet adalah sekutu yang semestinya dari rakyat Indonesia yang melawan imperialisme oleh karena Soviet Uni memelopori perjuangan melawan blok imperialis yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Cukup jelas bagi kita bahwa Amerika Serikat membantu dan mempergunakan Belanda untuk mencekek Republik kita yang demokratis. PKI harus menerangkan kepada rakyat banyak, bahwa pengakuan Uni Soviet membawa kebaikan semata-mata, sebab Uni Soviet sebagai negara kaum buruh tidak mungkin bersifat lain daripada anti-imperialis. Dengan demikian Uni Soviet tidak mempunyai kepentingan lain terhadap Indonesia kecuali membantu Indonesia dalam perjuangannya yang juga bersifat anti-imperialis.
Dalam perjuangannya melawan irnperialisme, PKI harus menghubungkan diri dengan gerakan-gerakan anti-imperialis di Asia, di Eropa dan di Amerika, terutama sekali dengan rakyat negeri Belanda yang progresif, yang sebagian besar dari mereka dipimpin oleh CPN. Partai ini walaupun sudah membuat kesalahan-kesalahan, adalah satu-satunya Partai klas buruh di negeri Belanda yang sungguh-sungguh membantu gerakan kemerdekaan kita pada waktu sebelum dan sesudah peperangan dunia kedua. CPN adalah juga menjadi sekutu kita yang semestinya, dan perhubungan kita dengan CPN harus lebih dikokohkan lagi. Lain daripada itu PKI harus terus-menerus mendesak CPN supaya benar-benar meninggalkan politik yang bersemboyan: “Unie-verband” yang jahat itu dan menggantinya dengan politik “INDONESIA MERDEKA SEPENUH-PENUHNYA”. Tujuan PKI ialah mendirikan Republik Indonesia berdasarkan Demokrasi rakyat, yang meliputi seluruh daerah Indonesia dan yang bebas dari pengaruh imperialisme serta tentaranya.
Politik Dalam negeri
Soal yang penting ialah, bahwa PKI dengan semua jalan harus menghalangi pemerintah sekarang ini jangan sampai terus-menerus memberi konsesi kepada imperialisme karena ini berarti menyerahkan Republik ke dalam tangan imperialisme.
Lagi pula dalam pekerjaannya sehari-hari PKI harus dengan giat membela kepentingan-kepentingan kaum buruh dan kaum tani.
Selanjutnya PKI harus juga berusaha, selekas-lekasnya melikwidasi segala kelemahan Revolusi kita. Kelemahan itu ialah :
1.    Klas buruh dengan pelopornya, yaitu PKI, belum memegang hegemoni daripada pimpinan Revolusi Nasional kita. Untuk mewujudkan hegemoni ini dengan tegas dan teguh, maka perlu sekali dipenuhi syarat-syarat yang penting, yaitu adanya organisasi Partai yang rapi dan kuat yang meliputi tiap-tiap pabrik, perusahaan, bengkel, kantor, kampung dan desa, dengan anggota dan kader-kader bagian yang sebagian besar terdiri dari kaum, buruh dan tani-pekerja. Selanjutnya juga adanya organisasi-organisasi massa yang kuat yang meliputi sebagian besar daripada rakyat pekerja dari berbagai golongan, terutama dari kalangan kaum buruh dan tani, sedangkan pimpinannya harus di tangan Partai.
2.    Pimpinan Revolusi Nasional kita, walaupun hegemoninya harus ada di tangan klas buruh, harus diwujudkan oleh PKI bersama-sama dengan partai-partai atau elemen-elemen lain yang progresif berdasarkan sebuah program nasional yang revolusioner, yang disetujui oleh bagian terbesar daripada rakyat kita. Dengan demikian dapat terbentuk suatu pimpinan revolusi yang seiya-sekata dan yang erat bekerja bersama dengan dan disokong oleh seluruh rakyat atau setidak-tidaknya oleh sebagian terbesar daripadanya. Hingga sekarang hal ini belum tercapai.
