Akankah sesukses Obama?

By irwansyahnuzar

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Egov


Berita kemenangan obama banyak memberi inspirasi bagi para politisi ataupun partai politik. Kesuksesan Obama memanfaatkan media internet membuatnya selangkah lebih maju ketimbang pesaingnya Hilarry Clinton. Lalu apakah inspirasi ini mampu menggerakkan parpol untuk ikut memanfaatkan internet? Atau hanya sebagai wacana yang menarik untuk bahan diskusi?

Kemenangan pada pemilihan pendahuluan untuk menentukan calon presiden dari Partai Demokrat, membuat posisi Barack Obama sebagai figur penting dalam politik di AS kian kokoh.

Banyak tulisan menggambarkan karisma Obama yang ditandai dengan kepiawaiannya berpidato sebagai sebab utama mengapa Obama tampil begitu fenomenal dalam kampanye pemilihan presiden AS kali ini. Padahal pesaingnya bukan sembarang figur, siapa yang tak kenal Hillary Clinton? Senator dari Partai Demokrat untuk wilayah New York yang juga istri dari mantan presiden AS, Bill Clinton. Lantas apa kunci dari kemenangan lelaki keturunan Kenya yang pernah merasakan bersekolah di Jakarta ini?

Seperti yang ditulis di harian Kompas (12/6) menurut Majalah The Atlantic Monthly pada edisi Juni 2008 Kunci kesuksesan Obama adalah kemampuannya mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam seluruh kampanyenya. Sementara Eriyanto, peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia berpendapat “Aspek kunci kenapa Obama bisa mendayagunakan internet, salah satunya karena Obama menggunakan internet versi 2.0. Jika Anda perhatikan website Obama dibanding dengan yang dimiliki Clinton jelas sangat berbeda, Clinton masih menggunakan format 1.0 maksudnya website hanya dipakai untuk sekedar mengenalkan pribadi dan karya-karyanya saja,” ujar Eriyanto.

Dengan memanfaatkan jaringan internet, tim sukses Obama menuai hasil yang sangat mengagumkan. Disebutkan tim kampanye Obama memiliki 750.000 relawan aktif, 8.000 kelompok pendukung, dan tim ini mengorganisasi 30.000 events dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Video-video rekaman pidato dan event-event yang dihadiri Obama bisa diakses gratis melalui podcast di iTunes store. Hasilnya, ratusan ribu orang bisa merasakan gemuruh pendukung Obama di tempat kampanye dan menangkap pesan kampanye melalui layar iPod masing-masing. Youtube, Facebook, iPod-podcast, dan My-space. Internet dimanfaatkan Obama dengan efektivitas yang tak dapat ditandingi kandidat lain. Mengagumkan, itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan kesuksesan Obama ini. Tidak hanya di Amerika Serikat, seluruh dunia sibuk memperbincangkan pendekatan yang digunakan oleh Obama dalam meraih perhatian publik. Begitu juga dengan para politisi di Indonesia yang sebentar lagi akan melaksanakan hajat besar demokrasi. Bak burung merak, para politisi dan partai politik melenggak-lenggok dan berusaha tampil semenarik mungkin untuk menarik perhatian masyarakat. Namun sayangnya, mereka ini belum mengambil manfaat dari kesuksesan Obama.

Baru sebatas website

Alih-alih meniru Obama dalam memanfaatkan Online Social Netwrok, kebanyakan partai politik kita masih bertahan dengan pola pendekatan yang lama. Memang sebagian besar sudah menggunakan jaringan internet, namun baru hanya sebatas website saja. Parahnya lagi, sekitar 7 partai tidak memiliki website sekalipun dan 3 partai yang websitenya masih dalam perbaikan. Dan dari 27 partai yang memiliki website, 17 diantaranya tidak meng up date informasi setiap hari. Padahal menurut Eriyanto “Seharusnya fungsi website ada 3, pertama, web sekadar untuk informasi pelengkap demi mengenalkan partai. Kedua, web digunakan untuk menjalin hubungan dengan kantor-kantor cabang di daerah. Ketiga, fungsi yang lebih maju mereka tidak hanya menggunakan web untuk berhubungan dengan pengurus tapi juga dengan konstituen.” Jika mengacu pada peneliti yang juga pengarang buku ini, maka bisa dibilang partai politik Indonesia masih banyak yang tidak memanfaatkan internet sebagaimana fungsinya.