3.    Hingga sekarang Revolusi Nasional kita belum melandasi alat-alat kekuasaan negara yang lama, yang jiwa, susunan ataupun cara bekerjanya masih sangat berbau penjajahan. Dalam hal ini PKI tidak boleh melupakan pelajaran Marx yang mengatakan, bahwa kewajiban tiap revolusi ialah menghancurkan alat kekuasaan negara yang lama dan menyusun alat kekuasaan negara yang baru. Dengan demikian dapatlah dicegah usaha musuh untuk merebut kembali kekuasaan negara. Revolusi kita dengan melalaikan kewajiban ini telah membahayakan nasibnya sendiri. Oleh karena itu menjadi kewajiban yang penting bagi PKI dan semua tenaga progresif untuk selekas-lekasnya memperbaiki kesalahan yang besar ini. Alat-alat kekuasaan negara yang dengan segera harus dirubah dan disusun kembali ialah :
a. Pemerintahan dalam negeri
Hingga sekarang alat ini boleh dibilang masih hampir sama sekali alat lama yang bersifat feodal-kolonial, baik dalam susunan maupun dalam cara bekerjanya. Pun orang-orangnya sebagian besar adalah orang-orang lama. Harus segera diusahakan agar supaya susunan pemerintahan desa sampai kabupaten dirubah sama sekali secara radikal, berdasarkan pemerintahan kolegial (kedewanan) yang dipilih langsung oleh rakyat. Yang penting terutama ialah pemerintahan desa, agar rakyat tani segera dapat dibebaskan dari belenggu-belenggu feodalisme yang hingga sekarang masih mengikatnya. Perubahan ini harus dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Dengan sendirinya anasir-anasir yang reaksioner dan kontra-revolusioner harus segera disingkirkan dari kalangan pemerintahan dalam negeri.
b. Kepolisian negara
Baik anggota-anggota maupun kader-kadernya harus diberi pendidikan yang sesuai dengan arti dan isi Revolusi Nasional kita dan kewajiban kepolisian negara sekarang, ialah membela kepentingan Revolusi Nasional, yang berarti juga membela kepentingan rakyat pekerja khususnya. jadi kewajiban mereka sekarang adalah bertentangan sama sekali dengan kewajiban mereka dahulu di zaman penjajahan. Terang, bahwa bagi anasir-anasir yang reaksioner atau kontra-revolusioner tidak ada tempat lagi di dalam kepolisian negara. Kepolisian harus dipimpin oleh kader-kader yang progresif.
c. Pengadilan negeri
Cara bekerjanya pengadilan negeri. harus tidak lagi secara lama, yang hingga sekarang masih berlaku, melainkan harus dirubah dan didasarkan atas kepentingan Revolusi Nasional kita. Terutama yang mengenai perkara-perkara politik. Anasir-anasir yang reaksioner dan kontra-revolusioner harus segera disingkirkan dari aparat ini.
d. Ketentaraan
‘I’entara sebagai alat kekuasaan negara yang terpenting harus istimewa mendapat perhatian. Kader-kader dan anggota-anggotanya harus diberi pendidikan istimewa yang sesuai dengan kewajiban tentara sebagai aparat terpenting untuk membela Revolusi Nasional kita, yang berarti pula membela kepentingan rakyat pekerja. Tentara harus bersatu dengan dan disukai oleh rakyat. Tentara harus dipimpin oleh kader-kader yang progresif. Dengan sendirinya dan terutama di kalangan kader-kadernya harus dibersihkan dari anasir-anasir yang reaksioner dan kontra-revolusioner.
e. Alat-alat negara lainnya yang penting-penting seperti jawatan-jawatan yang mengurus keuangan negara, alat-alat produksi dan distribusi, pada umumnya harus dibersihkan dari anasir-anasir yang reaksioner dan kontra-revolusioner, terutama dalam pimpinannya, agar supaya kepentingan negara dan rakyat dapat terjamin.
4.    Kelalaian memberikan jaminan kepada anggota-anggota ketentaraan dan kepolisian negara khususnya, dan kepada rakyat pekerja umumnya (buruh dan pegawai negeri), hingga menyebabkan terlantarnya nasib mereka ini.
PKI harus memperjuangkan selekas-lekasnya tercapainya jaminan sekurang-kurangnya keperluan hidup sehari-hari bagi rakyat pekerja tersebut diatas.
Selain itu harus diperjuangkan pula segera terlaksananya :
a.    bagi kaum buruh : hak-hak demokrasi di segala lapangan, oleh karena mereka sebagai pelopor revolusi harus terutama di beri keuntungan banyak.
b.    bagi kaum tani : hapusnya sisa-sisa peraturan zaman feodal dan peraturan-peraturan imperialis di lapangan pertanian, yang bagi rakyat tani merupakan rintangan hebat untuk mendapat perbaikan nasib. Adapun politik PKI untuk kaum tani di seluruh Indonesia ialah : “Tanah untuk kaum tani”. Jadi tiap orang tani harus diberi tanah, supaya ia merasakan benar-benar buah revolusi. Akan tetapi kaum Komunis harus ingat, bahwa sekarang dan dalam beberapa tahun yang akan datang belum mungkin melaksanakan semboyan ini, berhubung dengan kurangnya luas tanah di Jawa dan Madura, sedangkan jumlah kaum tani terlampau besar. Oleh karena itu buat sementara waktu, rakyat tani dapat diberi pertolongan yang lebih baik tidak dengan membagi-bagikan kepada mereka tanah-tanah yang dapat dibagikan kepadanya sebagai hasil penghapusan sisa-sisa peraturan feodal di lapangan agraria. Tetapi tanah ini diserahkan kepada desa dan desalah yang mengatur penggarapannya oleh buruh-tani dengan cara yang menguntungkan mereka.
c.    Bagi pekerja intelektual : penghargaan yang layak oleh pemerintah, sebab banyak pekerja intelektual yang merasa diri dan pekerjaannya sama sekali tidak dihargai oleh pemerintah.
1.    Kelalaian dalam memperluas alat-alat produksi yang lama dan membangun alat-alat produksi yang baru yang dikuasai negara serta mengerjakannya dengan se-hebat-hebatnya untuk mempertinggi kemakmuran rakyat.
2.    Kelalaian dalam mengadakan aparat distribusi negara yang baik yang dapat memenuhi kewajibannya dengan beres.
3.    Kelalaian di lapangan keuangan negara yang ternyata dengan memuncaknya kesukaran-kesukaran tentang hal uang, yang betul-betul dirasai oleh seluruh masyarakat, terutama di kalangan rakyat pekerja.
4.    Kelalaian dalam membangun koperasi-koperasi rakyat, tentang koperasi di lapangan kerajinan tangan dan perusahaan kecil, di lapangan kredit dan distribusi yang dapat bekerja bersama dengan pemerintah, baik dalam usaha pengumpulan bahan-bahan makanan, maupun dalam usaha distribusi barang-barang dari pemerintah.
5.    Kelalaian di lapangan sosial, yaitu terutama yang mengenai pemberian pertolongan kepada tentara yang berhijrah, pengungsi, juga yang mengenai perumahan yang layak bagi kaum buruh, perawatan kesehatan dan pemberian obat kepada rakyat.
6.    Tidak adanya perhatian sama sekali dari pihak pemerintah kepada masalah golongan minoritas, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang yang memiliki perusahaan-perusahaan kecil dan dari orang-orang intelektual.
Harus diperjuangkan oleh PKI supaya segala kelemahan ini dengan selekas-lekasnya dapat diatasi. Yang mengenai hal produksi dilapangan industri harus dianjurkan kepada kaum buruh, bahwa produksi harus diperbesar sebanyak-banyaknya dengan syarat, bahwa produksi dan distribusi serta perdagangan barang-barang milik negara harus diawasi oleh serikat buruh.
Dengan pendek dapat dikatakan, bahwa dalam pekerjaan sehari-hari PKI harus membela dengan giat kepentingan-kepentingan rakyat pekerja umumnya. Kepada pemerintah harus dituntut dengan tegas oleh PKI, supaya sebab-sebab yang dapat menimbulkan pemogokan segera dihilangkan.