Sementara dari kalangan partai politik walaupun mengakui bahwa mereka belum memanfaatkan internet dengan maksimal, tapi mereka memiliki alasan tersendiri. Seperti yang diungkapkan oleh Marsudi W. Kisworo, politisi dari Partai Amanat Nasional ”Berdasarkan penelitian kami, keberadaan website hanya menyumbang 0,0 sekian persen terhadap kemenangan sebuah partai. Memang sangat kecil karena hampir tidak ada orang yang memilih sebuah partai berdasarkan websitenya. Selain itu angka pengakses internet di Indonesia tidak terlalu besar, dari mereka yang menggunakan internet kebanyakan anak-anak yang memanfaatkan game online bukan untuk mengakses informasi. Sementara yang mengakses internet untuk informasi sebagian besar adalah professional muda, dan biasanya sebagian besar dari kalangan ini memilih untuk golput atau apolitis. Itu salahsatu sebab mengapa PAN tidak terlalu memprioritaskan website sebagai sarana kampanye atau komunikasi dengan konstituen, ” jelas Marsudi. Sejalan dengan Marsudi, anggota DPP Partai Barisan Nasional, Robert Ginting mengakui bahwa kondisi masyarakat Indonesia saat ini belum banyak yang mengakses internet. “Walaupun saya mengakui bahwa peran internet itu sangat penting sebagai media kampanye atau sosialisasi tapi sulit untuk diterapkan. Karena kondisi masyarakat Indonesia masih sangat sedikit yang mengakses internet. Tapi saya yakin beberapa tahun ke depan kondisi ini pasti berubah,” ujarnya. Tapi paling tidak baik Marsudi maupun Robert sepakat bahwa kondisi masyarakat yang belum familiar dengan internet dan infrastruktur yang belum memadai ini akan berubah seiring waktu.

Regulasinya belum ada

Sri Nuryanti ,anggota KPU yang menangani Divisi Humas, Data Informasi dan Hubungan Antar Lembaga melihat fenomena penggunaan jaringan online pada dunia politik ini sebagai suatu hal yang positif. Karena masyarakat jadi memiliki banyak akses informasi dan komunikasi pada partai politik atau pada kandidat pilihannya. “Ini hal yang bagus kok, karena artinya akses masyarakat untuk mendapatkan informasi dan pendidikan politik menjadi semakin terbuka. Selain itu masyarakat juga bisa melihat program, platform, visi dan misi dari parpol yang akan dipilih sehingga benar-benar sadar atas pilihannya,” tukas Nuryanti.

Bicara tentang aturan, Nuryanti mengaku bahwa saat ini tidak ada regulasi yang mengatur penggunaan jaringan internet pada partai politik. “Memang tidak ada aturannya, tapi jika menyangkut isi yang punya kewenangan adalah Depkominfo. KPU sendiri sudah menyiapkan koridornya di peraturan KPU no 19 misalnya kampanye harus disampaikan secara sopan, tidak mempersoalkan NKRI tidak menyinggung SARA, menjelekkan atau menghina orang lain karena perbedaan afiliasi, etnik, agama, politik atau perbedaan yang terpelihara di masyarakat. Tapi tentang medianya memang tidak ada aturan yang spesifik karena sulit sekali mengatur media dengan jangkauan yang sangat luas ini,” tambah Nuryanti. Jadi sepanjang persyaratan isi pesan terpenuhi partai politik tidak perlu takut beraktifitas di ranah online. Tidak perlu takut terkena “semprit” dari Panwaslu lantaran dianggap melanggar masa tenang, karena aturan tentang masa tenang tidak mencakup pada media internet. Namun Eriyanto mengingatkan, adanya kesalahpahaman pada politisi dalam menggunakan perangkat internet pada dunia politik. “Masih banyak yang menganggap dan menggunakan internet hanya sebagai media komunikasi yang negatif misalnya menyebarkan berita-berita bohong, misalnya menyebarkan black campaign melalui internet. Ini dilakukan karena internet dinilai sebagai jalur yang aman sebab tidak ada regulasinya” tandasnya.