Dalam menetapkan kewajiban tersebut diatas, ditambah dengan kewajiban melawan imperialisme yang mana saja dengan cara yang sehebat-hebatnya, maka kaum Komunis sekali-kali tidak boleh melupakan bahwa kewajiban PKI pada saat ini dalam tingkatan revolusi sekarang ini ialah tidak melebihi daripada penyelesaian REVOLUSI NASIONAL atau REVOLUSI DEMOKRASI BORJUIS TYPE BARU, sebagai tingkatan persediaan untuk revolusi yang lebih tinggi yaitu Revolusi Sosialis atau Revolusi Proletar.
Pendorong Revolusi Nasional sekarang ini ialah rakyat progresif dan anti-imperialis seluruhnya terutama sekali klas buruh sebagai pemimpinnya dan kaum tani sebagai sekutu klas buruh yang terpenting. Jikalau di antara rakyat progresif itu tidak ada persatuan, maka revolusi tidak akan menang! Sebaliknya, hanya persatuan yang kuat di antara seluruh rakyat yang anti-imperialis itu akan membawa Revolusi kita kepada kemenangan.
Wujud satu-satunya daripada persatuan itu, ialah Front Nasional yang disusun dari bawah yang disokong oleh semua Partai dan golongan serta orang-orang yang progresif.
III
Front Nasional
Setelah meninjau riwayat gerakan kemerdekaan semenjak permulaan pendudukan negeri kita oleh jepang hingga kini, maka Polit-Biro menetapkan dengan menyesal bahwa kaum Komunis telah lalai mengadakan Front Nasional sebagai senjata Revolusi Nasional terhadap imperialisme. Walaupun kemudian mereka mulai sadar akan kepentingan Front Nasional itu, akan tetapi kaum Komunis belum paham sungguh-sungguh tentang hakekat Front Persatuan Nasional dan tentang cara membentuknya. Beberapa macam bentuk Front Nasional selama tiga tahun ini telah didirikan, akan tetapi selalu tinggal di atas kertas belaka, bahwa hanya berupa konvensi di antara organisasi-organisasi atau di antara pemimpin-pemimpin saja, sehingga jikalau ada sedikit perselisihan di antara pemimpin-pemimpin Front Nasional itu lalu menyebabkan bubarnya. PKI berkeyakinan, bahwa pada saat ini Partai klas buruh tidak dapat menyelesaikan sendiri revolusi demokrasi burjuis ini dan oleh karena itu PKI harus bekerja bersama dengan partai-partai lain. Kaum Komunis sudah semestinya berusaha mengadakan persatuan dengan anggota-anggota partai dan organisasi-organisasi lain. Satu-satunya persatuan semacam itu ialah FRONT NASIONAL. Dalam menyusun ini PKI harus mengambil inisiatif dan dalam Front Nasional itu PKI harus juga memainkan rol yang memimpin. Ini sekali-kali tidak berarti, bahwa kaum Komunis memaksa partai lain atau orang lain supaya mengikutinya, melainkan PKI harus meyakinkan dengan secara sabar kepada orang-orang yang tulus hati, bahwa satu-satunya jalan untuk mendapat kemenangan ialah membentuk Front Nasional yang disokong oleh semua rakyat yang progresif dan anti-imperialis. Tiap-tiap Komunis harus yakin benar-benar, bahwa dengan tidak adanya Front Nasional kemenangan tidak akan datang.
Oleh karena pada dewasa ini telah ada program nasional yang sudah disusun, disetujui dan diterima pula oleh semua partai, maka tidak salah jika program nasional ini dipakai dengan segera sebagai dasar untuk mewujudkan Front Nasional. Front Nasional yang tulen harus disusun dari bawah, semua anggota partai-partai yang sudah menyetujui Front Nasional seharusnya memasukinya, secara individual. Selain daripada itu diberi juga kesempatan kepada beribu orang yang tidak berpartai dan yang progresif turut serta dalam Front Nasional. Komite-komite Front Nasional, baik di daerah maupun di pusat, harus dipilih secara demokratis dari bawah. Front Nasional semacam ini, sekali berdiri, tidak akan mudah hancur, bahkan tidak terlalu bergantung lagi kepada kehendak pemimpin-pemimpin partai. Front Nasional semacam itu memungkinkan juga pengurangan perselisihan politik dan juga memperkecil adanya oposisi sampai pada batas minimum.
Bersamaan dengan itu, PKI harus berdaya-upaya supaya pemerintah sekarang selekas-lekasnya diganti dengan pemerintah FRONT NASIONAL yang berdasar atas program nasional dan yang, bertanggung jawab. Hanya pemerintah semacam itulah yang akan berakar kuat di kalangan rakyat dan sanggup mengatasi kesukaran-kesukaran dalam negeri serta meneruskan perlawanan anti-imperialis secara konsekwen.
IV
PKI dan daerah pendudukan
Polit-Biro menganggap perlu dan memutuskan, bahwa PKI harus sungguh-sungguh mengatur dan memimpin perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah pendudukan. Strategi PKI di daerah pendudukan terutama harus menghalangi Belanda dalam usahanya memperteguh kekuasaannya dan memperbesar produksinya. Kalau Belanda berhasil dalam usahanya itu, maka lambat laun Belanda dapat memadamkan semangat perlawanan rakyat jelata. Perlawanan yang selalu bertambah, yang dilakukan oleh kaum gerilya di daerah-daerah pendudukan di jawa, di Sumatera dan di pulau-pulau lain harus menjadi tanda bagi semua Komunis untuk aktif dan berani menyokong dan memimpin perlawanan-perlawanan itu.
V
Ideologi
Polit-Biro berpendapat, bahwa kesalahan-kesalahan prinsipil tersebut diatas terutama disebabkan karena lemahnya ideologi Partai. Kelemahan-kelemahan tersebut diatas harus lekas diperbaiki. Dengan tidak adanya teori revolusioner tidak ada gerakan revolusioner kata Lenin. Pendapat Lenin ini terbukti kebenarannya dalam pekerjaan kita. Oleh karena teori Marxisme-Leninisme adalah suatu ilmu (wetenschap) yang tertingi, maka ia pun harus dipelajari sebagai wetenschap juga. Teori kita ini meneguhkan keyakinan, menajamkan kewaspadaan, membesarkan keberanian dan memudahkan pekerjaan kita dalam keadaan yang sulit. Partai Komunis yang benar-benar berdasar atas pelajaran-pelajaran MARX, ENGELS, LENIN dan STALIN tidak akan mudah jatuh dalam keadaan kebingungan, dan bagaimanapun juga sulitnya keadaan dan suasana politik Partai Komunis selalu akan mendapat jalan yang tepat untuk mengatasinya. Berhubung dengan itu, mulai sekarang juga tiap Komunis DIWAJIBKAN membaca dan mempelajari secara sistematis teori revolusioner dan diwajibkan mengadakan kursus-kursus di kalangan kaum buruh dan kaum tani, agar supaya dengan jalan demikian mereka selalu dapat menghubungkan teori dan praktek dengan erat. Teori yang tidak dihubungkan dengan massa, tidak dapat merupakan kekuatan, akan tetapi sebaliknya teori yang berhubungan erat dengan massa, merupakan kekuatan yang maha hebat.
Kawan Stalin mengatakan, bahwa tidak ada satu bentengpun juga yang tidak dapat direbut oleh kaum Bolshevik. Maka itu yakinlah, bahwa kaum Bolshevik Indonesia akan dapat merebut benteng yang terancam bahaya di hadapan mereka, yaitu benteng Indonesia Merdeka.
Polit-Biro Central Comite
Partai Komunis Indonesia
Yogyakarta, Agustus 1948.
Catatan:
*) Pikiran yang orisinil dari Kawan Musso tidak menghendaki diadakannya fusi tetapi menghendaki supaya Partai Sosialis dan PBI dibubarkan sedangkan anggotanya setelah disaring supaya meleburkan diri dalam PKI.