Bisa maksimal asal….

Betul jika dikatakan bahwa kondisi masyarakat dan infrastruktur di Indonesia masih sulit untuk menerapkan komunikasi dan kampanye secara online. Tapi seharusnya partai politik juga melakukan usaha-usaha perbaikan sehingga masyarakat menjadi terpancing dan menikmati jaringan online yang dimiliki oleh parpol. “Obama bisa membuat sebuah blog yang sangat menarik dan bisa membuat orang dengan sukarela membagi kepada teman dan lingkungannya, jadi Obama punya jaringan yang sukarela tanpa diminta. Sementara di Indonesia belum, orang baru hanya sebatas melihat. Sejauh yang saya lihat web partai yang ada sekarang seperti memindahkan isi buku program kerja ke dalam internet, kemasannya kurang menarik dan kadang terlalu bertele-tele,” ucap Eriyanto.

Selain itu buat Eriyanto, faktor teknis juga memegang peranan penting. “Jika pada format 2.0 Obama bisa membuat interaksi yang bagus dengan para simpatisannya, dan setahu saya versi1.0 yang sekarang masih digunakan oleh kebanyakan partai politik saat ini tidak bisa melakukan itu,” ujarnya. Dalam dunia internet, perkembangan hari ini sudah mencapai pada Web 2.0, bahkan Web 3.0. Namun sekarang ini baru Web 2.0 yang sudah implementatif. Dalam situs MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia) telah dikatakan bahwa Internet dan Web 2.0 diramalkan akan menjadi penentu kunci kemenangan Pemilu 2009. Dengan demikian, Parpol dan Capres di Indonesia sudah selayaknya memanfaatkan internet sebagai salah satu media kampanye.
Menurut sebuah website, salah satu efek dari perkembangan teknologi Web 2.0 adalah munculnya berbagai situs Online Social Networking yang memungkinkan pengguna internet saling berhubungan satu sama lain. Dengan OSN ini akan terbentuk komunitas-komunitas maya, bisa berdasarkan hobi tertentu, buku bacaan tertentu, wilayah domisili, agama, parpol pilihan, tokoh idola, dsb. Dengan OSN para pengguna bisa saling berbagi informasi dengan bentuk tulisan, gambar, suara atau musik, bahkan video. Dengan OSN dan Web 2.0 jadi memungkinkan keterhubungan antara profil OSN dengan Blog yang sudah dimiliki oleh pengguna internet. Beberapa contoh OSN antara lain Friendster.com, Facebook.com, Multiply.com, Orkut.com, Myspace.com, Hi5.com.

wawancara

Eriyanto, peneliti LSI.

Harus Memenuhi 3 Syarat

Fakta kemenangan Obama pada pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, sangat menarik minat banyak orang, terlebih lagi bagi para peneliti atau pengamat. Karena kemenangan Obama ini tak lepas dari peran internet yang digunakannya sebagai media komunikasi dengan para simpatisannya. Berkaitan dengan itu, kemenangan Obama menjadi menarik jika dibandingkan dengan partai-partai politik di Indonesia yang sebentar lagi akan mengikuti pemilu. Bagaimana kondisinya di Indonesia apakah trik dan siasat Barrack Obama bisa diterapkan diIndonesia? Simak wawancara Irwansyyah dari Warta Ekonomi dengan Eriyanto, Peneliti Lingkar Survei Indonesia yang ditemui di kantornya di bilangan Kelapa Gading Jakarta utara, petikannya :

pasca kemenangan Obama, penggunaan internet pada dunia politik seolah menjadi trend, menurut anda?