FKSMJ di Kejagung

Oktober 28, 2008

Andi M Ghalib Tentang Pengusutan Soeharto:

Komisi Independen Seluruhnya Tokoh Masyarakat, Tidak Ada Pejabat

Jakarta, Pembaruan

Semua anggota Komisi Independen yang akan segera dibentuk pemerintah
untuk menentukan langkah-langkah hukum yang akan diambil terhadap
mantan Presiden Soeharto, adalah para tokoh masyarakat yang
kredibilitasnya dipercaya rakyat. Dalam komisi tersebut, tidak ada pejabat
pemerintah, sehingga pendapat Komisi Independen diharapkan mewakili
aspirasi masyarakat.

Hal itu ditegaskan Jaksa Agung Andi M Ghalib ketika ditemui Pembaruan di
Jakarta Rabu (25/11) pagi. ”Sikap pemerintah termasuk Kejaksaan Agung
sudah
jelas, pemerintah membentuk Komisi Independen. Selanjutnya, Komisi itulah
yang akan membuat keputusan, langkah apa yang akan ditempuh,” tandas
Ghalib.

Mengenai Tommy Soeharto (putra bungsu mantan Presiden Soeharto), Ghalib
membenarkan, sudah dicegah-tangkal (cekal), supaya tidak bisa keluar
negeri.
Ketika ditanya apakah status Tommy sudah menjadi tersangka, Ghalib
menjawab: ”Mengarah ke sana.”

Andi M Ghalib mengungkapkan, para tokoh yang diminta menjadi anggota
Komisi Independen, adalah tokoh-tokoh yang pendapatnya dihargai
masyarakat,
benar-benar independen dan integritasnya diakui masyarakat. ”Jadi jangan
dikira
pemerintah tidak mengambil langkah tegas,” katanya.

Ketika ditanya mengenai calon-calon anggota Komisi Independen, dengan
diplomatis Jaksa Agung Ghalib mengatakan: ”Akan segera diumumkan dalam
waktu dekat. Yang jelas, di dalam Komisi Independen itu tidak ada pejabat
pemerintah, semuanya adalah tokoh-tokoh di luar pemerintahan yang
dipercaya
rakyat.”

Dalam pada itu, Rabu (25/11) pagi, sejumlah personel Brimob tampak
berjaga-jaga di dalam Kompleks Kejagung menggantikan personel Marinir dan
PHH Kodam Jaya.

Evakuasi Mahasiswa

Setelah hampir 13 jam berhasil menduduki Kantor Kejaksaan Agung, Selasa
(24/11) malam sekitar pukul 22.00 WIB, mahasiswa didesak mundur untuk
meninggalkan kantor tersebut secara damai. Meski sempat terjadi adu tinju
antara sejumlah mahasiswa dengan aparat marinir, membuat seorang wartawan
foto Mega Pos terkena pukulan, akhirnya maha-siswa sepakat untuk
meninggalkan kantor Kejaksaan Agung.

Dengan menumpang beberapa truk militer, para mahasiswa dibawa keluar dari
kompleks Gedung Kejagung. Siangnya, 21 mahasiswa yang mewakili para
pengunjuk rasa setelah berdialog dengan Jaksa Agung, menyatakan jawaban
maupun penjelasan para petinggi Kejagung tidak sesuai tuntutan maupun
aspirasi masyarakat serta mahasiswa.

Sebagian mahasiswa FKSMJ menolak diangkut oleh truk ABRI dan memilih
melakukan long march kembali ke kampus Universitas Moestopo. Sedangkan
mahasiswa Trisakti, akhirnya menerima tawaran marinir untuk dievakuasi ke
kampus yang sama sambil bernyanyi: Besok balik lagi, balik lagi, balik
lagi!

Lima Tuntutan

Aksi mahasiswa bermula dari sekitar 100 mahasiswa yang bergabung dalam
FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta) mengelar unjuk rasa di
depan gerbang utama Gedung Kejagung. Pada saat bersamaan, mahasiswa
bergerak dari dua titik, komponen gerakan mahasiswa dari FKSMJ bergerak
dari
kampus mereka Universitas Dr Moestopo Beragama (Jalan Hang Tuah),
sedangkan mahasiswa KM Trisakti bergerak dari Kampus Trisakti.

Satu jam setelah FKSMJ memulai demo, ratusan mahasiswa Trisakti dengan
mengenakan jaket biru masuk dari pintu belakang kompleks Kejagung yang
menghadap ke Jalan Bulungan.

Beberapa mahasiswa Trisakti yang mengendarai sepeda motor mendahului
rekan-rekan mereka, langsung melintas di depan pintu masuk, yang
sehari-hari
menjadi akses bagi Jaksa Agung menuju ke ruang kerjanya.

Seperti air bah yang tidak terbendung, kedatangan para mahasiswa Trisakti
yang
juga menumpang bus-bus besar, tidak dapat dibendung aparat keamanan yang
terkonsentrasi dengan pengunjuk rasa yang berada di depan gerbang utama.

Sekitar 20 menit setelah mahasiswa Trisakti berada di depan pintu gedung
utama, mereka bergerak menuju ke gerbang, meminta aparat keamanan
membolehkan rekan-rekan mereka dari FKSMJ turut masuk ke dalam.

Baru saja mahasiswa berorasi sambil berdiri di atas meja yang ditaruh di
depan
pintu, mahasiswa Fakultas Kedokteran Trisakti berarak-arakan memasuki
kompleks Gedung Kejagung untuk bergabung dengan rekan mereka. Kehadiran
para mahasiswa itu memancing perhatian siswa-siswi SMU 70 Bulungan yang
menyaksikan unjuk rasa dari lantai dua gedung sekolah itu. Para mahasiswa
dan
pelajar SMU itu saling melambaikan tangan.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa melontarkan lima tuntutan. Pertama, segera
adili Soeharto dan usut harta kekayaan Soeharto selambat-lambatnya satu
bulan
setelah pernyataan dibuat. Kedua, adili para pejabat serta kroni Soeharto
yang
terlibat praktek KKN.

Ketiga, Jaksa Agung harus bertindak tegas dalam menyikapi tuntutan di
atas.
Keempat, Presiden BJ Habibie dan Jenderal Wiranto harus bertanggung jawab
terhadap Tragedi Semanggi. Kelima, semua pihak agar mampu menahan diri
dari segala hasutan yang anti demokrasi dan anti reformasi yang tidak
bertanggung jawab.

Mahasiswa mendesak untuk bertemu dengan Jaksa Agung. Mahasiswa menolak
Wakil Jaksa Agung Ismudjoko ketika mencoba memenuhi permintaan
mahasiswa. Akhirnya 21 mahasiswa dibolehkan untuk bertemu dengan Jaksa
Agung Ghalib, di ruang rapat Wakil Jaksa Agung yang berada di lantai dua
gedung utama.

Selama 45 menit pertemuan dengan Jaksa Agung dan para petinggi Kejagung
lainnya, mahasiswa mempertanyakan kesungguhan Ghalib mengusut harta
Soeharto dan keluarga serta kroninya.