Soal penggunaan internet khususnya dalam kasus Obama, memang Obama ini adalah fenomena baru. Bagaimana dia mendayagunakan internet dari dia sebagai orang yang kurang dikenal hingga menjadi populer bahkan bisa mengumpulkan uang. kalau kita lihat sebetulnya ada aspek kunci kenapa Obama bisa mendayagunakan internet, salah satunya karena Obama menggunakan internet 2.0 artinya kalau diperhatikan website Obama dibanding dengan yang dimiliki Clinton jelas sangat berbeda. Clinton masih pakai format 1.0 maksudnya website hanya dipakai untuk sekedar mengenalkan dirinya saja. Berisi tentang siapa Hillary, karya-karyanya, pengalaman dia jadi orang mengunjungi websitenya hanya sekadar melihat. Sementara website milik Obama kebalikannya, di sana tidak banyak kata-kata justru dia mengajak orang atau pembacanya untuk berpartisipasi, bahkan diwebnya disediakan fasilitas untuk membuat blog bagi pengunjung atau pembacanya. Selain itu dia juga memanfaatkan jaringan-jaringan sosial yang sekarang sedang tren di Amerika seperti you tube, facebook, dsb, dan ini iklan gratis karena pendukung Obama kemudian membuat kutipan dari pisato-pidato Obama yang kemudian ditampilkan dalam blognya, dan ini membentuk sebuah jaringan komunitas yang kuat.

Lalu kita bandingkan dengan Indonesia, kalau diperhatikan semua website partai atau tokoh-tokoh politik saya kira semua masih menggunakan format lama yang 1.0 jadi web hanya dipandang sebagai media pengenalan, misalnya Golkar, PDI, jadi belum dipandang sebagai media partisipasi atau interaktif antara partai dengan konstituennya. kalau itu yang terjadi atau internet hanya dijadikan media komunikasi satu arah maka menurut saya tidak akan efektif, jadi hanya sebagai medium informasi saja. jadi tidak bisa membuat interaksi dengan pembaca apalagi untuk donasi masih agak jauh sepertinya.

Bagaimana di Indonesia, apa ada partai yang meniru konsep Obama?

Seingat saya belum ada, menurut saya website yang cukup bagus hanya dua, Golkar dan PKS, kalau yang lain hanya sekedar pelengkap saja, hanya bikin sekali lalu tidak pernah di up date. sebenarnya fungsi website kan ada 3, pertama, web sekadar untuk informasi pelengkap untuk mengenalkan partai, kedua, web digunakan untuk menjalin hubungan dengan cabang-cabang di daerah, ketiga, mereka tidak hanya menggunakan web untuk berhubungan dengan pengurus tapi juga dengan konstituen. Kalau kita perhatikan web yang ada terutama Golkar dan PDI hanya menjalankan fungsi yang nomor dua. Bahkan dikalangan partai hanya menggunakan web untuk memenuhi fungsi nomor satu, bahkan tampaknya ada beberapa partai yang tidak memiliki website. Golkar dan PKS menarik karena bukan cuma mengenalkan partai, namun juga menggunakan web untuk berhubungan dengan daerah. Tapi belum ada yang menggunakan fungsi nomor 3 untuk mendekatkan dan menjalin komunikasi dengan konstituen.

Misalkan ada yang mampu menerapkan seperti Obama, apakah bisa maksimal jika melihat kultur masyarakat di Indonesia?

Saya sendiri agak ragu sebenarnya, karena perilaku pemilih kita memang tidak menggunakan internet sebagai sumber informasi politik. di Amerika sukses karena memang pola masyarakatnya mendukung. regulasi yang mengatur penggunaan internet dalam kampanye setahu saya tidak ada, kalau di Amerika karena memang sulit membuat regulasi dan regulasi penggunaan media untuk kampanye apalagi penggunaan internet memang agak longgar. Intinya mau beriklan berapapun tidak masalah. kalau di indonesia, mungkin bagi KPU internet belum menjadi domain yang dianggap sebagai medium kampanye.

Apa yang menyebabkan masyarakat di Indonesia berbeda dengan Amerika Serikat?