”Selama Jaksa Agung, apa yang sudah Anda perbuat?” tanya mahasiswa yang
hadir dalam pertemuan itu. Ghalib seketika menyergah, ”Jangan begitu ya,
saya
minta.”

Mewakili ribuan mahasiswa yang berdemonstrasi, para mahasiswa yang ikut di
pertemuan itu memberikan ultimatum bagi Jaksa Agung untuk mengusut dan
mengajukan Soeharto ke pengadilan. Mahasiswa minta Jaksa Agung sesegera
mungkin menyatakan status hukum Soeharto sebagai tersangka. ”Tersangka,
bukan terdakwa, berarti tetap memperhatikan asas praduga tak bersalah,”
tukas
mahasiswa itu.

Sunguh-sungguh

Menanggapi tuntutan mahasiswa, Jaksa Agung Ghalib mengatakan, Kejaksaan
sungguh-sungguh memberantas korupsi. Dia menampik tudingan yang
menganggap Jaksa Agung takut mengusut Soeharto. ”Saya tidak pernah takut
bertindak. Saya makin berani bertindak karena adik-adik datang,” ujar
Ghalib.

Menurut mahasiswa, apa yang menjadi tuntutan yang disampaikan melalui
unjuk rasa itu juga merupakan keinginan rakyat. Terhadap ultimatum satu
bulan
yang diminta oleh mahasiswa, Ghalib tidak memberikan jawaban tegas.
Kejaksaan Agung tidak bisa membuat limit waktu, karena prosesnya rumit dan
di
samping itu pemerintah akan membentuk sebuah tim independen yang bertugas
mengusut kekayaan mantan Presiden Soeharto, jelasnya.

Seusai dialog, seekor ayam betina, simbol seorang pengecut dan pecundang,
diberikan mahasiswa kepada Jaksa Agung, Andi Muhammad Ghalib. ”Kami
semakin yakin, Jaksa Agung tidak memiliki sikap tegas dalam mengusut
mantan
Presiden Soeharto,” ujar Abdulrohman aktivis FKSMJ di sela-sela
pendudukan
Gedung Kejaksaan Agung.

Forkot & KAM UI

Sedangkan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Kota (Forkot), Selasa
(24/11) tidak berhasil keluar dari Kampus UKI Cawang untuk bergerak menuju
Gedung DPR/MPR. Mereka dicegat aparat keamanan di perempatan Cawang.
Sedangkan rekan-rekan mereka dari ISTN dan Universitas Gunadharma,
bergerak dari Kampus Srengseng, tapi dihalangi aparat di perempatan
Pancoran
dan Kuningan.

Sementara itu Kesatuan Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia (KAM UI)
dengan berkekuatan sekitar 500 orang, sekitar pukul 12.45 berjalan dari
Bundaran
Hotel Indonesia menuju Istana Negara, dengan maksud bertemu dan berdialog
bersama Presiden BJ Habibie, juga dengan Menhankam Pangab Jend TNI
Wiranto. Keinginan mahasiswa berada 100 meter dari Istana Negara, tidak
terwujud, mereka digiring aparat ke wilayah Silang Monas, tepat di
seberang
Deparsenbud.

Marzuki Mendesak

Dalam pada itu, Ketua FKP di MPR Marzuki Darusman mendesak Komisi
Penyelidik Independen (KPI) untuk memastikan status hukum mantan Presiden
Soeharto. Kepastian mengenai status hukum Soeharto diharapkan bisa
meredakan ketegangan umum yang tengah melanda Indonesia saat ini.

Marzuki mengingatkan, pengusutan terhadap Soeharto jangan hanya mengarah
ke penelusuran harta semata, tapi juga harus diarahkan pada kebijakan
Soeharto
di masa lalu, yang diduga bertentangan dengan ketentuan hukum.

”Minggu ini KPI harus bisa memastikan status hukum mantan Presiden
Soeharto. Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
memungkinkan penegak hukum segera melakukan tahanan rumah terhadap
Soeharto,” tegasnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (24/11).
Jumat, 19 Februari 1999