Salahsatu penyebabnya karena, pertama, karena kalangan publik Indonesia belum menganggap internet sebagai sumber informasi politik beda dengan Amerika, seperti sebuah hasil penelitian lembaga survei terbesar di Amerika menyatakan bahwa 60% rakyat Amerika mendapat informasi politik dari internet jadi jauh meninggalkan media televisi, atau media cetak sebagai sebuah sumber informasi. pada tahun 90-an debat kandidat memegang peran penting, tapi sekarang tidak lagi. saya agak ragu apakah fenomena ini ada di kita, apakah para pengguna internet juga menggunakannya sebagai sarana mendapatkan informasi politik, kalau ternyata tidak berarti internet kurang efektif. kenapa Obama efektif karena perilaku masyarakatnya sudah mendukung. jadi memang perilaku pemilih di Amerika sudah bergeser, kalau dulu media televisi memegang peran penting apalagi saat debat kandidat, sekarang tidak lagi relatif internet sebagai sumber infonya.

Ada beberapa partai yang sudah menerapkan pendaftaran secara online, menurut Anda?

Saya kira itu belum masuk fungsi ketiga, kalau fungsi ini mirip dengan apa yang sudah dilakukan Obama. syaratnya kalau mau menjalankan fungsi ketiga, pertama web nya harus berformat 2.0, kalau sekarang tipenya statis, kedua, fungsi web harus memanfaatkan jaringan online seperti facebook, my space, friendster, nah itu yang belum dilakukan. KTA online pun nampaknya hanya formalitas. atau misalnya dalam web disediakan media saran atau komplain tapi ternyata tidak ditanggapi.

Apakah golongan mayoritas pada konstituen mempengaruhi kecanggihan website partai?

Mungkin juga, seperti PKS dengan sebagian besar konstituen dari kalangan muda. Karena anak muda cenderung lebih melek teknologi, maka teknologi di websitenya PKS juga berkembang. Seperti juga Golkar efektif dia menggunakan paling tidak untuk menjalin komunikasi dengan cabang di daerah. kalau di partai lain mungkin masih menggunakan cara lama untuk berkomunikasi dengan daerah.

Bagaimana prospek penggunaan internet pada parpol kedepannya?

Menurut saya sangat tergantung pada perilaku pemilih apakah mereka menggunakan internet sebagai sumber infomasi politik atau tidak. Tapi saya pikir sekarang memang belum, lima tahun kedepan mungkin internet bisa jadi medium efektif. Salahsatu indikasinya adalah munculnya berbagai blog, di internet kan ada banyak blog dan jaringan hanya saja ini belum menyatu. Sebetulnya jika mau efektif menggunakan internet pada dunia politik maka si aktor harus bisa menyatukan jaringan yang ada, misalnya tergabung dalam satu portal. Sekarang ada potensi walaupun belum banyak, tapi dalam lima tahun kedepan rasanya orang yang melek internet akan semakin banyak. Kalau ada aktor yang bisa mengintegrasikan dan memanfaatkan itu maka bukan mustahil internet bisa menjadi sumber informasi politik dan dana bagi dirinya. Yang menarik lagi, internet itu relatif murah dan memang sangat memungkinkan untuk memunculkan partisipasi. Dalam kasus Obama, bagaimana seseorang yang sangat mengagumi Obama bisa membuat sebuah blog dan dengan sukarela membagi kepada teman dan lingkungannya, jadi Obama punya jaringan yang sukarela tanpa diminta. sementara di Indonesia? belum, orang hanya sebatas melihat. Sejauh yang saya lihat web partai yang ada sekarang seperti memindahkan isi buku program kerja ke dalam internet, kemasannya kurang menarik dan kadang terlalu bertele-tele. Dan yang agak kita sayangkan dalam dunia internet Indonesia, adanya kesalahpahaman karena banyak politisi yang menganggap dan menggunakan internet sebagai media komunikasi yang negatif misalnya menyebarkan berita-berita bohong, misalnya mau menyebarkan black campaign melalui internet karena dinilai jalur yang aman karena tidak ada regulasinya.

Tinggalkan Balasan